Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 124. Sebuah Amanat


__ADS_3

Jika boleh jujur, kini aku ragu.


Bukan pada diriku, bukan pada cintaku, bukan pada hatiku.


Bukan Aku.


Maaf, aku ragu padamu.


Maaf, aku ragu pada setiap detik yang kulewati bersamamu.


Maaf, aku ragu pada kebahagiaan ini.


Kebahagiaan yang mungkin hanya sebuah kebahagiaan semu.


♡♡♡♡♡♡♡♡


“Eonni, pulanglah ke apartemen. Istirahatlah, kau nampak lebih lemah dariku yang baru saja dibedah.”


Candaannya membuat Ia mendapatkan tepukan di lengannya dari kakak angkatnya yang juga sedang sakit.


“Aaauuucchh...” ringisnya.


“Eonni... Kamu menyakiti seorang pasien,” keluhnya manja.


Aydin yang baru saja selesai menyegarkan dirinya, kini menjadi target godaan Risa.


“Ay, lenganku sakit,” keluhnya semakin manja.


Tanpa berkata-kata seperti biasanya, pria itu hanya memberikan kecupan singkat di lengan Risa.


Gio yang melihat kebucinan hakiki dari seorang yang terkenal sebagai jenius IT seperti Aydin, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Sebenarnya siapa yang kecelakaan? Ku lihat kepala Risa yang cedera, tapi kenapa otak Aydin yang bergeser?” ledek Gio.


Pemilik Sky High Apartement itu bahkan tertawa terbahak-bahak karena ucapannya sendiri.


“Cih... jangan meledekku. Kalianpun tak kalah anehnya,” ucap Aydin.


Sudah Ia duga jika pria itu akan mengejeknya lagi, jadi dia sudah menyiapkan balasan untuk Gio.


“Kau pikir yang terserang flu adalah kaki Amora? Harusnya kamu membawakannya obat, bukan kursi roda. Sepertinya ucapanmu benar, cinta memang membuat otak bergeser.” Balasnya.


Amora mencebik, membenarkan ucapan Aydin.


“Pantas saja Risa sejak tadi terus menyuruhku pulang, kau membuatku terlihat seperti pasien yang sedang sekarat.” Timpal Amora sambil berdiri dari kursi rodanya.


“Sayangku, ratuku, bukan maksudku......” Ucapan Gio harus terjeda saat Amora menghentikan langkahnya.


“Risa, eonni pulang dulu. Kasihan Bumil, tidak boleh tidur larut.” Pamitnya pada Risa.


“Aydin, titip Risa yah. Please, jaga dia.” Ucapnya sendu.


Dengan menggandeng lengan Anggun, Amora berjalan keluar dari ruang rawat Risa.


Sementara pemandangan Gio yang terus mengejar Amora sambil mendorong kursi roda kosong membuat Aydin, Esme, dan Risa tertawa.


♡♡♡♡♡


Esme berbaring di sofa, menunggu sang kekasih yang tak kunjung kembali dari kantor polisi.


Lebih baik Esme memejamkan matanya sejenak, beristirahat sebelum besok kembali bekerja.


Sudah bisa dipastikan besok Ia akan sangat sibuk, hari ini saja ponselnya sudah Ia nonaktifkan sejak siang, sebab telepon dari berbagai media silih berganti menerornya untuk meminta klarifikasi.


Matanya berhasil Ia pejamkan, sebab tak ingin lagi matanya itu ternodai oleh kemesraan pasangan bucin yang tak kenal tempat.


Namun seakan belum cukup mereka menyiksa netra tak berdosa Esme dengan memamerkan kemesraan, kini giliran indra pendengar Esme yang mulai ternodai.


Samar-samar suara cekikikan dan terkadang suara cecapan dua bibir yang bertaut namun enggan saling melepas.


“Hei kalian berdua, “ tegur Esme.


Aydin dan Risa menoleh bersamaan pada sumber suara.


“Bisakah kalian berhenti?" pintanya.


"Dasar pangan bucin, harusnya tadi aku ikut saja pulang bersama yang lain jika tau Echa akan sangat lama.” Keluhnya.


“Maafkan aku By,” celetuk Echa yang baru saja tiba dan mendengar keluhan kekasih hati yang seharian ini Ia tinggalkan.


“Huhhh.... Kamu sudah datang, ayo pulang,” ajak Esme bersemangat.


“Oke Baby, as you wish. Tapi beri aku waktu 5 menit untuk bicara pada Aydin.”


Setelah Esme mengangguk, Aydin dan Echa memilih untuk bicara di luar saja.

__ADS_1


Entah apa yang dibicarakan oleh kedua pria itu, pembicaraan yang menurut Echa hanya 5 menit, namun kenyataannya hingga 15 menit berlalu, obrolan mereka berdua tak kunjung usai.


Berbeda dengan Esme yang tiba-tiba saja kehilangan rasa kantuknya, dengan deru napas yang teratur dan mata yang terpejam akhirnya Risa terlelap.


Esme yang melihat Risa sudah tidur, beranjak dari tempatnya untuk merapikan letak selimut Risa.


“Anak ini, kamu selalu sukses membuat semua orang terkejut dan khawatir padamu.” Lirihnya.


Esme belai lembut puncak kepala wanita yang Ia sayangi sama seperi saudara kandungnya.


“Meski tak ada setetespun darah yang sama mengalir di tubuh kita, tapi aku sungguh tak rela jika melihatmu terluka lagi adik kecilku. Tidurlah dengan nyenyak, karena untuk berbahagia esok hari tetap akan butuh tenaga.” Gumamnya.


Yah begitulah seorang Esme. Wanita yang selalu memperlihatkan sisi kerasnya di hadapan orang lain. Didikan keras saat Ia bergabung di pasukan khusus Korea, membuatnya jadi sosok yang tak akan menunjukkan kelemahannya di hadapan siapapun.


Suara dua pria yang ditunggu terdengar oleh Esme. Segera Ia bangkit dari duduknya di tepi brankar Risa, memberi kode pada kedua pria itu dengan meletakkan telunjuk tepat di depan bibirnya agar Aydin dan Echa diam.


“Aydin, kami langsung pamit saja, Aku percayakan adikku padamu,” ucap Esme.


Aydin mengangguk, “Tenanglah, dia calon Ibu dari anak-anakku. Kau bisa percayakan dia padaku.”


Setelah semua orang telah pergi, hanya kesunyian yang tersisa di ruangan luas dan terkesan mewah untuk sebuah kamar rawat rumah sakit.


Lantai beralaskan karpet tebal, meja makan besar, sofa untuk para penjenguk, lukisan mewah dan bunga di beberapa sudut ruangan, juga tak lupa toilet yang bahkan di lengkapi dengan bath tub.


Aydin duduk ditepi brankar wanita yang kini mengisi seluruh hati dan pikirannya.


Ia membelai lembut, jemari Risa yang dipasangi selang infus.


"Rasanya duniaku berhenti berputar saat tadi melihatmu tak sadarkan diri.” Gumamnya.


Ahh Ia, hampir saja Aydin lupa.


Jemari Risa yang biasanya mengenakan cincin darinya, kini terlihat kosong. Tak ada benda kecil yang berkilauan menghiasi jemarinya.


“Kemana cincinnya?” batinnya.


Netra Aydin tertuju pada tas milik Risa yang dibawa oleh Echa dari kantor polisi.


“Apa mungkin ada di dalam tas?” batinnya.


Setelah mengecup kening Risa, Aydin berpindah duduk dengan nyaman di atas sofa.


Diraihnya tas milik Risa, berniat untuk mencari cincin yang mungkin saja disimpan di sana.


“Ck....Ck...Ck....”


“Apa saja yang wanita ini bawa,” gerutunya sambil mengeluarkan satu per satu isi tas Risa.


Banyak pouch kecil berisikan barang-barang yang memang menjadi kebutuhan wanita.


Seperti 1 pouch yang ukurannya lumayan besar, isinya dipenuhi alat-alat makeup yang tak ada Aydin pahami.


Netranya fokus mencari benda kecil berbentuk lingkaran yang bertahta berlian, dan jika dirupiahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.


Bukan soal uang yang terbuang percuma jika cincin itu hilang, tapi momen bahagia yang menjadi kisah dibalik cincin itu.


Kening Aydin mengernyit saat menyadari ada kotak bludru berwarna coklat di sana.


“Kotak apa itu?” batinnya bertanya.


Aydin bukanlah tipe pria yang hobi memeriksa barang pasangannya. Jika bukan karena cincin tunangan mereka, Ia pantang untuk membuka tas Risa tanpa izin.


“Apa itu kotak perhiasan yah? Tapi mengapa Risa membawanya."


"Sebenarnya Risa hendak kemana? Mengapa Ia melewati jalur yang sama denganku? Apa dia juga ingin ke pemakaman? Pemakanan Kirani? Tapi untuk ......?”


Hanya karena sebuah kotak bludru berwarna coklat, kini banyak pertanyaan bermunculan di benaknya.


Aydin menggeleng, dengan perlahan tanpa ada curiga sedikitpun, pria itu membuka kotak dan terkejut dengan apa yang pertama kali dilihatnya.


“Foto ini lagi, ahh aku sampai lupa mengeceknya ke rumah lamaku.” Batin Aydin.


Ia pikir kotak itu berisi perhiasan milik Risa, nyatanya kotak itu hanya berisi lembaran-lembaran kertas, dan beberapa foto.


Namun gerakan tangannya yang hendak menutup kembali kotak milik Risa terhenti.


Matanya membulat saat tak sengaja melihat bayangan foto dirinya juga ada di sana.


Sekilas Aydin melirik ke arah Risa yang masih tidur dengan lelap karena pengaruh obat.


Ia tahu jika ini salah, tapi rasa ingin tahunya lebih besar.


Apa rahasia yang disimpan calon istrinya? Itulah alasan Aydin kini tengah memeriksa satu persatu isi kotak itu.


“Dari mana Risa mendapatkan ini semua? Dan untuk apa? Apa yang ingin dia lakukan dengan foto-foto ini?” batin Aydin.

__ADS_1


Matanya membola saat melihat foto-foto Dafha sejak bayi hingga sekarang, juga ada foto dirinya, bahkan ada foto saat pernikahannya dengan Kirani.


“Kirani?” ulangnya, menyebut nama almarhum mantan istrinya.


“Mungkinkah......”


Ucapannya terjeda saat tangannya dengan lancang membuka 1 kertas yang dilipat.


Matanya membelalak, deru napasnya menjadi tak beraturan seiiring degup jantungnya yang semakin memburu.


✉ “Dear Risa ........”


“Hai My Twinnie R , My Sister , My Bestfriend.


Bagaimana kabarmu ? Ku harap saat membaca suratku ini kamu sudah mengikhlaskan kepergianku." ✉


Aydin mulai membaca satu per satu kata yang tertulis di atas kertas yang kini Ia genggam dengan tangan bergetar hebat layaknya seseorang yang menderita tremor.


“Jadi Risa dan Kirani benar-benar saling mengenal,” gumam Aydin saat Ia baru membaca beberapa baris surat yang ditulis tangan oleh Kirani, mantan istrinya yang telah tiada.


Tanpa perlu melihat nama pengirimnya, Aydin sangat hapal bagaimana tulisan tangan wanita yang telah memberinya seorang putra.


✉ "Jadi ku mohon jika tiba saatnya aku harus meninggalkan kalian , ku harap kamu menggantikanku sebagai Istri bagi suamiku dan Ibu dari Anakku . Ku mohon . Aku percaya padamu dan selalu menyayangimu. Your Twinnie R , RANI.” ✉


“Apa? Menggantikannya sebagai istri? Menggantikannya sebagai Ibu? Apa maksudnya semua ini?”


Aydin meneriakkan semua pertanyaan itu dalam benaknya.


Ia masih sadar jika Ia berteriak sekarang maka akan mengganggu tidur wanita yang Ia cintai.


“Cinta?” ulangnya dengan nada sendu.


Ya, hati Aydin mengakui dia mencintai Risa. Wanita yang diminta istrinya untuk menggantikannya menjadi istri Aydin.


“Namun mengapa rasanya sesakit ini? Mengapa Aku merasa seperti telah tertipu oleh 2 wanita yang telah berhasil mencuri hatiku?” batin Aydin.


“Si*l,” umpatnya dengan rahang yang mengeras, salah satu telapak tangannya mengepal.


Perasaannya semakin bercampur aduk saat Aydin membaca tulisan di balik selembar kertas yang sudah Ia remas di salah satu ujungnya.


✉ “Ku harap permintaanku ini tidak pernah diketahui oleh suamiku . Aku ingin kamu dan dia bersatu karena cinta . Bukan hanya semata mata karena untuk memenuhi permintaanku . Aku yakin , kamu bisa membuatnya jatuh cinta padamu . Aku berharap dan percaya padamu My Twinnie.” ✉


Aydin tertawa setelah membaca kata demi kata yang Kirani, atau Rani, mantan istrinya itu tulis.


“Yah, dan orang suruhanmu sudah berhasil.” Gumamnya sarkas dengan tatapan entah kemana seolah Ia sedang bicara dengan seseorang yang mengawasinya.


“Sekarang aku sudah mencintainya, dia sudah berhasil menbuatku rela memberinya seluruh hatiku. Bahkan aku sudah hampir gila saat kehilangannya, karena dia bahkan sudah menguasai pikiranku.” Gumam Aydin lirih dengan suara yang mulai bergetar.


Yah, hatinya sakit.


Bukan karena fakta jika Kirani dan Risa bersahabat, atau fakta jika Kirani meminta Risa untuk menggantikan posisinya.


Tapi .......


Hatinya terasa sangat sakit, lebih sakit dari sayatan belati.


Dadanya terasa sangat sesak, lebih sesak dari tertimpa beban yang sangat berat.


Dari tempatnya duduk, Ia menatap lurus pada wanita yang masih tertidur dengan sangat lelap.


Wanita yang pagi tadi hampir saja meregang nyawa dan pergi menyusul sahabatnya.


“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan semua kata cinta yang kau ucapkan padaku? Bagaimana dengan semua kehangatan yang kau beri padaku lewat setiap sentuhanmu? Bagaimana dengan setiap detik kenangan yang kau lewati bersamaku?”


“Lalu bagaimana nanti ketika kau mengucapkan janji untuk setia, sehidup semati bersamaku?”


“Masih bolehkah jika aku percaya jika semua itu tulus dari hatimu?”


“Masih bolehkan aku berharap pada semua rencana indah kita untuk menjalani hidup bersama?”


Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat terucap dari bibir keluh Aydin. Semuanya bergaung didalam benaknya, memberi rasa sakit yang teramat sangat sakit.


Hingga hanya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, sebagai bentuk nyata dari rasa sakit, amarah, kekecewaan, dan keraguan yang tak terucap.


Yah, keraguan. Keraguan yang membuatnya merasakan sakit ini.


“Dan bolehkah jika aku meragukan setiap detik yang berlalu sejak kau memaksa hadir dalam hidupku?” Gumamnya lirih.


Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, setelah Ia selesai membaca tulisan tangan Kirani pada lembaran-lembaran kertas yang lain.


“Aku, hidupku, cintaku, hanyalah sebuah amanat.” Lirihnya.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡


Jangan hakimi aku sebagai pria lemah karena tetasan air mata ini.

__ADS_1


Setiap tetes air mata ini adalah wujud dari keraguan dan harapan yang tidak bisa lagi kusampaikan oleh sebuah kata.


__ADS_2