Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 92. Persiapan kejutan ulang tahun Ay


__ADS_3

“ Tawa dan tangis silih berganti, menyertai setiap langkah perjalanan hidupmu, tanpa terasa sudah bertambah 1 tahun usiamu, biarkanlah aku mengiringi langkah kebahagiaanmu di hari ini esok dan seterusnya “


♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Bertempat di salah satu Villa di kawasan puncak Bogor.


Risa, Ayana, Amora, Gio, dan Albert sedang mengecek kembali segala persiapan untuk pesta kejutan ulang tahun Aydin besok.


Risa kembali teringat wajah kecewa Aydin pagi itu, ketika Ia meminta restu pada orang tuanya seminggu yang lalu.


Sebenarnya Ia tak tega, tapi demi melancarkan aksi kejutan ini Risa harus bisa bertahan.


Bahkan sudah 3 hari Risa sengaja menyibukkan dirinya.


“Pokoknya Kak Risa jangan ngucapin apapun yah, biarin aja Bang Aydin pikir Kak Risa lupa atau emang gak tau hari ulang tahunnya.” Ujar Ayana.


Untuk kesekian kalinya gadis itu mengingatkan Risa.


“Iya.. iya Ayana, kakak gak akan lupa kok.” Balas Risa.


Mereka hari ini menyelesaikan dekorasi bertema bohemian di taman depan Villa.


Sementara Risa juga menyiapkan dekorasi khusus di kamar yang akan ditempati oleh Aydin nantinya.


Saat mereka tengah menikmati hidangan makan siang, Aydin tak henti-hentinya menghubungi Risa.


Pasalnya pagi tadi Risa memberi kabar jika seharian ini dia akan sibuk meeting di kantor agensi model yang baru Ia dirikan satu bulan yang lalu.


Namun saat Aydin berkunjung ke sana, yang dicari tidak ada di tempat, bahkan informasi dari karyawannya jika bosnya hari ini belum datang ke kantor sama sekali.


Esme bahkan Amora juga tak bisa Ia hubungi. Dan Risa juga tidak menerima panggilan telepon dari Aydin. Hal itu semakin membuat Aydin kesal dan khawatir.


Sementara di villa Risa mulai khawatir jika Aydin akan marah padanya.


Sedangkan Ayana kini terus saja tertawa saat melihat banyaknya pesan yang abangnya kirimkan pada Risa.


Sorenya, Risa memutuskan untuk kembali ke Jakarta bersama Albert dan Ayana.


Ia tak ingin membuat Aydin semakin kesal padanya, sehingga Ia akan menunggu Aydin pulang bekerja di rumah orang tua Aydin.


Setelah mengobrol sebentar mengenai rencana mereka besok, Risa meminta izin untuk membersihkan dirinya pada Papa Dimas dan Mama Indria karena sejak pagi Ia telah bersama Ayana di Villa.


Tak lama sosok yang ditunggu Risa akhirnya tiba. Berbekal informasi dari orang tuanya jika Risa sedang membersihkan diri di kamarnya, sebuah senyum terbit di bibir pria itu.


“Aydin, awas saja kalau kau sampai lepas kendali pada Risa.” Peringat ayahnya saat Ia melihat putranya melangkah dengan lebar menuju kamarnya.


Aydin masuk dengan perlahan, “Dasar wanita ceroboh, dia bahkan tidak mengunci pintu. Bagaimana jika yang masuk adalah orang lain,” gumamnya.


Aydin melepas dasinya dan sengaja berdiri membelakangi pintu kamar mandi.


Risa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang menutupi tubuhnya dan handuk yang tergulung di atas kepalanya, awalnya cukup terkejut dengan kehadiran sosok pria di kamar ini.


“Ay,” sapanya.


“Hmmm,” balas Aydin dengan dehaman tanpa berbalik menatap Risa.


Risa memeluk Aydin dari belakang karena sadar jika pria itu kini sedang merajuk dan dirinyalah yang telah menjadi penyebabnya dengan berkali-kali mengabaikan pangggilan telepon darinya.

__ADS_1


“Ay maafin aku yah, tadi aku benar-benar lagi sibuk meeting,” ucap Ayana beralasan.


“Dia berbohong,” batin Aydin kecewa.


“Kamu yakin? Jangan berbohong padaku Risa,” tanya Aydin sekali lagi.


“Kamu meragukanku Ay? Aku beneran sibuk meeting seharian ini untuk menyeleksi model-model yang akan direkrut," Jelas Risa.


Aydin berbalik menatap Risa, Ia terperanjat karena melihat penampilan kekasihnya kini yang sungguh menggoda iman dan menyiksa sesuatu yang sedang terpenjara.


Aydin menggeleng, hampir saja Ia goyah. Bisa-bisa niat awalnya untuk meminta penjelasan ke kekasihnya malah berakhir dengan Ia yang menyerang tubuh wanitanya.


“Seharian aku sibuk mencarimu kemana-mana. Aku menghubungimu tapi tak ada jawaban. Dan kini kamu masih berani berbohong padaku.” Tekan Aydin.


Risa menelan salivanya, “Sepertinya Aydin benar-benar marah padanya. Baiklah hanya ini satu-satunya cara,” batinnya memikirkan ide apa yang bisa membuat mood kekasihnya kembali baik.


Segera Risa memeluk Aydin, menyandarkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya.


“Ay, maafkan aku. Aku tidak berbohong, aku memang sedang sibuk meeting tapi tidak di kantor. Aku minta maaf yah karena lupa memberitahumu.” Bujuknya dengan manja.


Cup.


Sengaja Risa mengecup bibir Aydin lebih dulu.


Aydin tak membalas.


Cup.


Sekali lagi Risa mulai lebih dulu menyapa bibir sang kekasih.


Kali ini Ia bahkan tidak hanya mengecupnya.


Pria itu akhirnya segera menyambut apa yang telah di mulai kekasihnya.


Napas Aydin mulai memburu saat Ia berhasil menarik tali bathrobe yang menutupi tubuh Risa.


Dengan bibirnya yang kini masih bermain di sekitar leher jenjang kekasihnya, tangannya tanpa perintah segera membelai tubuh sang kekasih mulai dari bawah hingga mencapai pada keindahan di dada sang kekasih.


“Stop Ay."


Huh... huh... huh...


Ucap Risa, sambil terus mengatur napasnya yang kini tidak beraturan karena sentuhan lembut di tubuhnya.


“Kita sedang di rumah orang tuamu,” peringatnya.


“Tak masalah sayang, selagi kamu bisa menahan lenguhanmu,” ucap Aydin tapi tangannya malah menekan di bagian yang menjadi sumber bagi sebuah lenguhan lolos dari bibir manis kekasihnya itu.


“Ay,” cicitnya.


“Hmmm...” balas Aydin dengan berdeham.


“Hentikan Ay, kita bisa saja kebablasan.” Peringat Risa.


Aydin menyeringai, “Memang itu yang ku inginkan kini sayang. Dengan begitu, kau tidak akan bisa lepas dariku lagi dan kedua orang tua kita akan memberi restu untuk kita melangkah lebih jauh lagi dalam hubungan kita," jelasnya.


“Tapi Ay,” Risa seketika menjadi ragu setelah mendengar rencana Aydin.

__ADS_1


Pasalnya, orang tua mereka sebenarnya sudah merestui jika keduanya ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi. Jadi sebenarnya Aydin tidak perlu berpikir terlalu jauh.


“Kenapa Yang? Jika hanya dengan memilikinya bisa membuktikan jika kita berdua memang serius, kenapa tidak.” Ucap Aydin dengan yakin, sambil terus mengelus lembut perut Risa.


Aydin lalu melepas kemejanya setelah berhasil membuat Risa polos.


Tok..tok..tok..


“Ma... Mama Risa... Mama Risa... buka pintunya Ma,”


Suara bocah pria yang tak asing terdengar dari luar.


“Kak... Kak Risa...”


Lalu disusul suara Ayana.


“Mengganggu saja,” Aydin menggerutu sedang Risa hanya menahan senyumnya.


Dengan berat hati Aydin membuka pintu kamar yang terkunci.


Dafha berlari masuk membawa baju untuk Risa.


Ayana yang melihat keadaan berantakan abangnya dan juga Risa sudah paham jenis peperangan apa yang baru saja terjadi.


“Maaf mengganggu waktu bertempurnya yah Bang,” ucap Ayana sambil menyengir.


“Ya udah cepat sana keluar,” balasnya ketus dengan gerakan tangan yang mengusir Ayana.


“Dafha juga, tungguin mama siap-siap dulu yah,” bujuknya lembut pada putranya.


Dafha mengangguk lalu beralih naik ke atas tempat tidur.


“Loh, kok malah naik disitu boy?” tanya Aydin.


“Kata Daddy, minta nunggu Mama siap-siap dulu, ini aku lagi nunggu Mama Risa," jawabnya polos.


“Maksud Daddy, Dafha tunggunya di bawah yah, bareng aunty Yana, Oma, dan Opa,” Pinta Aydin sekali lagi.


Dafha menggeleng, melihat itu Risa segera memanfaatkan celah ini agar bisa lolos.


“Ya sudah, tunggu yah Aku siap-siap dulu. “ Ucap Risa kemudian beranjak kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.


Aydin mendengus rencananya terancam gagal.


Ia hendak menyusul Risa, namun batal setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang dikunci dari dalam.


“Gagal lagi,” keluhnya dalam hati.


Ayana akhirnya tertawa setelah tak sanggup lagi menahan saat melihat raut wajah kecewa abangnya.


Saat Aydin berbalik menatapnya tajam, Ayana segera berlari keluar sebelum Abangnya itu mulai mengoceh.


“Daddy, kok tiba-tiba cemberut? Daddy sedang kesal yah?” tanya Dafha dengan polosnya membuat Aydin hanya bisa menjawab dengan helaan napasnya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Maafkan aku jika aku harus kembali bersikap egois. Maafkan aku yang tak jujur, tapi setelah aku membaca pesan yang baru saja ku terima pada salah satu akun sosial mediaku, membuatku yakin jika aku harus segera memilikimu seutuhnya. Memilikimu hanya untukku, walau dengan cara yang egois.” Batin Aydin.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


"Cinta adalah hal yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan" – Ovid


__ADS_2