
Hidup ini singkat, tak sebanding dengan dunia yang begitu luas.
Tak ada yang bisa menjamin kau dapat mengunjungi semuanya.
Maka kunjungilah tempat baru sebanyak yang kau bisa, buatlah pengalaman sebanyak mungkin untuk diceritakan, bukan untuk di tampilkan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Apakah berlebihan jika Risa menjadikan saat ini menjadi salah satu waktu terbaik dalam hidupnya.
Waktu yang paling menyenangkan ketika Ia merasa sangat dicintai oleh dua pria berbeda usia, waktu menyenangkan ketika mereka bercengkrama, tertawa bersama, menjaga hangatnya kebersamaan menggulirkan banyak detik dalam keceriaan, canda, dan tawa.
Salah besar jika seseorang mengira kebahagiaan berasal dari harta dan tahta.
Tapi hanya sesederhana kebersamaan bersama orang tercinta yang juga mencintai diri kita.
Pak Made, sedikit menaikkan kecepatan lajunya ketika Dafha tak henti-hentinya mengeluhkan jika dirinya lapar.
Risa sudah menggunakan berbagai macam cara untuk membujuk Dafha agar mau makan roti yang Ia bawa, namun anak laki-laki itu terus menolak.
Aydin mendengus, pria itu yakin jika hal ini hanya akal-akalan Dafha saja yang ingin terus bermanja-manja di pangkuan Risa.
Akhirnya Pak Made meghentikan laju mobil di depan sebuah restauran yang letaknya masih di kawasan pantai Bingin.
Menurut Pak Made, restaurant ini letaknya tidak jauh dari villa yang akan mereka tempati nanti.
Restaurant ini langsung menarik perhatian Aydin dan Risa. Restaurant yang mengusung konsep back to nature ini memanjakan mata pengunjung dengan gubuk-gubuk beratapkan jerami dan dedaunan khas Bali. Furniturenya semakin mendukung konsep alamnya, karena ada beberapa meja dan kursi yang terbuat dari kayu mentah.
Dafha juga tidak terkecuali mengagumi restaurant pilihan Pak Made. Ada berbagai macam permainan untuk anak-anak yang akhirnya bisa membuat Aydin sedikit bernapas lega.
Risa dan Aydin memilih meja yang tak jauh dari tempat Dafha bermain. Tak pernah sekalipun pandangan Risa berpaling dari Dafha yang kini tengah bermain.
Risa telah selesai memesan beberapa jenis hidangan yang tentunya termasuk kedalam hidangan yang lezat dan menyehatkan, tak lupa jus buah tropis untuknya dan Aydin.
Untuk Dafha, Risa memesan set menu lunch box.
Aydin yang awalnya duduk berhadapan dengan Risa kini berpindah duduk dibelakang wanitanya.
Mengambil kesempatan untuk membawa Risa kedalam dekapannya.
“Sayang, sejak tadi yang kamu tatap Dafha terus. Memangnya kamu gak akan takut aku dilirik bule bule sek*i yang ada di sana," canda Aydin ingin menarik perhatian Risa.
“Itulah bedanya Dafha denganmu. Lihat Dafha, meski tidak berada di dekatku, tapi dia tidak pernah memikirkan atau melirik wanita lain.” Ucap Risa sambil sesekali membalas lambaian tangan Dafha padanya.
“Sedang kamu, meski tengah memelukku tapi masih sempat-sempatnya memperhatikan wanita lain.” Lanjut Risa sambil berdecak.
Aydin tertawa mendengar jawaban Risa yang malah membela putranya.
“Kata siapa aku melirik ke wanita lain, kamu jangan asal nuduh." Balas Aydin, sambil sesekali mencuri kecupan di pipi wanitanya.
“Kata kamu sendiri. Dari mana kamu tau kalau bule-bule di sana pada sek*i? Itu karena kamu udah melirik kesana kemari.” Jawab Risa ketus.
“Lagian kamu ngelirik yang sek*i aja jauh banget, padahal di depan mata sudah available.” Canda Risa, diikuti tawa mereka berdua.
Aydin semakin mengeratkan pelukannya di perut Risa, menarik tubuh kekasihnya agar semakin menempel padanya.
"Segini masih kalah kamu sayang.” Bisiknya, sambil membelai lembut perut Risa yang tak tertutupi crop top yang Ia kenakan.
Aydin dengan sengaja menghembuskan napasnya saat berbisik membuat Risa meremang.
“Ku tunggu pembuktiannya sebentar yah sayang, kita renang bareng.” Tantang Aydin dengan alis naik turun.
Risa mencebikkan bibirnya, mendengar Aydin yang sengaja mengambil kesempatan.
__ADS_1
Merasa gemas dengan ekspresi wajah Risa, Aydin segera mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat kamera ponselnya lalu tak lupa memposting pada akun sosial medianya.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Sejak dari restaurant Dafha terus saja cemberut. Tak melepaskan pelukannya pada Risa. Anak itu semakin bertingkah manja.
“Dafha kenapa?” Tanya Risa lembut.
“Dafha kesal sama Daddy.” Jawabnya singkat.
“Kok kesalnya sama Daddy, memangnya Daddy salahnya apa?” Tanya Aydin setelah mendengar dirinya dijadikan alasan merajuknya Dafha.
“Dari arena bermain, Dafha lihat Daddy terus-terusan peluk dan cium Mama.” Jawab Dafha dengan polosnya.
Sementara wajah Risa sudah merona karena mereka kini masih berada di dalam mobil bersama Pak Made, yang pastinya mendengar semua ucapan polos Dafha.
“Memangnya kenapa kalau Daddy peluk dan cium Mama?” balas Aydin.
Risa rasanya ingin menenggelamkan dirinya saja, karena Aydin malah mengajak putranya berdebat.
“Ya gak boleh, Mama Risa Cuma punya Dafha.”
Pekik Dafha sambil bersedekap di depan dada, menantang Daddynya.
“Gak boleh egois boy, Mama Risa juga punya Daddy.” Ucap Aydin tak ingin mengalah dari putranya.
Walau perdebatan itu hanya berlangsung beberapa menit tapi sukses membuat telinga berdengung mendengar tangisan Dafha.
Untung saja, tak berselang lama, Pak Made menghentikan mobilnya.
“Permisi Pak, Bu, sudah sampai di villa.”
Risa mengangguk dan segera turun setelah Pak Made membukakan pintu untuknya, sementara Dafha masih betah dalam gendongan Risa.
Petugas villa mengantar mereka menuju kamar yang sudah dipesan oleh Gio dan Amora, kamar tipe honeymoon bungalow yang disediakan untuk pasangan yang baru saja menikah.
Risa segera membaringkan Dafha di ranjang setelah menyadari jika anak itu telah tertidur dalam gendongannya.
Namun Risa masih harus menemani Dafha berbaring agar kembali terlelap karena bocah itu sempat terbangun.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aydin segera melepas pakaiannya.
Menggantinya dengan celana renang sementara tubuh bagian atasnya Ia biarkan polos.
Sebelum beranjak ke kolam, tak lupa Aydin menghampiri Risa.
“Aku menunggu tampilan seksimu sayang.” Bisiknya, dengan meninggalkan kecupan sekali di pipi Risa yang kini berbaring dalam posisi miring menghadap Dafha.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Kembali ke Ibu kota, Eijaz yang berharap dapat menemui Aydin sahabatnya harus kembali kecewa karena harapannya tak terwujud.
Saat ini Ia harus puas karena hanya bisa bertemu dengan sekertaris Aydin saja.
“Maaf Pak, tapi Pak Aydin sedang tidak di tempat. Beliau sedang cuti keluar kota.” Ucap Sesil pada seorang pria yang ingin menemui bosnya.
“Baiklah, tolong minta Aydin menghubungiku saat Ia kembali.” Balas Pria itu sambil memberi kartu namanya.
“Eijas Humesh,” Ucap Sesil saat membaca nama yang tertera pada kartu nama itu.
“Tampan juga. Kalau si Bos gak bisa, teman si Bos juga boleh,” batinnya.
Sesil terus menatap punggung pria itu hingga hilang di balik lift. Setelah itu Ia lebih dulu menyimpan kontak Eijaz pada ponselnya sebelum Ia menyimpannya di dalam map yang akan Ia letakkan di meja Aydin.
Eijaz terus menghubungi Aydin melalui aplikasi sosial media yang selama ini menghubungkan keduanya.
Beberapa kali tapi tetap tidak ada jawaban.
Romi yang menyadari kehadiran bosnya yang hanya seorang diri, sudah bisa menyimpulkan hasil kunjungan ke dua mereka hari ini.
“Pak, bagaimana jika kita makan siang dulu.” Usul Romi saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
Romi sangat berharap bosnya menerima usulnya. Sebab saat tadi menunggu, Romi menerima pesan singkat dari Ayahnya yang meminta agar Ia memastikan jika Eijaz tidak sampai telat makan dan meminum obatnya.
__ADS_1
“Boleh. Tapi aku sangat ingin makan nasi padang.”
Romi mencoba mengingat-ingat dimana restaurant terdekat yang menyajikan menu hidangan nasi padang.
Romi melajukan mobilnya perlahan selama 5 menit untuk mengitari kompleks perkantoran yang masih di lokasi yang sama dengan Ohana Tech.
Akhirnya Ia mendapatkan apa yang Ia cari.
Setelah mobil terparkir sempurna, baik Eijaz dan Romi berjalan beriringan masuk ke dalam Resto.
Eijaz mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sontak matanya berbinar dengan senyum mengembang ketika netranya menangkap sosok wanita cantik yang sudah lama tidak Ia temui.
“Ekheemm... boleh aku duduk disini?” ucap Eijaz, mengganggu konsentrasi wanita yang sedang menikmati makan siangnya.
Wanita itu mau tak mau mengalihkan pandangannya yang semula menunduk menatapa ke arah piringnya, kini Ia harus sedikit menengadah untuk melihat wajah pria yang ingin duduk di meja yang sama dengannya. Sementara masih banyak kursi lain yang kosong.
“Astaga.... Eijaz.” Pekik wanita itu girang.
“Franda.... Apa kabar?” balas Eijaz, juga ikut tersenyum melihat kehebohan Franda.
“Aku baik-baik saja. Sudah lama kita tidak bertemu.” Jawab Franda.
“Bagaimana denganmu?”
“Kau tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.” Ucap Franda.
“Aku baik. Aku menetap di L.A, membantu Bunda mengurus perusahaan pusat di sana.” Ujar Eijaz yang kini sudah duduk di hadapan Franda.
Sementara Romi yang tak ingin mengganggu, berniat duduk di meja lain. Namun Franda mencegahnya dan meminta Romi bergabung dengan mereka.
“Jadi mengapa akhirnya kau kembali ke Indonesia?” tanya Franda.
“Semua orang akan kembali dimana rumahnya, Nda. Hatiku yang menuntunku kembali ke pemiliknya, ke rumahnya.” Jawab Eijaz.
Franda hanya tertawa, jawaban jujur Eijaz dianggap candaan baginya. “Apa sekarang kamu berprofesi sebagai penulis? Ucapanmu sungguh puitis,” canda Franda.
Eijaz turut tertawa, “Aku baru saja mengunjungi perusahaan Aydin, tapi dia sedang keluar kota.”
“Hemm... Dia sedang ke Bali bersama kekasihnya, yang ku dengar dia akan melamar wanitanya di sana.”
Meski sudah berusaha ikhlas dan merelakan Aydin, namun tidak bisa dipungkiri jika hatinya masih sakit saat mengetahui rencana Aydin melamar Risa.
“Oh, aku sangat penasaran dengan wajah kekasih Aydin. Apa kau mengenalnya? Pria itu selalu memposting kemesraan mereka di sosial medianya, tapi tak pernah menampakkan wajah wanita itu.”
“Ya, aku mengenalnya. Dia wanita yang baik. Mereka memang merahasiakan hubungan mereka dari publik, kekasihnya adalah seseorang yang cukup terkenal.” Ujar Franda makin membuat Eijaz penasaran.
“Siapa wanita itu?”
Franda melirik sekilas ke arah Romi. Jangan sampai berita ini bocor dan itu semua karenanya.
Franda menggeleng membayangkan apa yang terjadi. “Penasaranlah dulu, kau akan terkejut saat tahu siapa wanita itu.”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Sepertinya nanti akan ada acara pernikahan di Villa ini,” ucap Risa yang sedang membantu Dafha memakai pakaian renangnya.
Pagi ini, mereka memilih untuk menikmati floating breakfast.
Aydin yang sudah lebih dulu berada di kolam terkejut dengan ucapan Risa.
“Kamu tau dari mana?” tanyanya.
“Aku lihat beberapa orang sedang mendekorasi taman. Aku yakin jika dekorasinya sudah selesai, tempat itu akan nampak makin indah.”
“Apa kamu suka dengan dekorasinya?” tanya Aydin mulai penasaran.
“Entahlah, dekorasinya belum selesai. Aku cuma menebak saja, karena mereka menggunakan bunga yang sangat banyak.”
Aydin berbalik, lalu melanjutkan berenang menjauh dari Risa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
"Cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna, tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan kamu, adalah orang yang membuktikannya padaku.”
__ADS_1