
Setelah menemui Dafha , kini Risa menuju ke sebuah restaurant untuk menghadiri janji temunya dengan seseorang .
Risa melirik jam di pergelangan tangannya , sesuai rencana Ia datang lebih awal karena ingin mengganti pakaiannya .
Risa dan Esme memasuki restauran . Setelah menyebutkan nama orang yang berjanji dengannya , pelayan segera mengantar keduanya ke sebuah ruang VIP .
Esme masuk kedalam ruangan untuk menunggu sedang Risa harus ke toilet untuk mengganti pakaiannya .
Jika saat menemui Dafha , Risa mengenakan celana jeans high waist dengan atasan croptop oversized berbahan rajut . Wajahnya juga sengaja tidak Ia rias berlebihan . Tujuannya agar kehadirannya tidak menarik perhatian dan mencegah kejadian di Palembang terulang .
Sekarang Risa mengganti pakaiannya dengan tea- length dress kemeja tanpa lengan berwarna maroon . Risa menambahkan aksesoris belt , sehingga makin menampakkan pahatan indah tubuh seorang Kim Risa .
Risa yang memang tidak menyukai riasan yang tebal , hanya menambahkan liptint dan perona pipi saja .
Kini Ia sudah siap untuk janji temu keduanya hari ini .
Saat Risa hendak masuk kembali ke ruangan VIP , samar samar Ia mendengar suara pria .
" sepertinya dia sudah datang . " batin Risa .
Dengan percaya diri Risa masuk ke dalam ruangan. Benar saja di sana Esme sudah ditemani oleh 2 orang pria .
Ketiganya lalu berdiri menyambut Risa .
" Maaf aku membuat kalian menunggu . " Ujar Risa ramah dengan senyum manis menghiasi wajahnya .
Kedua pria itu terlihat jelas memandangi Risa dengan tatapan memuja . Tatapan penuh kekaguman terpancar jelas dari 2 pasang manik mata pria itu .
Risa sudah berdiri di hadapan mereka , tapi keduanya masih mematung memandangi indahnya ciptaan Tuhan .
Risa melirik Esme yang sedang menahan tawa.
" Maaf membuat kalian menunggu . " ulang Risa .
" Saya , Kim Risa . " ujarnya memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan.
Ucapan Risa barusan menyadarkan keduanya .
Salah satu pria segera menyambut uluran tangan Risa .
" Maaf , saya Albert dari Sky High Group . " Ujarnya .
" Dan ini atasan saya , Pak Giovanni Ezra . CEO Sky High Group . " lanjutnya .
Risa lalu bergantian berjabat tangan dengan pria yang di perkenalkan sebagai CEO itu .
" Ternyata dia masih muda . " Batin Risa .
" Giovanni Ezra . Panggil saja Gio . " ujarnya .
" Silahkan duduk , Nona Kim ... " lanjutnya mempersilahkan Risa duduk dengan sopan .
" Tak ku sangka bisa bertemu langsung dengan model terkenal seperti Nona Kim . " puji Gio .
" Risa . Panggil saja Risa . " ujar Risa .
" Oke.. Risa , as you wish . " balasnya .
Salah seorang pelayan masuk , memberi mereka buku menu .
Gio mempersilahkan Risa dan Esme memesan terlebih dahulu . Setelah itu barulah Albert memesan untuk dirinya dan bosnya .
" Hanya teh ? Apa tidak memesan makanan ? " Gio sengaja menawarkan kedua wanita ini makan , agar bisa lebih lama waktu bersama Risa .
" Terimakasih . Teh saja cukup . " tolak Risa sopan .
" Risa sangat luar biasa . Cantik dan ternyata sangat fasih berbahasa Indonesia . " ujar Gio .
Risa tersenyum . " Pak Gio terlalu memuji , ini karena tuntutan pekerjaan saja . "
" Bisakah kamu menghilangkan panggilan Pak ? Aku merasa sangat tua padahal usiaku baru 35 tahun . " ujar Gio .
Risa mengangguk . " Oke Gio , as you wish . " Ujar Risa menirukan ucapan Gio .
Gio makin tertarik pada wanita di hadapannya ini . Cantik dan berani .
" Jadi Risa , apa yang membuatmu mengajukan proposal kerjasama sebagai investor ? " tanya Gio .
__ADS_1
" Sungguh aku penasaran . Seorang model terkenal dari Korea , berbisnis di bidang penerbitan , aktif di kegiatan sosial bahkan memiliki yayasan sosial . Mengapa sekarang melirik ke bisnis properti ? "
Benar dugaan Risa . Gio pasti akan curiga . Tapi tak Ia sangka jika Gio sampai mencari tahu tentangnya sedetail itu .
" Hanya untuk persiapan saja . Aku tidak akan selamanya bisa berkarir di dunia modelling . Menjalankan bisnis sendiri masih sulit karena kesibukanku . Jadilah aku memutuskan untuk berinvestasi saja . " ujar Risa santai .
" Mengapa memilih property ? Dan mengapa harus di Indonesia ? "
Gio masih tidak berhenti bertanya .
" Property menguntungkan dan jangka panjang . " ujar Risa .
" Jika di Korea maka aku masih harus menabung beberapa tahun lagi untuk berinvestasi . Terlalu besar nominal yang harus ku siapkan . " Ujar Risa merendah .
" Tapi ku lihat jumlah penawaranmu juga bukan nominal yang sedikit . " Ujar Gio .
" Itu akan sepadan dengan yang akan ku dapatkan nanti . Bukankah begitu ? " Raut wajah Risa berubah . Mengingat ini adalah jalan agar dia bisa mulai menghancurkan Ferdinand .
Gio menyadari perubahan raut wajah Risa .
Ia segera tertawa untuk mencairkan suasana ....
" ha... ha.. ha.. maaf jika aku terlalu serius . " ujarnya .
" Sebenarnya sepanjang karir bisnisku , aku tidak pernah menerima adanya investor . Karena semua yang ku buat bagiku adalah sebuah karya . Aku tak ingin orang lain mengaturku . " Ujar Gio .
" Akan ku buat pengecualian untukmu . Tapi hanya untuk satu proyek saja . Bagaimana ? " tawar Gio .
Albert terkejut dengan keputusan Bosnya . Seingatnya pagi tadi Bosnya merasa tersinggung dengan permintaan seorang model yang berani menurutnya .
" Wah.. bukankah aku sangat beruntung mendapat pengecualian itu . Tapi apa boleh aku yang memilih proyeknya ? " pinta Risa.
Jangan lupakan puppy eyes andalannya .
Gio mengangguk , " Bagaimana aku bisa berkata tidak jika itu keinginanmu . "
" Terimakasih , aku sangat menantikan kerjasama ini . " ujar Risa bersemangat .
Setelah itu mereka mengobrol lebih santai sambil menikmati pesanan mereka masing-masing .
Gio semakin tertarik dengan Risa . Risa berwawasan luas , mungkin karena Ia tidak hanya wara wiri di Korea saja . Beberapa negara Asia , Amerika , dan Eropa sudah tak asing dengan wajah model cantik ini .
" Risa , bagaimana jika kamu menjadi model untuk promosi apartemenku yang terbaru ? " tawar Gio .
Albert sudah akan protes , pasalnya dalam meeting terakhir sudah ada seorang model yang dipilih .
Tapi tatapan Gio membuatnya diam .
" Bagaimana aku akan berkata tidak jika itu permintaan Gio . " ujar Risa menirukan kalimat Gio sebelumnya .
Gio tertawa terbahak bahak . Hilanglah sudah image Giovanni , CEO arogan yang suka mengintimidasi partner bisnisnya .
Tak lama setelah itu Risa dan Esme harus pamit .
" Tidak bisakah kamu tinggal untuk makan siang bersamaku ? " pinta Gio .
" Terimakasih Gio , tapi maaf aku masih ada janji lain . Bisakah lain kali saja ? " tolak Risa .
" Oke . Aku akan menagihmu lain kali . Berhati hatilah . " ujar Gio .
Risa dan Esme kemudian keluar dari ruangan meninggalkan Gio yang masih menatap langkah wanita pertama yang membuatnya tidak bisa menolak .
Tanpa sengaja seorang wanita yang berjalan sambil bermain ponsel menabrak Risa yang tengah melangkah keluar dari restauran .
" Maaf ... maaf ... sungguh salahku karena tidak fokus . Tapi jujur aku tidak sengaja . " ujar wanita itu .
Esme baru akan membalas ucapan wanita itu ,tapi Risa mendahuluinya .
" Tidak apa apa . Aku mengerti . " Ujar Risa dengan senyum .
__ADS_1
Tanpa di duga dua pria yang baru masuk ikut berhenti .
" Ada apa Franda ? " tanyanya pada wanita yang menabrak Risa .
" Aydin ??? " batin Risa .
" Saya permisi . " ujar Risa buru buru sambil menarik Esme .
Franda menatap heran kedua wanita yang baru Ia temui .
" Franda ? " tegur Aydin sekali lagi .
" Eh.. ya.. tidak apa apa . Aku hanya gak sengaja menabrak wanita tadi . " jawabnya .
Ketiga orang itu adalah Aydin , Franda , dan Chandra . Mereka ke restauran untuk makan siang bersama klien yang tak lain adalah Gio .
" Selamat siang .... " Sapa Chandra .
Karena sudah sering bekerjasama , Gio dan Aydin menjadi teman .
" Albert , Ada apa dengan bosmu ? " tanya Aydin yang melihat Gio terus tersenyum .
" Sepertinya sebentar lagi Bos Gio akan pensiun sebagai pemain wanita . " ujar Albert berbisik tapi masih bisa di dengar Gio .
" Gue gak yakin . Tapi kalau benar benar kejadian , berarti wanita itu luar biasa bisa menjinakkan buaya macam Gio . " ujar Aydin.
" Aydin , lu jadi saksi yah . Kalau beneran gue jadi sama nih cewek , gue janji gak akan pernah macam macam lagi . Di kandangin sama dia juga gue rela . " ujar Gio membuat yang lainnya tertawa .
.
.
.
.
.
"*Berjanjilah, bahwa ini bukan pertemuan terakhir kita. Karna aku ingin akan selalu ada pertemuan manis di antara kita." ( Giovanni Ezra* )
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue