Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 144. Sehari bersamamu -1


__ADS_3

Tak akan ada yang abadi, sudah hukum alam yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


Setiap pertemuan maka akan ada perpisahan.


Terlepas dari manis atau tidaknya kenangan itu, semoga suatu saat nanti kita bisa lebih dewasa dengan memaafkan kesalahan di masa lalu.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


“Tak masalah jika yang ku lakukan hari ini akan menyakitiku nantinya, izinkan aku bahagia hari ini saja.”


“Izinkan aku menikmati hari ini dengan tawa, meski kutahu aku akan mengakhirinya dengan tangis.”


Suara hati seorang Risa, seorang wanita yang sangat sadar jika hubungan percintaannya sebentar lagi akan kandas.


Bahkan pernikahan yang sudah di depan mata harus dibatalkan.


Dan berita itu, akhirnya sampai pada Aydin.


Pria yang harusnya menjadi calon mempelai pria pada pesta pernikahan yang telah direncanakan dengan megahnya.


Dering telepon di atas meja kebesarannya berbunyi, Aydin dan Franda yang saat ini sedang mendiskusikan masalah pekerjaan harus menjeda sebentar untuk menerima panggilan itu.


“Ya Sil,” jawab Aydin pada sekertarisnya.


“Pihak WO menghubungi Bapak, mau diterima sekarang atau nanti saja Pak?” tanya Sesil.


“Sambungkan saja,” jawabnya.


Tak lama suara Sesil digantikan oleh suara seorang wanita, “Selamat siang Pak, mohon maaf jika mengganggu waktu Anda,” ucapnya di seberang telepon.


“Tak masalah, tapi bisa langsung saja?” potong Aydin.


Ia tak nyaman membicarakan soal pernikahannya yang terancam gagal karena ulahnya sendiri.


“Saya baru saja menerima kabar dari karyawan saya, apa benar anda telah membatalkan reservasi untuk pernikahan anda?” tanyanya.


Aydin bungkam.


“Apakah Risa yang melakukannya?” batin Aydin.


“Sebelumnya terimakasih karena sudah menghubungi saya, seingatku saya hanya mengundur jadwalnya saja,” jawab Aydin.


“Tapi akan saya cek kembali pada calon istri saya,” lanjutnya.


“Calon istri,” gumamnya sekali lagi bahkan saat sambungan telepon masih terhubung.


Franda segera mengambil alih gagang telepon dari genggaman tangan Aydin dan meletakkannya kembali dengan benar.


“Are you ok?” tanya Franda.


Aydin tiba-tiba saja blank, Ia kehilangan fokusnya.


“No, I’m not,” jawabnya.


Franda menatap sendu pria yang namanya masih terukir di dalam hatinya.


“Mau bercerita padaku? “ tawarnya.


“Nanti saja, aku masih belum siap membahasnya lebih jauh,” jawab Aydin.


“Baiklah, jika kau butuh teman untuk cerita, jangan ragu untuk menemuiku.” Ucap Franda.


Masih dengan keheningan antara Aydin dan Franda, tak lama muncullah sosok Risa dan Dafha dan berhasil mengejutkan keduanya.


Entah mengapa masih ada perasaan tak nyaman saat Risa melihat Aydin dan Franda berada dalam ruangan yang sama.


“Aku pamit keruanganku,” ucap Franda meninggalkan ketiganya.


“Bukannya kalian ingin pergi bermain dulu sebelum pulang?” Tanya Aydin.


“Ya, tentu. Itulah kami kemari untuk mengajakmu imut serta,” ucap Risa.


Sekilas Aydin menatap Risa, wanita itu bersikap seolah semuanya biasa saja namun dibelakang Aydin dia telah bersiap untuk pergi, pikir Aydin.


Kini ketiganya sudah berada di perjalanan menuju salah satu Mall yang sudah sering mereka kunjungi.


“Pihak WO menghubungiku soal pembatalan persiapan pernikahan kita, apa kamu yang melakukannya?” tanya Aydin.


Risa menoleh, melihat Aydin yang fokus dengan jalanan di depannya.

__ADS_1


Tanpa ekspresi, datar namun genggaman tangan Aydin pada kemudi seperti ingin menghancurkan apapun yang berada dalam genggamannya.


“Kita bicarakan besok saja, hari ini jangan rusak kebahagiaan Dafha,” jawab Risa, “Kumohon,” lanjutnya.


Aydin mengangguk setuju.


Benar saja, masih ada sehari lagi kebersamaan mereka, sampai saat itu Aydin dan Risa hanya ingin menikmati waktu berharga mereka bertiga.


⚘⚘⚘⚘⚘


Sungguh melelahkan seharian mengikuti segala keinginan Dafha, meski belum terlaru larut namun karena Dafha yang tertidur akhirnya ketiganya memilih untuk pulang ke rumah baru Aydin yang lokasinya tak jauh dari Mall.


Risa kembali melihat seisi rumah, yang di dalamnya juga ada turut campur tangan darinya.


“Dafha sudah tidur?” Tanya Risa saat melihat Aydin muncul setelah menggendong Dafha ke kamarnya.


“Hemmm,” dehaman yang menjadi jawaban Aydin.


“Bagaimana denganmu? Mau ku antar pulang?” tanya Aydin.


“Kamu mengusirku?” balas Risa.


“Aku memberimu pilihan,” bantahnya.


“Sama saja,” gerutu Risa.


Risa melangkahkan kakinya dengan kesal menuju kamar utama, kamar yang harusnya 2 minggu lagi akan Ia tempati sebagai pengantin baru seandainya perpisahan dengan Aydin tak akan terjadi.


Tak jauh berbeda dari Risa, netra Aydin terus saja mengawasi Risa kemana langkah wanita itu.


Senyum terbit di wajahnya ketika melihatnya masuk ke dalam kamar mereka.


“Kamar kami?”batin Aydin merasa ragu.


“Mungkin setelah berpisah aku akan mengunci kamar itu hingga pemilik sebenarnya kembali,” keluhnya sembari menghela napasnya.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Pagi ini Risa bangun dan dikejutkan oleh sosok Aydin yang tertidur di sisinya.


“Aydin,” pekikan Risa cukup keras dan sukses membangunkan Aydin dari tidur nyenyaknya.


“Kamu kenapa tidur di sini?” tanya Risa.


Kening Aydin mengernyit, Ia paksakan matanya agar dapat terjaga dengan sempurna.


“KE-NA-PA?” tanyanya dengan suara yang ditekan.


“Karena ini juga kamarku, dan kamu masih calon istriku!” tegasnya sekali lagi.


“Sebentar lagi juga sudah mantan,” gumam Risa yang masih bisa didengar oleh Aydin.


“Dan sepertinya kamu bersemangat sekali tentang itu, apa kamu sudah punya rencana lain?” tanya Aydin asal, namun sukses membuat Risa terperanjat.


“Apa aku benar? secepat itu?” tanya Aydin.


Risa memutar bola matanya kesal, sepagi ini dam Aydin sudah mengajaknya berdebat.


“Aydin, sekali lagi kuingatkan padamu, aku sudah merendahkan harga diriku berkali-kali untuk memohon cintamu. Namun yang terjadi, kamu tetap bersikukuh dengan keraguanmu padaku. Apa yang kamu ragukan padaku?” ungkap Risa.


Aydin terdiam.


“Semua benar, ucapan Risa semuanya benar. Aku termangu dalam posisi duduk di ranjang kami, yah seharusnya seperti itu. Tapi entah bagaimana takdir mengatur kehidupan kami nanti.” Batin Aydin.


Sekilas bayangan Eijaz yang terbaring lemah tak berdaya saat sedang cuci darah, terbayang dengan jelas dalam benak Aydin.


“Sudah cukup dulu aku kehilangan Kirani karena aku egois mementingkan pekerjaanku dan tidak memedulikannya hingga akhirnya Ia tiada karena penyakit yang baru saja ku ketahui beberapa waktu terakhir di hidupnya,” batin Aydin.


“Aku tak ingin hidup bersama Risa dan dibayangi oleh rasa bersalah jika Eijaz benar-benar tiada. Egois bukan, aku memang mengakui jika aku egois, ku korbankan perasaan wanita yang mencintaiku dan tentunya kucintai,” lanjut Aydin membatin.


“Sekarang ku yakin jika Risa benar-benar sangat mencintaiku, akupun begitu. Aku hanya berharap jika suatu saat nanti, jika takdir memang menetapkan kami bersama, tolong pertemukan kami kembali dengan perasaan yang masih terjaga,” batin Aydin.


Sementara Risa yang bosan menunggu akhirnya berlalu menuju kamar mandi.


Risa menghela napasnya, sebulir air mata kembali berlinang dari pelupuk matanya.


“Kau sangat lemah Risa, kenapa kau lagi-lagi memohon cinta pria pengecut itu?” lirihnya


sambil menatap pantulan dirinya dari cermin besar yang ada di sana.

__ADS_1


“Aku bisa melihat dan merasakan cintanya padaku, lantas apa yang membuatnya mampu merelakan dan mengorbankan perasaannya,” batin Risa terus bertanya-tanya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Setelah bersiap Risa setengah berlari untuk membuka pintu rumah, setelah suara bel tak hentinya berbunyi.


Aku cukup terkejut ketika mama Indira, Ayana, dan juga Chandra berdiri di depan pintu rumah dengan senyum merekah.


“Mama?” sapa Risa tak bisa menyembunyikan lagi betapa terkejutnya dirinya.


Meski Mama Indira tentunya sudah tahu jika dirinya dan Aydin sudah sering bermalam bersama, tapi ini pertama kalinya beliau mendapati hal ini secara langsung.


Terlebih fakta jika di rumah ini mereka hanya berduaan, karena Dafha pastinya sudah tertidur di kamarnya.


Mama Indira melewati Risa yang berdiri mematung, berusaha menahan tawanya melihat calon mantu kesayangannya itu sangat terkejut dengan kehadirannya.


“Ma... Maaf merepotkan,” ucap Aydin.


“Risa tak bilang jika penerbangan ke Palembang yang Ia pesan itu adalah penerbangan pagi,” jelas Aydin.


“Menjaga cucu Mama bukan hal yang merepotkan,” balas Mama Indira.


“Astaga benar, tiketnya. Tapi dari mana Aydin tahu?” batin Risa.


Ia ikut bergabung dengan Mama Indira yang sedang membuka beberapa box makanan untuk sarapan.


“Jadi berapa lama kalian akan pergi? Setelah ini jangan lagi bepergian dulu, tak baik calon pengantin bepergian jauh jika pernikahan sudah dekat,” peringat mama Indira.


“Iya Ma, tenang saja ini yang terakhir kalinya,” jawab Aydin.


Meski senyuman yang tergambar di wajah cantik Risa, namun di dalam hatinya kini Ia menangis.


“Benar, ini akan jadi yang terakhir,” batinnya.


⚘⚘⚘⚘⚘


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan Chandra menuju bandara Soekarno Hatta.


Entah sudah berapa lama, tapi Aydin terus saja menelan salivanya melihat penampilan Risa yang sungguh menggoda.


Sejak semalam, Ia haru tidur bersama Risa tanpa bisa mendekapnya seperti biasa, sungguh sangat berat bagi Aydin.


Pria itu tak henti memandangi wajah Risa yang kini sedang sibuk dengan ponselnya dan sesekali tersenyum.


“Risa,” serunya.


Risa mengabaikan ponselnya dan menoleh pada Aydin.


Sontak Risa dibuat terkejut ketika bibir Aydin telah mendarat tanpa permisi di bibirnya.


Meski tak menolak, tapi tak ada sambutan hangat dari Risa seperti biasanya hingga Aydin menyerah dan berhenti.


“Kamu masih calon istriku Risa,” tekannya, sebagai peringatan bagi Risa.


“Hemm, dan hal itu akan berubah, segera,” balas Risa membuat Aydin mengepalkan tangannya.


“Enak saja menciumku tanpa izin, bukannya dia yang katakan jika ini adalah perjalanan terakhir,” gerutu Risa dalam hati.


“Jika perjalanan terakhir, aku tak boleh terlalu terlena hingga nantinya akan menyakiti batinku sendiri,” batin Risa.


“Selain menyiapkan perjalanan ke Palembang, kamu menyiapkan hal apa lagi yang tidak ku ketahui Risa? Jawablah jujur, karena aku mendengar Muti mengatakan jika semuanya sudah siap,” tuntut Aydin.


Risa kini menatap Aydin dengan tatapan tajam.


“Yang kamu perlu tahu, hanyalah aku memang menyiapkan perjalan kita ke Palembang hari ini, selebihnya aku tak punya kewajiban lagi memberitahumu,” balas Risa tak kalah tegasnya.


⚘⚘⚘


Chandra yang sejak tadi hanya sebagai pendengar, dibuat tak kuasa menahan jiwa ingin tahunya yang meronta-ronta.


Setelah tadi menggerutu karena si bos yang juga calon kakak iparnya, dengan tak tahu dirinya berciuman dengan tunangannya, namun berakhir kecewa karena tak berbalas, dalam hati Chandra tertawa.


Namun setelah mencuri-curi dengar pembicaraan keduanya, sepertinya hubungan mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja.


“Apa masih saja mengenai masalah amanat itu? Tapi bukankah mereka sudah baik-baik saja,”


“Arrrggghhh, aku penasaran,” batin Chandra.


⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Jika memang kehidupan ini tidak mengizinkanku untuk bahagia bersamamu, setidaknya semua kenangan bahagia kita hari ini akan membuatku bahagia meski hanya dalam ingatan.


__ADS_2