Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 145. Sehari bersamamu-2


__ADS_3

Tak peduli jika yang dirimu torehkan adalah kenangan indah atau kenangan buruk, yang pasti kenangan itu akan menjadi alasan betapa sedih hatiku karena perpisahan kita.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Jika melihat Risa dan Aydin saat ini, tak akan ada yang menyangka jika dua insan yang duduk berhadapan itu saling mencintai. Pasalnya mereka duduk dalam satu meja yang sama, saling berhadapan, namun sama sekali tak ada interaksi antara keduanya.


Alih-alih ingin menciptakan kenangan bahagia sebelum berpisah, yang terjadi adalah keduanya semakin saling menyakiti.


Keduanya kini sedang menanti waktu keberangkatan pesawat di sebuah executive lounge. Keduanya duduk saling berhadapan denga meja sebagai pembatasnya.


Aydin sibuk dengan ponselnya, sedang Risa terus melihat indahnya langit biru dari balik dinding kaca.


“Meski bukan senja, atau tak ada pelangi, langit biru yang hanya berhiaskan sedikit gumpalan awan tetap terlihat indah,” batinnya.


“Mungkin aku juga harus belajar seperti langit itu, meski tak akan lagi ada cinta di hidupku, tapi aku optimis bisa mendapatkan kebahagiaan lain,” lanjut Risa.


Yah, tak akan ada lagi cinta, tekad Risa.


Risa tak ingin lagi mengambil resiko untuk sakit hati ketiga kalinya.


Pria yang menjadi cinta pertamanya sejak dia lahir di dunia ini, bahkan tak pernah menginginkan dirinya.


Lalu saat ini, pria yang Ia harap akan menjadi pendamping hidup hingga akhir hayatnya, ternyata hanya mempermainkan perasaannya, melambungkannya tinggi, lalu menghempasnya kembali ke titik terendah di hidupnya.


Cukup, sudah cukup Risa bertualang untuk menemukan cinta sejatinya. Sepertinya hal itu hanya sebuah angan, mimpi yang tak akan pernah jadi nyata.


Tak jauh berbeda dengan Risa, meski kini ponselnya menampilkan laporan penting proyek perusahaannya, tapi pikiran Aydin berkelana jauh mengingat bagaimana pertama kali Ia tertarik pada wanita yang kini duduk di hadapannya.


Hanya untuk Risa, Aydin memutuskan meruntuhkan dinding pembatas untuk hatinya setelah kepergian Kirani. Dan benar saja, kesepian seolah sirna dari hidupnya ketika Risa berada di sisinya.


Namun dengan bodohnya aku malah melepaskannya. Memintanya melangkah untuk menjauh dariku.


“Risa,”


“Aydin,”


Seru keduanya secara bersamaan.


“Silahkan, kamu saja lebih dulu,” ucap Risa.


Risa tiba-tiba saja mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Aydin.


“Aku ingin meminta maaf, yang terjadi di mobil tadi....” ucapan Aydin terjeda.


“Tak perlu dipikirkan,” sela Risa.


Aydin mengangguk, “Risa, apa kamu percaya jika ku katakan aku masih sangat mencintaimu?” tanyanya ragu.


Risa menatap ke netra Aydin, tak ada keraguan atau kebohongan saat pria itu mengatakan perasaannya.


Risa mengangguk.


“Sungguh?” tanya Aydin memastikan kembali, dan Risa tetap menjawab dengan anggukan.


“Apa itu berarti kamu tak membenciku?” tanya Aydin.


Namun kali ini Risa menggeleng, “Aku malah semakin membencimu,” jawabnya.


“Tentu saja aku membencimu, itu karena kamu yang mencintaiku tapi tidak memperjuangkanku dari apapun masalahmu saat ini,”


“Tentu saja aku membencimu, karena perpisahan kita tak hanya akan menyakitiku, tapi juga menyakitimu,” lanjutnya.


Ucapan Risa baru saja benar-benar sukses menyayat hati Aydin. Bagaimana bisa Risa masih memikirkan perasaan pria pengecut dan egois seperti dirinya.


“Bahkan ketika aku telah menyebabkan kamu terluka berkali-kali, namun kamu masih memikirkan perasaanku,” batin Aydin.


“Risa, apakah mungkin kamu akan mencintai pria lain lagi?” tanya Aydin.

__ADS_1


Baru saja Risa hendak menjawab, namun terdengar pemberitahuan dari pengeras suara jika penumpang pesawat untuk penerbangan ke Palembang agar segera masuk ke pesawat.


“Ayo, kita bisa membahasnya lagi nanti,” ajak Risa.


Risa yang memilih berjalan lebih dulu cukup terkejut ketika lengan Aydin bertengger di bahunya, membuatnya tiba-tiba saja berhenti melangkah.


“Kenapa berhenti? Ayo sayang, jangan buat orang lain menunggu karena kita,” ucap Aydin dengan lembut seperti saat mereka masih bersama, sebelum masalah menerpa hubungan keduanya.


Risa tersenyum.


“Entah apa yang sedang kamu rencanakan Ay, kupikir kamu sangat mudah berubah-ubah,” ucap Risa sembari berusaha menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Aydin.


“Tak ada yang ku rencanakan sayang. Aku hanya ingin hari ini kita bersama dan berpisah dalam keadaan baik,” jelasnya tanpa menatap ke Risa.


Pandangan Aydin lurus ke depan. Entah apa yang ada dipikirannya. Bagi Risa, Aydin selalu sulit ditebak, suasana hatinya selalu berubah-ubah.


Sejak kemarin hingga pagi ini, pria itu terus bersikap dingin padanya. Kemudian beberapa saat lalu, pria itu menyatakan jika masih mencintainya.


Dan sekarang, pria itu bahkan bersikap seolah seorang kekasih yang sangat mencintai wanitanya, menjaga setiap inci tubuh Risa, berharap tak ada sesuatu yang bisa melukainya.


“Ay, jangan berlebihan. Lihatlah pramugari itu terus saja melihat ke arah kita,” peringat Risa.


Namun yang Ia dapatkan malah sebuah kecupan sekilas di bibirnya.


“Biarlah, aku memang ingin membuat mereka iri padamu,” balasnya.


“Jangan terlalu melambungkanku, rasanya akan sangat sakit jika jatuh,” balas Risa dengan sarkasnya.


Meski tak menjawab, namun genggaman tangan Aydin yang merenggang sudah menjelaskan bagaimana perasaan Aydin.


Risa melirik ke arah pramugari tadi, beberapa dari mereka terlihat berbisik. Mungkin mereka telah menyadari kehadiran sosok model terkenal, yang sejak mengalami kecelakaan sangat ramai dibicarakan di media.


Apalagi mengenai pernikahannya yang harus diundur.


Risa sontak menyandarkan kepalanya pada lengan Aydin, “Sepertinya mereka mengenaliku,” ucap Risa.


Risa menarik napas panjang, sudah siap ingin mengomeli Aydin yang lagi-lagi seenaknya mencium dirinya.


“Jangan marah sayang, lihat mereka tak lagi memandangi kita,” ucapnya lembut.


Risa lebih memilih memejamkan matanya, nyaman sekali berada dekat dengan Aydin.


Penerbangan menuju Palembang, kota kelahiran Risa, akan ditempuh selama 1 jam 10 menit.


Terasa jika kini pesawat sudah mulai take off. Sedikit demi sedikit pesawat kini mulai naik ke udara, semakin mendekatkan dirinya dengan awan.


“Risa, apa kamu tertidur?” tanya Aydin lagi dengan suara seperti berbisik.


“Tidak. Tapi biarkan seperti ini, bolehkah?”


“Tentu saja, selama yang kamu mau,” jawab Aydin, “Tapi bisakah kamu menjawab pertanyaanku yang sebelumnya?”


“Pertanyaan yang mana?” Risa balik bertanya.


“Ck... Sekarang kamu pura-pura lupa,” decak Aydin.


Risa menengadah menatap wajah Aydin yang kini cemberut.


“Apa aku akan mencintai pria lain lagi setelah kita berpisah? Apa pertanyaan yang itu?” tanyanya.


Aydin menoleh dan mendapati Risa yang menatapnya.


Hanya seulas senyum dan anggukan sebagai jawaban darinya.


Cup.


Risa yang kini lebih dulu mengecup bibir Aydin.

__ADS_1


“Tak akan mungkin aku bisa mencintai pria lain, saat hatiku sudah hancur menjadi kepingan-kepingan akan dirimu,” batin Risa.


“Mungkin saja,” balas Risa dengan entengnya.


Aydin yang berniat melanjutkan ciuman mereka lebih dalam lagi, akhirnya mengurungkan niatnya.


Sementara Risa kembali memejamkan matanya di posisi ternyaman baginya.


“Tentu aku tak akan bisa mencegah hatiku mencintai seseorang, sama seperti aku yang mencintaimu begitu saja,” jelas Risa dengan mata yang terus terpejam.


Aydin menghela napasnya, tak terbayang olehnya jika melihat Risa bersanding dengan pria lain. Meski sangat besar kemungkinannya, terutama untuk Eijaz.


“Jika kita dipertemukan lagi suatu saat, dan rasaku masih sama padamu, apakah boleh aku mengejarmu kembali? Bolehkah aku berjuang mendapatkanmu kembali?” Aydin memohon dengan sungguh-sungguh.


Risa tertawa, “Pikiranmu begitu rumit Aydin.”


“Mengapa kamu ingin mengakhiri semuanya, jika pada akhirnya kamu harus berjuang kembali?” tanya Risa.


“Aku semakin yakin jika alasan dibalik ini semua bukan lagi soal amanat Kirani, ada hal lain yang kamu tutupi dariku,” ucap Risa tanpa menunggu jawaban dari Aydin.


“Apapun alasanmu, jika suatu saat kita bertemu lagi, ku harap kamu tak lagi memiliki rasa padaku. Gunakan waktumu sebaik-baiknya. Jangan egois, Dafha sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian seorang Ibu,” lanjut Risa.


Risa mengatakan semua yang berkecamuk di hatinya. Rasanya lega setelah Ia mengatakan semuanya, meski Ia harus berusaha keras agar linangan air matanya tak membasahi baju Aydin.


Terlebih saat Aydin mengecup puncak kepalanya, “Jika itu keinginanmu, aku akan berusaha. Tapi aku tak bisa berjanji, karena saat ini kamulah yang terbaik untuk aku dan Dafha. Hanya saja, takdir sedang tak memihak pada kita,” ucap Aydin.


⚘⚘⚘


Selama penerbangan 1 jam 10 menit, baik Risa maupun Aydin lebih banyak diam.


Risa terus bersandar di lengan Aydin dengan mata terpejam guna menahan deraian air mata yang tak pernah permisi.


Aydin juga tak jauh berbeda, Ia terus saja memainkan jemari Risa yang dulu selalu saja dihiasi dengan cincin bertahta berlian. Kini cincin itu telah tersimpan di brankas miliknya, namun kenangan dari cincin itu terus saja mengikutinya bagai sebuah bayangan.


Berbeda dari Risa, Aydin tetap mengenakan cincin pertunangan mereka. Entah kapan pria itu bisa melepasnya, mungkin setelah Risa benar-benar tak akan bisa Ia gapai kembali.


Suara pilot menggema, menginformasikan jika dalam beberapa menit pesawat akan mendarat di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.


Di kota inilah keduanya pertama kali bertemu bertahun-tahun yang lalu. Aydin tak menduga jika kini Ia kembali bersama wanita, yang saat itu Ia pikir bernama Ohana.


Seperti yang sudah-sudah, sebelum turun dari pesawat Risa akan diminta untuk berfoto bersama para pramugari. Tentu saja, Aydin yang akan jadi kameramen mendadak.


Aydin sudah meminta Chandra menyewa mobil untuk mereka gunakan selama berada di Palembang, entah berapa lama karena Risa tak mengatakan apapun.


Dengan berbekal aplikasi penunjuk arah, keduanya menuju sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU).


Butuh waktu sekitar 40 menit hingga keduanya tiba di sana. Sepanjang perjalanan, Risa terus saja bercerita mengenai kenangan masa kecilnya, lebih tepatnya 8 tahun awal kehidupannya yang indah.


“Hai Bunda... Aku datang lagi,” ucap Risa saat keduanya sudah berada di depan sebuah pusara yang nisannya terukir nama yang sangat indah, Laksmi Candramaya.


“Apa Bunda masih ingat dengan seseorang yang kujadikan sebagai alasan kembali ke Indonesia?” lanjutnya.


Risa menoleh menatap Aydin, “Aku datang bersamanya,” ucap Risa dengan senyum teramat manis.


Entah mengapa, tapi Aydin merasa sesak ketika melihat senyum manis Risa saat menatapnya.


Aydin malu, Ia malu pada mendiang Ibunda Risa. Terlalu banyak sakit yang Ia torehkan pada wanita yang masih tersenyum saat menyebut namanya.


“Bunda... Maaf jika saya datang terlambat. Maafkan saya yang telah menjadi pria pengecut, yang menyakiti putri kesayangan anda berkali-kali. Maafkan saya, maaf jika saya kemari dan hanya menunjukkan betapa buruknya diriku untuk wanita hebat seperti Risa,” ujar Aydin dengan suara yang bergetar.


Lalu yang terjadi kemudian hanyalah keheningan, keduanya bungkam. Masing-masing kini tengah terbuai dengan pikirannya sendiri.


⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘


“Bunda, sebentar lagi aku akan pergi. Sekali lagi aku menjauh untuk kedua kalinya. Bunda maafkan aku, yang hanya bisa berlari dari peliknya masalah hatiku, aku memang wanita yang lemah. Tapi Bunda tak perlu terlalu mencemaskanku, ada ayah dan ibu angkatku yang sangat menyayangiku, jadi janganlah terlali khawatir. Meski akan sulit untukku mengunjungimu lg seperti ini, tapi percayalah Bunda, kamu akan selalu ada di hatiku dan namamu akan terus terucap dalam setiap bait doaku,” batin Risa.


⚘⚘⚘

__ADS_1


“Bunda, maafkan aku yang terlalu mencintai putrimu. Tapi aku tak akan bisa bertahan berjalan bersamanya, jika seseorang harus kehilangan nyawa karena keegoisanku yang memaksa cintaku. Jika pria itu menjadikan cintanya pada Risa semangatnya untuk bertahan hidup selama ini, maka cintaku pada Risa akan kujadikan alasanku untuk bertahan menantinya kembali dalam dekapanku. Aku masih akan selalu berharap jika akulah, pria yang akan mendampinginya kelak di dunia dan di surganya nanti,” batin Aydin.


__ADS_2