Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 128. Surat


__ADS_3

Kamu adalah hal terbaik yang pernah kumiliki.


Kehadiranmu dalam hidupku, bagai karunia yang harus selalu kusyukuri.


Ya, aku bersyukur.


Aku bersyukur, telah mencintaimu dan dicintai olehmu.


Aku bersyukur, bersamamu aku akhirnya memiliki sesuatu yang paling berharga dalam hidupku.


Aku bersyukur kamu adalah pria yang menjadi penuntunku ke surga.


Meski singkat, tapi semuanya sudah cukup bagiku.


Dan untukmu, ku harap kau diberikan lebih banyak kebahagiaan dalam sisa hidupmu.


Sampai jumpa, jika Tuhan mengizinkan, mari bertemu lagi nanti.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡


¤¤¤¤¤《Flash back On》¤¤¤¤¤


Enam hari sebelum kepergian Kirani untuk selama-lamanya, Ayah Wisnu datang menjenguk putrinya yang sudah hampir 1 bulan terakhir dirawat di rumah sakit.


Ayah Wisnu membelai lembut surai putri semata wayangnya.


Putrinya yang sudah bukan lagi putri kecilnya, melainkan seorang istri dan ibu yang hingga hembusan napas terakhirnya hanya memikirkan bagaimana cara agar suami dan putranya tetap akan bahagia meski tanpanya.


Kirani kini memaksakan diri untuk bangun dari posisinya yang sedang berbaring.


Berbaring lemah, karena penyakit yang beberapa waktu terakhir terus menggerogoti kesehatannya.


“Ayah,” panggilnya lirih.


Tangannya nampak semakin kurus, entah kemana semua makanan yang Ia komsumsi selama ini, pikir Ayah Wisnu.


“Ku mohon jangan bertanya lagi.” Lirihnya.


“Aku sudah pernah sampaikan pada Ayah mengapa aku melakukan semua ini.”


“Semua ini sudah kupikirkan baik-baik Ayah. Dafha putraku, Aku tak ingin dia merasakan apa yang pernah ku rasakan.”


“Aku ingin Dafha menjadi anak yang kuat, anak yang tegar yang mampu bertahan melewati ujian hidupnya kelak. Dan aku sangat yakin, jika hanya Brisa yang bisa ku percaya mendidik Dafha dengan baik, menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah seperti dirinya.” Ucap Kirani.


“Ku mohon Ayah, lakukan ini untukku. Berikan semua ini pada Brisa, segera setelah aku tiada. Aku mungkin tak akan bisa menepati janjiku untuk menemuinya, tapi suami dan putraku bisa.”


“Dan ini, tolong berikan pada Aydin. Jika suatu saat apa yang kurencanakan ini, akhirnya muncul ke permukaan.”


Kini tangan kurus yang terasa dingin itu, menggenggam kedua tangan Ayahnya.


Pria yang membesarkannya seorang diri.


Pria yang berjuang untu memberi kebahagiaan pada putrinya.


Pria paling setia yang Kirani kenal.


“Aku tau, waktuku tak lama lagi. Ayah jangan bersedih terlalu lama. Jangan membuatku khawatir saat melihat Ayah dari sana nantinya. Aku akan tetap mengawasimu, Ayah." Ucap Kirani dengan senyuman.


Senyuman yang tiap hari kini dirindukan oleh Ayah Wisnu.


“Berjanjilah Ayah, ayah akan melakukan semuanya, dan tetap menjaga rahasia ini, hingga waktu yang akan membuka semuanya. Semoga semuanya terkuak saat mereka telah meraih kebahagiaan."


Tautan jari kelingking antara Ayah Wisnu dan Kirani kala itu, adalah janji jari kelingking terakhir yang dilakukan oleh pasangan ayah dan putrinya.


“Tenanglah Nak, Kasih Ayah tak akan pernah putus, meskipun nanti kita hanya bisa saling mendoakan.” Batin Ayah Wisnu membalas senyum manis putrinya.


Senyum manis yang terkahir kali Ia lihat, sebelum putrinya pergi untuk selama-lamanya.


¤¤¤¤¤《 Flash back Off》¤¤¤¤¤


♡♡♡♡♡♡♡♡


Mobil Aydin melaju kembali membelah jalanan Ibu kota.


Netranya terus mengawasi pada kertas putih yang Ia dapatkan dari rumah Ayah Wisnu.


Tujuannya kini adalah pemakaman Kirani.


“Harusnya kemarin aku kesana, tapi Kirani pasti paham alasanku tak datang.”


Sekilas Aydin melirik pada lokasi kecelakaan Risa. Masih ada police line di sekitar TKP.


Arrrgggghhhh.....


Geram Aydin.


"Bodoh kau Aydin." Gerutunya.


Aydin melupakan Risa.


Dia terlalu sibuk mencari pembenaran dari fakta masa lalu yang baru terungkap.


Hingga Ia melupakan calon istrinya, yang sejatinya adalah masa kini dan mungkin akan menjadi masa depannya.


"Semoga." Batin Aydin.

__ADS_1


Aydin melirik jam di pergelangan tangannya.


“Apa Risa sudah bangun yah? Apa dia menanyakan keberadaanku? Tapi mengapa dia tidak menghubungiku?” batin Aydin mulai mencemaskan wanitanya.


Namun papan nama tempat yang yang menjadi tujuannya kembali mengalihkan perhatiannya dari memikirkan Risa.


“Kirani, aku datang.”


♡♡♡♡♡♡♡♡


Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir Aydin. Meski pria itu sudah duduk di sana lebih dari 10 menit yang lalu.


Netranya menatap dalam pada nisan yang tertulis nama wanita yang dulu pernah sangat Ia cintai.


Wanita yang meski raganya telah tiada di dunia ini, tapi tetap memiliki tempat tersendiri di hati Aydin.


Wanita yang telah memberi harta paling berharga di hidup seorang Aydin, yaitu putra mereka.


Tatapannya kini berpindah pada amplop putih usang yang baru Ia terima.


“Sebenarnya apa rencanamu Kirani?”


“Sebenarnya apa yang kamu berikan padaku?”


“Apa kamu yakin jika semua ini yang terbaik bagiku dan Dafha?”


“Apa kamu telah memikirkan bagaimana perasaan sahabatmu?”


Aydin terisak, tangisnya pecah saat membahas perasaan Risa.


“Sekarang aku telah mencintainya. Dia berhasil.


"Dia telah memiliki hatiku.”


“Tapi apa kamu yakin jika dia juga merasakan hal yang sama denganku?”


“Menurutmu apa Risa juga bahagia dengan semua ini? Atau semua hanya karena amanatmu?”


Setelah puas berkeluh kesah, Aydin mengeluarkan kertas putih dari dalam amplop.


Air matanya kembali luruh saat melihat tulisan tangan Kirani.


Meski sedikit berantakan, entah karena pengaruh sudah lama disimpan atau memang wanita itu menulisnya saat keadaanya sudah tak baik.


Teruntuk Aydin, suamiku tercinta.


Untuk suamiku tercinta, terima kasih atas apa yang sudah kamu berikan kepadaku selama ini.


Aku sangat bersyukur telah memilikimu. Ternyata harapanku terwujud.


Kamu telah mengorbankan segalanya untuk membuatku bahagia dan telah memberikan jiwamu sepenuhnya untuk selalu mengasihi dan menyayangiku tanpa batas.


Tanpamu, aku hanyalah orang naif yang tidak tahu menau apa arti cinta yang sebenarnya.


Suamiku, cintaku, sayangku dan segalanya bagiku, terima kasih telah hadir dikehidupanku.


............


Aydin berhenti membaca surat dari Kirani.


Entah apa Ia sanggup melanjutkan membacanya atau tidak.


Yang pasti kini hatinya menangis pilu, mengingat semua kenangannya dengan Kirani.


Tangannya yang bergetar, kembali mengusap pipinya yang basah karena air mata.


Dengan pandangan yang mulai kabur, Aydin berusaha untuk lanjut membaca surat yang ditinggalkan Kirani untuknya.


Teruntuk suamiku tercinta,


Kamu tahu mengapa aku memilihmu menjadi suamiku? Karena aku yakin hanya kamulah yang bisa membuatku terus tersenyum dan tertawa bahagia walaupun dalam keadaan tersulit sekalipun.


Dan hal itu benar-benar terjadi.


Tapi maafkan aku yang tidak bisa melakukan hal yang sama padamu.


Kisahku di dunia ini telah sampai pada halaman terakhir.


Rasanya berat sekali harus melepaskan semua hal tentang dirimu dan putra kita.


Memikirkannya membuatku ingin sekali merengek kepada Tuhan untuk diberikan beberapa halaman lagi, setidaknya agar aku bisa persiapkan semuanya.


Namun sekeras apa ku meminta, tetap saja semuanya sudah tergariskan sejak awal ku memulai kehidupan ini.


Teruntuk suamiku tercinta,


Maaf jika aku nantinya apa yang ku lakukan ini akan mengacaukan kehidupanmu yang tenang, namun percayalah, semuanya ku lakukan karena aku ingin yang terbaik bagi kalian.


Aku pernah di posisi yang sama seperti yang akan dijalani Dafha, putra kita.


Meski ku yakin kamu akan lebih baik dari Ayah, tapi aku yakin Dafha akan tetap membutuhkan sosok seorang Ibu.


Meski tak pernah ku ragukan kesetiaanmu, tapi aku yakin jika kamu tetap membutuhkan sosok pendamping.


Teruntuk seuamiku tercinta,

__ADS_1


Bagaimana menurutmu tentangnya?


Dia cantik? Sudah pasti.


Dia pintar? Meski dia tak pernah menunjukkan itu, tapi aku yakin akan hal ini.


Dan Kuyakin kita sependapat jika dia luar biasa.


Ketulusan hatinya tak perlu kau ragukan, aku bisa bertaruh apapun untuk itu.


Dia wanita kuat, meski begitu bisakah kamu berjanji untuk tak menyakitinya?


Dia wanita sabar, meski begitu bisakah kamu berjanji untuk tak mempermainkannya?


Dia wanita lembut, meski begitu bisakah kamu berjanji untuk tak bersikap keras padanya?


Dia wanita yang setia, sama sepertimu. Aku yakin itu.


Entah tebakanku benar, bukankah kamu sudah tertarik padanya jauh sebelum mengenalku?


Dan dari mana kamu mendapatkan buku catatan harianku dan Brisa? (Maaf aku tak sengaja menemukannya).


Sejak membaca semua komentar yang kamu tuliskan di buku harian Risa, aku akhirnya bisa tenang.


Aku akhirnya menemukan seseorang yang tepat untuk bersama kalian.


Seseorang yang akan lebih baik dalam mendampingimu dan Dafha.


Sejak saat itu aku mulai memikirkan ini semua. Maaf jika semua tanpa persetujuanmu, jauh di lubuk hatiku aku ingin kalian bersatu karena cinta, bukan hanya karena sebuah amanat.


Apakah itu sudah terjadi?


Atau, mungkinkah kau membaca surat ini saat semuanya tak berjalan dengan baik?


Teruntuk suamiku tercinta,


Apapun yang terjadi kini, ku yakin kamu akan memutuskan yang terbaik, secara bijaksana.


Ini hidupmu, hidup kalian berdua, aku hanya bisa melakukannya sejauh ini.


Selebihnya ku serahkan pada kalian.


Aku yakin jika cinta itu memang telah hadir diantara kalian, maka cinta itu yang akan menyatukan kalian.


Teruntuk suamiku tercinta,


Kamu dan putra kita akan selalu berada dalam doaku, dimanapun aku nantinya berada.


Dan bolehkah ku mohon agar kamu mengajarkan putra kita untuk mendoakanku? Hanya itu yang bisa ku harap sebagai penerangku ditempat ini.


Dan terakhir, aku berharap semoga kalian senantiasa hidup bahagia.


Yah kalian, kamu suamiku, Dafha putra kita, dan Brisa sahabatku.


Berbahagialah dengan pilihan jalan hidup yang terbaik untuk kalian.


Aku yang selalu mencintai kalian,


Kirani Ayunta.


.........


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Air mata mengiringi setiap langkah Aydin saat meninggalkan makam Kirani.


Semua tentang Risa, semuanya benar.


Tak sekalipun Aydin merasa menyesal dengan keputusannya untuk mencintai Risa.


Tak sekalipun Aydin merasa ragu dengan keputusannya untuk menikahi Risa.


Namun yang menjadi keraguannya adalah perasaan Risa padanya.


Apa cinta Risa padanya memang nyata?


Apa cinta Risa padanya memang tulus apa adanya?


Apa cinta Risa padanya memang karena dia adalah Aydin? Atau hanya karena amanat dari Kirani?


Jika memang semua karena amanat, maka Aydin tak akan memaksa Risa untuk tinggal, Ia akan membebaskan wanita itu.


Tak sanggup baginya untuk melihat Risa, wanita yang Ia cintai terpenjara oleh sebuah amanat.


Sama seperti kata Kirani, jika cinta itu memang telah hadir diantara kami, maka cinta itu yang akan menyatukan kami.


Sama sepertin kata Kirani, aku juga ingin wanita yang ku cintai bahagia dengan pilihan jalan hidup yang terbaik untuknya.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡


Terima kasih.


Meski hanya kata sederhana, tapi aku meletakkan semua rasa syukur dan ketulusanku di sana.


♡♡♡♡♡♡ to be continue♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2