Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 60 . You are my reason


__ADS_3

Bukankah kehidupan ini memang adalah perjalanan mengumpulkan kisah demi kisah yang akan kita rajut menjadi sebuah kenangan  ?


Pertanyaan itu mengiringi perjalanan sebuah kapal speedboat yang berlayar di perairan Raja Ampat yang terbilang cukup tenang .


Kapal itu terlalu besar , baik dari luas dan jumlah kursi untuk membawa seorang penumpang saja .


Dari pengamatannya , Risa menebak sepertinya kapal ini bisa menampung hingga 25- 30 orang .


Dari informasi yang Steve berikan , kapal ini akan membawa Risa langsung menuju Sorong . Perjalanan juga tidak akan memakan waktu lama seperti kemarin, kapal ini akan tiba di sorong hanya dalam 1 jam perjalanan .


Suasana perairan yang tenang , udara yang bersih dan sejuk , mentari yang bersinar cerah dan hangat , berbanding terbalik dengan hati seseorang yang tengah berlayar di atasnya .


Kesepian kini menderanya . Berada seorang diri di atas kapal , Risa berpikir jika beberapa waktu terakhir Ia sempat terlena . Harusnya Ia tahu , hanya sampai dimana batas kebahagiaan yang boleh Ia raih .


Bukankah sudah cukup selama ini berkat yang Tuhan berikan untuknya . Tuhan mengabulkan doa Risa untuk bisa merasakan kasih sayang dari orang tua lagi , sekarang Ia memiliki orang tua angkat yang menyayanginya bak putri kandung sendiri .


Ia juga selalu berdoa bisa memiliki sosok seperti Kak Eijaz dan Rani , dan Tuhan pun kembali mengabulkannya dengan memberi Esme dan Amora .


Tuhan mengangkat derajatnya , dari seorang yang harusnya hidup dalam persembunyian , menjadi seorang yang terkenal .


“ Dan kini kau berharap mendapatkan cinta dari seorang pria yang hatinya telah dimiliki wanita lain, sahabatmu sendiri ? “ Risa tertawa setelah bermonolog seorang diri .


“ Kau sungguh lucu Brisa Elzavira . Inilah akibat dari ketamakanmu Kim Risa , “ Lanjutnya bermonolog.


10 menit lagi dan kisah Risa di Raja Ampat akan berakhir . Kisah ini akan Ia masukkan dalam rajutan kenangan pahit kehidupannya .


Dalam setiap kisah kehidupan , harusnya ada pelajaran yang bisa diambil . Kalimat itu mengalun bagaikan sebuah simfoni yang hendak menghibur Risa .


Kehadirannya menarik perhatian , hal itu sudah biasa bagi Risa . Namun kini sedikit berbeda saat sosok yang Ia lihat dari kejauhan adalah sosok yang tak asing, dia Albert .


Menghentikan langkahnya sejenak , mencari tempat sepi untuk menghubungi Esme .


“ Halo ,” suara Esme akhirnya menyambutnya setelah cukup lama Risa menunggu .


“ Eonni , apa kau sudah menyiapkan tiket untukku dari Sorong ke Jakarta ? “ tanya Risa .


“ Sudah , aku bahkan menyiapkan orang yang menjemput dan akan mengantarmu dengan selamat sampai di apartemen . “ Jawab Esme dengan bangganya .


“ Jangan katakan jika dia adalah Gio ? “


“ Yup, benar sekali . Apa kamu sudah


bertemu dengannya ? Ku harap pria pengecut itu tidak disana dan berakhir bertemu dengan Gio . Sepertinya Gio sangat marah saat mengetahui kau ingin pulang sendiri dari Raja Ampat padahal awalnya kau berangkat bersama pria itu . “ Jelas Esme .


“ Tapi Eonni , apa sebaiknya aku mencari penerbangan sendiri saja …… ,”


Ucapan Risa terhenti saat suara seorang pria menyelanya .


“ Sebaiknya tidak anda lakukan Nona . Jangan sampai pengorbanan Bos saya yang membatalkan dua janji temu pentingnya menjadi sia-sia ,” Sela Albert .


Risa menghela napasnya , “ Sebaiknya juga jangan kau ulangi lagi perbuatanmu . Mendengar pembicaraan orang lain , itu tidak sopan . “ Balas Risa .


“ Maaf Nona, tapi apa kita sudah boleh pergi sekarang ? “ tanya Albert .


Dengan berat hati Risa mengangguk , “ Aydin pasti akan semakin murka saat tahu jika yang menjemputnya adalah Gio .”


Risa akhirnya mengikuti langkah Albert yang menarik kopernya menuju sebuah mobil . Tak lupa Ia merutuki dirinya yang dengan bodohnya masih memikirkan perasaan Aydin .



***¤¤¤¤Flashback ¤¤¤¤***



*Pemandangan yang kini dilihatnya sungguh membuat Risa tercengang* .



*Tiba-tiba saja kakinya terasa bergetar , Ia merapat ke dinding menjaga agar tak terjatuh mengingat Dafha masih dalam gendongannya* .



*Teriakan Ayana , dan gumaman dari beberapa orang bahkan tidak mampu membangunkan sepasang pria dan wania yang saling memberi kehangatan dibawah kungkungan selimut* .



*Tubuh bagian atas sang pria yang polos , sedang wanita yang Risa kira kini memakai pakaian tidur tipis harusnya tidak layak menjadi bahan tontonan saat ini* .



*Suara bentakan Papa Dimas yang menggelegar akhirnya mampu menyadarkan dua insan itu* .



*Reaksi terkejut keduanya juga tak jauh berbeda dengan reaksi terkejut dari kami yang memergoki hal yang seharusnya tidak mereka lakukan* .

__ADS_1



“ *Astaga , apa yang telah terjadi ? Franda ada apa ini ? “ ucapan pertama Aydin yang Risa ingat* .



*Bukan hanya untuk dirinya , tapi juga untuk Dafha akhirnya Risa memilih  untuk pergi lebih dulu dari tempat itu* .



*Samar-samar Ia mendengar suara Aydin memanggil namanya , bahkan memanggilnya dengan sebutan sayang yang seketika terasa menjijikkan ditelinganya* .



*Risa kembali ke kamarnya dengan Dafha yang masih digendongannya . Air matanya masih Ia tahan di ujung pelupuk mata* .



*Dengan tubuh bergetar Ia segera mengunci pintu kamar , mendudukkan Dafha di tempat tidur* .



*Dengan tangan bergetar Ia mengambil tablet yang biasa Dafha gunakan untuk bermain game , menonton kartun , atau mendengar lagu anak-anak kegemarannya* .



“ *Sayang , bolehkah Mama Risa ke kamar mandi sebentar . Dafha boleh menonton atau bermain game.” Ucapnya lembut namun suara serak dan bergetar tidak bisa Ia sembunyikan* .



*Dafha mengangguk . “ Good boy , sebentar saja dan Mama Risa akan kembali kesini* . “



*Risa mengecup kening Dafha , saat hendak berdiri Dafha menahan tangannya , dengan dua tangan mungil itu Dafha berusaha menggenggam satu tangan Risa* .



“ *Ma , are you okay ? “ tanyanya* .



“ *Of Course* . “




*Air mata itu akhirnya tumpah . Risa membawa Dafha ke dalam dekapannya , kemudian berlalu menuju kamar mandi* .



*Di dalam kamar mandi Ia segera menghubungi Esme , membebaskan air mata yang masih tertahan* .



*Menceritakan semua yang terjadi . Risa pikir Esme akan menertawakan sikap keras kepalanya yang kemarin memaksa untuk pergi , ternyata Esme hanya meminta waktu untuk Ia menyiapkan segala yang diperlukan agar Risa bisa kembali ke Jakarta secepatnya* .



*Setelah sambungan telepon terputus , Risa keluar dari kamar mandi dengan Dafha yang sudah ada di depan pintu* .



“ *Hey boy , kenapa tidak menunggu di tempat tidur saja , “ ucap Risa lalu Ia menggendong Dafha kembali ke tempat tidur* .



*Risa dan Dafha berbaring berhadapan , Ia tidak ingin lagi memikirkan apa yang terjadi di luar sana* .



“ *Would you go ? “ tanya Dafha* .



*Risa membelai lembut kepala Dafha , anak berusia 5 tahun yang dititipkan Rani padanya* .



“ *Sekarang Mama Risa tahu , kenapa setiap anak menjadi harta paling berharga bagi setiap Ibu . “ gumamnya* .



“ *Jika Mama memang harus pergi , apakah Dafha akan marah ? “ tanya Risa* .

__ADS_1



*Dafha menggeleng , “ Tidak , Mama sudah terlalu sering bersedih dan menangis* . “



“ *Dafha memang anak yang pandai dan pengertian . Mama Risa memang harus pulang lebih dulu , dan mungkin setelah ini kita akan sulit bertemu . Tapi Dafha harus tau kalau Mama Risa sangat menyayangi Dafha* . “



“ *Dafha bisa meminta Aunty Yana untuk menghubungi Mama jika perlu . " Lanjut Risa* .



*Dafha mengangguk patuh , “ Dafha juga sayang Mama Risa , Mama Risa adalah hadiah terbaik dari Mommy dan Tuhan untuk Dafha* . “



*Risa memeluk Dafha , “ You are my reason , harusnya hanya akan dan  selalu begitu . “ Batinnya* .



*Disaat keduanya sedang asik melihat foto-foto mereka selama di Raja Ampat yang ada di tablet Dafha, terdengar pintu kamar diketuk lalu disusul dengan suara Ayana* .



*Risa membuka pintu , Ayana memberitahu jika Risa diminta ke kamar Papa Dimas dan Mama Indira* .



*Sebelum pergi , sekali lagi Ia memeluk Dafha .  “ Remember , I love you and that never change , “ ucap Risa* .



*Risa tak tahu saja itu adalah pelukan terakhir mereka hari itu , dan mungkin akan menjadi pelukan terkahir hingga waktu yang belum bisa Ia pastikan* .



***¤¤¤¤ Flashback OFF ¤¤¤¤***



Ingatan Risa akan Dafha berakhir bersamaan dengan mobil yang berhenti di sebuah lapangan yang cukup luas .


“ Apa lagi kali ini ? Di mana dia sekarang ? “ batinnya .


“ SIlahkan Nona , Pak Gio sudah menuggu Anda . Pesawat juga akan take off beberapa saat lagi . “ Ucap Albert .


Risa menapaki satu per satu tangga untuk naik keatas pesawat yang Ia taksir sebagai pesawat pribadi milik Gio .


“ Risa , kamu baik-baik saja kan ? “ begitulah sambutan Gio pada Risa pertama kali .


Risa tersenyum , “ Terimakasih sudah mau repot menjemputku . “


“ Di mana pun Risa, dan kapanpun . Ayo kita pulang , ada hal lain yang lebih penting yang ingin ku bicarakan padamu . “ Ujar Gio .


Senyum di wajah Risa tidak bisa menutupi kesedihan yang terpancar dari kedua netranya yang tengah memandangi awan .


“ Bisakah aku menjadi awan saja ? Cantik , ringan tanpa beban , bahkah bergerak dengan bebas . " Batinnya .


" Rasanya sangat menyenangkan jika Ia bisa di kagumi seperti kini dirinya sendiri mengagumi awan . “ lanjut Risa membatin .


.


.


.


.


" Menyadari bahwa beberapa hal seharusnya cukup bagimu, dan jangan minta lebih banyak lagi . Hanya satu alasan dan satu hal untuk dimiliki harusnya tidak akan membuatmu merasa kurang . Kamu menjadi menyedihkan ketika melupakan etikamu dan mencoba untuk mendapatkan apa yang tidak bisa kamu lakukan.  Kemanusiaan di dalam diri harus mencegahmenjadi serakah terhadap apa yang dapat ditawarkan kehidupan kepadamu."


.


.


.


.


To be continue


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar kalian yah ( ditambah gift&vote jg boleh 😚) ... biar bisa jadi penyemangat othor . Dukungan kalian berarti banget biar ide ide kehaluan othor bisa menjadi cerita yang semoga akan kalian suka.


Terimakasih kesayanganS 💖💖

__ADS_1


__ADS_2