
Terhitung sudah 3 bulan Brisa bersekolah dan bekerja di toko buku milik Eijaz .
Hubungan Brisa dan Eijaz semakin dekat , namun dengan penafsiran yang berbeda . Brisa yang menganggap Eijaz sebagai kakaknya , sebagai malaikat penolongnya . Sedangkan Eijaz mulai menyadari jika Ia menyayangi Brisa sebagai seorang wanita .
Brisa akan merasa menjadi manusia jika Ia berada di luar rumah , sedangkan saat di rumah Ia merasa seperti kembali ke neraka .
Penyiksaan Indri , ibu tirinya tidak pernah berhenti . Setiap hari Brisa akan menerima kekerasan fisik . Bahkan pipi mulus gadis itu sudah mengenal dengan baik rasa sakit tamparan sang ibu tiri .
Namun hari ini mungkin akan menjadi hari terberat bagi Brisa .
Hari minggu seharusnya menjadi hari libur untuk beristirahat , tapi pagi itu Indri baru saja pulang dengan amarah yang meledak ledak setelah mendapati suaminya bermalam dengan seorang ****** .
" Panggil anak sial itu . " perintahnya pada Bi Yum .
Bi Yum tidak ingin Brisa menjadi pelampiasan kemarahan majikannya sengaja berbohong .
" Maaf nyonya , tapi Brisa sedang tidak dirumah . "
" Jangan bohong kamu ! " teriaknya .
Tanpa disangka , Indri berjalan keluar pintu dapur menuju kamar ART dan sialnya karena ia berpapasan dengan Brisa yang akan ke dapur .
" Disini kamu rupanya . Sini kamu . " maki Indri sambil menarik rambut Brisa lalu menghempaskan gadis itu ke tanah di halaman belakang dapur .
" Tidak kamu , Ibumu , bahkan sekarang ayahmu , kalian semua adalah manusia hina . Murahan kalian semua . Brengs*k . " makinya pada Brisa sambil terus melayangkan tamparan di pipi gadis itu berkali kali .
" setelah Ibu mu , apa sekarang aku harus melenyapkan ****** ayahmu lagi hah ? " teriaknya di depan wajah Brisa yang sudah membiru dengan sudut bibir mengeluarkan darah .
Tak cukup dengan itu , Indri lalu mendorong keras tubuh kecil Brisa lalu dengan kejamnya Indri menendang dan menginjak tubuh kecil itu .
Bi Yum yang sudah tak tahan melihat Brisa yang meringkuk menahan sakit , dengan berani Ia menarik tubuh majikannya .
" Stop nyonya , anda bisa membunuh Brisa . " ujar Bi Yum .
" Bagus , biar dia menyusul ibunya saja . "
ART yang lain membantu Brisa berdiri lalu memapah gadis itu keluar menuju pagar rumah .
" selamatkan dirimu dulu Bri... " Ujar ART itu ..
Tanpa mereka semua sadari ,seseorang melihat semua kejadian itu dari jendela lantai 2 kamarnya .
Dengan tertatih tatih , meringis menahan sakit , Brisa berjalan menggunakan dinding sebagai pegangannya .
Tubuhnya sangat sakit , rasanya tulang tulangnya remuk . Entah Ia akan mampu berjalan sampai mana .
Tiba tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang . Brisa yang tak punya tenaga lagi hanya bisa mengikuti kemana orang itu membawanya .
Mereka memasuki pintu kecil , Brisa menyadari jika ruangan itu adalah dapur .
" Duduklah dulu . " ucapnya .
Brisa berusaha mengangkat wajahnya saat orang itu kembali menyodorkan segelas air dan duduk di hadapannya .
" Kamu ? " ucap Brisa lemah . Dia adalah gadis yang tinggal disebelah rumah . Gadis aneh yang sering menatapnya .
" Iya . Kenalin aku Kirani Ayunta . Kita teman sekelas di sekolah juga tetangga rumah . " Ujarnya ramah .
Brisa membalas senyumannya . " Aku Brisa . "
" Ssstttt udah udah . Aku tahu kok . Maaf yah selama ini kalau kamu risih karena aku sering mengawasimu . " ujar Kirani .
__ADS_1
" Sebenarnya , beberapa tahun lalu aku sempat mendengar keributan di rumah sebelah . Ada seorang Ibu dan gadis kecil yang datang berkunjung namun berakhir dengan pertengkaran . Saat itu aku ikut sedih saat melihat gadis kecil yang sepertinya seumuran denganku menangis . Awal melihatnya berjalan masuk gadis itu tersenyum riang menggenggam tangan ibunya , dan aku sempat iri karena aku tak pernah merasakan memiliki seorang ibu . Tapi akhir yang kulihat saat itu membuatku sadar jika tidak ada yang sempurna di dunia ini . " Kirani mulai bercerita dan Brisa berusaha sekuat mungkin untuk mendengarnya .
" Dan beberapa bulan yang lalu , gadis itu kembali lagi . Dia sudah lebih dewasa , namun tak ada lagi wajah riang yang kulihat . Hanya wajah penuh kesedihan . Aku penasaran apa yang terjadi padanya ? Dimana ibunya ? " lanjutnya lagi membuat air mata Brisa mulai mengalir .
" Fakta lain yang akhirnya ku tahu , kalau gadis itu mengalami penyiksaan di rumahnya . Aku beberapa kali melihatnya dari jendela kamarku . Aku ikut sedih , aku marah , ingin sekali aku menghentikan mereka menyiksanya tapi Ayahku melarang untuk ikut campur . "
" Sejak saat itu aku terus mengawasinya , sampai kami di kelas yang sama . Aku terus mengawasi untuk saat saat seperti ini . Saat penyiksaan yang dia terima sudah terlalu parah , dan aku harus menolongnya . " Ujar Kirani yang mulai terisak .
" Yang ingin aku tanyakan , mengapa dia membiarkannya ? Mengapa dia membiarkan tubuhnya di siksa ? Mengapa dia mau menderita ? " tanya Kirani sambil memegang kedua lengan Brisa .
Tangisan Brisa semakin menjadi jadi .
" Itu karena aku tak ingin lagi kehilangan orang yang menyayangiku dan yang ku sayangi . " Jawab Brisa .
" Mereka sudah membunuh ibuku . " ujar Brisa .
Kirani menutup mulutnya dengan kedua tangan .
Ia langsung berdiri memeluk Brisa , merasa bersalah karena sudah membangkitkan kenangan buruk Brisa .
" Sekarang mereka mengancam akan membunuh Mbok Min jika aku kabur atau melapor . Hanya Mbok Min satu satunya yang ku miliki , aku tidak ingin mereka mencelakainya . " ujar Brisa dalam pelukan Kirani .
Brisa masih terus menangis sampai Ia rasanya sulit bernapas , lalu tubuhnya terasa lemah , pandangannya buram , dan akhirnya Brisa tak sadarkan diri .
Kirani merogoh saku celana Brisa dan menemukan ponsel . Ponsel itu adalah ponsel pemberian Eijaz , dengan alasan jika itu adalah ponsel untuk toko buku .
Kirani membuka daftar kontak dan menemukan hanya ada satu nama disana .
" Eijaz ? Apa dia pria yang selalu bersama Brisa yah ? " gumam Kirani .
Gadis itu mencoba menghubungi nomor tersebut . Tak butuh waktu lama pria itu menjawab panggilan telepon ,
" Halo Bri ... "
" Sorry gue bukan Brisa . Gue Kirani . "
" Tapi ini ponsel Brisa , kenapa bisa ada sama lu ? " tanya Eijaz .
" Brisa pingsan , sekarang ada di rumah gue . "
" Hah ? Kirim alamat lu , gue kesana sekarang . " Eijaz mulai panik .
" Rumah gue tepat di sebelah kiri rumah Brisa. Cepetan yah , gue tunggu . "
__ADS_1
Kirani lalu memutuskan sambungan teleponnya .
Kirani menunggu dengan tak sabar kedatangan Eijaz .
Sesekali Ia mencoba menyadarkan Brisa dengan cara cara yang Ia baca di internet tapi tidak berhasil .
Akhirnya orang yang ditunggu tunggu tiba . Eijaz berlari masuk kedalam rumah Kirani mencari keberadaan Brisa .
Betapa terkejutnya Eijaz melihat kondisi gadis yang mengisi hatinya beberapa bulan terakhir .
" Apa yang terjadi ? Siapa yang melakukan ini ? " tanyanya menatap tajam pada Kirani .
" Nanti saja ku jelaskan , sebaiknya kita bawa ke rumah sakit dulu . "
Eijaz setuju . Ia segera menggendong Brisa ke mobilnya menuju rumah sakit terdekat .
Saat ini Brisa sudah ditangani oleh dokter . Tidak ada yang membahayakan , Brisa juga sudah sadar tapi masih harus tetap di rawat karena gadis itu butuh lebih banyak istirahat .
Setelah memastikan Brisa sudah kembali tertidur , Kirani keluar untuk menemui Eijaz .
Perlahan Kirani duduk disamping Eijaz .
" Brisa udah tidur . " ujarnya .
Eijaz hanya mengangguk .
Cukup lama saling diam , lalu Eijaz mulai bersuara .
" Apa yang terjadi pada Brisa itu KDRT ? " tanyanya .
" Tau dari mana lu ? "
" Gue udah pikirin ini berkali kali . Sejak pertama gue lihat sudut bibirnya luka beberapa bulan yang lalu . " Ujar Eijaz .
" Ditambah kejadian hari ini . Cuma 1 menit waktu yang lu butuhin untuk minta tolong ke rumahnya . Kenapa lu malah nunggu gue . " lanjutnya .
Kirani mengedikkan bahunya .
" Gue akan laporin ini semua . Gue pastikan orang itu akan mendapatkan balasan setimpal . " ujar Eijaz .
" Ini gak semudah yang lu pikirin . Nyawa orang lain taruhannya . " balas Kirani .
Tanga Eijaz mengepal . " Lalu gak masalah jika Nyawa Brisa yang jadi taruhannya ? "
" Tenangin diri lu . Sebaiknya kita tunggu sampai keadaan Brisa lebih baik lalu kita bicara dengannya . " Ujar Kirani .
.
.
.
.
.
"Jika satu mimpi jatuh dan hancur berkeping-keping, jangan pernah takut untuk mengambil salah satu dari kepingan itu dan memulai lagi." - Flavia
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue