Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 5 . Kirani


__ADS_3

Terhitung sudah 3 bulan Brisa bersekolah dan bekerja di toko buku milik Eijaz .


Hubungan Brisa dan Eijaz semakin dekat , namun dengan penafsiran yang berbeda .  Brisa yang menganggap Eijaz sebagai kakaknya , sebagai malaikat penolongnya . Sedangkan  Eijaz mulai menyadari jika Ia menyayangi Brisa sebagai seorang wanita .


Brisa akan merasa menjadi manusia jika Ia berada di luar rumah , sedangkan saat di rumah Ia merasa seperti kembali ke neraka .


Penyiksaan Indri , ibu tirinya tidak pernah berhenti . Setiap hari Brisa akan menerima kekerasan fisik . Bahkan pipi mulus gadis itu sudah mengenal dengan baik rasa sakit tamparan sang ibu tiri .


Namun hari ini mungkin akan menjadi hari terberat bagi Brisa .


Hari minggu seharusnya menjadi hari libur untuk beristirahat , tapi pagi itu Indri baru saja pulang dengan amarah yang meledak ledak setelah mendapati suaminya bermalam dengan seorang ****** .


" Panggil anak sial itu . " perintahnya pada Bi Yum .


Bi Yum tidak ingin Brisa menjadi pelampiasan kemarahan majikannya sengaja berbohong .


" Maaf nyonya , tapi Brisa sedang tidak dirumah . "


" Jangan bohong kamu ! " teriaknya .


Tanpa disangka , Indri berjalan keluar pintu dapur menuju kamar ART dan sialnya karena ia berpapasan dengan Brisa yang akan ke dapur .


" Disini kamu rupanya . Sini kamu . " maki Indri sambil menarik rambut Brisa lalu menghempaskan gadis itu ke tanah di halaman belakang dapur .


" Tidak kamu , Ibumu , bahkan sekarang ayahmu , kalian semua adalah manusia hina . Murahan kalian semua . Brengs*k . " makinya pada Brisa sambil terus melayangkan tamparan di pipi gadis itu berkali kali .


" setelah Ibu mu  , apa sekarang aku harus melenyapkan ****** ayahmu lagi hah ? "  teriaknya di depan wajah Brisa yang sudah membiru dengan sudut bibir mengeluarkan darah .


Tak cukup dengan itu , Indri lalu mendorong keras tubuh kecil Brisa lalu dengan kejamnya Indri menendang dan menginjak tubuh kecil itu .


Bi Yum yang sudah tak tahan melihat Brisa yang meringkuk menahan sakit , dengan berani Ia menarik tubuh majikannya .


" Stop nyonya , anda bisa membunuh Brisa . " ujar  Bi Yum .


" Bagus , biar dia menyusul ibunya saja . "


ART yang lain membantu Brisa berdiri lalu memapah gadis itu keluar menuju pagar rumah .


" selamatkan dirimu dulu Bri... " Ujar ART itu ..


Tanpa mereka semua sadari ,seseorang melihat semua kejadian itu dari jendela lantai 2 kamarnya .



Dengan tertatih tatih , meringis menahan sakit , Brisa berjalan menggunakan dinding sebagai pegangannya .



Tubuhnya sangat sakit , rasanya tulang tulangnya remuk . Entah Ia akan mampu berjalan sampai mana .



Tiba tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang . Brisa yang tak punya tenaga lagi hanya bisa mengikuti kemana orang itu membawanya .



Mereka memasuki pintu kecil , Brisa menyadari jika ruangan itu adalah dapur . 



" Duduklah dulu . " ucapnya .



Brisa berusaha mengangkat wajahnya saat orang itu kembali menyodorkan segelas air dan duduk di hadapannya .



" Kamu ? " ucap Brisa lemah . Dia adalah gadis yang tinggal disebelah rumah . Gadis aneh yang sering  menatapnya .



" Iya . Kenalin aku Kirani Ayunta . Kita teman sekelas di sekolah juga tetangga rumah . " Ujarnya ramah .



Brisa membalas senyumannya . " Aku Brisa . "



" Ssstttt udah udah . Aku tahu kok . Maaf yah selama ini kalau kamu risih karena aku sering mengawasimu . " ujar Kirani .


__ADS_1


" Sebenarnya , beberapa tahun lalu aku sempat mendengar keributan di rumah sebelah . Ada seorang Ibu dan gadis kecil yang datang berkunjung namun berakhir dengan pertengkaran . Saat itu aku ikut sedih saat melihat gadis kecil yang sepertinya seumuran denganku menangis . Awal melihatnya berjalan masuk gadis itu tersenyum riang menggenggam tangan ibunya , dan aku sempat iri karena aku tak pernah merasakan memiliki seorang ibu . Tapi akhir yang kulihat saat itu membuatku sadar jika tidak ada yang sempurna di dunia ini . " Kirani mulai bercerita dan Brisa berusaha sekuat mungkin untuk mendengarnya .



" Dan beberapa bulan yang lalu , gadis itu kembali lagi . Dia sudah lebih dewasa , namun tak ada lagi wajah riang yang kulihat . Hanya wajah penuh kesedihan . Aku penasaran apa yang terjadi padanya ? Dimana ibunya ? " lanjutnya lagi membuat air mata Brisa mulai mengalir .



" Fakta lain yang akhirnya ku tahu , kalau gadis itu mengalami penyiksaan di rumahnya . Aku beberapa kali melihatnya dari jendela kamarku . Aku ikut sedih , aku marah , ingin sekali aku menghentikan mereka menyiksanya tapi Ayahku melarang untuk ikut campur . "



" Sejak saat itu aku terus mengawasinya , sampai kami di kelas yang sama . Aku terus mengawasi untuk saat saat seperti ini . Saat penyiksaan yang dia terima sudah terlalu parah , dan aku harus menolongnya . "  Ujar Kirani yang mulai terisak .



" Yang ingin aku tanyakan , mengapa dia membiarkannya ? Mengapa dia  membiarkan tubuhnya di siksa ? Mengapa dia mau menderita ? "  tanya Kirani sambil memegang kedua lengan Brisa .



Tangisan  Brisa semakin menjadi jadi .


" Itu karena aku tak ingin lagi kehilangan orang yang menyayangiku dan  yang ku sayangi . " Jawab Brisa .



" Mereka sudah membunuh ibuku . " ujar Brisa .



Kirani menutup mulutnya dengan kedua tangan .


Ia langsung berdiri memeluk Brisa , merasa bersalah karena sudah membangkitkan kenangan buruk Brisa .



" Sekarang mereka mengancam akan membunuh Mbok Min jika aku kabur atau melapor . Hanya Mbok Min satu satunya yang ku miliki , aku tidak ingin mereka mencelakainya . " ujar Brisa dalam pelukan  Kirani .



Brisa masih terus menangis sampai Ia rasanya sulit bernapas , lalu tubuhnya terasa  lemah , pandangannya buram , dan akhirnya Brisa tak sadarkan diri .




Kirani merogoh saku celana Brisa dan menemukan ponsel . Ponsel itu adalah ponsel pemberian Eijaz , dengan alasan jika itu adalah ponsel untuk toko buku .



Kirani membuka daftar kontak dan menemukan hanya ada satu nama disana .



" Eijaz ? Apa dia pria yang selalu bersama Brisa yah ? "  gumam Kirani .



Gadis itu mencoba menghubungi nomor tersebut . Tak butuh waktu lama pria itu menjawab panggilan telepon ,



" Halo Bri ... "



" Sorry gue bukan Brisa . Gue Kirani . "



" Tapi ini ponsel  Brisa , kenapa bisa ada sama  lu ? " tanya Eijaz .



" Brisa pingsan , sekarang ada di rumah gue . "



" Hah ? Kirim alamat lu , gue kesana sekarang . " Eijaz mulai panik .



" Rumah gue tepat di sebelah kiri rumah Brisa. Cepetan yah , gue tunggu . "

__ADS_1


Kirani lalu memutuskan sambungan teleponnya .



Kirani menunggu dengan tak sabar kedatangan Eijaz .



Sesekali Ia mencoba menyadarkan Brisa dengan cara cara yang Ia baca di internet tapi tidak berhasil .



Akhirnya orang yang ditunggu tunggu tiba . Eijaz berlari masuk kedalam rumah Kirani mencari keberadaan  Brisa .



Betapa terkejutnya Eijaz melihat kondisi gadis yang mengisi hatinya beberapa bulan terakhir .



" Apa yang terjadi ? Siapa yang melakukan ini ? " tanyanya menatap tajam pada Kirani .



" Nanti saja ku jelaskan , sebaiknya kita bawa ke rumah sakit dulu . "



Eijaz setuju . Ia segera menggendong Brisa ke mobilnya menuju rumah sakit terdekat .



Saat ini Brisa sudah ditangani oleh dokter . Tidak ada yang membahayakan , Brisa juga sudah sadar tapi masih harus tetap di rawat karena gadis itu butuh lebih banyak istirahat .


Setelah memastikan Brisa sudah kembali tertidur , Kirani keluar untuk menemui Eijaz .


Perlahan Kirani duduk disamping Eijaz .


"  Brisa udah tidur . " ujarnya .


Eijaz hanya mengangguk .


Cukup lama saling diam , lalu Eijaz mulai bersuara .


" Apa yang terjadi pada Brisa itu KDRT ? " tanyanya .


" Tau dari mana lu ? "


" Gue udah pikirin ini berkali kali . Sejak pertama gue lihat sudut bibirnya luka beberapa bulan yang lalu . " Ujar Eijaz .


" Ditambah kejadian hari ini . Cuma 1 menit waktu yang lu butuhin untuk minta tolong ke rumahnya . Kenapa lu malah  nunggu gue . " lanjutnya .


Kirani mengedikkan bahunya .


" Gue akan laporin ini semua . Gue pastikan orang itu akan mendapatkan balasan setimpal . " ujar Eijaz .


" Ini gak semudah yang lu pikirin . Nyawa orang lain taruhannya . " balas Kirani .


Tanga  Eijaz mengepal . " Lalu gak masalah jika  Nyawa Brisa yang jadi taruhannya ? "


" Tenangin diri lu . Sebaiknya kita tunggu sampai keadaan Brisa lebih baik lalu kita bicara dengannya . " Ujar Kirani .


.


.


.


.


.


 "Jika satu mimpi jatuh dan hancur berkeping-keping, jangan pernah takut untuk mengambil salah satu dari kepingan itu dan memulai lagi." - Flavia


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2