Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 147. Bye Aydin - I still love you


__ADS_3

Ada 2 pilihan hidup yang kini tersedia untukku, aku tetap bertahan dan belajar menerima, atau aku akan pergi dan belajar melupakan.


Meski butuh waktu yang lama untuk melupakan, namun yang utama adalah kesabaran untuk ikhlas saat harus meninggalkan atau ditinggalkan.


Karena melupakan tak semudah saat mulai saling mengenal.


Semakin kuat kuberusaha untuk melupakan, maka semakin kuat pula kenangannya membayangi dalam ingatan.


Mungkin aku tak harus melupakan, tapi menghilangkan rasa ini.


Mungkin aku tak harus melupakan, tapi mencoba tak mengingat.


Mengapa hal yang sulit untuk dilupakan adalah hal yang tidak bisa dimiliki? Alasannya karena seharusnya melupakan yang diinginkan, hanya untuk bisa menemukan apa yang pantas didapatkan.


Jadi, antara bertahan atau dikalahkan maka pada akhirnya aku akan memilih untuk melupakan.


(Namun jauh di lubuk hatiku yang terdalam, biarlah hanya Tuhan yang tahu jika dalam setiap doaku yang terselip namanya adalah kenyataan jika hatiku tak akan pernah bisa melupakannya.)


#Curahan hati Brisa Elzavira.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Jika sebelumnya Risa pernah mengakui jika dirinya tidak bodoh, hanya saja Ia terlalu lemah terhadap cintanya pada Aydin.


Berbeda dengan Aydin.


Pria itu dengan tegas mengatakan jika dirinya adalah pria bodoh dan pria lemah.


Ia bodoh karena tak bisa mengendalikan dirinya yang terus menerus melakukan hal-hal yang menyakiti hati wanita yang Ia cintai.


Ia lemah karena tak bisa melawan ketakutan dan kekhawatirannya hingga menjadikan dirinya seorang pengecut, seorang pecundang yang mengorbankan perasaan wanitanya hanya agar Ia bisa hidup tanpa rasa bersalah.


Memikirkan hal itu, Aydin yang kini sedang menikmati ciumannya bersama Risa, akhirnya meneteskan sebulir air mata.


“Ay, kamu menangis?”


Pertanyaan yang terlontar dari Risa seolah menampar wajah Aydin dengan keras.


“Sadarlah bodoh! Kau mencintai wanita ini! Wanita ini adalah bagian dari separuh hidupmu dan dengan mudahnya kau memintanya untuk pergi!”


Entah dari mana asal suara itu, yang pasti karena mendengar bisikan itulah air mata Aydin menetes. Bukan karena takut, tapi karena Aydin membenarkan semuanya.


Lalu saat Risa dengan perlahan mengusap pipi Aydin yang basah karena linangan air mata, pria itu kembali terpaku.


“Lihatlah bodoh! Hanya dengan usapan lembut jemarinya kau bisa menenangkan hatimu. Di setiap sentuhannya, kau bisa rasakan perasaan cintanya yang tulus untukmu. Setelah dia benar-benar pergi, silahkan kamu nikmati ketenanganmu karena telah sukses menjadi pahlawan bagi orang lain. Kau bukan Tuhan Aydin, hidup dan mati seseorang bukan ditanganmu, namun kau terlalu bodoh untuk membenarkan hal itu.”


Suara hati.


Itu adalah suara hati Aydin. Namun sayang sekali, sang empunya hati telah di kalahkan oleh kenangan masa lalunya yang belum usai.


Hingga sebesar apapun suara hatinya meronta-ronta, perasaan bersalah di masa lalu masih menguasai benaknya.


⚘⚘⚘


Keduanya kini telah kembali menginjakkan kakinya di Jakarta.

__ADS_1


Keluar melalui pintu kedatangan domestik, Aydin tak pernah melepaskan genggaman tangannya dengan Risa.


“Aku kok bisa lupa meminta Chandra menjemput kita,” keluhnya.


“Sudahlah, taksi banyak kok. Yukk buruan,” balas Risa.


Risa berjalan cepat lalu menaiki taksi lebih dulu saat Aydin masih memasukkan barangnya di bagasi.


Taksi melaju dalam keheningan, hingga Aydin yang lebih dulu membuka suara.


“Sepertinya ini bukan jalan ke apartemen?” ucap Aydin.


“Hemm...” Risa membalas dengan dehaman karena kini Ia sedang sibuk dengan ponselnya.


Ia sedang mengirim pesan pada Eijaz dan Chandra untuk datang menyusulnya.


“Lalu kita hendak kemana?” tanyanya lagi.


“Mengantarmu pulang,” jawab Risa yang di akhiri dengan senyuman.


Aydin memilih bungkam, hingga tak berselang lama Ia menyadari kemana tujuan taksi ini melaju.


“Mengantarku pulang? Sepertinya dia salah, rumahku itu adalah dirinya. Jadi dengan membawaku ke tempat ini, sama halnya dengan dia kembali melemparku ke masa lalu,” batin Aydin.


Taksi yang mereka tumpangi juga sudah berhenti dengan sempurna.


Dan benar dugaan Aydin, Risa membawanya ke pemakaman Kirani.


Tanpa sepatah kata yang terucap dari keduanya, mereka berjalan beriringan dengan jemari saling bertautan.


Langkah keduanya terhenti di depan sebuah gundukan tanah, dengan nisan yang terukir nama Kirani Ayunta Binti Wisnu Kusuma.


“Kau tahu, sebenarnya aku sangat malu untuk menemuimu. Bukankah belum lama ini kami juga datang untuk memberimu kabar bahagia?” lanjutnya.


“Meski aku tak menampik jika cinta yang kami miliki nyata, namun mungkin inilah saatnya menyadari jika cinta kami tak bisa kami pertahankan lebih lama lagi, meski aku ingin bersamanya selama mungkin, Aku ingin berpegangan padanya selama mungkin,”


“Namun entah mengapa aku merasa saat ini dihadapkan dengan kenyataan jika tak lagi mudah untuk sepaham. Mungkin hal itu menandai jika ini adalah akhirnya, dan kami berdua harus menerima ini untuk menjadi lebih baik.”


Sejak tadi Risa terus saja berucap sambil menatap lurus pada nisan Kirani, tak sedetikpun dia menoleh pada Aydin yang kini berdiri kaku bak patung.


Aydin yang mendengar kata akhir terucap dari bibir Risa, merasakan seolah-olah dunianya runtuh seketika. Terlebih ketika kini Risa berbalik mengahadap padanya.


Dada Aydin terasa sesak, rasanya Ia lupa caranya bernapas.


Risa menggenggam kedua tangan Aydin.


Sebuah senyuman manis mengawali ucapannya yang bisa menyayat-nyayat hati Aydin.


“Ay, meski hubungan kita akan berakhir, aku tetap mencintamu, itu sepadan untukku. Mencintai dirimu adalah pengalaman yang luar biasa, tak ada yang mampu menukarnya,”


“Ay, selama ini kita sudah saling menyakiti, kita saling menunggu untuk pergi. Aku tidak pernah menyangka kita akan sampai di sini, namun kita akhirnya telah sampai di akhir dari hubungan yang dulu sangat kita hargai,”


Risa menjeda ucapannya saat merasa ada langkah kaki yang mendekat. Langkah itu terhenti ketika Aydin dan Risa menoleh bersamaan.


Risa lalu memeluk Aydin lebih dulu, “Ay, maaf aku memilih untuk menyerah. Aku tak akan berjanji untuk tidak melupakanmu, karena aku tak ingin terus menerus menyakiti diriku. Yang pasti tak akan pernah kusesali setiap detik yang kulewati bersamamu.”

__ADS_1


Air mata Aydin dan Risa tak dapat terbendung lagi, bahkan 2 orang yang menjadi saksi perpisahan dua hati yang saling mencinta, ikut merasakan perih melihat keduanya.


Risa melepas pelukannya, jemarinya kembali menyentuh pipi Aydin untuk menghapus jejak air mata di sana.


“Ay, aku akan berusaha hidup tanpamu, meski akan merindukanmu, tapi aku akan berusaha untuk tetap menjadi Risa yang Aydin inginkan, berjanjilah kamu juga akan berusaha seperti itu,”


“Sekarang aku harus pergi, aku berjanji akan menjauhi kesepian tanpamu. Dan kamu juga harus bisa seperti itu.”


Cup! Risa mengecup sekali di kening Aydin sembari berjinjit.


Cup! Cup! Risa mengecup mata Aydin secara bergantian.


Dan terakhir Risa mengecup bibir Aydin.


Hanya ingin mengecup tapi Aydin tak megizinkannya berlalu begitu saja.


Aydin menahan tengkuk Risa, memperdalam ciuman keduanya dengan air mata yang terus berderai.


Hingga dirasa oksigen sudah tak cukup lagi, dan mengakhiri pagutan keduanya.


Dengan berat Risa melangkah mundur.


“Bye Aydin, Bye Kirani.”


Dan Risa benar-benar pergi.


Wanita itu berjalan menjauh dengan langkah yang berat.


“Chadra aku pergi, tolong jaga Aydin,” pamit Risa sembari memeluk Chandra.


“Titip Aydin Bro,” timpal Eijaz.


Risa melangkah menjauh, diikuti Eijaz dibelakangnya yang dilanda kegalauan.


Ingin tinggal menguatkan sahabatnya, tapi sepertinya wanita yang Ia cintai lebih membutuhkan dirinya saat ini.


⚘⚘⚘


“Aku akan mengantarmu ke apartemen,” ucap Eijaz.


“Tidak, aku tak ingin Eomma khawatir. Tolong antar aku ke rumah pohon,” pinta Risa.


“Rumah pohon?” ulang Eijaz.


Baru pertama kali Ia mendengar soal rumah pohon.


Eijaz sesekali menoleh menatap Risa yang masih saja mengeluarkan air mata.


“Akan kutunjukkan jalannya. Jangan hiraukan aku, kumohon fokuslah mengemudi, aku masih trauma dengan kecelakaanku yang terakhir kali,” ucap Risa beralasan.


Dia hanya tak ingin Eijaz mengasihani dirinya yang malang.


Sementara Eijaz terus saja melajukan mobilnya dengan patuh.


Hatinya tak bisa menampik jika dia ikut merasa sedih sebab Risa dan Aydin nampak sangat tersiksa dengan perpisahan mereka.

__ADS_1


Eijaz tak tahu saja, jika dirinyalah yang menjadi alasan seorang Aydin memilih menyakiti dirinya dan Risa sekarang, dari pada hidup dalam penyesalan, seperti saat Ia kehilangan Kirani.


⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘


__ADS_2