
‘ Andai ‘ .
Satu kata yang kini berada dalam top chart pada benak seorang Aydin . Namun apakah ‘ andai ‘ itu bisa menolongnya saat ini ? TIDAK !
Andai yang berlaku sekarang untuk seorang Aydin berupa sebuah pintu masuk ke gerbang penyesalan .
Di kamar yang ditempati oleh Mama Indira dan Papa Dimas , kini Aydin dan juga Franda sudah duduk saling berhadapan .
Belum ada satupun yang membuka suara . Hanya Mama Indira yang terlihat menggenggam kedua tangan Franda . Sejak tadi Franda hanya menunduk ,tak berani menatap pada Aydin dan Papa Dimas .
Tok.. tok..
Suara pintu diketuk.
Papa Dimas segera beranjak membuka pintu .
Terlihat Risa masuk , berjalan pelan di belakang Papa Dimas .
“ Maaf mengganggu , Ayana meminta saya untuk kesini ,” ucap Risa . Ia sungguh merasa canggung berada ditengah suasana menegangkan ini .
“ Duduklah Risa , Papa yang memanggilmu . “ Ucap Papa Dimas .
Tempat yang tersisa kini hanya di samping Aydin , mau tak mau Ia harus duduk di sana .
Risa duduk dengan tatapan fokus ke Papa Dimas , sekali Ia sempat melirik pada Mama Indira yang sedang menenangkan Franda .
Franda sungguh terlihat sebagai korban saat ini.
Sedangkan tadi dari yang Risa lihat , tak ada tanda tanda pemaksaan sama sekali .
“ Papa mengumpulkan kalian di sini , untuk membahas kejadian memalukan antara Franda dan Aydin . “ Ucap Papa Dimas dengan tegas .
“ Pa , maaf jika Aydin menyela . Menurutku seharusnya aku dan Risa bicara berdua dulu , “
Aydin belum menyelesaikan ucapannya namun segera disela oleh Risa .
“ Ku rasa harus kamu koreksi, yang harus bicara itu adalah kamu dan Franda . Aku bahkan tidak seharusnya berada di sini . “ Sanggah Risa .
“ Cukup ! “ Bentak Papa .
“ Itulah mengapa Papa mengumpulkan kalian bersamaan, agar apa yang kita bicarakan terbuka dan semuanya pembicaraan sama . "
Aydin menatap Risa , “ sebenarnya bagaimana perasaan wanita ini padaku ? kenapa dia terlihat begitu tenang ? apa dia percaya jika diantara aku dan Franda tidak terjadi apa- apa ? “ batin Aydin penuh tanda tanya .
“ Sekarang jelaskan bagaimana ini semua terjadi , “ perintah Papa Dimas .
“ Semalam Aku dan Risa bertengkar , lalu Franda datang . Kami mengobrol lalu Ia menawarkan kopi di kamarnya . Kupikir Ayana ada di sana makanya aku setuju . Kami sempat mengobrol sesaat di teras kamar Franda dan setelah itu aku tak ingat lagi . “Ucap Aydin membeberkan fakta yang sejujurnya .
Papa Dimas beralih menatap Franda .
__ADS_1
“ Iya , yang dikatakan Aydin benar Om . Ayana saat itu sedang menjaga Dafha atas perintah Aydin sendiri . Kami minum kopi di teras , Aydin menceritakan pertengkarannya dengan Risa . Lalu ….. , “ Franda tiba-tiba terisak , menangkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya , bahkan bahunya nampak bergetar .
“ Franda ! Jangan mengada-ada , aku yakin sekali semalam tidak terjadi apapun . “ Bentak Aydin .
Franda tidak menjawab , Ia bungkam .
“ Risa , sayang , kau harus percaya aku tidak mungkin melakukannya . “ ucapnya meyakinkan Risa .
Sementara Risa hanya tersenyum , dengan raut wajah datarnya, Membuat Aydin semakin sulit menebak apa yang dipikirkan wanita itu .
“ Apa yang buat kamu yakin Aydin ? Melihat penampilan kalian tadi, kemungkinan jika tak terjadi seuatu sepertinya tidak mungkin .” Ucap Papa Dimas .
Dalam hati Franda kini tertawa penuh kemenangan .
Dengan mempertahankan isakan dan raut wajah penyesalannya , “ Om , aku ikut saja apa kata Aydin ,” ucapnya berharap mendapat simpati .
“ Lalu apa gunanya kita bicara seperti ini jika aku tidak ada kesempatan untuk membela diriku . “ Geram Aydin .
“ Untuk putuskan langkah setelah ini seperti apa ? “ Mama Indira akhirnya buka suara .
“ Maaf Om , Tante , sepertinya aku sudah tidak berkepentingan di sini . Kalau masalah hubungan antara aku dan Aydin , sebenarnya kami sudah berakhir . “ Ucap Risa .
“ RISA ! “ Bentakan itu berasal dari Aydin .
“ Berhenti membahas perpisahan , berakhir apanya ? Aku tidak pernah setuju untuk mengakhiri hubungan ini . “ Tegasnya .
“ Please Aydin , dari pada mempertahankan hubungan ini lebih baik kamu mempertanggung jawabkan apa yang kamu buat . Ku yakin Franda bisa dan bersedia menerima pria yang hatinya telah terbagi . “ Ucap Risa .
Risa keluar dari kamar itu , tujuannya adalah kamarnya . Ia yakin Aydin pasti mengikutinya , semoga Dafha ada di kamar sehingga dia tak harus membahas hal ini lagi .
Risa membuka pintu kamar, namun sayang Dafha tak ada di sana . Ingin pergi ke tempat lain tapi sudah terlambat karena Aydin sudah menutup dan mengunci pintu .
“ Risa jangan bilang kamu juga berpikir jika aku dan Franda ,” Aydin tidak melanjutkan ucapannya .
“ Katakan padaku jika kau diposisiku , apa yang akan kau pikirkan jika Franda itu aku ? “ Risa malas berdebat . Tenaganya belum ada , dia bahkan belum sarapan .
“ Tapi kamu harusnya bisa lebih percaya padaku , aku ini kekasihmu “ ucap Aydin .
“ Kenapa harus ? “ tanya Risa . “ Apa hanya karena semalam ku katakan aku mencintaimu , lalu kau kira aku akan menjadi bodoh ? “ tanyanya menantang .
“ Aydin sejak kemarin rasanya aku ingin sekali pergi dari tempat ini , hanya Dafha lah yang membuatku tetap tinggal. Tapi dengan perbuatanmu ini , terimakasih karena telah memberiku jalan untuk pulang . “
" Lucu karena disaat kita bertengkar kau malah pergi membahasnya dengan mantanmu . Kau terkejut aku tau Franda adalah mantan mu ? " tanya Risa.
" Jika kau memang ingin mempertahankan hubungan ini harusnya semalam kau mendatangiku , bukan mendatangi wanita lain . " Ucap Risa .
“ Jangan coba-coba pergi dari sini tanpaku Risa , jangan coba-coba meninggalkanku . “ Aydin bingung , entah dia harus marah , menyesal, atau justru sedih .
Yang pasti dia tidak siap jika hubungan yang baru sebentar dengan Risa harus berakhir .
__ADS_1
“ Aku tidak akan coba-coba , tapi aku pasti akan melakukannya . “ Balas Risa .
“ Aku tidak akan pernah ragu sepertimu Aydin . Termasuk untuk pergi dari tempat ini saat ini juga aku tak ragu . “ sambungnya penuh keyakinan .
“ Jadi jangan menghalangiku , dan kumohon jangan jadi pengecut. Bukankah kau seseorang yang pantang untuk ingkar janji ? Maka pertanggung jawabkanlah perbuatanmu .”
Risa tak menghiraukan ucapan Aydin, Ia menuju lemari dan mengemasi pakaiannya .
“ Risa , please berhenti . Kamu tidak harus pergi seperti ini .” Pinta Aydin .
“ Lalu katakan aku harus Apa ? kau mau aku menerimamu disini dan terlihat sebagai kekasih yang menyedihkan ? “ tanya Risa .
“ Baiklah jika kau memaksa pulang , kita akan pulang bersama . “ Ucap Aydin .
“ Tidak . Apa masih kurang jelas , hubungan kita berakhir . Bahkan aku sudah katakan didepan Papa dan Mama . “ Ucap Risa menekankan setiap katanya .
“ Kita masih dalam keadaan emosi Risa, kita masih bisa membicarakan ini nanti , please . “ Ucapan Aydin melembut .
“ Tidak ada lagi kita Aydin . “ Balas Risa , sambil berjalan keluar kamar menarik koper dan tasnya .
“ Jika kau benar-benar pergi , maka jangan pernah berharap bisa menemui Dafha lagi . “ Ucap Aydin .
Langkah Risa terhenti . Entah mengapa mendengar nama Dafha , air matanya tidak bisa lagi terbendung .
“ Dafha anak yang cerdas , ku yakin dia akan mengerti . “
“ Aku pergi ,” pamitnya .
Risa pergi tanpa menoleh atau berbalik sekalipun .
Dengan menggunakan kapal yang Ia sewa dibantu Steve , perjalanannya menuju Sorong dimulai .
Lebih tepatnya , perjalannnya untuk menghilangkan perasaan cintanya pada Aydin .
Dalam tawanya terselip kesedihan , harusnya ditempat seindah surga ini aku mengenang hal yang indah, tapi yang terjadi Ia harus mengenang hal yang buruk .
“ Ikhlaskan Kim Risa , Tuhan telah menunjukkan padamu jalan untuk pulang . “ Batinnya .
.
.
.
"Ada orang yang percaya kalau berpegang dan bertahan adalah tanda kekuatan. Akan tetapi, ada saat di mana dibutuhkan lebih banyak lagi kekuatan untuk tahu kapan harus melepaskan sesuatu dan melakukannya." - Ann Landers
.
.
__ADS_1
.
To be continue