
Saat rasa sakit terus memaksamu untuk mepyerah, ingatlah jika hal yang patut kau syukuri masih lebih banyak dari pada yang bisa kau keluhkan.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Tiga hari setelah kecelakaan.
Tiga hari sudah Risa mendapatkan perawatan di ruang VIP salah satu rumah sakit.
Wanita cantik itu bersemangat karena walaupun langit sudah diterangi bulan dan bintang, tak menyurutkan niatnya untuk segera meninggalkan kamar rumah sakit yang bak kamar hotel bintang 5.
“Kamu memang anak Eomma yang paling keras kepala,” ucap Martha.
“Kalian berdua sama saja. Eomma dan ketiga anak perempuannya yang sama-sama keras kepala.” Lanjut Appa
Risa hanya terkekeh, lalu memeluk Eomma dari belakang.
“Tak apa aku keras kepala seperti Eomma, yang penting aku juga mengikuti kecantikannya. “
Mereka adalah Kim Baek Ahn dan Martha. Orang tua kandung Amora dan Esme, yang juga orang tua angkat Risa.
Mereka sudah 2 hari berada di Indonesia, bergantian merawat Esme dan Risa.
Itulah mengapa Risa memaksa untuk segera keluar dari rumah sakit, Ia tak ingin makin merepotkan Appa dan Eomma yang jauh jauh datang dari Belanda hanya karena dua putrinya harus di rawat.
“Sudah siap semuanya. Dan selama eomma di negara ini, kamu harus tinggal di rumah.” Ucap Eomma di selingi ochen khas ibu-ibu.
Appa meraih tas yang disodorkan Eomma padanya, dan keluar dari kamar VIP dengan merangkul pundak Risa.
“Appa masih kesal padamu. Bertahun-tahun Appa terus menawarkan bantuan padamu, tapi kau terus menolak. Sekarang lihatlah, awas saja jika terluka lagi, saat itu juga Appa akan mengurungmu di rumah agar kau tak terluka lagi.” Ucapnya.
Eomma yang berjalan di belakang Appa dan Risa, sesekali berbalik ke belakang karena merasa seperti ada yang mengawasi gerak gerik mereka.
Appa membuka pintu ruang rawat VIP lainnya, tempat Esme dirawat.
“Eonni....,” panggil Risa yang melihat Esme kini sedang makan dan disuapi dengan sabar oleh Echa.
“Sejak kapan kau mau disuapi oleh orang lain saat makan?” tanya Risa.
Esme hanya tertawa mendengar protes bernada pertanyaan dari Risa.
“Dan aku bukan orang lain Risa, sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu.” Jelas Echa.
Belum sempat Risa membalas ucapan Echa, suara dehaman dari Appa sudah terdengar.
Echa langsung salah tingkah dibuatnya.
“Appa, jangan mau punya menantu seperti Echa dia meyebalkan.” Adu Risa.
Yah begitulah sikap Risa pada orang tua angkatnya.
__ADS_1
Manja dan penuh perhatian.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Satu bulan kemudian
Tidak ada pengecualian dalam kebenaran, dan tidak ada kebahagiaan kecuali dalam keadilan.
Dengan memantapkan hatinya, hari ini Risa akan memenuhi panggilan pengadilan untuk kasus pembunuhan berencana yang memposisikan dirinya sebagai korban.
Mengenakan gaun hitam dengan kerah tinggi yang menutup hingga ke lehernya, Ia padukan dengan blazer motif kotak-kotak berwarna hitam dan putih.
Risa terlihat sangat cantik walau wajahnya hanya dihias dengan riasan tipis dan rambut di cepol.
Martha memeluk tubuh Risa dari belakang yang kini sedang duduk menikmati sarapannya.
“Makan yang banyak, untuk bersedih kamu juga butuh tenaga sayang.” Ucapnya .
“Biar bagaimanapun dia adalah ayah kandungmu, tanpanya seorang Risa yang luar biasa tak akan ada didunia ini.” Lanjut Martha menasihati putinya.
“Tak apa jika kau belum bisa menemuinya, tapi Eomma harap kau jangan lagi menyimpan dendam itu sayang. Apapun hasilnya, itu adalah hukuman yang terbaik untuknya.”
Martha mengecup puncak kepala Risa lalu ikut bergabung untuk menikmati sarapan seperti biasany .
♡♡♡♡♡♡
Mobil yang dikemudikan Echa sudah memasuki halaman pengadilan tempat sidang akan digelar.
Beberapa aparat keamanan yang terlihat berjaga di sekitar segera mendekat kearah mobil yang ditumpangi Risa, Esme, dan Echa.
Kilatan cahaya dari kamera cukup menyilaukan netra mereka.
Koordinasi yang baik antara aparat keamanan dan juga tim keamanan untuk Risa yang disiapkan oleh Gio dan Amora membuat membuat ketiganya bisa melewati kerumunan tanpa ada insiden apapun.
Sidang telah berlangsung beberapa menit.
Risa yang duduk di antara Amora dan Esme, mendapat kekuatan lewat genggaman tangan kedua kakak angkatnya.
Tuan dan Nyonya Kim, juga turut hadir memberi dukungan untuk putri angkatnya.
Dan untuk kesekian kalinya, Martha menyadari jika ada seorang pria yang sedang memperhatikan putrinya.
“Dia ada disini lagi. Memangnya dia siapa?” batin Martha.
Harusnya Ia hawatir mengenai hal ini, tapi entah mengapa nalurinya berkata jika pria itu tidak memiliki niat jahat.
Tiba saatnya Risa memberi kesaksian. Ia menceritakan semua kejadian yang dia ingat, tanpa menambah atau mengurani sedikitpun, sesuai dengan sumpah yang telah Ia ucapkan sebelum duduk di hadapan majelis hakim.
Sesekali, saat selesai berbicara Risa akan menatap pada ayahnya yang duduk jauh darinya. Memakai seragam berwarna jingga dengan tulisan khas di bagian belakang sukses menarik perhatian bagi setiap netra yang memandangnya.
__ADS_1
Hampir 30 menit dan Risa akhirnya selesai memberikan kesaksiannya.
Tak ada kesulitan yang dialami Risa saat menjawab pertanyaan majelis hakim karena semua yang Ia katakan berdasarkan fakta.
Setelah Risa kembali, kini giliran Esme.
Layaknya Risa, Esme juga menjawab tanpa kesulitan.
Dan tanpa terasa sidang yang berlangsung hampir 2 jam tekah berakhir.
Sebelum menutup sidang kali ini, hakim mengumumkan jika hasil putusan sidang akan dibacakan pada sidang berikutnya yang dijadwalkan satu minggu kedepan.
Tak ingin mengecewakan para wartawan yang sudah menunggu bahkan sebelum mereka tiba, Risa akhirnya bersedia untuk diwawancarai .
Segera setelah wawancara usai, Risa dan yang lainnya segera kembali ke apartemen.
Jauh di lubuk hatinya, Risa ingin sekali bertemu dengan Ayahnya.
Ia ingin meminta maaf dan meminta Ayahnya ikhlas menerima dan menjalani hukuman untuk menebus kesalahannya.
Jika Ayahnya bisa benar-benar bertobat itu berarti semua yang Risa lakukan tak sia-sia.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sementara seorang pria berharap tidak ada satu orangpun yang menyadari kehadirannya.
Pria itu bahkan datang lebih dulu di pengadilan dari para wartawan.
Harapannya sama seperti harapan semua orang yang menghantarkan permasalahannya ke tempat ini, yaitu keadilan.
Jika para wartawan berlomba-lomba ingin bertemu hingga mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang mereka punya, pria ini sudah merasa cukup dari tempatnya berdiri saat ini.
Disaat Ia merasa rencananya berjalan dengan lancar, tanpa Ia sadari ada seseorang yang telah lama menyadari kehadirannya.
“Permisi Nak,” sapa wanita itu.
“Iya Bu,” balasnya gugup.
“Apa kamu memiliki waktu? Bisakah kita bicara sebentar ?”
“Tak perlu ragu, hanya kita berdua saja. Hanya ada sesuatu yang ingin ku pastian.”
Lanjutnya meyakinkan.
Sang pria masih bungkam.
“Aku akan merahasiakan jika kamu mengawasinya hari ini, dan juga hari-hari kemarin. Bagaimana?”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
“Terkadang lebih mudah mencari siapa yang akan dipersalahkan daripada mengakui kesalahan.”
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡