
Ketika kata bahagia didefenisikan sebagai dirimu, atau ketika kata pulang tidak lagi selalu merujuk ke rumah, melainkan dirimu.
Bersamamu, akan ku cari arti lain dari setiap kata yang akan menghiasi kehidupan kita berdua.
♡♡♡♡♡♡♡♡
“Ibu, boleh Brisa minta sesuatu?” tanya Brisa kecil yang kala itu masih berusia 8 tahun.
Gadis kecil yang nantinya akan menjadi saksi rapuhnya sebuah kepercayaan karena penghianatan yang akan dilakukan oleh Ayah kandungnya.
“Brisa mau minta apa?” Ucap Laksmi, sang Ibu.
“Apa bisa, Ibu meminta Ayah untuk pulang ke rumah bersama kita? Brisa takut Bu,” ucapnya menahan isakan.
“Jika bukan Ayah, siapa yang akan jagain Brisa?” tanyanya penuh harap.
Harapan gadis kecil yang masih menjadikan sosok Ayah sebagai malaikat pelindungnya, menjadikan sosok Ayah sebagai sandaran, menjadikan sosok Ayah sebagai satu-satunya pria yang Ia percaya dan bisa Ia andalkan, menjadikan sosok Ayah sebagai pria pertama yang memiliki cinta tulus darinya.
“Sssssttttttt...Brisa jangan nangis, jangan sedih gini dong,” bujuk Laksmi.
Brisa yang awalnya berbaring dengan kaki ditekuk untuk menyesuaikan dengan panjang kursi pada bus juga Ia harus menggunakan paha sang Ibu sebagai pengganti bantal, kini sudah berganti posisi menjadi duduk di pangkuan Ibunya.
Tangisannya mampu mencabik-cabik hati Laksmi.
“Brisa percaya pada Ibu?” tanya Laksmi.
Brisa kecil mengangguk.
“Brisa percaya jika Ibu bisa menjaga Brisa, sama seperti Ayah menjaga Brisa?” tanya Laksmi.
Brisa kecil terdiam.
“*Tapi... Tapi.... Ibu tidak akan bisa melawan penjahat, Ayah bisa Bu. Ayah hebat, kuat, penjahat akan takut pada Ayah.” Pujinya.
Gadis kecil itu tak pernah mengira bahwa pria yang Ia pujilah yang nanti akan menjadi sumber kesakitannya*.
“Tapi Ibu bisa berdoa pada Tuhan.” Elak Laksmi.
“Apa ada yang bisa mengalahkan Tuhan?” tanya Laksmi lagi pada putri kecilnya.
Brisa menggeleng dengan yakin.
“Jadi, Brisa tak perlu risau. Walaupun tanpa Ayah atau Ibu di sisi Brisa, selama kamu masih bisa berdoa maka tak ada yang perlu kamu takutkan. Tuhan akan selalu bersamamu, mendengar doamu, dan melindungimu.” Ucap Laksmi menenangkan putrinya.
“Suatu saat nanti, akan datang padamu seorang pria baik hati, yang akan memperlakukanmu dengan baik, yang akan membahagiakanmu, yang akan mencintai dan menyayangimu dengan tulus, yang akan bertanggung jawab dan membimbingmu menuju surganya.” Ujar Laksmi lirih namun masih bisa didengarkan oleh Brisa.
“Kapan datangnya Bu?” tanya Brisa kecil antusias.
“Nanti. Hatimu yang akan tergerak untuk mengenalinya.” Ucap Laksmi sambil menunjuk ke arah dada Brisa kecil.
“Apa ada yang bisa ku lakukan agar orang itu datang lebih cepat?” Tanya Brisa dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu.
Laksmi menggeleng.
“Yang perlu kau lakukan hanya satu sayang. Sangat sederhana, namun penuh liku untuk melakukannya dengan benar.”
“Apa itu Bu?” tanya Brisa dengan mata yang mengerjap-ngerjap berusaha menahan kantuk.
“Menunggu.” Jawab Laksmi singkat.
Brisa kecil mengangguk seolah paham dengan arti kata menunggu yang dimaksud oleh Ibunya.
Perlahan Ia menyadarkan kepalanya di dada sang Ibu, merasakan denyut jantung wanita yang membawanya ke dunia.
“Menunggu,” ulang Brisa.
“Menunggu,” ulangnya lagi.
“Menunggu.” Dan akhirnya gadis kecil itu terlelap dalam tidurnya dipangkuan sang Ibu.
♡♡♡♡♡
“Ibu....”
“Ibu....”
“Ibu....”
“Ibu....”
“Ibu....”
Suara gumaman Risa dan gerakan kepalanya, lama kelamaan mengusik tidur seorang pria di sisinya.
__ADS_1
Aydin samar-samar mendengar suara igauan dari wanita yang beberapa jam lalu telah menerima lamarannya.
Segera Ia bangun, lalu menangkup kepala Risa yang terus bergerak.
“Sayang... Hei, sayang.... Ayo bangun.” Ucapnya lembut.
Salah satu tangannya Ia gunakan untuk membelai pipi lembut calon istrinya itu.
“Yang, sayang, sayang, bangun.” Ucapnya sekali lagi, namun dengan suara yang lebih keras.
Aydin mulai panik, saat melihat keringat mulai membasahi wajah cantik Risa.
Akhirnya Ia mengguncangkan tubuh Risa dengan memegang kedua lengannya.
“Sayang, kumohon bangun. Ayo bangunlah.” Ucapnya mulai frustasi.
Ia tak ingin terjadi sesuatu pada wanitanya.
Dan benar saja, perlahan Risa membuka matanya.
“Ibu,” lirihnya sekali lagi.
Mendengar suara Risa, Aydin terpaku.
“Yang, kamu baik-baik aja kan?” tanyanya panik sambil membawa Risa kedalam pelukannya.
Mendekapnya erat. Ia sangat takut kehilangan wanita yang kini menjadi penyanggah dalam kehidupannya.
“Ay,” lirih Risa.
“Aku baik-baik aja,” lanjutnya.
Aydin akhirnya melepas pelukannya.
“Mimpi buruk?” tanyanya.
Risa menggeleng, “Aku mimpi bertemu Ibuku.”
“Meski hanya mimpi tapi aku senang Ay,” sambungnya, sesekali terdengar isakan dengan bahu yang naik turun.
“Aturlah jadwalmu Yang, sepertinya Ibu mertua ingin bertemu dengan pria yang telah berhasil merebut hati putri cantiknya.” Ucap Aydin.
Risa mengangguk, tangannya kini melingkari pinggang Aydin.
“Tidak perlu sayang. Sudah semestinya Aku meminta izin beliau.” Balas Aydin.
Nyaman, itulah yang dirasakan Risa saat Ia berada dalam dekapan Aydin.
“Semoga Aydin adalah pria yang dimaksud Ibu.” Batin Risa.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Langit biru yang cerah dengan awan seputih kapas yang menggulung dengan berbagai macam bentuk.
Pagi ini tak ada drama antara ayah dan anak seperti biasa. Risa dan Aydin menikmati sarapan mereka dengan tenang, sambil menatap pada indahnya laut yang terbentang sejauh mata mereka memandang.
“Aku merindukan Dafha,” ucap Risa.
“Semoga dia tak akan menyusahkan Amora dan Gio.” Sambungnya.
Aydin terkekeh mendengar ucapan Risa yang penuh harap pada putranya.
“Kupikir dia tak akan menyusahkan Amora.” Ucap Aydin.
“Tapi menyusahkan Gio, itu sudah pasti.” Imbuhnya.
Risa ikut tertawa saat paham dengan maksud Aydin.
“Jadi apa kegiatan kita hari ini?” tanya Risa.
“Haruskah ku beri tahu sekarang? Aku ingin menjadikannya kejutan untukmu.”
Risa tersenyum, “Setidaknya beritahu aku kapan kita berangkat. Kamu taukan aku masih harus bersiap.”
“Sekarang.” Celetuk Gio yang tiba-tiba saja muncul dengan wajah yang ditekuk.
“Sekarang?” tanya Aydin dan Risa bersamaan.
“Ya, karena yacht akan berangkat pukul 9. Dan lihat sekarang sudah pukul berapa?” ucap Gio sinis.
Risa dan Aydin bertukar pandangan sebelum berlari masuk ke kamar untuk bersiap.
__ADS_1
“Hei kalian tunggu,” cegah Gio.
“Ada apa lagi?” Risa yang menghentikan langkahnya menjawab dengan malas.
“Mana perlengkapan Dafha? Baju renang, baju ganti, emm, emm, apa lagi yah aku lupa.” Ucap Gio sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Siapa yang meminta?” tanya Risa.
“Amora. Kami akan berangkat lebih dulu.”
“Pergilah lebih dulu. Aku saja yang akan membawa perlengkapan Dafha.” Ucap Risa sebelum menutup pintu kamarnya.
Dari luar Gio yang kesal sempat-sempatnya meneriaki pasangan yang semalam baru saja tunangan.
“Lagian, kalian baru aja tunangan bangun udah telat. Gimana kalau udah nikah, kalian gak akan bangun sampai sore.”
Ledeknya lalu tertawa karena ucapannya sendiri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Risa dan Aydin akhirnya berhasil tiba di Pelabuhan Benoa tepat pada pukul 9 pagi.
Mendapat sorakan dari semua orang yang dibuat menunggu, Risa dan Aydin hanya terkekeh dan terus mengucapkan maaf.
Para kru kapal yang berjumlah 5 orang, mulai memperkenalkan diri, dan menjelaskan jika kapal akan berlayar dengan santai dari Bali ke Pulau Nusa Lembongan, melintasi laut biru yang dalam ke pantai pasir putih yang mempesona.
Saat Yacht mulai berlabuh, minuman selamat datang, kue kering, minuman ringan, teh & kopi, irisan buah, handuk dingin dihidangkan dengan apik oleh para kru.
Tidak hanya itu, 2 pancing trolling yang disambut gembira oleh Papa Dimas dan Echa juga diberikan sebagai fasilitas yang akan menemani selama perjalanan.
Sementara Amora dan Gio segera bersiap untuk berjemur.
Chandra, Ayana, dan Albert sedang bercengkrama menikmati hidangan yang ada.
Beda halnya dengan Risa dan Aydin. Pasangan ini hanya sibuk mengabadikan momen-momen romantis kebersamaan mereka, yang sudah pasti sukses membuat warga dunia maya iri saat Aydin mengunggah di halaman sosial media miliknya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sementara itu di Ibu Kota, meski sedang libur bukan berarti Eijaz akan tinggal bermalas-malasan dirumah.
Sesuai rencana, hari ini pria itu akan mengunjungi toko buku miliknya.
Tetap bersama Romi yang kini setia menemaninya kemanapun dan kapanpun, Eijaz dalam perjalanan menuju toko bukunya yang menyimpan banyak kenangan dirinya bersama Brisa.
Eijaz menyunggingkan senyum ketika melihat unggahan terbaru sahabatnya di sosial media.
“Sepertinya aku selalu berjodoh untuk menjadi saksi saat pernikahannya.” Lirih Eijaz.
Romi yang penasaran memberanikan diri bertanya pada bosnya, “Boleh saya tau Pak, memangnya siapa yang mau menikah?”
“Sahabatku, pemilik Ohana Tech.” Jawabnya tanpa menoleh pada Romi.
“Dia baru saja melamar kekasihnya di Bali. Pantas saja nomornya sulit dihubungi.” Sambung Eijaz sambil terkekeh.
“Sahabatku sudah akan menikah untuk kedua kalinya, sedangkan aku......” Keluh Eijaz.
Romi merasa iba mendengar ucapan Eijaz. Setelah kemarin Ia mengetahui apa yang menimpa pria disampingnya.
“Tidak perlu mengasihaniku, aku tidak perlu belas kasihan dari orang lain.”
Romi tertawa untuk menyembunyikan apa yang ada dibenaknya.
“Saya tidak mengasihani Anda Pak. Saya hanya penasaran pada tampang pemilik Ohana Tech hingga dia akan menikah yang kedua kalinya.” Balas Romi.
“Tentu saja tampan, sejak kuliah dia adalah incaran para kaum hawa. Franda, adalah mantannya.” Jelas Eijaz.
“Dan jangan salah sangka padanya, dia adalah pria paling setia yang kukenal. Istri dari pernikahan pertamanya telah tiada.” Sambungnya.
“Apakah nanti aku juga akan meninggalkan Brisa, seperti Kirani meninggalkan Aydin?” gumam Eijaz lirih.
Meski mendengar, namun Romi tak berniat untuk menanggapi ucapan sang Bos.
Rasa iba didalam hatinya semakin besar pada sosok pria yang baru beberapa hari ini dikenalnya.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
“Semua yang kau lakukan untukku adalah hal yang terbaik. Sedang yang bisa ku lakukan hanyalah berdoa, sebab meski rindu kian menyayat hati, namun temu tetap tak akan bisa terwujud. “
__ADS_1