Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 37 . Officially Ay - Yang


__ADS_3

Holaaaa readers ,


Baru kali ini othor nyapa di awal cerita 😁 Mau ngucapin :


HAPPY NEW YEARS 2022


*S*emoga di tahun ini kehidupan dunia dan akhirat kita menjadi lebih baik lagi .


*D*an spesial untuk dunia perhaluan , aku berharap bisa berhalu lebih kreatif lagi menghasilkan karya yang bisa disukai dan menghibur para readers kesayanganku yang baik hati , tidak sombong , rajin cuci tangan dan pakai masker .


( Campaign PROKES teteeup yeee . hehehehe )


Terimakasih semua dukungan kalian selama 206 hari kebersamaan kita yah . Please jangan stop , terus dukung yah . Tekan Like 👍 di akhir part , lanjutin 📝 ketik komentar apa aja ( No bullying No SARA ) , tekan ❤ biar dapat update terus karya aku, tekan 🎁 berbagi gift biar makin banyak rejeki , dan tekan 🎟 Vote biar othor happy nya double double .


*Sekian cuap cuap unfaedah dari akyu , sekali lagi aku ucapin


Happy New Years 2022* . Bye Bye Bye Bye 2021


🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳 ( anggep aja othor lg niup terompet yeee)


jangan tanyain fireworknya mana , di tempat othor lagi hujan*.


ps: balik ke cerita , kita awali tahun 2022 dengan yang manis manis ala Ay - Yang Couple , cekidot ............




" Jadi kemana dulu nih ? " tanya Aydin pada dua orang yang sejak awal perjalanan sudah sibuk bercanda .



" Ke Mall aja gimana ? " usul Risa meminta persetujuan Dafha .



" Iya ... Dafha mau main di play zone . " Sahut Dafha antusias .



" Sip... nanti aunty temenin yah ... " balas Risa .



Aydin hanya menggelengkan kepalanya . Seingatnya Ia yang bertanya mengenai tujuan mereka , tapi akhirnya obrolan itu hanya menjadi obrolan antara Risa dan Dafha .



Beberapa menit kemudian mobil Aydin sudah memasuki pelataran salah satu Mall terbesar di Jakarta .



Setelah memarkirkan mobilnya yang dibantu oleh petugas valet parking , ketiganya memasuki Mall dengan saling bergandengan .



Tak lupa Risa memakai masker untuk menutupi wajahnya .  Bukan karena Ia merasa sangat terkenal , tapi Ia hanya menghindari kejadian seperti saat Ia di Palembang . Apalagi saat ini Ia bersama Aydin dan Dafha , Risa tidak ingin keduanya merasa tidak nyaman .



Tempat pertama yang mereka tuju adalah sebuah cafe di dalam Mall yang memang di khususkan untuk anak anak .



Cafenya mengusung konsep *family quality time* . Ada play land untuk anak bahkan untuk mejanya ada dua tipe . Ada yang untuk orang dewasa dan ada yang untuk anak anak .



Dafha kini telah asik bermain dengan anak anak lain sedang Aydin dan Risa sengaja memilih meja yang tak jauh dari tempat Dafha bermain .



Sambil menunggu makanan pesanan mereka dihidangkan , pandangan Risa terfokus pada Dafha yang asik berlarian . Risa akan refleks berdiri saat melihat Dafha terantuk sesuatu bahkan sesekali anak itu sampai terjatuh .



" Udah .... biarin aja Yang . Anak laki harus kuat . " Ujar Aydin yang menahan Risa yang hendak menghampiri Dafha yang terantuk mainan .



" Tapi .... aku mau pastiin aja Dafha gak kenapa napa . " Balas Risa mengabaikan Aydin .



Setelah memastikan Dafha tidak terluka , Risa kembali duduk di kursinya .



" Benarkan kataku , Dafha gak apa apa Yang . Kalau sakit dia pasti nangis kok . "



Risa menatap tajam pada Aydin . " Masa anaknya mau dibiarin nangis dulu baru ditolongin ... ihhhh . "



Aydin hanya bisa mengusap tengkuknya sendiri setelah mendapat tatapan tajam dari Risa .



Risa sendiri belum menyadari jika sejak tadi Aydin terus saja memanggilnya dengan ' Yang ' .


Sedang Aydin kini mulai gelisah , karena Risa tidak pernah lagi memanggilnya ' Ay '.



Sesekali Risa mengecek ponselnya , membalas pesan dari Esme , atau berselancar di sosial media miliknya .



Risa bingung saat ada sebuah akun yang menandainya di postingan sebuah foto .



Foto tersebut memang tidak menampilkan wajahnya , tapi Risa bisa langsung tahu jika sosok wanita itu dirinya. Pakaian wanita di foto sama dengan pakaian yang Ia kenakan dan tempat yang menjadi latar foto adalah tempatnya kini berada.



Risa mengamati foto itu . Di foto itu nampak seorang wanita yang sedang duduk membelakangi kamera , namun sebenarnya yang menjadi sorotan adalah adanya tangan seorang pria yang sedang merangkul pundaknya .



Risa menoleh pada Aydin yang kini pura-pura tidak tahu apa-apa .



" Kapan kamu ngambil fotonya ? Aku sampai gak nyadar . " tanya Risa .



" Itu karena kamu terlalu fokus merhatiin Dafha . " Jawab Aydin .



Risa tertawa .


" Ya masa merhatiin kamu . Kamu gak diperhatiin juga gak bakal hilang , gak bakal ke mana-mana . " Ujarnya .



" Yakin ? " tanya Aydin .



Risa mengangguk mantap . Ia berdiri hendak mengajak Dafha kembali ke meja , karena makanan mereka sudah dihidangkan oleh pelayan .



Sebelum berlalu Risa menunduk dan berbisik pada Aydin . " Aku yakin sejauh apapun kamu pergi , kamu bakal tahu kemana harusnya kamu pulang . "



Bisikan Risa sontak membuat hati Aydin menghangat . Tapi tidak dengan jantungnya yang kini berdetak dua sampai tiga , bahkan mungkin empat kali lebih cepat dari biasanya .



Risa benar , setelah Kirani pergi Aydin kehilangan arah untuk pulang . Hatinya membeku . Namun semenjak kehadiran Risa ,  sepertinya Ia sudah memiliki arah pulang yang baru .



" Apa aku benar benar bisa menjadikanmu rumahku ? " batin Aydin memandangi Risa dan Dafha bergandengan tangan berjalan ke arahnya.



Risa dengan sabar membantu Dafha menyantap makanannya . *Chicken strips for kids* menjadi menu yang dipilih Risa untuk Dafha .



Sesekali Risa juga menyuapkan spaghetti creamy mushroom ke mulutnya di sela sela mengawasi Dafha makan .



Hati Aydin sungguh menghangat melihat interaksi keduanya . Hatinya yang membeku perlahan mulai mencair . Hanya Risa satu satunya wanita yang bisa Dafha terima . Bahkan Franda , wanita yang sudah sejak lama dikenal oleh Dafha tetap tidak bisa mendekati Dafha seperti ini .


__ADS_1


Makanan Dafha akhirnya habis . Kini anak itu sedang menikmati es krim yang menjadi hidangan penutup makan siangnya .



Risa juga akhirnya bisa fokus untuk menyantap makanannya .



" Nanti kalau jalan bertiga lagi , kita ajak suster Putri juga . " Ujar Aydin .



Risa mengangguk .



" Kasihan kamunya kerepotan ngurus Dafha sendiri Yang . " lanjutnya .



" Aku gak repot , aku malah senang bisa ngurusin Dafha . " Jawab Risa jujur .



" Tapi .... "



" Gak ada tapi tapi . Aku gak pernah merasa direpotkan . " Sanggah Risa .



" Makasih yah Yang . Cuma kamu satu satunya yang bisa diterima dan sedekat ini dengan Dafha . " Ujar Aydin sambil menggenggam salah satu tangan Risa dan menatap dalam ke netra indahnya .



" Daddy stop ..... "


Pekik Dafha menghancurkan beberapa detik suasana romantis yang susah payah dibangun Aydin .



" Kenapa teriak teriak ? " tanya Aydin .



" Daddy gak usah megang tangan Aunty . Memangnya Daddy mau ngajak Aunty nyebrang."



Risa terkekeh , sementara Aydin terlihat kesal .



Setelah mengisi perut , kini ketiganya menuju bioskop . Ada sebuah film kartun yang ingin sekali ditonton Dafha .



" Kamu yakin Yang mau nonton film kartun ? " tanya Aydin memastikan kembali .



Risa mengangguk mantap .


" Gak mungkin dong kita biarin Dafha nonton sendirian . "



Aydin mengalah . Buyar sudah ekspektasinya menonton film romantis bersama Risa .


Dua vs satu , tentu saja sebagai kaum minoritas dia harus mengikuti suara terbanyak .



Awalnya Dafha duduk di tengah , di antara Risa dan Aydin . Tapi karena Aydin merasa bosan , dia terus saja mengganggu Dafha agar anak itu tidak betah menonton filmnya hingga usai . Dan akhirnya terjadilah keributan antara ayah dan anak.



Agar mereka tidak diusir keluar karena mengganggu penonton lainnya , Risa akhirnya memutuskan untuk duduk di tengah menggantikan Dafha .



Aydin tentu saja bagai mendapatkan jackpot .  Suasana biskop yang gelap , suhu udara yang dingin , di tambah ada wanita cantik di sampingnya .



" Yang ..... " panggil Aydin pada Risa dengan pelan seperti berbisik .




" Yang .... sayang .... " panggilnya lagi .


Bahkan kini Aydin berbisik sangat dekat dengan telinga Risa membuat Risa merinding karena geli .



" Yang ? Sayang ? Sejak kapan aku ganti nama .  " Tanya Risa berbalik pada Aydin .



Benar dugaan Aydin , sepertinya Risa tak menyadari dengan panggilan sayangnya sejak tadi .



" Iya , kamu sayang . Memang gak ganti nama , tapi hanya aku yang boleh manggil kamu sayang . " ujar Aydin .



" Aturan dari mana itu ? sejak kapan berlakunya ? " tanya Risa tepat di hadapan wajah Aydin .



Hembusan hangat napas Risa mampu membuat Aydin mabuk kepayang .



" Sejak tadi . Sejak kamu manggil aku *Ay* . "



Risa tertawa .... kini Ia tahu dari mana awal mula perubahan panggilan itu berasal .



" Aku manggil Ay karena nama kamu depannya Ay , Aydin . " Ujar Risa menjelaskan .



Nampak ada kekecewaan di raut wajah Aydin .


Tapi bukan Aydin jika tidak bisa mendapatkan yang Ia inginkan .



Dengan cepat Ia mendaratkan bibirnya di bibir Risa .



" Terserah apa katamu tapi bagiku Ay itu artinya Ayang . "


Keputusan Aydin kali ini telah Ia patenkan sendiri dan tidak bisa diganggu gugat lagi .



Risa menahan tawanya memikirkan Aydin yang salah paham sejak tadi .



" Aku menyadari kesalahanku , tidak seharusnya aku memintamu bersabar dan menerimaku dengan hubungan yang tidak jelas statusnya , " lanjut Aydin .



" Kamu terlalu berharga Kim Risa , kamu terlalu berarti bagiku dan Dafha . Seharusnya yang aku mohon padamu adalah kesediaanmu untuk berada di sisiku dan Dafha, kesediaanmu untuk menerimaku dan Dafha . Pertengkaran kecil kita kemarin sungguh membuatku takut jika harus kehilangan bahkan sebelum aku memilikimu . "



Walaupun dalam keadaan gelap , Risa tetap bisa melihat ketulusan dari tatapan Aydin . Tidak ada kebohongan di sana  .



" Risa , kamu mau kan  ? " Tanya Aydin .



" Apa kamu mencintaiku  ? Apa kamu sudah melupakan mantan istrimu ? "  tanya Risa ragu .



" Maaf , tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan Kirani . Ada Dafha diantara kami . Dan selamanya dia akan memiliki tempat tersendiri di hatiku . " Jawab Aydin .



" Tapi Risa ,  sungguh aku menyayangimu . Aku dan Dafha membutuhkanmu di hidup kami . Aku ingin memilikimu, tanpa ku sadari kamu berhasil menempati hati dan pikiranku . "

__ADS_1



Aydin akan melanjutkan ucapannya . Ia ingin meminta Risa bersabar agar dirinya bisa mencintai Risa seutuhnya .



Namun Aydin tidak bisa melakukannya, karena Risa mendekatkan wajahnya dan mulai menciumnya .



Hhhmmmmmppphhh



Hanya suara berat deru napas yang dapat di dengar Aydin dan Risa saat tengah asik bertukar saliva .


Aydin menahan tengkuk Risa agar pertarungan keduanya semakin dalam .



Hingga kurangnya pasokan oksigen yang membuat keduanya harus berhenti . Mereka terengah- engah , berusaha menormalkan kembali ritme pernapasan .



" Sssssttttttt ..... jangan katakan apa apa lagi . Kita sama-sama akan menumbuhkan rasa cinta itu , " ujar Risa .



Risa tidak ingin egois , menuntut Aydin harus mencintainya sedang dia sendiri belum bisa memastikan apa cinta untuk Aydin sudah ada di hatinya .



Yang Risa tahu jika Ia merasa nyaman saat mereka bersama .


Ditambah dengan amanat Rani , Ia yakin ini adalah awal yang baik untuk mulai mewujudkannya .



Aydin sangat bahagia mendengar jawaban Risa , lalu mulai lagi menyatukan dua benda kenyal yang menyebabkan candu baginya .



Namun kegiatan itu harus berhenti saat mendengar cibiran dari Ibu ibu yang duduk di kursi belakang mereka .



" Sungguh tak tahu tempat dan kondisi , " desisnya .


" Padahal yang di putar juga film kartun bukan film romantis , tapi sempat sempatnya berciuman . "


" Bagaimana jika ada anak anak yang melihat . " Sindir seorang Ibu yang melihat aksi Risa dan Aydin .



Risa dan Aydin akhirnya memberi jarak pada posisi duduk mereka saat ini .



Risa menoleh pada Dafha yang ternyata sudah tertidur di kursinya .



" Aydin ... Dafha tertidur ."


" Bagaimana kalau kita pulang aja , " usul Risa .



Aydin mengangguk , lalu berdiri dan menggendong Dafha yang sedang tertidur .



" Yahh... baguslah mereka pergi , lebih bagus jika dilanjutkan di rumah saja . " Ibu ibu yang tadi kembali mengoceh saat Aydin dan Risa beranjak dari tempatnya .



Ketiganya kini sedang menunggu petugas valet mengambil mobil yang diparkir .



Sejak keluar dari bioskop hingga sekarang , Aydin menggendong Dafha dengan satu tangannya sedang satu tangan lainnya menggenggam tangan Risa .



Risa segera masuk ke mobil dan mengambil alih Dafha dipangkuannya , sementara Aydin mulai melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya .



" Yang .... berarti sekarang *Ay - Yang* udah officiall dong , " ujar Aydin .



Risa menatap tak mengerti .



" Maksudku , mulai sekarang kita berdua adalah sepasang kekasih . Dan aku ingin kamu memanggilku Ay, aku suka mendengarnya . " Aydin meresmikan hubungan keduanya .



" Tidak ada penolakan dan bantahan , " tegasnya sekali lagi .



Wajah Risa merona , Ia tidak tahu harus menjawab apa .



Tak terasa mobil Aydin sudah mulai memasuki halaman rumah orang tuanya .



Risa menggendong Dafha menuju kamar dan dengan perlahan membaringkannya di tempat tidur lalu memakaikan selimut untuk Dafha . Tak lupa satu kecupan di kening Dafha, spesial dari Risa .



Semua adegan ini disaksikan langsung oleh Aydin .



Risa hendak beranjak keluar dari kamar Dafha namun Aydin menarik lalu memeluk tubuhnya .



" Yang , apa perlu kita mengikuti saran ibu yang di bioskop tadi untuk melanjutkan lagi di rumah . "


Aydin mengeratkan pelukannya , jantungnya memompa lebih cepat dan deru napasnya terasa berat .



Wajah Risa sontak merona memikirkan apa yang akan Aydin lakukan kali ini .



Aydin mulai mendekatkan wajahnya ingin kembali merasakan manis dari bibir wanita yang sekarang resmi menjadi kekasihnya .



Namun belum sempat Ia menggapai rasa itu , pintu kamar dibuka oleh Ayana yang ingin memastikan ucapan mamanya jika Risa ada di kamar Dafha .



" Abaaaaanggggg ...... " teriak Ayana saat netranya hampir saja melihat kemesuman seorang duda yang sayangnya adalah kakak kandungnya .



" Ayana ........ " balas Aydin juga meneriaki adiknya yang sudah dua kali mengganggu aktivitas kegemarannya .



.


.


.


.


.


.


"*So it's not gonna be easy. It's going to be really hard; we're gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me ... every day*."


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2