
Tidaklah Tuhan memberikan cobaan, kecuali Ia tahu kita mampu menghadapinya.
Mungkin saja kini Tuhan tengah mengistimewakanmu, melalui perhatian-perhatian kecilnya.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersyukur dan jangan berputus asa.
Tersenyumlah, semuanya akan berlalu.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Masih jelas terbayang di pelupuk mata Aydin, bagaimana pertemuan terakhirnya dengan Eijaz.
Masih jelas bagaimana raut wajah Eijaz menahan perih, kala Ia merelakan cinta yang telah bertahun-tahun Ia pendam.
“Bertahan dengan cinta yang tak tersampaikan.”
Begitulah ucapan Eijaz yang sampai sekarang membekas di hati dan pikiran Aydin.
Aydin betah berdiam diri di depan ruang perawatan seorang pria yang Ia duga adalah Eijaz, sahabatnya.
Hari ini sungguh melelahkan bagi Aydin, “Huhhh.... Rasanya aku seperti sedang mendapat balasan dari semua perbuatan burukku di masa lalu.”
“Pernikahan yang sudah di depan mata harus tertunda karena kecelakaan yang dialami Risa.” Batin Aydin.
“Dan juga fakta mengenai amanat Rani, Aku harus memastikan perasaan Risa yang sebenarnya padaku sebelum semuanya terlambat.” Sambungnya membatin.
Mendengar namanya dipanggil oleh seorang pria membuat langkah Aydin yang hendak kembali ke ruang perawatan Risa harus terhenti.
“Tuan Aydin,” sapa Dokter Hendra.
“Dokter Hendra,” balas Aydin menyapa.
"Selarut ini, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanyanya.
Aydin sekilas melirik pada dokter wanita yang berdiri di samping Dokter Hendra.
“Oh ya... Perkenalkan Tuan, ini Dokter Shahnaz, spesialis onkologi termuda di rumah sakit ini."
Dokter wanita yang dikenalkan bernama Shahnaz mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada Aydin.
Dengan tetap berwajah datar, Aydin menyambut uluran tangan dokter Shahnaz.
“Aydin,” ucapnya singkat.
“Bolehkah aku memberitahu padanya jika Anda adalah tunangan dari model Kim Risa?” ucap Dokter Hendra, seolah-olah sedang berbisik meminta izin pada Aydin.
“Oh my...... Benarkah itu?” Dokter Shahnaz memekik karena berbagai macam rasa.
Tersanjung, bahagia, haru, bahkan ada rasa yang tak dapat Ia jabarkan kini meletup-letup di hatinya.
Aydin mengernyit melihat tingkah Shahnaz.
“Apakah izinku masih kau perlukan?” tanya Aydin dengan gelengan kepala pada Dokter Hendra.
Hendra tertawa, baginya lucu sekali melihat raut wajah tak nyaman dari Aydin.
“Kau hebat Ndra, bisa mengenal model terkenal seperti Nona Kim Risa, bahkan kau mengenal tunangannya juga.” Bisik Shahnaz, namun masih bisa didengar jelas oleh Aydin.
“Ceritanya panjang, nanti saja ku ceritakan." Balas Dokter Hendra.
"Maaf Tuan Aydin. Temanku ini fans garis keras Nona Risa, impiannya jadi model gak bisa kesampaian." Ujar Hendra meminta maaf, tapi tetap diselingi dengan meledek Shahnaz.
"Bukankah kau ingin memeriksa pasienmu?” ucap Hendra mengingatkan Shahnaz.
“Astaga... benar juga. Aku terlalu bersemangat bertemu dengan tunangan dari seseorang yang kuidolakan.” Ujarnya.
Mungki karena suara wanita yang mengaku sebagai dokter itu sangatlah berisik, hingga....
Ceklek...
Pintu ruangan di belakang Aydin tebuka.
Nampaklah sosok pria yang Aydin duga adalah asisten Eijaz.
Tatapan Romi terpaku pada sosok Aydin.
“Bagaimana bisa dia berada di sini? Bahkan dia bersama Dokter Shahnaz,” batin Romi cemas.
Romi dan Aydin terus saling menatap, seperti Aydin menyimpan banyak pertanyaan lewat tatapannya.
Sedangkan Romi, pria itu tetap berusaha mempertahankan raut wajah datarnya.
“Malam, maaf jika obrolan kami terlalu berisik sehingga mengganggu ketenangan kalian.” Ucap Dokter Shahnaz, yang mendapat anggukan dari Romi.
Shahnas lalu masuk ke ruangan yang Ia duga pasiennya adalah Eijaz.
“Tuan... Tuan...” panggil Dokter Hendra, membuyarkan lamunan Aydin.
“Ya, ada apa?” tanyanya.
“Saya mau permisi untuk periksa pasien.” Pamitnya.
Baru beberapa langkah, Aydin kembali menghentikan langka Hendra.
“Dokter Hendra,” panggilnya.
__ADS_1
Langkahnya terhenti dan berbalik pada Aydin.
“Maaf, dokter yang tadi itu dokter spesialis penyakit apa?” tanyanya.
“Shahnaz?” ulangnya memastikan.
Dijawab anggukan kepala oleh Aydin.
“Dia dokter spesialis Onkologi.” Jawabnya.
“Onkologi?” Gumam Aydin.
Segera Aydin mencari informasi mengenai Onkologi pada ponsel pintarnya.
Dan betapa terkejutnya ia, saat layar ponselnya menunjukkan informasi mengenai apa yang Ia cari.
“Kanker?” gumamnya lirih.
Rasanya kedua kaki Aydin tiba-tiba saja lemas, tak bertenaga. Sepertinya Ia tak sanggup menahan beban tubuhnya.
Segera Ia bersandar kembali ke dinding, berharap benda tak bernyawa itu bisa menopang sebentar tubuhnya.
“Kanker?” gumamnya lirih sekali lagi.
“Lagi? Terulang lagi? Ya Tuhan, kenapa harus penyakit yang sama.” Keluh batinnya.
Entah mengapa Aydin merasa tak nyaman jika harus mendengar berita mengenai penyakit kanker.
Masih jelas diingatannya bagaimana terkejutnya Ia saat tahu jika Kirani juga menderita penyakin yang sama, bahkan Ia telah berobat beberapa kali tanpa sepengetahuan Aydin.
“Mengapa terulang lagi!” batinnya.
Aydin tak sedang bertanya, tapi Ia kini merutuki keadaan serupa yang kembali harus Ia lewati.
Penyakit yang sama, di rumah sakit yang sama, meski dengan orang yang berbeda tapi keduanya sama-sama adalah orang yang berharga bagi Aydin.
Ceklek.....
Pintu kembali terbuka.
Wajah dokter wanita yang berperilaku heboh itu muncul lebih dulu.
“Kita tunggu sampai besok yah, jika kondisi terus membaik seperti ini, maka pasien boleh pulang besok.” Ucapnya tegas, sungguh berbeda saat Ia bersama Hendra.
"Sangat berbeda dengan wanita heboh yang ternyata fans garis keras Risa." Batin Aydin.
“Astaga, Risa. Aku sampai melupakannya.” Pekiknya dalam hati.
Baru saja Ia ingin beranjak kembali ke ruang rawat calon istrinya, namun pria yang Aydin ingat diperkenalkan sebagai asisten Eijaz memanggilnya, setelah punggung doker Shahnaz tak nampak lagi.
“Tuan Dzauky,” sapanya sopan.
“Aydin, panggil saja Aydin,” selanya.
Ada senyum ramah yang nampak dari bibir pria itu.
“Baik Tuan Aydin, apa Anda ada waktu? Bolehkah kita bicara sebentar?”
Aydin menaikkan kedua alisnya, harusnya dia yang meminta itu lebih dulu.
“Tentu.” Jawab Aydin singkat.
“Perkenalkan sekali lagi Tuan, nama saya Romi. Saya asisten sahabat Anda, Tuan muda Eijaz.” Ujarnya.
“Yah aku ingat padamu. Jika tidak, tak mungkin aku akan menunggumu.” Balas Aydin.
“Baiklah, silahkan Tuan. Lebih baik jika kita mencari tempat yang lebih nyaman untuk bicara. Aku tau Anda punya banyak pertanyaan di benak Anda kini."
Aydin mengikuti langkah kaki Romi, menuju tempat yang akan menjadi saksi bagaimana Romi bercerita mengenai takdir bekerja pada kehidupan Eijaz selama ini.
Dalam setiap langkahnya, batinnya terus mememohon agar kekhawatirannya pada Eijaz tidaklah benar.
"Semoga dugaanku salah." Batinnya.
Hingga mereka tiba di taman yang ada di roofrop rumah sakit. Taman yang sama yang sebelumnya didatangi oleh Risa dan Chandra.
Cukup lama mereka duduk tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya.
Hingga Romi memecah keheningan.
“Kanker darah,” ucapnya.
Dua kata itu mampu membelalakkan mata Aydin. “Jadi benar, penyakit itu lagi.” Batinnya.
“Kanker darah stadium 4, dengan komplikasi ke ginjal yang membuat kondisinya semakin parah,” sambung Romi.
Romi bisa melihat raut wajah terkejut di wajah Aydin.
“Tapi dia nampak begitu sehat beberapa hari yang lalu,” gumam Aydin lirih.
“Begitulah Tuan muda. Meski belum lama mengenalnya, tapi menurutku dia sosok yang tangguh, tak ingin terlihat lemah oleh orang lain.” Pujinya pada Sang Bos.
“Tapi Eijaz bukan orang lain bagiku. Dia seperti saudaraku, ku rasa dia juga berpikir hal yang sama padaku. Tapi kenapa tak pernah jujur padaku.” Keluh Aydin.
“Saudara juga tak pernah ingin melihat saudaranya sedih. Apalagi jika itu karena harus menghawatirkan dirinya.” Ujar Romi.
__ADS_1
Aydin berdecih.
“Sejak kapan? Dan bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Aydin.
Romi menghela napas panjang, kemudian mengalirlah cerita mengenai awal Ia mengetahui penyakit bosnya.
Sesekali, ada kalimat yang terasa sangat berat bagi Romi untuk Ia ucapkan.
“Meski usia adalah rahasia Sang Ilahi, tapi melihat kondisi tubuh tuan muda semakin lemah. Hingga dokter memperkirakan dengan kondisi seperti itu, Tuan muda tak akan bisa bertahan lebih lama lagi.” Ujarnya.
Mendengar kata demi kata yang diucapkan Romi bagai ada batu besar yang kini sedang menghantam tubuhnya.
Sakit.
Sakitnya perasaan Aydin, rasanya bagai tubuhnya kini sedang dihantam oleh batu yang teramat besar, ketika mengetahui jika seseorang yang Ia anggap saudara selama ini, akan pergi meninggalkannya lagi untuk selamanya.
♡♡♡♡♡♡♡
Meski telah berjam-jam mendengar cerita Romi, rasanya masih sulit bagi Aydin untuk percaya dengan semua yang terjadi.
Rasanya masalah datang tak ada habisnya di kehidupan Aydin.
"Bukankah harusnya masalah datang silih berganti? Mengapa di kehidupanku, rasanya masalah ini datangnya beruntun."
“Huuufftttt.....”
Hembusan napas pria itu begitu terasa berat, seberat langkahnya kini kembali menuju ruang rawat Risa.
Dan disinilah Ia sekarang. Berdiri dengan ragu di depan ruangan perawatan Risa dengan penuh keraguan.
Aydin sudah cukup memikirkan semuanya.
"Ya, Aku salah." Gumamnya.
Dirinya terpancing emosi, melihat Risa tertawa bersama Chandra. Saat dirinya bahkan tidak memiliki waktu tidur yang cukup karena memikirkan semua fakta yang baru disembunyikan darinya.
"Apakah Risa masih akan menerimaku sebagai tunangan yang kembali melakukan kesalahan lagi dan lagi. Kembali melakukan hal-hal bodoh dan menyakitkan hati wanita yang ku sayang?" Batin Aydin sungguh diliputi keraguan.
Tak ada sama sekali terlintas di benak, apalagi hatinya untuk berpisah dengan Risa.
Mengetahui amanat Kirani, entah mengapa membuat Aydin menjadi tak percaya diri.
"Pantaskah Aku untuk Risa?"
"Mampukah Aku untuk membahagiakannya?"
"Apakah Aku mampu membuatnya bertahan untuk selalu di sisiku?"
Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang membuat Aydin perlu waktu sendiri untuk berpikir.
Dan yang paling membuatnya merasa terbebani yaitu kenyataan mengenai semua cinta yang Ia terima dari Risa.
"Apakah semua cinta yang selama ini Ia beri padaku itu tulus? atau hanya karena sebuah Amanat?"
Tak ingin pertengkaran berlarut-larut, Aydin memberanikan dirinya. Perlahan Ia membuka pintu, netranya menyusuri ke sekeliling ruangan yang cukup besar.
Mencari sosok wanita yang harusnya saat ini masih berbaring di atas tempat tidur.
Pencariannya terhenti ketika melihat Risa duduk di kursi dan menatap lurus keluar jendela. Tiang infus setia menemani di sisinya.
“Apa yang kamu lakukan sayang? Harusnya kamu istirahat,” tegur Aydin lembut.
Risa berbalik dan betapa terkejutnya Aydin saat melihat mata sembab wanita yang Ia cintai.
“Bodoh kau Aydin. Kau sungguh tak bisa dipercaya. Kau buat wanita yang kau cintai menangis lagi.” Rutuk Aydin pada dirinya sendiri.
Entah bagaimana bisa tubuh Aydin bereaksi sendiri, pria itu menurunkan tubuhnya, berdiri dengan lutut yang menjadi tumpuannya.
Hal itu Ia lakukan agar bisa melihat wajah cantik Risa.
“Sayang, kumohon jangan seperti ini. Bagaimana kamu bisa cepat pulih jika seperti ini.” Ucap Aydin dengan sangat lembut.
Risa menoleh padanya, kilatan amarah terlihat jelas di kedua netranya.
“Enak saja pria ini. Setelah seharian pergi tanpa kabar, dan saat kembali Ia menuduhku hal yang tidak kulakukan.” Batin Risa mengingat kejadian semalam.
“Jangan memanggilku dengan kata itu lagi, dan pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri.” Ucap Risa.
Sontak Aydin menegakkan kepalanya yang sedetik lalu Ia rebahkan di tempat ternyaman baginya, di pangkuan Risa.
“Apa maksudmu sayang? Jangan bicara yang tidak-tidak.”
Namun hal itu tidak berpengaruh pada Risa yang masih diselimuti oleh amarah.
“Sejak kamu putuskan untuk membatalkan pernikahan kita, maka aku bukan lagi siapa-siapa bagimu. Jadi pergilah, tinggalkan aku sendiri, sama seperti yang kamu lakukan kemarin.” Jelas Risa.
Aydin bangkit, Ia kembali berdiri tegak.
“Tidak. Aku tidak mau.” Tolaknya.
“Aku tidak membatalkannya, aku hanya memundurkan waktunya. Itu juga karena aku peduli pada kondisi kesehatanmu Sayang," bela Aydin.
“Benar, dan itu semua kamu putuskan sendiri tanpaku. Jadi kali ini, giliran aku yang akan mengambil keputusan sendiri." Ucap Risa dengan tatapan tajam pada Aydin.
"Lelah. Aku lelah. Kamu sangat sulit kuhapai, bahkan ketika kamu sangat dekat." Batin Risa.
__ADS_1
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
Jangan memegang pikiran yang membuatmu lelah, tetapi peganglah pikiran yang bisa memberikanmu kekuatan.