Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 10 . Kesempatan kedua


__ADS_3

Empat hari sudah Brisa dirawat di rumah sakit. Menurut dokter sepertinya Brisa mengalami shock yang luar biasa , hingga alam bawah sadarnya menolak untuk sadar .


Namun hari ini  perlahan jari jemari lentik Brisa mulai bergerak .


Hal itu tentu tak luput dari pengamatan Kirani .


Gadis kelas 3 SMA itu segera memencet tombol di tepi brankar .


Dua menit menunggu , dokter dan perawat belum juga datang . Kirani makin tak sabar , Ia hendak keluar untuk memanggil langsung namun bertepatan dengan tim dokter yang masuk .


" Syukurlah , " Gumamnya .


" Dok... adik saya tangannya bergerak . " Ujar Kirani .


Dokter mendekat ke arah pasien . Memeriksa menggunakan stetoskop . Lalu memberikan rangsangan rangansangan di jari tangan Brisa yang tadi bergerak, dan Brisa merespon dengan baik .


Dokter  beralih menepuk nepuk kedua pundak Brisa . " Nona ... nona.. apa nona mendengar saya , jika Iya ayo buka mata anda Nona . " Ujar dokter  di dekat telinga  Brisa .


Tiga kali mengulang hal itu , dokter menatap Kirani . Gadis itu mengerti maksudnya .


Ia menggantikan dokter melakukan hal tadi .


" Ris... Risa.... bangun .. ini gue  Rani. Lu aman sama gue  . "


Brisa makin merespon jari jarinya bergerak makin lincah dengan kepala yang menggeleng  , hingga saat Kirani mengulang hal itu lagi akhirnya Brisa membuka mata .


Gadis malang itu berteriak histeris , untung saja ada Kirani yang bisa menenangkannya .


Dokter memastikan kembali kondisinya , dan semua sudah baik baik saja .


" Hiks  .. hiks... hiks... hiks... hiks... "


" Kenapa aku masih hidup Ran... Apa Tuhan memang mau aku mati dalam keadaan tidak suci . "  ujar Brisa sambil terisak .


" Apa maksud mu Ris ... jangan ngomong macam macam . " Kirani tidak ingin Brisa banyak beban .


" Rina.... ayah aku akan menjualku demi perusahaan Rin.... " Tangis Brisa pecah .


" Begitu besar kebenciannya padaku , bahkan untuk menghilangkan nyawaku dia membiarkan orang lain melakukannya dengan cara paling bejat  . " Lanjutnya .


" Hei... hei... tenanglah . Itu gak akan terjadi . Gue janji , gue gak akan mungkin biarin adik gue diperlakukan seperti itu . " Kirani memeluk Brisa.


" Tenanglah ... gue janji akan melakukan apapun . Sekarang lu makan dulu yah . " bujuk Kirani.


Kirani dengan sabar menyuapkan sedikit demi sedikit bubur . Tak lama Ayah Wisnu datang , dia sangat bersyukur karena Brisa sudah sadar .


" Maaf anak anak jika harus mengatakan hal ini , tapi demi kebaikan kalian berdua Brisa harus pergi jauh dari negara ini . " ujar Ayah Wisnu .


Keduanya saling pandang . " Maksud ayah ? " Tanya Kirani .


" Keluarga Brisa sudah mulai mencari keberadaan Brisa . Manager restauran kemarin menghubungi ayah mengatakan jika seorang pria meminta rekaman cctv saat kejadian . Untung saja manager itu sudah menghapus semuanya . " Jawab Ayah .


" Lalu kemarin Nyonya Indri bertanya padaku mengenai sekolah Kirani . " lanjutnya .


" Tapi bagaimana caranya aku pergi Om . Dan bagaimana dengan Mbok Min . " ujar Brisa .


Kirani menggenggam tangan Brisa .


" Ris... sebenarnya gue dan ayah sudah mencari tahu soal Mbok Min . Menurut keluarganya , Mbok Min setahun lalu sudah tiada karena sakit jantung . Selama ini ayahmu hanya mengancam saja ." Jelas Kirani .


Tangis Brisa pecah . Sekarang bahkan Mbok Min pun sudah tidak ada di dunia ini . Lalu untuk apa lagi dia bertahan . Pikirnya .


Kirani seakan mengerti pikiran dari sahabatnya itu  .


" Jangan berpikir jika semuanya sudah sia sia . Tuhan memberi lu kesempatan kedua Ris . Dia ingin lu hidup lebih bahagia setelah ini . Ayo Ris bangkit . Sekarang bukan saatnya untuk bertahan lagi , tapi lu harus mulai bersiap untuk membalas mereka Ris . " Kirani terus  berusaha meyakinkan Brisa .


Brisa terdiam cukup lama lalu Ia mengangguk . Tangannya mengepal .


" Benar katamu . Aku harus membalas mereka semua . Om maaf jika aku akan menyusahkan Om , tapi mohon bantu aku Om ." Pinta Brisa pada Ayah Wisnu  .


Ayah Wisnu mengangguk .


" Jadi Om sedang mengurus Visa mu untuk berangkat ke Korea selatan . Jika tak ada halangan semuanya akan selesai 2 hari lagi  . "


Ujar Ayah Wisnu .


Keduanya kembali terkejut . " Korea selatan ? " tanya mereka kompak .


Ayah Wisnu mengangguk . " Maaf jika kamu tidak puas , tapi saat berbicara dengan petugas hanya Visa ke negara itu yang mungkin bisa selesai dalam waktu 4 hari . " jelas Ayah .


" Tidak Om ... aku suka Om . Aku akan ikuti semua rencana Om .  "  Brisa tersenyum .


" Ayah apa aku boleh ikut mengantar Brisa ke sana ? " pinta Kirani dengan manja .


" Jangan minta macam macam Rani . Sekarang yang penting Brisa aman dulu . " jawab Ayah Wisnu .

__ADS_1


" Huuhh... sepertinya keberuntungan udah mulai mihak Lu deh Ris . Buktinya kabur aja lu malah di takdirin ke Korea... gua kan juga pengen ketemu oppa oppa ganteng kehaluan gue . " rengek Kirani .


Tawa Brisa akhirnya terdengar . Brisa sangat bersyukur Tuhan mengirimkan Kirani ke kehidupannya .


" Entah bagaimana kehidupan aku disana setelah ini . Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan Kirani dan Om Wisnu . " batin Brisa .




Dua hari kemudian , sekitar pukul 7 pagi Om Wisnu sudah berada di rumah sakit .



" Ini untuk mencegah saja yah Nak . Kalian pakai seragam sekolah saja . Naiklah taksi menuju perempatan jalan X . Ayah akan menunggu di sana . Ingat hati-hati , anak buah Ferdinand sedang mencarimu .  " Ayah mengingatkan .



Dua hari yang lalu , mereka menyiapkan untuk keberangkatan Brisa ke Korea Selatan .



Bahkan kemarin kedua gadis itu memotong pendek rambut panjang mereka menjadi sebahu.



Brisa hanya membawa 2 ransel yang berisi pakaian dan surat surat pribadi miliknya .



Keduanya kini sudah berganti pakaian dengan seragam sekolah .



Mereka menatap diri mereka di cermin . " Ris , jika seperti ini gue setuju dengan ucapan Eijaz. Kita seperti anak kembar . "



Brisa menatap pantulan diri mereka di cermin .


Potongan rambut yang sama , sama sama memakai seragam dengan ransel di pundak.



Brisa mengangguk . " Iya benar . Walaupun aku masih lebih tinggi darimu . "




Setelah siap , mereka lalu mengikuti rencana ayah Wisnu . Mereka menaiki taksi menuju perempatan jalan X .



Saat turun dari taksi , Kirani melihat ada tempat untuk photobox .



" Kesana bentar yuk.... " ajaknya .



" Kemana ? Tapi Om udah nungguin tuh . " Brisa menunjuk mobil ayah Wisnu .



" Gak sebentar aja . Gue mau mengabadikan momen hari ini . " ujar Kirani dengan suara bergetar .



Dalam hatinya Kirani sangat berat harus berpisah dengan Brisa .  Dia tak yakin jika setelah ini mereka masih bisa bertemu atau tidak .



15 menit waktu yang mereka habiskan untuk berpose di dalam photo box . Sebelum akhirnya naik ke mobil Ayah Wisnu dan  berangkat menuju bandara .



Keheningan menemani perjalanan mereka . Dua gadis itu larut dalam pikirannya masing masing hingga tak menyadari mobil sudah tiba di bandara .



Ayah Wisnu memeluk putrinya saat mereka menunggu Brisa berganti pakaian di toilet bandara . " Kamu jangan sedih di depan Brisa . Dia punya hak untuk mencari kehidupannya yang baru dan mungkin bukan disini ." Ujar Ayah menenangkan putrinya .


__ADS_1


" Nak ... ini pasport , tiket , dan Visamu . Juga ada sedikit pegangan untukmu . Maaf jika Om hanya bisa membantumu dengan cara seperti ini . Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan dimanapun kamu berada Nak . "


Ayah Wisnu lalu memeluk Brisa .



Hati Brisa menghangat . Setelah bertahun tahun , baru kali ini dirinya kembali merasakan kehangatan seorang ayah .



" Ini sudah lebih dari apa yang seharusnya aku terima Om . Semua ini tak akan pernah ku lupakan . Dimanapun aku berada , aku akan selalu mendoakan Om dan Kirani . "  balas Brisa .



Ayah Wisnu meninggalkan kedua sahabat itu .


" Ris ... ingat jangan ceroboh di negara orang yah . Jaga kesehatan .  Lu juga jangan lewatkan jam makan . " ujar Kirani dengan suara bergetar .



Kirani lalu mengeluarkan sebuah ponsel , selembar foto , dan amplop berisi uang tunai .



" Ini gue beli pakai uang gue sendiri .  Lu gak boleh nolak . "



" Tapi dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? " Brisa menatap Kirani curiga . Tatapannya tertuju pada leher Kirani .



" Jangan bilang kamu menjual kalung peninggalan Ibu mu ? "  tanya Brisa .



Dengan ragu Kirani mengangguk . " Udah gak usah lu pikirin . Itu hanya sebuah kalung . Tanpa kalung itupun , Ibu gue selalu ada di hati gue . Lagian gue yakin Ibu akan setuju karena ini gue ngelakuin ini untuk adik kesayangan gue kok . "



Brisa tak sanggup lagi menahan air matanya . Entah kebaikan apa yang pernah Ia buat hingga dipertemukan dengan orang sebaik Kirani . Gadis yang Ia pikir adalah gadis aneh ,ternyata adalah gadis berhati malaikat .



Mereka berpelukan cukup lama .



" Rin , aku titip kunci toko buku kak Eijaz yah . Tolong sampaikan salam dan ucapan terimakasihku padanya . Katakan maaf jika aku tidak menepati janjiku untuk menjaga toko hingga dia kembali . " ujar Brisa di jawab anggukan oleh Kirani .



" Ran ... boleh aku minta satu hal lagi gak ? Tolong jaga rumah pohon kita yah . Suatu saat jika aku kembali ke negara ini , dan kita tidak bisa bertemu  setidaknya aku bisa mengenang kebersamaan kita disana . " ujar Brisa .



Kirani mengangguk . Dua gadis itu kembali berpelukan sambil  menangis . Sulit rasanya berpisah setelah hampir 3 tahun terakhir mereka saling menguatkan , saling mengisi hari hari .



Lambaian tangan dan senyuman  Brisha hari ini akan selalu Kirani ingat dalam hidupnya . Jika dia memiliki seorang saudari tidak sedarah yang sedang berjuang mencari kebahagiaannya di tempat lain .



.


.


.


.


.


" *Jangan sesalkan perpisahan, jika perpisahan itu akan membawa kita ke dalam pertemuan yang baru, sebuah perjalanan yang lebih Indah*. "


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2