
Empat hari sudah Brisa dirawat di rumah sakit. Menurut dokter sepertinya Brisa mengalami shock yang luar biasa , hingga alam bawah sadarnya menolak untuk sadar .
Namun hari ini perlahan jari jemari lentik Brisa mulai bergerak .
Hal itu tentu tak luput dari pengamatan Kirani .
Gadis kelas 3 SMA itu segera memencet tombol di tepi brankar .
Dua menit menunggu , dokter dan perawat belum juga datang . Kirani makin tak sabar , Ia hendak keluar untuk memanggil langsung namun bertepatan dengan tim dokter yang masuk .
" Syukurlah , " Gumamnya .
" Dok... adik saya tangannya bergerak . " Ujar Kirani .
Dokter mendekat ke arah pasien . Memeriksa menggunakan stetoskop . Lalu memberikan rangsangan rangansangan di jari tangan Brisa yang tadi bergerak, dan Brisa merespon dengan baik .
Dokter beralih menepuk nepuk kedua pundak Brisa . " Nona ... nona.. apa nona mendengar saya , jika Iya ayo buka mata anda Nona . " Ujar dokter di dekat telinga Brisa .
Tiga kali mengulang hal itu , dokter menatap Kirani . Gadis itu mengerti maksudnya .
Ia menggantikan dokter melakukan hal tadi .
" Ris... Risa.... bangun .. ini gue Rani. Lu aman sama gue . "
Brisa makin merespon jari jarinya bergerak makin lincah dengan kepala yang menggeleng , hingga saat Kirani mengulang hal itu lagi akhirnya Brisa membuka mata .
Gadis malang itu berteriak histeris , untung saja ada Kirani yang bisa menenangkannya .
Dokter memastikan kembali kondisinya , dan semua sudah baik baik saja .
" Hiks .. hiks... hiks... hiks... hiks... "
" Kenapa aku masih hidup Ran... Apa Tuhan memang mau aku mati dalam keadaan tidak suci . " ujar Brisa sambil terisak .
" Apa maksud mu Ris ... jangan ngomong macam macam . " Kirani tidak ingin Brisa banyak beban .
" Rina.... ayah aku akan menjualku demi perusahaan Rin.... " Tangis Brisa pecah .
" Begitu besar kebenciannya padaku , bahkan untuk menghilangkan nyawaku dia membiarkan orang lain melakukannya dengan cara paling bejat . " Lanjutnya .
" Hei... hei... tenanglah . Itu gak akan terjadi . Gue janji , gue gak akan mungkin biarin adik gue diperlakukan seperti itu . " Kirani memeluk Brisa.
" Tenanglah ... gue janji akan melakukan apapun . Sekarang lu makan dulu yah . " bujuk Kirani.
Kirani dengan sabar menyuapkan sedikit demi sedikit bubur . Tak lama Ayah Wisnu datang , dia sangat bersyukur karena Brisa sudah sadar .
" Maaf anak anak jika harus mengatakan hal ini , tapi demi kebaikan kalian berdua Brisa harus pergi jauh dari negara ini . " ujar Ayah Wisnu .
Keduanya saling pandang . " Maksud ayah ? " Tanya Kirani .
" Keluarga Brisa sudah mulai mencari keberadaan Brisa . Manager restauran kemarin menghubungi ayah mengatakan jika seorang pria meminta rekaman cctv saat kejadian . Untung saja manager itu sudah menghapus semuanya . " Jawab Ayah .
" Lalu kemarin Nyonya Indri bertanya padaku mengenai sekolah Kirani . " lanjutnya .
" Tapi bagaimana caranya aku pergi Om . Dan bagaimana dengan Mbok Min . " ujar Brisa .
Kirani menggenggam tangan Brisa .
" Ris... sebenarnya gue dan ayah sudah mencari tahu soal Mbok Min . Menurut keluarganya , Mbok Min setahun lalu sudah tiada karena sakit jantung . Selama ini ayahmu hanya mengancam saja ." Jelas Kirani .
Tangis Brisa pecah . Sekarang bahkan Mbok Min pun sudah tidak ada di dunia ini . Lalu untuk apa lagi dia bertahan . Pikirnya .
Kirani seakan mengerti pikiran dari sahabatnya itu .
" Jangan berpikir jika semuanya sudah sia sia . Tuhan memberi lu kesempatan kedua Ris . Dia ingin lu hidup lebih bahagia setelah ini . Ayo Ris bangkit . Sekarang bukan saatnya untuk bertahan lagi , tapi lu harus mulai bersiap untuk membalas mereka Ris . " Kirani terus berusaha meyakinkan Brisa .
Brisa terdiam cukup lama lalu Ia mengangguk . Tangannya mengepal .
" Benar katamu . Aku harus membalas mereka semua . Om maaf jika aku akan menyusahkan Om , tapi mohon bantu aku Om ." Pinta Brisa pada Ayah Wisnu .
Ayah Wisnu mengangguk .
" Jadi Om sedang mengurus Visa mu untuk berangkat ke Korea selatan . Jika tak ada halangan semuanya akan selesai 2 hari lagi . "
Ujar Ayah Wisnu .
Keduanya kembali terkejut . " Korea selatan ? " tanya mereka kompak .
Ayah Wisnu mengangguk . " Maaf jika kamu tidak puas , tapi saat berbicara dengan petugas hanya Visa ke negara itu yang mungkin bisa selesai dalam waktu 4 hari . " jelas Ayah .
" Tidak Om ... aku suka Om . Aku akan ikuti semua rencana Om . " Brisa tersenyum .
" Ayah apa aku boleh ikut mengantar Brisa ke sana ? " pinta Kirani dengan manja .
" Jangan minta macam macam Rani . Sekarang yang penting Brisa aman dulu . " jawab Ayah Wisnu .
__ADS_1
" Huuhh... sepertinya keberuntungan udah mulai mihak Lu deh Ris . Buktinya kabur aja lu malah di takdirin ke Korea... gua kan juga pengen ketemu oppa oppa ganteng kehaluan gue . " rengek Kirani .
Tawa Brisa akhirnya terdengar . Brisa sangat bersyukur Tuhan mengirimkan Kirani ke kehidupannya .
" Entah bagaimana kehidupan aku disana setelah ini . Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengecewakan Kirani dan Om Wisnu . " batin Brisa .
Dua hari kemudian , sekitar pukul 7 pagi Om Wisnu sudah berada di rumah sakit .
" Ini untuk mencegah saja yah Nak . Kalian pakai seragam sekolah saja . Naiklah taksi menuju perempatan jalan X . Ayah akan menunggu di sana . Ingat hati-hati , anak buah Ferdinand sedang mencarimu . " Ayah mengingatkan .
Dua hari yang lalu , mereka menyiapkan untuk keberangkatan Brisa ke Korea Selatan .
Bahkan kemarin kedua gadis itu memotong pendek rambut panjang mereka menjadi sebahu.
Brisa hanya membawa 2 ransel yang berisi pakaian dan surat surat pribadi miliknya .
Keduanya kini sudah berganti pakaian dengan seragam sekolah .
Mereka menatap diri mereka di cermin . " Ris , jika seperti ini gue setuju dengan ucapan Eijaz. Kita seperti anak kembar . "
Brisa menatap pantulan diri mereka di cermin .
Potongan rambut yang sama , sama sama memakai seragam dengan ransel di pundak.
Brisa mengangguk . " Iya benar . Walaupun aku masih lebih tinggi darimu . "
Setelah siap , mereka lalu mengikuti rencana ayah Wisnu . Mereka menaiki taksi menuju perempatan jalan X .
Saat turun dari taksi , Kirani melihat ada tempat untuk photobox .
" Kesana bentar yuk.... " ajaknya .
" Kemana ? Tapi Om udah nungguin tuh . " Brisa menunjuk mobil ayah Wisnu .
" Gak sebentar aja . Gue mau mengabadikan momen hari ini . " ujar Kirani dengan suara bergetar .
Dalam hatinya Kirani sangat berat harus berpisah dengan Brisa . Dia tak yakin jika setelah ini mereka masih bisa bertemu atau tidak .
15 menit waktu yang mereka habiskan untuk berpose di dalam photo box . Sebelum akhirnya naik ke mobil Ayah Wisnu dan berangkat menuju bandara .
Keheningan menemani perjalanan mereka . Dua gadis itu larut dalam pikirannya masing masing hingga tak menyadari mobil sudah tiba di bandara .
Ayah Wisnu memeluk putrinya saat mereka menunggu Brisa berganti pakaian di toilet bandara . " Kamu jangan sedih di depan Brisa . Dia punya hak untuk mencari kehidupannya yang baru dan mungkin bukan disini ." Ujar Ayah menenangkan putrinya .
__ADS_1
" Nak ... ini pasport , tiket , dan Visamu . Juga ada sedikit pegangan untukmu . Maaf jika Om hanya bisa membantumu dengan cara seperti ini . Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan dimanapun kamu berada Nak . "
Ayah Wisnu lalu memeluk Brisa .
Hati Brisa menghangat . Setelah bertahun tahun , baru kali ini dirinya kembali merasakan kehangatan seorang ayah .
" Ini sudah lebih dari apa yang seharusnya aku terima Om . Semua ini tak akan pernah ku lupakan . Dimanapun aku berada , aku akan selalu mendoakan Om dan Kirani . " balas Brisa .
Ayah Wisnu meninggalkan kedua sahabat itu .
" Ris ... ingat jangan ceroboh di negara orang yah . Jaga kesehatan . Lu juga jangan lewatkan jam makan . " ujar Kirani dengan suara bergetar .
Kirani lalu mengeluarkan sebuah ponsel , selembar foto , dan amplop berisi uang tunai .
" Ini gue beli pakai uang gue sendiri . Lu gak boleh nolak . "
" Tapi dari mana kamu dapat uang sebanyak ini? " Brisa menatap Kirani curiga . Tatapannya tertuju pada leher Kirani .
" Jangan bilang kamu menjual kalung peninggalan Ibu mu ? " tanya Brisa .
Dengan ragu Kirani mengangguk . " Udah gak usah lu pikirin . Itu hanya sebuah kalung . Tanpa kalung itupun , Ibu gue selalu ada di hati gue . Lagian gue yakin Ibu akan setuju karena ini gue ngelakuin ini untuk adik kesayangan gue kok . "
Brisa tak sanggup lagi menahan air matanya . Entah kebaikan apa yang pernah Ia buat hingga dipertemukan dengan orang sebaik Kirani . Gadis yang Ia pikir adalah gadis aneh ,ternyata adalah gadis berhati malaikat .
Mereka berpelukan cukup lama .
" Rin , aku titip kunci toko buku kak Eijaz yah . Tolong sampaikan salam dan ucapan terimakasihku padanya . Katakan maaf jika aku tidak menepati janjiku untuk menjaga toko hingga dia kembali . " ujar Brisa di jawab anggukan oleh Kirani .
" Ran ... boleh aku minta satu hal lagi gak ? Tolong jaga rumah pohon kita yah . Suatu saat jika aku kembali ke negara ini , dan kita tidak bisa bertemu setidaknya aku bisa mengenang kebersamaan kita disana . " ujar Brisa .
Kirani mengangguk . Dua gadis itu kembali berpelukan sambil menangis . Sulit rasanya berpisah setelah hampir 3 tahun terakhir mereka saling menguatkan , saling mengisi hari hari .
Lambaian tangan dan senyuman Brisha hari ini akan selalu Kirani ingat dalam hidupnya . Jika dia memiliki seorang saudari tidak sedarah yang sedang berjuang mencari kebahagiaannya di tempat lain .
.
.
.
.
.
" *Jangan sesalkan perpisahan, jika perpisahan itu akan membawa kita ke dalam pertemuan yang baru, sebuah perjalanan yang lebih Indah*. "
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue