
Marahnya orang yang kerap kali diam, akan lebih berbahaya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Berdoalah bersamanya setiap hari, karena kalian tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Bicaralah pada Tuhan, yang maha mengetahui segalanya.”
Begitulah nasihat dari Appa Kim yang semalam Ia katakan pada Aydin saat Appa menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Risa.
Sama seperti Aydin, menurut Appa Kim, Risa adalah sosok wanita yang mudah untuk dicintai. Tidak hanya karena wajah cantiknya, tapi sikap ramah, dan semangat kerja kerasnya membuat Appa Kim sangat bangga padanya.
Kisah hidupnya yang teramat pilu, namun Ia begitu tegar. Hal itu membuat Appa Kim sudah bertekad untuk melindunginya, menjaganya, dan menyayanginya seperti putrinya sendiri.
Aydin tak lupa berterima kasih atas kepercayaan orang tua angkat Risa. Ia berjanji akan berusaha semampunya untuk membahagaian wanita cantik yang sangat Ia sayangi.
♡♡♡♡♡
Pagi ini Risa dan Aydin sedang dalam perjalanan menuju kantor Ohana Tech milik Aydim.
Keduanya baru saja kembali dark bandara untuk mengantar kepergian Appa dan Eomma yang kembali ke Belanda.
Jika bertanya di mana Dafha, sudah pasti jawabannya Dafha sedang menempel pada aunty cantiknya. Sama seperti dua hari terakhir, anak itu memilih tinggal di apartemennya Risa.
Alasannya pada Daddy, Oma, dan Opanya karena ingin menghabiskan waktu bersama Mama Risa. Namun alasan sebenarnya adalah karena anak itu ingin mencari perhatian pada aunty cantiknya yang tak lain adalah Amora.
♡♡♡♡♡
Daffin dan Franda sudah menanti kedatangan Aydin di lobby.
Awalnya Aydin mengutuk Daffin karena mengajak Franda menunggunya, padahal kini dia sedang bersama Risa.
Namun hal megejutkan terjadi, ketika Risa dan Franda lebih dulu saling menyapa.
Bahkan pertemuan mereka dipermanis dengan adanya pelukan hangat.
“Wah kemajuan nih Pak Bos, pacar dan mantan pacar akur.” Bisik Daffin pada Aydin.
“Yang, kamu langsung ke ruanganku aja yah. Tunggu di sana, gak akan lama kok.” Ucap Aydin.
Risa hanya mengangguk.
Keduanyapun akhirnya berpisah karena menuju ruangan dengan arah yang berbeda.
Tak ada kecanggungan sama sekali bagi Risa, meski Ia sesekali mendengar bisik-bisik dari karyawan Aydin.
__ADS_1
Bahkan sudah ada beberapa karyawan yang mengetahui jika dirinya memiliki hubungan dengan CEO perusahaan itu.
Hingga model cantik itu tiba di depan ruangan sang kekasih.
Diliriknya meja yang biasa ditempati oleh Daffin, kini sudah dihiasi dengan beberapa pernak pernik khas wanita. Juga ada handbag berwarna merah di sana.
“Jadi benar kalau dia punya sekertaris wanita baru, tapi kemana orangnya?” batin Risa karena menyadari meja kerja itu tak berpenghuni.
Karena sudah mendapat izin dari empunya ruangan, Risa langsung saja masuk ke dalam ruangan Aydin.
Diletakkannya tas yang Ia bawa di sofa, lalu Ia segera menuju ke meja kerja Aydin.
Hal yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya sejak terakhir kali Ia berkunjung ke kantor Gio.
Saat itu di meja kerja Gio Ia melihat ada foto Amora bertengger dengan manis di sana. Ia jadi ingat ruang kerja Aydin di rumah Papa Dimas, di meja kerjanya saat itu ada foto Kirani.
Ia jadi penasaran, sekarang foto siapa yang ada di meja kerja Aydin.
Segera Ia mendudukkan dirinya pada kursi kebesaran Aydin.
Senyum merekah, secerah sinar mentari, dan seindah sinar rembulan nampak pada wajah Risa.
Kini, di meja itu bukan lagi foto Kirani namun ada 2 foto yang berbeda. Foto pertama alada foto dirinya bersama Aydin dan yang kedia adalahh fotonya bersama Dafha.
“Kenapa dadaku berdebar hanya karena hal seperti ini,” batinnya.
“Apa boleh, langsung ku pakai saja laptopnya?” batin Risa berperang, Ia cukup tahu jika laptop temasuk salah satu barang pribadi yang tidak bisa sembarang orang mengaksesnya.
Setelah berpikir, Risa memutuskan untuk menggunakannya saja.
Tanpa Risa duga password untuk laptop Aydin adalah tanggal pertama kali keduanya menjalin kasih.
Belum juga selesai proses log in, laptop Aydin tiba-tiba direbut secara kasar oleh seorang wanita dan membuat Risa terkejut.
“Siapa anda berani sekali masuk ke ruangan bos saya, duduk di kursinya, bahkan berani menyentuh barang pribadi orang lain. Saya akan laporkan anda ke pihak yang berwajib.” Bentak wanita itu pada Risa.
Risa menatap tajam pada wanita yang telah bersikap tidak sopan padanya. Risa akui jika tindakan menggunakan laptop orang lain tanpa izin pemiliknya adalah salah.
“Tapi apakah aku, kekasihnya, termasuk dalam kelompok orang lain?” batin Risa.
Meskipun iya, apakah pantas jika wanita yang lumayan cantik ini membentaknya bahkan berucap sekasar itu padanya, pikir Risa.
Risa berdecak, “Hei Nona, jika kau menyayangi pekerjaanmu ini, segeralah minta maaf padaku dan letakkan kembali laptop milik kekasihku karena aku ingin menggunakannya sekarang.” Balas Risa masih dengan nada suara yang biasanya, tanpa bentakan atau teriakan seperti yang dilakukan wanita itu padanya.
__ADS_1
Namun siapa sangka wanita itu malah tertawa dengan tatapan menghina Risa.
“Lucu sekali, zaman sekarang pelakor memang sudah tak malu lagi mengakui dirinya.” Ucapnya masih dengan tatapan menghina Risa.
Beruntung kejadian ini terjadi di dalam ruangan Aydin, jika tidak sudah pasti Risa akan malu karena wanita ini dengan yakinnya menuduh Risa sebagai pelakor.
Headline news mengenai model yang menjadi pelakor sudah pasti akan menghiasi berita-berita di berbagai media.
Sepertinya belum cukup wanita ini berulah, membuat kesabaran Risa habis.
Kini dengan lantangnya, wanita ini malah berniat mengusir Risa.
“Karena kau tidak ingin pergi saat saya minta baik-baik, jadi jangan salahkan saya jika sekuriti akan menyeretmu keluar dari sini.” Lanjutnya.
Risa benar-benar sudah kehilangan kesabarannya.
Ia raih ponselnya dan menghubungi seseorang.
“TEMUI AKU SEKARANG!” Pekiknya.
Aydin yang berada di ruangan lain meski dalam gedung yang sama, merasa akan ada peperangan yang terjadi sebentar lagi.
Tak biasanya Risa berteriak padanya.
Terakhir kali saat mereka bertengkar di Raja Ampat, saat itu Risa memang sangat marah dan kecewa jadi Aydin memakluminya.
“Tapi apa yang membuatnya semarah itu?” batin Aydin.
Netranya melirik pada Franda, “Apa boleh aku curiga pada Franda? Tapi sejak tadi dia tidak meninggalkan ruangan ini. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?” batinnya.
Beruntung pertemuannya kali ini sudah hampir selesai. Dan ketika kliennya pergi, dengan langkah yang cepat Ia bergegas kembali ke ruangannya.
“Aydin, ada apa? Kenapa terburu-buru?” tanya Franda.
“Risa, dia menelepon memintaku segera menemuinya. Dari suaranya sepertinya dia sedang marah.” Jawab Aydin yang sudah tak sabar menunggu lift membawanya naik ke atas.
“Apa kamu menyembunyikan sesuatu darinya?” tanya Franda.
Aydin memutar otaknya, tiba-tiba ia mengingat email Eijaz yang ada di laptopnya.
“Apa mungkin Ia membaca email itu?” batinnya.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
***Melalui hati, kita menyimpan begitu banyak rahasia.
Bibir adalah gemboknya, dan lidah adalah kuncinya***.