Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 42 . Tuhan yang mengatur


__ADS_3

Bip.... Bip.... Bip....


Esme membunyikan klaksonnya dengan tidak sabar .


" Maafkan aku telah bersikap menyebalkan , " gumamnya .


" Mobil di depan kenapa sih  ? Penjaga pos juga tak ada . "


Kembali Esme bermonolog sendiri .


Dengan kegusaran hatinya memikirkan keadaan Risa  , Ia pikir harus mengambil tindakan segera .


Esme menarik napas panjang lalu menghembuskannya , menarik sudut bibirnya agar bisa tersenyum menghadapi pengendara yang sukses menguji kesabarannya sore ini .


Tok.. tok.. tok.. Esme mengetuk kaca bagian pengemudi .


Tak lama kaca mobil  turun perlahan , Esme sudah siap dengan kalimat sarkasnya .


" Mau sampaa .... emmhhh , " ucapannya terjeda.


" Sampaa...... Pa ada yang bisa saya bantu  ? " tanyanya berubah menjadi ramah dan sopan .


Esme segera merubah rencananya , yang awalnya Ia akan bersikap seperti kucing garong rebutan ikan , kini Ia bersikap seperti kucing manis .


" Maaf Nak , saya mau mengunjungi tempat tinggal anak saya . Apa alamatnya sudah betul di sini ? "


tanya seorang pria paruh baya yang sudah ikut turun dari mobilnya .


Jika ada yang mengira Esme mengubah sikapnya karena pengemudinya seorang pria tampan , jawabannya salah .


Esme akan lebih bersimpati pada seorang pria paruh baya . Ia teringat Ayahnya yang kini sedang berlibur menikmati masa masa pensiunnya bersama  sang istri .


" Alamatnya sudah betul di sini Pak . Tapi untuk masuk harus ada kartu pass . Pakai punya aku dulu yah Pak , " cetusnya .


Esme kembali ke mobilnya mengambil kartu parkir lalu menempelkan pada mesin palang otomatis .


Palang akhirnya perlahan terangkat , Bapak itu kembali kedalam mobil dan melajukan mobilnya perlahan .


Esme juga bergegas melajukan mobilnya mengisi slot parkiran yang kosong .


Esme berjalan masuk menuju lobby namun tanpa sengaja Ia melihat bapak yang Ia temui tadi kesulitan menurunkan kursi roda dari bagasi mobilnya  .


" Esme kamu lagi terburu-buru . Risa pasti belum makan . " Lagi - lagi Ia bermonolog pada dirinya sendiri .


Tapi hati kecilnya tidak menerima alasan apapun .  Esme berbalik ke parkiran untuk membantu Bapak tadi  .


" Pak ... mari saya bantu , " ujarnya lalu menahan kursi roda agar tak bergerak .


Dengan cekatan Bapak mengendong wanita yang Esme duga adalah istrinya dan mendudukkannya di kursi roda .


" Terimakasih Nak  ..... , " ucapannya terjeda .


" Esme . Nama saya Esme . "


" Nama yang cantik , sama seperti hatimu Nak . "


" Nama Bapak Rifat , ini istri saya Dyah .  Rumah kami di Cimahi , putraku tinggal disini . Ia seorang pengacara , " tuturnya berkenalan dengan Esme .


Kini ketiganya sudah berada di dalam lift dengan Esme yang mendorong kursi roda Bu Dyah , sedang Pak Rifat membawa beberapa tas.


" Kebetulan sekali aku dan adikku juga tinggal di lantai 17 , " tutur Esme .


" Tuhan menolong dengan mempertemukan kami dengan wanita baik sepertimu , " ujar Bu Dyah .


Pintu lift terbuka , Esme keluar lebih dulu masih tetap mendorong kursi roda Bu Dyah .


Mereka bertiga berjalan beriringan  , kepala Esme sibuk menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari nomor unit apartemen putra pak Rifat .


" 1768 . " Esme akhirnya menemukan angka yang Ia cari .


" Pak  , Bu  , ternyata kita tetangga . Aku tinggal di unit apartemen yang ini , " ucap Esme sambil menunjuk pintu di belakangnya .


Tak disangka Esme dan putra mereka tinggal berhadapan .


Esme memencet bel , sudah beberapa kali namun belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka .


Wajah Pak Rifat mulai gusar saat sambungan telepon anaknya tidak bisa dihubungi .


" Pak , Bu , kalau boleh saya ingin menawarkan Bapak dan Ibu untuk istirahat dulu di apartemen saya sembari menunggu putra Bapak pulang , " ajak Esme .


" Terimakasih Nak Esme ,tapi kami sudah banyak merepotkan kamu . " Tolak Pak Rifat .


"  Tidak merepotkan sama sekali Pak . Tujuan kita juga sama , " sanggah Esme .


Esme  menekan enam digit angka password  pintu , lalu tiba-tiba perhatian ketiganya teralihkan oleh suara  bariton pria .


" Yah ... Bu ... sudah sampai ? Maaf , Echa pikir kalian datangnya besok . "


Esme tak berkedip memandangi pesona pria dengan setelan jas  berwarna hitam . Tutur kata pria itu sangat lembut , sikapnya yang langsung mencium punggung tangan orang tuanya membuat Esme makin terpesona dengan sikap sopan dan santunnya .


Gerakan bola mata Esme mengikuti kemana saja pria bernama Echa itu bergerak . Hingga Ia menyejajarkan tingginya di depan kursi roda Ibunya agar Ia bisa memeluk Ibundanya .


" Fix , pria ini pasti penyayang . " Batin Esme .


Esme masih setia mengagumi pesona pria pertama yang menarik perhatiannya hanya karena suara bariton miliknya .

__ADS_1


" Auuucccchhh ..., " Esme meringis saat pipinya dicubit oleh Echa .


" Kamu baik- baik aja kan ? " tanyanya .


Esme mengangguk, " ada apa denganku ? Apa aku mendadak bisu ? Kemana suaraku ? " batin Esme .


" Nak Esme yang menolong kami sampai bisa masuk kemari , " jelas Pak Rifat pada putranya .


" Terimakasih sudah membantu orang tua saya . " Ucapnya datar .


Esme kembali mengangguk , otaknya tidak bisa memikirkan apapun saat ini .


Pak Rifat dan Bu Dyah tersenyum menyadari perubahan sikap  Esme .


" Kami permisi masuk lebih dulu yah , " pamit Echa .


Esme mengangguk lagi tanpa kata dan tetap terpaku ditempatnya .


Pak Rifat mendorong kursi roda Bu Dyah masuk kedalam apartemen  putranya .


Echa meraih tas milik ayahya dan membawanya masuk.


Echa Atau Reza adalah putra tunggal Pak Rifat ,  berprofesi sebagai pengacara . Usianya kini 34 tahun .


Pintu apartemen Echa sedikit lagi tertutup, namun Esme masih tak bergeming dari posisinya .


Wanita itu masih mengumpulkan kesadarannya.


Lalu pintu Echa kembali terbuka .


Pria itu menatap Esme .


"  Kamu baik- baik saja kan ? " tanyanya sekali lagi .


" Lalu kenapa masih berdiri di situ ? Apa kamu tidak akan masuk ke apartemenmu ? " tanyanya lagi .


" Ehmm ... itu ... ehmm ... ehmmm... aku aku .... " ucapnya terbata-bata dan tak jelas .


" Apa tak masalah jika aku masuk ? Apa kamu akan berdiri terus disitu ? Apa mungkin kamu lupa sandi pintu mu ? " cecar Echa .


" Aa..aa.. aku akan masuk sekarang . " Cetus Esme .


Ia kembali menekan sandi apartemennya , namun salah .


" Salah ? " Esme mulai bingung .


Ia coba sekali lagi  dan masih salah .


" Sial , aku malu . Sangat malu . Bumi telan aku , " jeritnya dalam hati .


Esme komat kamit di depan angka-angka , mencoba mengingat kombinasi 6 angka yang tiba tiba saja Ia lupakan .


" **** ..... " umpatnya saat Ia sadar jika sejak tadi Ia keliru mengganti angka 9 dengan 6 .


Setelah kunci terbuka ,Esme segera melipir masuk ke apartemennya tanpa menoleh sedikitpun .


Echa menggeleng melihat tingkah aneh wanita itu . Tak Ia duga dibalik wajah dingin yang selalu dilihatnya saat tak sengaja bertemu , ternyata dia bisa menjadi imut juga .


" Wanita aneh , " gumamnya .


" Siapa yang aneh ? " tanya ayahnya yang hendak menyusul putranya .


" Wanita yang tinggal di depan . Sikapnya aneh, kupikir dia tidak bisa bicara ternyata salah . Dia bahkan bisa mengumpat , " cibirnya .


" Huusssshhhh... jangan asal bicara kamu .  Dia wanita yang baik juga sopan , " tegur Ibunya membela orang lain .


Echa menuju kamarnya setelah menunjukkan kamar untuk Ayah dan Ibunya .


" Namanya Esme , nama yang cantik secantik hatinya . " Celetuk Pak Rifai sebelum putranya menutup pintu kamar .




Sementara di tempat yang cukup dekat  , Esme masih mematung di balik pintu .



Esme memegang dadanya , debaran jantungnya terasa begitu cepat . Esme mengakui , Ia gugup , Ia tak berkutik di depan pria itu .



" Kenapa baru sekarang aku melihatnya , padahal jarak kami cukup dekat . " Esme membatin .



Ia mengingat ucapan Bu Dyah , jika pertemuan mereka telah diatur oleh Tuhan .



Seketika senyum terbit di wajahnya .



Sama seperti munculnya yang tiba-tiba , senyumannya itu juga hilang tiba-tiba .

__ADS_1



" Risa , " pekiknya .



Esme berlari mencari ke ruang tengah , dapur , dan terakhir ke kamar Risa .



Matanya membulat saat melihat dua orang yang dicarinya  kini sedang tidur dengan lelapnya .



Tenanglah , tidak terjadi apa-apa diantara mereka . Esme bisa memastikan itu .



Aydin setengah berbaring dengan Risa yang tertidur sangat lelap di dekapan Aydin .



Esme melangkah pelan keluar kamar .  Tak ingin membangunkan Risa .



Saat Esme baru beberapa langkah ,  Risa bergerak gelisah dalam tidurnya di susul Aydin yang langsung membuka matanya .



" Esme kamu sudah pulang  ? Maaf aku tertidur . " Ujar Aydin .



Walaupun sudah Ia pelankan , namum suara serak Aydin mengusik tidur  Risa .



Ia mengerjapkan matanya , menyadari jika kepalanya kini tidak beralaskan bantal . Tapi beralaskan  .......   ,



" Eomeona ( astaga ) , " pekik Risa saat membuka mata dan disambut dengan senyuman Aydin .



Risa segera bangun dan duduk , Ia semakin panik saat melihat Esme berdiri tak jauh dari tempat tidurnya .



" Eonni , " lirihnya .



" Maaf membangunkan kalian , Aku tak tahu  jika kalian sedang beristirahat , " tuturnya .



Aydin dengan santainya meregangkan otot lengannya yang di tindih Risa .



" Aku tunggu kalian diuar yah  ," ujar Esme meninggalkam Risa dan Aydin berdua  .



Dalam suasana yang canggung , tentunya bagi Risa . Namun entah bagi Aydin karen pria itu terlihat santai saja beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamar Risa .



.


.


.


.


.


.


"*Aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianatan oleh hatiku yang sibuk menguntai simpul pertanda cinta*."


.


.



.


.


To be continue .

__ADS_1


__ADS_2