
Bip.... Bip.... Bip....
Esme membunyikan klaksonnya dengan tidak sabar .
" Maafkan aku telah bersikap menyebalkan , " gumamnya .
" Mobil di depan kenapa sih ? Penjaga pos juga tak ada . "
Kembali Esme bermonolog sendiri .
Dengan kegusaran hatinya memikirkan keadaan Risa , Ia pikir harus mengambil tindakan segera .
Esme menarik napas panjang lalu menghembuskannya , menarik sudut bibirnya agar bisa tersenyum menghadapi pengendara yang sukses menguji kesabarannya sore ini .
Tok.. tok.. tok.. Esme mengetuk kaca bagian pengemudi .
Tak lama kaca mobil turun perlahan , Esme sudah siap dengan kalimat sarkasnya .
" Mau sampaa .... emmhhh , " ucapannya terjeda.
" Sampaa...... Pa ada yang bisa saya bantu ? " tanyanya berubah menjadi ramah dan sopan .
Esme segera merubah rencananya , yang awalnya Ia akan bersikap seperti kucing garong rebutan ikan , kini Ia bersikap seperti kucing manis .
" Maaf Nak , saya mau mengunjungi tempat tinggal anak saya . Apa alamatnya sudah betul di sini ? "
tanya seorang pria paruh baya yang sudah ikut turun dari mobilnya .
Jika ada yang mengira Esme mengubah sikapnya karena pengemudinya seorang pria tampan , jawabannya salah .
Esme akan lebih bersimpati pada seorang pria paruh baya . Ia teringat Ayahnya yang kini sedang berlibur menikmati masa masa pensiunnya bersama sang istri .
" Alamatnya sudah betul di sini Pak . Tapi untuk masuk harus ada kartu pass . Pakai punya aku dulu yah Pak , " cetusnya .
Esme kembali ke mobilnya mengambil kartu parkir lalu menempelkan pada mesin palang otomatis .
Palang akhirnya perlahan terangkat , Bapak itu kembali kedalam mobil dan melajukan mobilnya perlahan .
Esme juga bergegas melajukan mobilnya mengisi slot parkiran yang kosong .
Esme berjalan masuk menuju lobby namun tanpa sengaja Ia melihat bapak yang Ia temui tadi kesulitan menurunkan kursi roda dari bagasi mobilnya .
" Esme kamu lagi terburu-buru . Risa pasti belum makan . " Lagi - lagi Ia bermonolog pada dirinya sendiri .
Tapi hati kecilnya tidak menerima alasan apapun . Esme berbalik ke parkiran untuk membantu Bapak tadi .
" Pak ... mari saya bantu , " ujarnya lalu menahan kursi roda agar tak bergerak .
Dengan cekatan Bapak mengendong wanita yang Esme duga adalah istrinya dan mendudukkannya di kursi roda .
" Terimakasih Nak ..... , " ucapannya terjeda .
" Esme . Nama saya Esme . "
" Nama yang cantik , sama seperti hatimu Nak . "
" Nama Bapak Rifat , ini istri saya Dyah . Rumah kami di Cimahi , putraku tinggal disini . Ia seorang pengacara , " tuturnya berkenalan dengan Esme .
Kini ketiganya sudah berada di dalam lift dengan Esme yang mendorong kursi roda Bu Dyah , sedang Pak Rifat membawa beberapa tas.
" Kebetulan sekali aku dan adikku juga tinggal di lantai 17 , " tutur Esme .
" Tuhan menolong dengan mempertemukan kami dengan wanita baik sepertimu , " ujar Bu Dyah .
Pintu lift terbuka , Esme keluar lebih dulu masih tetap mendorong kursi roda Bu Dyah .
Mereka bertiga berjalan beriringan , kepala Esme sibuk menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari nomor unit apartemen putra pak Rifat .
" 1768 . " Esme akhirnya menemukan angka yang Ia cari .
" Pak , Bu , ternyata kita tetangga . Aku tinggal di unit apartemen yang ini , " ucap Esme sambil menunjuk pintu di belakangnya .
Tak disangka Esme dan putra mereka tinggal berhadapan .
Esme memencet bel , sudah beberapa kali namun belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka .
Wajah Pak Rifat mulai gusar saat sambungan telepon anaknya tidak bisa dihubungi .
" Pak , Bu , kalau boleh saya ingin menawarkan Bapak dan Ibu untuk istirahat dulu di apartemen saya sembari menunggu putra Bapak pulang , " ajak Esme .
" Terimakasih Nak Esme ,tapi kami sudah banyak merepotkan kamu . " Tolak Pak Rifat .
" Tidak merepotkan sama sekali Pak . Tujuan kita juga sama , " sanggah Esme .
Esme menekan enam digit angka password pintu , lalu tiba-tiba perhatian ketiganya teralihkan oleh suara bariton pria .
" Yah ... Bu ... sudah sampai ? Maaf , Echa pikir kalian datangnya besok . "
Esme tak berkedip memandangi pesona pria dengan setelan jas berwarna hitam . Tutur kata pria itu sangat lembut , sikapnya yang langsung mencium punggung tangan orang tuanya membuat Esme makin terpesona dengan sikap sopan dan santunnya .
Gerakan bola mata Esme mengikuti kemana saja pria bernama Echa itu bergerak . Hingga Ia menyejajarkan tingginya di depan kursi roda Ibunya agar Ia bisa memeluk Ibundanya .
" Fix , pria ini pasti penyayang . " Batin Esme .
Esme masih setia mengagumi pesona pria pertama yang menarik perhatiannya hanya karena suara bariton miliknya .
__ADS_1
" Auuucccchhh ..., " Esme meringis saat pipinya dicubit oleh Echa .
" Kamu baik- baik aja kan ? " tanyanya .
Esme mengangguk, " ada apa denganku ? Apa aku mendadak bisu ? Kemana suaraku ? " batin Esme .
" Nak Esme yang menolong kami sampai bisa masuk kemari , " jelas Pak Rifat pada putranya .
" Terimakasih sudah membantu orang tua saya . " Ucapnya datar .
Esme kembali mengangguk , otaknya tidak bisa memikirkan apapun saat ini .
Pak Rifat dan Bu Dyah tersenyum menyadari perubahan sikap Esme .
" Kami permisi masuk lebih dulu yah , " pamit Echa .
Esme mengangguk lagi tanpa kata dan tetap terpaku ditempatnya .
Pak Rifat mendorong kursi roda Bu Dyah masuk kedalam apartemen putranya .
Echa meraih tas milik ayahya dan membawanya masuk.
Echa Atau Reza adalah putra tunggal Pak Rifat , berprofesi sebagai pengacara . Usianya kini 34 tahun .
Pintu apartemen Echa sedikit lagi tertutup, namun Esme masih tak bergeming dari posisinya .
Wanita itu masih mengumpulkan kesadarannya.
Lalu pintu Echa kembali terbuka .
Pria itu menatap Esme .
" Kamu baik- baik saja kan ? " tanyanya sekali lagi .
" Lalu kenapa masih berdiri di situ ? Apa kamu tidak akan masuk ke apartemenmu ? " tanyanya lagi .
" Ehmm ... itu ... ehmm ... ehmmm... aku aku .... " ucapnya terbata-bata dan tak jelas .
" Apa tak masalah jika aku masuk ? Apa kamu akan berdiri terus disitu ? Apa mungkin kamu lupa sandi pintu mu ? " cecar Echa .
" Aa..aa.. aku akan masuk sekarang . " Cetus Esme .
Ia kembali menekan sandi apartemennya , namun salah .
" Salah ? " Esme mulai bingung .
Ia coba sekali lagi dan masih salah .
" Sial , aku malu . Sangat malu . Bumi telan aku , " jeritnya dalam hati .
Esme komat kamit di depan angka-angka , mencoba mengingat kombinasi 6 angka yang tiba tiba saja Ia lupakan .
" **** ..... " umpatnya saat Ia sadar jika sejak tadi Ia keliru mengganti angka 9 dengan 6 .
Setelah kunci terbuka ,Esme segera melipir masuk ke apartemennya tanpa menoleh sedikitpun .
Echa menggeleng melihat tingkah aneh wanita itu . Tak Ia duga dibalik wajah dingin yang selalu dilihatnya saat tak sengaja bertemu , ternyata dia bisa menjadi imut juga .
" Wanita aneh , " gumamnya .
" Siapa yang aneh ? " tanya ayahnya yang hendak menyusul putranya .
" Wanita yang tinggal di depan . Sikapnya aneh, kupikir dia tidak bisa bicara ternyata salah . Dia bahkan bisa mengumpat , " cibirnya .
" Huusssshhhh... jangan asal bicara kamu . Dia wanita yang baik juga sopan , " tegur Ibunya membela orang lain .
Echa menuju kamarnya setelah menunjukkan kamar untuk Ayah dan Ibunya .
" Namanya Esme , nama yang cantik secantik hatinya . " Celetuk Pak Rifai sebelum putranya menutup pintu kamar .
Sementara di tempat yang cukup dekat , Esme masih mematung di balik pintu .
Esme memegang dadanya , debaran jantungnya terasa begitu cepat . Esme mengakui , Ia gugup , Ia tak berkutik di depan pria itu .
" Kenapa baru sekarang aku melihatnya , padahal jarak kami cukup dekat . " Esme membatin .
Ia mengingat ucapan Bu Dyah , jika pertemuan mereka telah diatur oleh Tuhan .
Seketika senyum terbit di wajahnya .
Sama seperti munculnya yang tiba-tiba , senyumannya itu juga hilang tiba-tiba .
__ADS_1
" Risa , " pekiknya .
Esme berlari mencari ke ruang tengah , dapur , dan terakhir ke kamar Risa .
Matanya membulat saat melihat dua orang yang dicarinya kini sedang tidur dengan lelapnya .
Tenanglah , tidak terjadi apa-apa diantara mereka . Esme bisa memastikan itu .
Aydin setengah berbaring dengan Risa yang tertidur sangat lelap di dekapan Aydin .
Esme melangkah pelan keluar kamar . Tak ingin membangunkan Risa .
Saat Esme baru beberapa langkah , Risa bergerak gelisah dalam tidurnya di susul Aydin yang langsung membuka matanya .
" Esme kamu sudah pulang ? Maaf aku tertidur . " Ujar Aydin .
Walaupun sudah Ia pelankan , namum suara serak Aydin mengusik tidur Risa .
Ia mengerjapkan matanya , menyadari jika kepalanya kini tidak beralaskan bantal . Tapi beralaskan ....... ,
" Eomeona ( astaga ) , " pekik Risa saat membuka mata dan disambut dengan senyuman Aydin .
Risa segera bangun dan duduk , Ia semakin panik saat melihat Esme berdiri tak jauh dari tempat tidurnya .
" Eonni , " lirihnya .
" Maaf membangunkan kalian , Aku tak tahu jika kalian sedang beristirahat , " tuturnya .
Aydin dengan santainya meregangkan otot lengannya yang di tindih Risa .
" Aku tunggu kalian diuar yah ," ujar Esme meninggalkam Risa dan Aydin berdua .
Dalam suasana yang canggung , tentunya bagi Risa . Namun entah bagi Aydin karen pria itu terlihat santai saja beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamar Risa .
.
.
.
.
.
.
"*Aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianatan oleh hatiku yang sibuk menguntai simpul pertanda cinta*."
.
.
.
.
To be continue .
__ADS_1