Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 96. Memaafkan


__ADS_3

Kau tidak perlu berjanji tidak akan menyakitiku.


Namun berjanjilah jika kau akan tetap bertahan jika suatu hari kau merasa tersakiti karenaku.


♡♡♡♡♡


“Disaat hidup hanya menuntut ku untuk terus bertahan, dia datang membawa makna untuk kehidupanku, memberi warna berbeda di setiap hari yang ku jalani bersamanya.” Batin Aydin yang kini tengah merenung di teras sebuah villa.


Sejuknya udara pagi, matahari yang masih enggan menampakkan dirinya, hamparan bukit hijau sepanjang pandangan matanya, dan yang terakhir harusnya melengkapi keindahan pagi ini adalah suara kicauan burung.


Namun sayang, suara cekikikan dari putranya yang sedang bermain dengan para Opa dan Unclenya terdengar lebih nyaring.


Tawanya bisa membuat burung-burung yang hendak berkicau undur diri, tak ingin bersaing dengan bocah kecil yang sebentar lagi berusia 6 tahun.


“Ay,” sapaan lembut dari ‘Dia’ .


Wanita yang selalu ada dalam pikiran Aydin, saat Ia hendak terpejam hingga Ia kembali terjaga.


Dia, masih dengan bathrobenya kini melangkah semakin mendekat pada Aydin.


Wajah cantiknya yang segar dengan kunciran rambut asal membuat Dia berhasil menguji kesabaran Aydin.


Tubuhnya adalah tempat ternyaman bagi Aydin untuk melepas segala penatnya.


Dia, selalu menjadi satu alasan bagi Aydin untuk mempertahankan hubungan ini meski ada 1.000 alasan lainnya untuk Ia berhenti.


Aydin yang sudah pernah merasakan kehilangan, kini tak ingin lagi kembali terpuruk.


Bukan dengan cara menghindari cinta seperti yang banyak di lakukan oleh kaum yang pernah patah hati.


Bukan lagi soal berapa lama mereka harus saling mengenal, namun Aydin kini fokus untuk segera menetapkan kejelasan, kemana arah dan tujuan hubungan dengannya.


Dan Dia adalah satu-satunya wanita yang namanya selalu disebut Aydin dalam doanya, mendoakan agar Ia mampu bertahan jika suatu saat Aydin kembali melukai hatinya.


Dia adalah Brisa Elazavira.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Mobil Aydin melaju menuju dengan tujuan rutan. Tempat Ferdinand, ayah kandung Risa kini ditahan untuk mempertanggung jawabkan segala kesalahan yang Ia perbuat.


“Apapun yang nantinya Ayahmu katakan, tak akan mengubah sedikitpun keputusan yang sudah kita ambil untuk hidup kita kedepannya sayang.” Ujar Aydin menenangkan wanitanya yang terlihat sangat gugup.


Risa mengangguk.


Dengan jemari saling bertautan, Aydin menuntun Risa menemui Ayahnya.


Pria yang membuat halaman-halaman pada buku kehidupan Risa, mengisahkan cerita yang penuh dengan tangisan, kesedihan, dan kekecewaan.


Hingga Aydin ikut masuk ke dalam cerita itu. Tawa dan tangis mulai mewarnai halaman demi halaman yang akan mereka lewati.


“Ay, aku yakin Ayah pasti akan marah padaku, dia pasti tidak akan mau meres....”


Ucapan Risa terhenti tatkala suara bariton seorang pria paruh baya memakinya.


“Mau apa kau menemuiku anak durhaka?” ucap pria berbaju jingga yang khas.


Risa memeluk Aydin dengan tubuh yang bergetar.


Kedua tangan Aydin juga balas memeluk tubuh wanitanya.


“Bukan Risa yang ingin menemui Anda, tapi saya.” Balas Aydin.


“Apa maumu?” tanya Ferdinand dengan angkuhnya.


“Saya ingin menjalankan kewajiban saya sebagai seorang pria yang tulus mencintai putri Anda. Kedatangan saya ingin meminta izin Anda, untuk mengambil tanggung jawab Anda atas dirinya dan melimpahkan semuanya padaku.” Ucap Aydin, Ferdinand tak bergeming sama sekali.


“Tak perlu meminta izinku, urus kehidupanmu sendiri dan jangan pernah libatkan aku lagi di dalamnya.” Ujar Ferdinand.


Tubuh Risa semakin bergetar, Aydin segera membawa Risa pergi dari tempat itu.


“Kami pergi dulu,” ucapnya yang tak mendapat balasan apapun dari Ferdinand.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Aydin masih terus memeluk tubuh Risa, meski keduanya kini berada dalam mobil.

__ADS_1


Setelah Risa lebih tenang, “Kita jalan sekarang yah sayang.”


“Ay,”


“Hmmmm,” jawab Aydin berdeham karena sesekali Ia membaca pesan pada ponselnya.


“Bisakah kamu mengantarku ke Rumah sakit jiwa tempat Anggun dirawat?” tanya Risa dengan ragu.


Aydin tersenyum.


“Tentu saja sayang. Kita kesana sekarang yah.” Ucap Aydin lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit jiwa.


Setibanya di rumah sakit, Risa menemui dokter yang merawat Anggun.


“Nona Risa, silahkan masuk,” ucap dokter yang bernama Hendra dengan wajah yang berbinar.


Aydin berdecak pelan, “Sepertinya resiko memiliki kekasih cantik seperti ini, harus sabar saat pria lain secara terang-terangan mengagumi kecantikannya.” Batin Aydin.


“Bagaimana keadaan adik saya?” tanya Risa.


“Cukup banyak kemajuan, Nona Anggun tidak pernah lagi menyakiti dirinya. Dia lebih tenang, hanya saja kami masih sulit untuk berkomunikasi.” Ucap dokter.


“Dari pandangan saya, hal ini sudah bukan lagi dipengaruhi oleh obat-obatan terlarang yang dikomsumsinya. Dari pihak kepolisian sudah meminta laporan terakhir, sepertinya jika sudah masuk maka adik anda akan segera diadili.” Ucap dokter.


Risa mengangguk, “Bisa saya menemuinya?”


“Tentu, mari saya antar.”


Dokter menunjukkan kamar Anggun. Mereka masuk bersamaan.


Kondisi Anggun yang sekarang jauh lebih baik, walau pergelangan tangan kirinya masih terkait dengan borgol, membuat air mata Risa memaksa ingin melesak keluar.


Anggun terus saja menatap keluar lewat jendela ruang rawatnya.


“Bagaimana kandungannya?” tanya Risa.


“Terakhir kali diperiksa semuanya dalam kondisi baik. Hanya saja kami tidak bisa memeriksa rutin karena di sini tidak ada dokter kandungan.” Jelas dokter.


“Baiklah, saya permisi dulu Nona Risa. Jika ada yang anda butuhkan bisa hubungi saya.” Ucap dokter Hendra disertai senyum terbaik yang Ia punya.


Lalu setelah sekian lama, akhirnya dokter Hendra menatap Aydin. “Saya permisi Pak .......” Dokter Hendra sedang mengingat nama pria yang terus mengikuti Risa.


Aydin segera meraih tangan dokter Hendra, “Aydin. Aydin Dzauky, tunangan Risa. Senang berkenalan dengan Anda, dokter Hendra.”


Nampak wajah dokter Hendra berubah pias, membuat Aydin tersenyum.


“Kalian hanya cukup mengaguminya saja, tapi akulah pria beruntung yang memilikinya.” Batin Aydin.


Risa mendekat ke brangkar Anggun. Duduk di kursi kecil yang ada di sampingnya.


Sementara Aydin berdiri di belakang Risa. Tetap waspada kalau saja tiba-tiba Anggun melakukan hal diluar dugaan.


“Anggun, aku baru saja menemui Ayah. Tapi Ayah tetap sama. Beliau masih membenciku, aku tetap menjadi anak durhaka karena telah berani melawannya.” Ucap Risa.


Anggun tak bergeming. Ia hanya diam dengan posisi yang tak berubah sedikit pun.


Suasana kembali hening, entah apa yang harus Risa bicarakan pada Anggun.


Mereka berdua sungguh tak pernah punya kisah, atau kenangan bersama yang bisa untuk diceritakan.


“Aku bingung harus bicara apa lagi,” ucap Risa jujur.


“Ku harap kamu cepat pulih, dan kita bisa mengobrol lebih banyak hal.” Lanjutnya.


Risa hendak berdiri, saat Anggun akhirnya mulai berbicara.


“Kak...” ucap Anggum lirih.


Risa mendekat ke brangkar Anggun dsn duduk di sisi yang kosong.


“Kamu memanggilku?” tanya Risa.


Jeda beberapa detik lalu Anggun akhirnya menatap wajah cantik kakak tirinya. Wajah yang selalu membuatnya iri sejak pertama kali mereka beremu dulu.


Anggun mengangguk, “Bisakah kita mengobrol sekarang?”

__ADS_1


Risa menatap Aydin meminta saran darinya.


Aydin mengangguk, “Mengobrollah sayang. Gunakan waktu kalian. Aku menunggumu di luar, aku harus menghubungi Daffin.”


Tak lupa Aydin mengecup puncak kepala kekasihnya sebelum Ia berlalu meninggalkan dua wanita yang berstatus saudara tiri.


“Kak.... maafkan aku.” Ucap Anggun dengan air mata yang membasahi pipinya.


Risapun turut menangis, tak kuasa menahan haru.


Risa memeluk Anggun lebih dulu, “Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta. Mendengarmu memanggilku kakak saja sudah membuatku sangat bersyukur.” Ucap Risa.


“Kak, maukah kakak mendampingiku melewati ini semua? Selain bayi di dalam kandunganku, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi.” Pinta Anggun.


“Tanpa kau minta, aku akan menemanimu melewati ini semua. Seburuk apapun hubungan kita di masa lalu, mari kita lupakan semuanya.” Balas Risa.


“Aku, kamu, dan anakmu nanti akan terus bersama. Jangan takut Anggun, kamu tidak sendiri.” Lanjutnya.


Anggun mengangguk.


Akhirnya Ia bisa tenang setelah meminta maaf, dan syukurnya hubungan mereka bisa membaik.


“Kak, apakah boleh aku meminta tolong sesuatu?”


“Tentu saja, katakanlah.”


“Bisakah kakak memberikan surat ini pada Mama ku?”


Risa bungkam untuk sesaat. Entahlah apa Ia sanggup menemui Indri.


Bertemu Ayahnya saja, sangat sulit untuk memantapkan hatinya.


“Tentu saja bisa adik ipar.” Ucap Aydin yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Risa.


Aydin meraih surat dari tangan Anggun, lalu memasukkannya ke dalam tas milik kekasihnya.


“Terimakasih Kak Aydin,” ucap Anggun ragu.


“Tapi, adik ipar? Apa kalian telah menikah?” tanya Anggun.


Risa menggeleng, “Tidak.” Jawabnya singkat.


Aydin megecup puncak kepala Risa sekali lagi, “Belum sayang, bukan tidak.”


“Cepatlah sembuh Anggun, kebahagiaan kami akan lebih lengkap jika kamu juga hadir.” Lanjutnya.


Sementara Risa hanya tersenyum.


“Anggun, sepertinya kami harus pergi dulu. Nanti kami akan sering-sering datang mengunjungimu. Semangatlah untuk sembuh demi bayimu.” Ucap Risa lalu memeluk adik tirinya erat.


“Terimakasih Kak. Terimakasih sudah mau memaafkanku dan menerimaku dalam kondisi seperti ini.” Balas Anggun.


“Sssstttttt..... Jangan dibahas lagi. Fokuslah untuk sembuh.” Ulang Risa.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Tanpa Risa duga password untuk laptop Aydin adalah tanggal pertama kali keduanya menjalin kasih.


Belum selesai proses log in, laptop Aydin tiba-tiba direbut oleh seseorang dan membuat Risa terkejut.


“Siapa anda berani sekali masuk ke ruangan bos saya, duduk di kursinya, dan menyentuh barang pribadi. Saya akan laporkan anda ke pihak yang berwajib.” Bentak wanita itu pada Risa.


Risa berdecak, “Hei Nona, jika kau menyayangi pekerjaanmu ini, segeralah minta maaf padaku dan letakkan kembali laptop milik kekasihku karena aku ingin menggunakannya.” Balas Risa. Tanpa bentakan atau teriakan.


Namun siapa sangka wanita itu malah tertawa, “Lucu sekali, jaman sekarang pelakor memang sudah tak malu lagi mengakui dirinya.” Ucapnya dengan tatapan menghina Risa.


“Karena kau tidak ingin pergi saat saya minta baik-baik, jadi jangan salahkan saya jika sekuriti akan menyeretmu keluar dari sini.” Lanjutnya.


Risa benar-benar sudah kehilangan kesabarannya.


Ia raih ponselnya dan menghubungi seseorang.


“TEMUI AKU SEKARANG!” Pekiknya.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡

__ADS_1


"Tidak pernah ada orang yang terlalu benar, dan terlalu salah, karena kita bisa belajar dari semua kejadian, apapun itu."


__ADS_2