
Meski harus ditertawakan oleh jarak dan waktu.
Meski yang menemaniku hanyalah sebuah harapan semu.
Izinkan aku untuk kembali mempercayakan sabarku hanya padamu.
Aku masih berusaha untuk kembali percaya, jika indahnya pelangi sedang dipersiapkan khusus untukku seandainya aku berhasil melewati badai ini.
⚘🍀⚘🍀⚘🍀⚘🍀⚘🍀⚘🍀
“Biarkanlah aku tidur, kumohon. Biarkan aku membangun sebuah dunia semu6 dalam mimpiku,” batin Risa.
Bagi Risa, tidur kini tak lagi hanya untuk membiarkan tubuhnya beristirahat. Tapi tidur kini akan menjadi salah satu pelarian favoritnya.
Jangan tanyakan lagi pada Risa, apakah Ia baik-baik saja. Perhatian semacam itu tidak akan membantu, malah hanya akan membuat rasa sakitnya semakin nyata.
Mungkin Risa adalah salah satu manusia yang proses pendewasaannya berupa ujian yang tak kunjung henti.
Waktu terus berlalu, entah sudah berapa lama Risa tertidur Ia tak tahu. Menjadi buta, membuatnya takut untuk membuka mata.
Risa takut kecewa, andai saja ketika Ia bangun lalu membuka matanya, dan semuanya tetap sama, gelap.
“Bagaimana ini? Haruskah akutkiniñ,h,źh, membuka mataku?” batin Risa terus saja bergumul, meski baru beberapa detik yang lalu Ia terjaga dari tidurnya.
Ingin membuka mata, namun rasanya Risa enggan kecewa. Bahkan kini untuk bernapas pun Risa sangat takut.
Namun sadar, jika sang waktu tak akan berhenti hanya untuk menunggunya bersiap, hidup tak akan pernah berhenti untuk siapa pun.
“Aku harus mulai menyelesaikan masalah ini. Akan kumulai dengan diriku, akan kucoba untuk memaafkan diriku sendiri dan mengubah pandanganku akan hidup seperti apa yang akan kujalani nantinya,” batin Risa.
“Sekarang bukan saatnya menyalahkan orang lain. Aku tahu jika aku harus mulai berbenah,” lanjutnya masih membatin.
Perlahan Risa membuka matanya.
Tatapannya penuh tekad, namun dasilnya sama saja. Semuanya masih gelap, tak ada cahaya sedikitpun.
Kembali Risa diliputi rasa amarah. Ingin sekali rasanya Ia berteriak meluapkan semua kekecewaan dan amarahnya. Namun apa gunanya Ia marah jika hanya dirinya sendiri di sana.
“Haruskah kini Aku berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan aku hanya bisa menangis sepanjang malam,” batin Risa.
“Apa mungkin aku akan merasa lebih baik jika aku menghilang?" Tanyanya dalam hati.
⚘🍀⚘🍀⚘🍀
“Risa sayang, kamu sudah bangun?”
Suara yang khas yang sangat Ia kenali, suara wanita yang Ia sayangi dan juga menyayanginya.
“Eomma... aku baru saja bangun,” jawab Risa berbohong, tak ingin Eomma Martha tahu jika dirinya baru saja kembali berperang dengan batinnya sendiri.
__ADS_1
Sedang Eomma yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi, beliau juga melihat semuanya. Eomma melihat bagaimana Risa menitikkan air matanya. Risa bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangan agar suara tangisnya tak didengar oleh orang lain.
Hal itu turut memaksa Eomma untuk turut menguatkan dirinya. Jangan sampai Risa mendengar tangisnya dan berpengaruh pada psikisnya.
Eomma Martha yakin jika untuk menerima kondisinya sekarang saja sudah menjadi beban yang teramat berat bagi Risa.
Tapi ini belum seberapa dengan beban yang akan dipikul Risa ketika Ia kembali menghadapi standar hidup yang semakin hari semakin tinggi.
Eomma Martha jadi mempertimbangkan usulan Eijaz kemarin.
“Sepertinya usulan Eijaz ada benarnya juga, hanya Aydin yang bisa menjadi penerang bagi hati Risa,” batin Eomma Martha.
⚘🍀⚘🍀⚘🍀
Setelah membantu Risa membersihkan tubuhnya dan berpakaian, kini Eomma Martha tengah menyisir surai panjang nan lembut milik putrinya.
“Risa, apa sewaktu kecil Ibumu sering mengikat menyisir rambutmu seperti ini?” tanya Eomma Martha.
Risa tersenyum dan mengangguk.
“Ya, hampir setiap hari Bunda yang menyisir dan menata rambutku. Bahkan ada kalanya aku mendapati Bunda mempelajari cara menata rambut yamg akan Ia gunakan keesokan harinya,” jawab Risa diikuti tawanya. Mengenang sosok bundanya memang selalu membawa kebahagiaan bagi Risa.
Saat sedang asik berbincang, keduanya dikejutkan oleh suara Anggun dan Rian yang langsung kegirangan melihat aunty kesayangannya kini tidak tertidur lagi.
Bayi itu seakan paham, dan terus saja mengarahkan tangannya pada Risa.
“Kak, sepertinya Rian sangat merindukanmu, dia ingin digendong olehmu,” ucap Anggun.
“Oh yah? Kemarilah Nak,” Risa mengulurkan tangannnya kedepan, hendak meraih bocah itu dalam dekapannya, padahal Rian kini berada di sampingnya, dalam gendongan sang Mami.
Anggun dengan perlahan memindahkan Rian ke depan Risa agar mudah baginya meraih tubuh mungil Rian.
Air mata Anggun dan Eomma Martha terkumpul di pelupuk mata masing-masing.
Mungkin pikiran keduanya sama, bolehkah keduanya menyimpulkan jika Tuhan sangat menyayangi Risa dan begitu memperhatikannya?
Terlihat senyum Risa yang tengah menggendong Rian, meski tatapannya kosong, tapi senyum di wajahnya menjelaskan jika dia kesedihan sedang bersembunyi di balik tawanya.
“Selamat Pagi,” sapa Eijaz diikuti Romi di belakangnya.
“Kak E... Eijaz?” ucap Risa ragu.
“Hei... Apa kamu juga kini melupakan suaraku?” Canda Eijaz.
“Pergi.... Jangan mendekat!” tolak Risa membuat semua orang terkejut.
Eomma Martha, Anggun, dan Romi tahu jika Risa sangat menghormati Eijaz. Baginya Eijaz adalah sosok sahabat, kakak, bahkan terkadang Ia menyebut pria itu sebagai malaikat penolongnya.
“Ada apa Risa?” tanya Eijaz.
__ADS_1
“Apa aku bersalah padamu?” lanjutnya.
“Tidak! Aku hanya tak ingin dikasihani lagi, jangan kemari hanya karena kasihan padaku,” tolak Risa lagi.
“Bicara apa kamu Risa? Aku menyusulmu kemari bahkan sebelum tahu jika kamu kecelakaan,” bantahnya
“Kalaupun kamu bicara soal kasihan, menurutmu diantara kamu dan aku siapa yang lebih menyedihkan?” Eijaz menjeda ucapannya.
“Kamu Buta? Kakimu cedera? Tapi kamu masih punya harapan untuk sembuh. Saat selesai terapi kemungkinan kamu bisa berjalan kembali 80%, lalu jika beruntung mendapat donor kornea kemungkinan kamu bisa melihat lagi 95%, kamu punya solusi Risa,” ujar Eijaz membeberkan fakta-fakta yang baru saja Ia konfirmasikan dengan dokter yang merawat Risa.
“Tapi aku? Aku tak punya harapan Risa!” ujarnya.
Romi merasa pembicaraan antara Risa dan Eijaz mulai privasi. Dengan sopan, Ia mengajak Anggun serta Eomma Martha menunggu di luar.
“Apa maksudmu Kak? Harapan apa lagi yang ingin kamu inginkan terwujud kak? Kamu punya segalanya,” cibir Risa.
“Waktu Risa, Waktu!" Tekannya.
“Waktuku di dunia ini tak lama lagi. Meski tak ingin mendahului Tuhan, tapi kanker yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuhku sudah menjadi petunjuk darinya,” ujar Eijaz.
Seketika tangis Risa pecah. Bagaimana bisa dirinya tidak mengetahui hal itu.
“Tapi... Tapi.... Sejak kapan Kak? Kenapa tak jujur padaku?”
“Tak lama sejak aku pindah ke luar negeri saat Ayahku meninggal dunia,” jawab Eijaz.
“Memberitahumu mengenai hal ini tak pernah ada dalam rencanaku Risa. Jujur saja, menjadikanmu sebagai semangatku untuk bertahan hidup selama ini sudah menjadi hal terindah dalam hidupku,” lanjut Eijaz.
“Meski kamu melarang, tapi aku tak ingin menyesal jika tak kuungkapkan setelah aku tiada,” Eijaz bungkam sejenak, “Aku mencintaimu Risa, sudah lama. Aku tak menuntutmu membalas cintaku, karena dengan mencintaimu saja sudah menjadi hal terindah yang memberiku kekuatan untuk bertahan hidup selama ini.”
Risa terus menangis, tak Ia sangka Eijaz memiliki kisah yang lebih menyedihkan darinya.
“Maaf... Maaf Kak, jika aku tak pernah tahu hal ini,” ujar Risa.
Eijaz mendekat ke arah Risa, dengan ragu Ia menggenggam kedua tangan Risa erat.
“Jangan minta maaf, aku mengatakannya bukan karena aku tak ingin kamu merasa bersalah atau aku ingin mengambil keuntungan,” aku Eijaz.
“Aku ingin kamu mengambil pelajaran dari kisahku, bisakah kamu jujur pada perasaanmu yang masih mencintai Aydin?” Pintanya.
“Selagi masih ada waktu dan kesempatan, mengapa kamu tak memintanya mendampingimu melewati masa-masa sulit ini,”
“Aku tahu kamu masih mencintainya dan dia pun masih mencintaimu,” ungkap Eijaz.
Air mata Risa semakin mengalir deras, tak menyangka jika mata yang hanya memberinya kegelapan itu masih bisa mengeluarkan air mata, miris sekali rasanya.
“Dia mencintaiku, tapi tak menginginkan diriku,” lirih Risa.
⚘🍀⚘🍀 To Be Continue ⚘🍀⚘🍀
__ADS_1