
Di suatu tempat yang dikhususkan untuk pemakaman bagi umat beragama muslim yang berada di Amsterdam-Belanda.
Tampak seorang wanita cantik yang sedang menangis tersedu-sedu di sisi salah satu pusara.
Wanita itu mengenakan setelan pakaian berwarna hitam lengkap dengan kaca mata hitam yang sengaja ia gunakan untuk menutupi matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis.
Wanita itu tak sendiri, ia ditemani oleh seorang pria yang juga mengenakan pakaian yang warnanya senada dengan dirinya. Pria itu berdiri cukup jauh dari tempat di mana wanita itu kini menangis.
Berbeda dengan wanitanya, raut wajahnya datar, ia hanya hanya diam, tak ada tangisan atau raungan. Namun tampak jelas dari kedua netranya jika kesedihan atau luka yang ia rasakan tak kalah dengan si wanita yang sedang menangis.
Ya, mereka adalah sepasang suami istri Aydin dan Risa.
Setelah 6 bulan menjalani bahtera rumah tangga, barulah Aydin memiliki keberanian untuk jujur pada Risa.
Bukan tanpa alasan Aydin menunda untuk memberi tahu istrinya sebuah fakta penting bagi hidup Risa.
Selama sebulan penuh setelah hari pernikahan, Aydin dan Risa berkeliling ke berbagai negara.
Keduanya mengunjungi berbagai negara, mengabadikan momen indah bersama. Semua itu atas permintaan Risa.
Saat kehilangan penglihatannya, ia sempat merasa menyesal sebab belum sempat mengabadikan banyak Keagungan Tuhan di bumi ini.
Dan di akhir masa bulan madu mereka, keduanya diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki seorang anak lagi.
Risa hamil.
Sayangnya, di awal-awal kehamilannya tubuh Risa cukup lemah, hingga akhirnya keluarga kecil itu harus menunda kepulangan ke Tanah Air dan bertahan di Volendam, Belanda.
Kini 6 bulan sudah usia kehamilan Risa. Wanita itu sudah mendapatkan izin dari dokter untuk melakukan penerbangan jarak jauh.
Keluarga kecil itu akan segera kembali ke Tanah Air. Namun sebelum mereka meninggalkan Negeri Kincir Angin, masih ada satu tempat yang harus Risa datangi.
Dan di sinilah sepasang suami istri itu, meminta izin pada sahabat, saudara, atau kakak penolong bagi Risa.
Begitu sakit terasa di relung hatinya, saat tahu jika ia Eijaz telah pergi untuk selama-lamanya.
Semakin sakit saat ia tahu jika Eijaz pergi dari dunia ini bertepatan dengan dirinya yang kembali mendapatkan dunianya.
Lalu fakta jika semua hal baik yang terjadi padanya adalah karena pengorbanan pria itu, pengorbanan kakak penolongnya.
Risa tak marah, ia tak juga menyesali keputusan Eijaz. Sebelum ia tahu identitas si pendonor pun, Risa selalu berusaha agar netranya selalu melihat hal yang indah-indah saja. Semua itu sebagai bentuk rasa syukurnya.
Risa tahu semua keputusan Eijaz pastinya sudah dipikirkan oleh pria itu baik-baik.
__ADS_1
Yang Risa sesali hanya satu, Eijaz telah pergi bahkan sebelum Risa sempat berpamitan dan menyampaikan betapa bersyukurnya ia telah dicintai oleh pria sebaik Eijaz.
“Aku yakin kini kamu sudah bahagia di sana. Aku yakin orang baik sepertimu akan diberikan tempat yang lapang dan nyaman. Tak ada lagi rasa sakit yang akan kamu rasakan,” ucap Risa di tengah-tengah isakannya.
“Aku pun begitu. Aku sangat bahagia dengan kehidupanku kini. Aku merasa lengkap. Sesuai dengan amanat yang kamu tinggalkan, Aydin menjagaku, mencintaiku, dan membahagiakanku. Jadi kini kita sama-sama telah bahagia di kehidupan kita masing-masing.”
“Maafkan aku telah menyakiti mata kita dengan menangis. Tapi aku janji setelah hari ini , sebisa mungkin tak akan lagi. Kalaupun ada air mata yang menggenangi mata ini, semoga hanyalah air mata kebahagiaan,” imbuhnya.
Setelah melihat istrinya lebih tenang, barulah Aydin menghampiri Risa, membantunya bangkit, lalu mengajak istrinya untuk kembali ke rumah.
...****************...
Aydin paham kekecewaan istrinya itu terletak padanya.
Namun bagaimana lagi, semua Aydin lakukan hanya untuk menjaga kesehatan Risa dan calon bayi mereka.
“Sayang... udah dong marahnya,” bujuk Aydin dengan gaya manjanya.
Biasanya istrinya itu akan luluh jika Aydin sudah mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
Sekuat tenaga, hati, dan juga pikiran Risa kerahkan agar tak mudah luluh dengan godaan suaminya. Namun salahkan pengaruh hormon kehamilan yang membuat ibu hamil itu tak bisa bertahan lama.
Malam itu, kesalahpahaman sepasang suami istri itu lagi-lagi diselesaikan di atas ranjang.
...****************...
Keluarga kecil Aydin dan Risa hari ini akan segera bertolak kembali ke Tanah Air.
Hanya Aydin, Risa, dan Dafha saja. Sedangkan Anggun dan putranya memilih menetap di Volendam.
Bukannya tak menyayangi adiknya, namun Risa sangat tahu jika Tanah Air menyimpan banyak cerita sedih untuk Anggun.
Sebenarnya tak jauh berbeda dengannya, namun kini Risa memiliki Aydin sebagai tempat bersandarnya. Ada Dafha putranya dan juga calon bayinya yang akan menguatkan Risa, menjadi alasan agar kakinya kuat berpijak.
Sedang Anggun, wanita itu akhirnya menemukan cintanya di negara yang jauh dari tanah kelahirannya.
Di Volendam, hati Anggun telah dicuri oleh seorang pemilik kafe yang juga berprofesi sebagai seorang chef.
Keduanya bertemu saat Toby menjadi Chef yang mengajar pada tempat kursus memasak yang diikuti Anggun.
Rupanya Toby tak hanya mengajarkan Anggun memasak, pria itu juga mengajarkan Anggun betapa indahnya mencintai dan dicintai itu.
Pria itu kini sedang mendalami ilmu agama Islam, dan berjanji akan segera mengunjungi Indonesia untuk melamar Anggun kepada kedua orang tuanya. Tentunya juga pada Aydin dan Risa.
__ADS_1
...****************...
Setibanya di tanah air, tak butuh waktu lama bagi keluarga kecil itu untuk mengunjungi tempat peristirahatan Kirani. Ibu kandung Dafha, juga sahabat Risa.
Kirani, wanita yang pertama kali mengamanatkan suami dan anaknya pada Risa, sahabatnya.
Wanita yang disela-sela rasa sakitnya, ia tetap saja memikirkan kebahagiaan orang-orang yang akan ia tinggalkan.
Suasana hati Risa begitu berbeda dengan terkahir kali ia kemari untuk berpamitan. Perasaan Risa kini jauh lebih tenang.
Ya, semua itu karena dia berhasil.
Dia berhasil mewujudkan amanat Kirani.
Menjadi istri dari suami sahabatnya dan menjadi ibu bagi Dafha putranya.
Di samping itu semua, Kirani pasti tahu jika Aydin adalah pria yang pantas dan bisa membahagiakannya.
Ketiga orang yang disayangi Kirani, kini tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing sambil menatap lurus ke nisan yang bertulisna nama wanita itu.
Kirani, terima kasih telah menuntun kami semua menuju kebahagiaan. Berbahagialah di sana, seandainya bertemu Eijaz, sampaikan terima kasihku padanya. Kalian yang akur yah. Batin Risa.
Rani, dirimu tak akan pernah terganti, kamu adalah ibu dan istri yang sangat hebat. Terima kasih, amanatmu telah membawa Risa pada kami, dan seperti biasa pilihanmu selalu tepat. Maafkan sikap acuhku dulu, aku berjanji padamu akan menjaga Dafha dan Risa dengan baik. Tak akan kuulangi lagi kesalahan yang kulakukan padamu. Terima kasih Kirani, tenanglah aku, Risa, dan Dafha akan bahagia. Batin Aydin.
Misi selesai Mommy, aku menyayangimu selamanya. Batin Dafha.
...****************...
Sembilan bulan sudah usia kehamilan Risa. Semua orang-orang terdekat wanita itu kini sedang harap-harap cemas menanti kehadiran bayi yang tak lain adalah adik si tampan Dafha.
Dua keluarga yang selalu kompak, kini tampak cemas di depan sebuah ruangan bersalin. Tatapan semuanya tertuju pada sebuah pintu yang di baliknya ada Risa yang sedang berjuang melahirkan anaknya dengan di dampingi Aydin.
Ketegangan semua orang akhirnya sirna saat mendengar suara tangisan nyaring bayi dari dalam ruang bersalin.
Tak lama kemudian, dari balik kaca yang ditutup kain gorden tampak Aydin dengan bayi mungil dalam gendongannya.
Bayi itu berselimut merah muda seakan menjelaskan jika ia adalah sosok bayi perempuan mungil yang sangat cantik dan menggemaskan.
Tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan Aydin dan Risa. Memiliki Dafha sudah merupakan suatu berkat dalam keluarga mereka.
Lalu kini, mereka telah dikaruniai lagi seorang putri yang semakin melengkapi kebahagiaan keluarga kecil itu.
Dialah, Dafhina Zakia Khadijah. Diberi nama sesuai harapan kedua orang tuanya, semoga kelak ia menjadi anak perempuan yang amanah dan senantiasa terhindar dari maksiat.
__ADS_1
-END-