Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 125. Curahan hati Aydin


__ADS_3

Aku mencintaimu, dan tak pernah ku ragu akan cintaku.


Jujur saja, jika di setiap malam-malam panjangku, masih diisi dengan pertanyaan yang sama.


"Apakah kamu mencintaiku?"


"Benar-benar mencintaiku?"


♡♡♡♡♡♡♡♡♡


¤¤¤¤《Aydin POV》¤¤¤¤


“Tak pernah sedikitpun ku ragu akan cintaku padamu.


Bahkan jika aku ditanya seberapa besar cintaku padamu, mungkin tak bisa langsung ku beri jawabannya.


Karena akupun akan kesulitan menghitung besarnya cintaku.


Satu yang pasti, perasaan cintaku padamu kini sudah memegang kendali hatiku.”


“Tetapi bagaimana denganmu?”


“Apakah dihatimu, juga telah memiliki perasaan cinta yang hanya untukku? Sama seperti hatiku yang hanya mengenal dirimu sebagai pemiliknya.”


“Atau kamu baru hendak membuka hatimu?


Mengizinkan cintaku berdiam disana?”


“Atau kamu sudah hampir menyadari jika cinta mulai tumbuh di hatimu?


Hingga akhirnya membalas tulusnya perasaan cintaku padamu?”


“Atau, kamu hanya berpura-pura cinta padaku?”


“Beri aku jawabannya, atau tolong ajari aku cara untuk mencari jawabannya.


Jika tidak, maka semua pertanyaan itu akan menghiasi malam-malam panjangku.”


♡♡♡♡♡♡


“Risa, sayang..... Tahukah kau seberapa besar lukaku karena kehilangan?”


“Bahkan aku kehilangan untuk selamanya.”


“Risa, sayang.... Tahukah kau seberapa kelamnya hidupku setelah tiba-tiba kehilangan seseorang untuk selamanya?”


“Namun di saat ku rasa tak ada jalan keluar, dan aku akan terus bertahan pada titik akhir kisahku yang memilukan. Lalu, kamu datang sayang.”


“Ya, kamu datang sayang. Kamu datang menawarkan dirimu sebagai penawar luka. Meyakinkanku, jika kamu bisa membawaku keluar dari luka lara akibat kehilangan seseorang yang kita cintai.”


“Karena kamupun begitu, membayangkan betapa tersiksanya dirimu dulu. Lalu melihat dirimu yang sekarang, membuatku percaya jika kamu juga bisa menyembuhkan lukaku.”


“Dan saat telah kupercayakan hatiku padamu, seluruh hatiku, ku mohon percayalah padaku juga. Berilah pula padaku seluruh hatimu."


“Seluruhnya sayang, aku ingin memiliki seluruh hatimu. Bukan hanya kepingan-kepingan, yang meski berapa kalipun ku coba rangkai, tak akan pernah bisa utuh. Seperti masih ada bagian yang kurang.”


“Di mana sayang? Di mana bisa ku temukan kepingan itu?”


“Apakah memang sengaja tak kau beri padaku?”


“Bagaimana sayang? Bagaimana caraku untuk bisa meyakini jika yang kita perjuangkan selama ini tidak akan sia-sia.”


♡♡♡♡♡♡♡


“Risa, sayang.... Haruskah aku jujur padamu, mengatakan apa yang tengah ku rasakan kini?”


“Risa, sayang.... Aku ragu, aku kecewa, dan aku takut. Entah mengapa sejak mengetahui kebenaran yang selama ini coba kamu tutupi dariku, aku tiba-tiba saja merasa resah.”


“Seolah rasa aman, rasa yakin, pada masa depan hubungan kita tiba-tiba saja menjadi suatu yang kupertanyakan.”

__ADS_1


“Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa jika janjimu, semua keyakinanmu, jika kamu tak akan lagi meninggalkanku, hanyalah sesuatu hal yang semu. Meski sesuatu yang paling burukpun terjadi, kau akan tetap bertahan bersamaku.”


“Entahlah, tiba-tiba saja aku menyangsikan keseriusanmu selama ini, apakah itu nyata atau hanya sebuah drama yang kamu perankan.”


“Entahlah, aku hanya ingin kamu meyakinkanku jika semua pemikiranku salah, semua keraguanku keliru, atau apakah bisa jika aku ingin kamu meyakinkanku, jika fakta yang baru saja kutemukan itu tidak benar.”


♡♡♡♡♡♡


“Risa, sayang.... Kumohon jangan minta aku menjelaskan di bagian mana aku meragukanmu.


Kumohon jangan balik mempertanyakan cintaku, karena sungguh semua keraguan ini terjadi begitu saja.


Mungkin karena kekecewaan, hingga secara naluriah terbitlah rasa ragu itu.”


“Risa, sayang.... Sudah kucoba untuk meyalahkan diriku sendiri.


Bukan hanya sekali, berkali-kali, bahkan mungkin sudah ratusan kali aku menyalahkan keraguanku.”


“Namun, semakin ku coba menepis keraguanku padamu, semakin banyak pertanyaan lain yang muncul di benakku.”


“Apakah suatu saat kamu akan mengucapkan selamat tinggal padaku? Kuharap jawabannya tidak, karena aku belum sanggup untuk pergi dan aku belum sanggup untuk menerima kepergianmu.”


“Apakah suatu saat kamu akan mengatakan jika kamu menyerah?


Ku harap itu tak akan pernah terjadi, karena aku masih ingin berusaha dan aku ingin berusaha bersama-sama denganmu.”


“Apakah suatu saat kamu akan mengacuhkanku dan mengeluh jika kamu lelah dengan hubungan kita?


Jika memang hal ini benar terjadi, maka aku ingin kamu tau jika aku bersedia menunggu.”


“Namun jika semua ini berbalik terjadi padamu wahai sayangku,


Aku ingin tahu, apakah kau juga akan melakulan hal yang sama dengan apa yang akan kulakukan?”


♡♡♡♡♡♡


“Risa, sayangku.... Terlepas dari semua yang telah kita lalui hingga sampai pada hari ini.


Kenangan indah, jika kita bersedia melakukan apapun hanya demi sebuah senyuman.


Hingga kenangan pahit, jika kita juga pernah saling mencampakkan, meninggalkan, dan melupakan.”


“Risa, sayangku.... Terlepas dari semua kekhawatiran kita, jika nantinya semua ini akan berakhir saat kita tak lagi mampu saling membahagiakan.


Saat kita tak lagi mampu mempertahankan keyakinan jika kita saling mencintai.”


“Risa, sayangku.... Terlepas dari semua apa yang terjadi saat ini.


Atas semua kebenaran yang akhirnya terungkap dan semua kebenaran yang entah masih bersembunyi di mana.”


“Hanya apa adanya kita, izinkan aku bertanya padamu.


Apa artinya aku, bagimu?”


“Seandainya hari esok itu tak ada.”


“Seandainya sang surya tak akan lagi kembali menyapa setelah pergi dengan kenangan indah akan senja.”


“Seandainya kita tahu jika yang tersisa dari hubungan yang kita perjuangkan selama ini hanya akan berujung pada luka.”


“Apa artinya aku bagimu?”


“Apa aku masih berarti bagimu?”


“Apakah rindu masih tetap ada meski susah payah untuk lupa?”


“Jika saja aku bisa tahu semuanya, maka tak perlu ada kebenaran yang kamu tutupi. Dan semuanya akan tetap baik-baik saja.”


“Atau, mungkin lebih baik jika aku tak perlu dan tak pernah tahu kebenaran ini selamanya.”

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡


“Risa, sayangku.... Apa kamu tahu apa yang paling menyakitkan bagiku?”


“Ketika aku membayangkan bagaimana sakitnya saat aku harus berpura-pura jika semuanya baik-baik saja.


Aku akan berusaha menahan amarahku, berusaha untuk tetap peduli, berusaha bertahan di sisimu dengan semua kenyataan ini.”


“Hanya dengan membayangkannya saja, sudah bisa ku rasakan ada sayatan di hatiku, perih.


Terlebih saat aku harus berjanji tak akan meninggalkanmu, janji untuk selalu bersamamu.


Meski, kau belum bisa meyakinkanku setulus apa cintamu yang akan mematahkan keraguanku karena kebenaran yang terungkap.”


“Semakin menyakitkan, ketika aku menyadari jika hanya denganmulah aku ingin menjalani masa depan.


Sehingga aku terus berusaha untuk membahagiakanmu.


Biarlah aku yang bersedih ketika keraguan cintamu kembali terbayang.


Kamu tetaplah tersenyum, tetaplah bahagia.”


“Semakin menyakitkan, ketika aku tak pernah bisa menghapus satu-satunya nama yang selalu bertahta di benakku, meminta untuk kurindukan, memintaku memberikan rasa nyaman yang katamu tak pernah kau temukan di tempat lain.


Biarlah aku yang lagi-lagi harus bersedih ketika bayangan semua rasa nyamanmu hanyalah semu belaka.


Kamu tetaplah bersandar di bahuku, dan temukanlah tempat ternyamanmu."


“Semakin menyakitkan, ketika aku harus menyakiti hati wanita lain, bukan karena ku ingin, tapi karena sudah tak ada lagi yang bisa kuberi.


Kebahagiaanku, rasa nyamanku, bahkan hatiku telah ku berikan semuanya.


Biarkanlah aku saja yang merasakan sedihnya.


Kamu, milikilah semuanya.”


“Semakin menyakitkan, ketika dengan mudahnya namamu selalu mengambil bagian terbanyak dari setiap kalimat doa yang terlontar dariku.


Biarkanlah aku saja yang merasakan sedih ketika aku harus berhenti mendoakanmu.”


♡♡♡♡♡♡♡


“Risa, sayangku.... Untuk saat ini masihkah kau bersedia untuk percaya jika cinta adalah buah dari usaha?


Bukan sesuatu yang harus kita jalani karena terbiasa atau karena sebuah amanat.”


“Risa, sayangku.... Untuk saat ini bolehkah aku untuk menepis semua kekhawatiranku?


Aku sudah pernah patah hati, sudah pernah hancur se hancur-hancurnya saat harus kehilangan seseorang.”


“Untuk saat ini, Ku mohon izinkan aku. Izinkan aku berjuang hingga aku menemukan alasan yang tepat untuk berhenti.”


“Risa, sayangku.... Haruskah aku berhenti berjuang ketika kebohonganmu membuatku tak bisa lagi kembali percaya padamu.”


“Haruskah aku berhenti, ketika rasa sakit yang kau sebabkan, bahkan bisa menutup pintu maaf di hatiku.”


“Haruskah aku berhenti, ketika bertahan terasa lebih sulit dari pada melepaskan.”


“Ketika aku memilih untuk tetap percaya padamu, memaafkanmu, dan juga bertahan denganmu, bisakah kau berjanji untuk melakukan hal sama padaku.”


“Yakinkan aku jika kamu memang mencintaiku sejak dulu, sekarang, dan hingga nanti akan tetap mencintaiku.”


“Yakinkan aku jika kamu benar-benar merasa beruntung telah dicintai olehku. Oleh duda keras kepala yang terlanjur jatuh hati padamu.”


♡♡♡♡♡♡


“Hanya satu yang menjadi sesalku, andai saja semua curahan hatiku ini bisa ku katakan langsung padanya. “


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2