Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 140. Aku melihat akhirnya


__ADS_3

Tak ada salahnya untuk mencoba berdamai dengan diri sendiri, mengikuti apa dan bagaimana keinginan hati.


Mengapa harus terus menerus membohongi perasaan. Jujurlah.


Aku yakin semua akan baik-baik saja.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


“Apa aku sedang bermimpi?” batin Risa bertanya-tanya.


“Tapi rasanya tak mungkin mimpi,” lanjutnya.


“Risa,” panggil Aydin sekali lagi.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Aydin.


Langkah kaki Aydin semakin mendekat ke arahnya, membuat Risa semakin yakin jika ini bukan hanya sekedar mimpi atau hanya khayalannya saja.


“Ay, kamu kembali?” tanya Risa masih ragu pada kenyataan.


Haruskah kini dirinya mulai mempercayai kekuatan sabar dan waktu, begitu pikirnya.


“Apa benar, ini adalah balasan untukku yang sudah bersedia sabar menunggu?” batinnya.


Aydin kembali, setelah 4 hari pria itu menghilang, dan selama itu pula rasanya Risa kehilangan semangatnya untuk hidup.


Alasannya tentu saja karena dirinya begitu mencintai Aydin. Tapi alasan lain yaitu karena Risa masih belum sempat menjelaskan dan belum sempat memberi pembelaan atas kesalahannya.


Bukan pembelaan untuk dirinya, tapi pembelaan untuk Kirani, sahabatnya.


Mungkin hatinya akan sakit jika Aydin membencinya. Tapi Risa tak ingin Aydin sampai membenci Rani, Ibu dari putranya.


Meski semua berawal dari amanat Rani, tapi Risa merasa bersalah karena tak jujur dan lebih memilih meneruskan kebohongan yg telah dimulainya.


Aydin menarik sebuah kursi agar bisa berhadapan dengan Risa, ditatapnya lekat ke dalam dua netra Risa.


“Risa, maafkan aku,” pinta Aydin.


“Aku mengakui kesalahanku. Harusnya aku bisa menyikapi semuanya dengan lebih dewasa lagi. Sudah sering kali kita seperti ini, dan aku selalu bersikap kekanak-kanakan dengan menghindari masalah dari pada menyelesaikannya,” akunya.


“Maafkan aku juga Ay. Aku salah karena terus membohongimu, bahkan setelah aku yakin cintamu tulus padaku,” balas Risa.


“Sesungguhnya aku sudah memaafkanmu Risa, aku sudah menyadarinya, pasti berat untukmu bertahan denganku, hanya karena sebuah amanat,” ucap Aydin.


Risa menggelengg, Ia balas menggenggam tangan Aydin yang sejak tadi memainkan jemarinya.


“Jangan berpikir seperti itu Ay, apa sampai saat ini kamu belum bisa merasakan cinta tulusku padamu?” tanya Risa.


Tak ada jawaban dari Aydin. Pria itu hanya bungkam, namun dalam hatinya ingin sekali Ia mengatakan perasaannya juga.


Memberitahu Risa jika dirinya merasakan hal yang sama, “Aku juga mencintaimu sayangku, sangat-sangat mencintaimu,” ungkapnya hanya dalam hati.


Ada jalan lain yang telah dipilih Aydin, dan hal itu memaksanya untuk mengubur semua impian masa depan yang bahagia bersama Risa.


Tapi bukankah untuk melalui suatu perjalanan, Aydin memerlukan bekal? Nah, sekaranglah saatnya dia sedang menyiapkannya.


Bungkamnya Aydin juga menimbulkan tanda tanya besar dalam diri Risa.


“Mengapa kamu selalu sulit ku tebak Ay,” batin Risa, “Tanpa perlu ku memohon, tiba-tiba saja kamu kembali, namun saat kamu kembali apa cuma ragamu yang kamu bawa?' lanjutnya.


Risa memperhatikan dengan seksama , inci demi inci wajah Aydin, “Kamu orang dengan fisik yang sama, tapi sepertinya hatimu kini berbeda,” batin Risa rasanya ingin mengadu. Entah pada siapa, yang pasti dia tak akan sanggup jika menyimpan ini terlalu lama.


“Haruskah aku jujur padamu, jika aku sungguh menanti kamu membalas ungkapan cintaku saat ini, aku sungguh menanti saat kamu memanggilku sayang lagi," pintanya dalam hati.


“Kejutan apa lagi yang saat ini kamu siapkan untukku? Apa akan membuatku bahagia? Atau justru hanya akan membuatku bersedih dan kecewa berkali-kali?” lanjut Risa masih membatin.


Hanya dalam hati, hanya batinnya yang berani meminta hal itu.

__ADS_1


“Risa, bagaimana keadaanmu sekarang? Maaf aku lagi-lagi tidak menjagamu,” sesal Aydin.


“Aku sudah lebih baik, jauh lebih baik lagi karena akhirnya kamu kembali,” jawab Risa.


“Kamu benar-benar kembali kan? Tak akan pergi lagi?” tanya Risa.


Dia butuh janji yang bisa Ia pegang lagi, dia butuh komitmen lagi.


Tak ada jawaban, hanya sebuah senyuman.


Bukan senyuman yang tujuannya untuk meyakinkan Risa, tapi senyuman penuh sesal dan maaf karena tak ada jawaban yang pas yang bisa diberikannya atas pertanyaan Risa.


“Syukurlah jika kamu sudah membaik. Karena aku ingin meminta sesuatu padamu,” ucap Aydin.


“Meminta? Apa itu?”


“ Apa kamu akan meminta persetujuanku untuk melanjutkan rencana pernikahan kita? Jika iya, harusnya kamu tak perlu bertanya, tentu saja aku mau,” ujar Risa dengan yakinnya.


Sedang Aydin rasanya kini sedang ditimpa beban yang sangat berat.


“Apa keputusannya salah? Apa dengan kembalinya, Ia sama saja memberi Risa harapan?” batinnya meragu.


Jika Aydin merasa ditimpa beban, apa kabar dengan Risa.


Ia malu, sungguh malu. Dari mana rasa percaya dirinya itu muncul, rutuknya pada diri sendiri.


“Ha.. Ha... Ha..,” Risa tertawa untuk menghilangkan suasana canggung di antara keduanya.


“Jangan terlalu dipikirkan, aku hanya bercanda. Aku masih kesal karena keputusan sepihakmu, dan juga aku kesal karena pihak WO terus saja menghubungiku,” celoteh Risa.


Ia berdiri dari kursinya, melangkah menuju nakas di samping tempat tidurnya.


“Aku haus,” ucapnya asal.


“Bukan, lebih tepatnya aku tak bisa bernapas saat ini, dadaku sesak. Aku mulai menyadari apa tujuanmu kembali,” batin Risa.


“Aydin, apa kamu haus? Jika iya, ambillah di kulkas, sepertinya Amora dan Dafha baru mengisi kulkas kemarin,” ucap Risa tanpa menatap Aydin.


Sementara Aydin terperanjat saat Ia menyadari ada yang berbeda dari ucapan Risa.


“Risa menyebut namaku, bukan lagi Ay,” batin Aydin.


“Harusnya aku sadar Risa bukan wanita bodoh, tentu dari gerak gerikku saja dia sudah bisa menebak semuanya,” lanjut Aydin.


Entah keberanian dari mana, Aydin ikut beranjak dari kursinya. Segera Ia memeluk Risa dari belakang.


Risa yang cukup terkejut awalnya tak ingin merespon apa-apa. Ia berusaha tetap tenang, namun pertahanannya goyah ketika Ia merasa pipinya basah.


“Bukan, itu bukan air mataku. Lalu apa itu air mata Aydin? Apa seberat itu? Kenapa dia harus bersikap seperti ini jika ternyata hal ini juga menyiksanya?” batin Risa.


Risa tak kuasa lagi menahan air matanya.


Deraian air mata kedua insan yang saling mencintai ini menjadi pengganti ungkapan cinta keduanya yang tak dapat lagi mereka ungkapkan dengan kata.


Aydin melepas semua kerinduannya pada Risa. Ia membalik tubuh Risa agar mereka bisa saling menatap.


Perlahan Aydin memeluk tubuh Risa. Pelukan hangat yang mencairkan hatinya yang membeku.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga Aydin mulai serakah.


“Bukankah aku ingin menyimpan semua kenangan tentang Risa, itulah alasanku kembali,” batinnya.


Lalu dengan keberaniannya Ia mulai mencium kening Risa, pipinya, dua netra indahnya, dan terakhir di bibir Risa.


Cup!


“Manis, masih sama, rasanya tak berubah, terus membuatku candu,” batinnya.

__ADS_1


Risa merutuki dirinya, “Harusnya aku menolak, harusnya aku melepas pelukannya sejak tadi, lihat pria ini bahkan sudah berhasil mengecup bibirku,” batin Risa.


Tapi tubuhnya selalu saja mengkhianatinya. Dengan bodohnya Risa membalas ciuman Aydin.


Kini tak ada lagi ciuman lembut, keduanya berciuman dengan sangat menggebu-gebu. Jejak Aydin bahkan sudah kembali menghiasi leher dan bahunya.


“Astaga, bahuku?” Risa baru sadar jika dua kancing teratasnya telah terbuka, itulah mengapa Aydin bisa menguasai bahu Risa.


Posisi keduanya yang berdiri disamping brankar Risa sepertinya sudah membuat Aydin, sesaat lupa atas niatnya.


Perlahan Ia menuntun Risa untuk berbaring disana, namun untung saja Risa yang awalnya terbang melayang, kini sudah kembali berpijak dibumi.


Segera ia melepaskan tautan bibir keduanya.


Sementara Aydin meski harus menelan kekecewaan, tapi Ia sadar jika Ia tak berhak memaksa Risa.


Kini keduanya sudah sama-sama tahu bagaimana nasib dari hubungan mereka. Tinggal bagaimana cara mereka akhirnya pergi. Entah siapa yang akan meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan.


Keduanya masih bungkam, meski hembusan napas masih terus memburu, dan degup jantung masih berdetak dengan cepat, tak ada dari keduanya yang berniat untuk menjauh.


Kedua kening mereka masih menyatu.


“Aku lelah,” ucap Risa setelah berhasil menarik dirinya dari jeratan pesona Aydin.


Ia naik ke brankarnya, berbaring membelakangi Aydin lalu Ia juga menarik selimut menutupi tubuhnya, Aydin tentu sudah paham maksud Risa.


Aydin menghela napas, dengan sisa-sisa keberanian yang Ia miliki, akhirya pria itu ikut naik ke atas brankar.


Memeluk tubuh Risa, “Tidurlah, biarkan aku di sini menemanimu. Jika tak boleh, aku berjanji akan pergi setelah kamu tertidur.”


Dengan mata yang terpejam, air mata kembali berlinang dari sudut matanya, “Tak apa. Tidurlah,” ucap Risa.


“Entah apa yang terjadi sebenarnya pada kita berdua, apa yang menyebabkan semua ini terjadi. Jika kamu berpikir ini masih tentang masalah yang sama, mengenai amanat Kirani, maka kumohon jangan salahkan dia. Salahkan aku saja. Jangan pernah kamu membenci Rani, biar bagaimanapun selamanya dia tetaplah Ibu kandung Dafha,” pinta Risa.


“Melewati hari-hariku bersamamu dan Dafha, meski singkat tapi aku menyadari betapa berharganya kalian, aku bisa mengerti mengapa Rani menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua, sayang sepertinya pilihannya salah.” Ucap Risa disertai tawa yang Ia paksakan.


“Rani benar, pilihannya tidak salah, kamu yang terbaik untuk kami,” sanggah Aydin.


“Jika benar, maka kita tak akan berakhir saling menyakiti seperti ini Aydin,” balas Risa dan berhasil membungkam Aydin.


“Benarkah jika hubungan keduanya salah?” batin Aydin.


“Risa, jika kamu sudah dibolehkan pulang dari Rumah sakit, maukah kamu pergi berlibur denganku? Hanya kita berdua?” pinta Aydin.


“Berlibur? Berdua? Kemana tujuannya?” tanya Risa.


“Kemana saja, ke Bali juga boleh,” usul Aydin.


Risa terkekeh, “Sungguh lucu pria ini, aku yakin itu akan menjadi bagian penutup kisah kita,” batinnya.


“Bali? Mau mengenang saat kamu melamarku?” celetuk Risa tanpa sadar.


“Tak perlu ke Bali, bagaimana jika kita ke Palembang saja? Kita belum sempat ke sana setelah lamaran kala itu. Jadi kamu bisa menepati janjimu untuk mengunjungi makam bundaku, bersamaan kamu juga bisa langsung mengembalikanku padanya,” Ujarnya Risa.


Ucapan Risa baru saja telah sukses menampar Aydin. Risa mengatakannya dengan nada candaan, tapi justru malah semakin menyakiti Aydin.


Aydin mengangguk di balik punggung Risa, “Aku ikut saja,” balasnya.


Risa lalu memaksa agar matanya terpejam, begitu juga dengan Aydin. Keduanya tertidur masih dalam posisi saling berpelukan.


Siapa saja yang melihat akan beranggapan jika keduanya sudah kembali seperti dulu.


Tak tahu saja mereka jika keduanya hanya sedang membohongi perasaan masing-masing, berpura-pura tegar.


Meski pada kenyataannya, keduanya kini masih terus saja berusaha mengulur waktu agar perpisahan tak secepatnya terwujud.


⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Saat kata hati dan kata yang terucap dari mulut berbeda mengenai pandangannya akan cinta, maka saat itu pula kita akan menghadapi dilema yang luar biasa.


Entah apakah kita harus terus menerima atau berhenti menerima, anugerah luar biasa dari Sang Pencipta yang disebut Cinta.


__ADS_2