
Terkadang tidaklah terlihat sikapnya, sering kali kita terpedaya oleh tipu daya karakternya yang baik dan tulus. Padahal sebaliknya, ada niat buruk di dalam hatinya.
Wajahnya memang cantik, namun sayang memiliki dua sisi. Satu sisi Ia akan terlihat bijak dan satu sisi yang lain akan menyakiti dengan kata-katanya.
♡♡♡♡♡♡
Risa menatap ke arah Franda yang kini sedang menikmati sarapannya bersama Aydin.
"Wajah seperti apa yang sedang kau tampilkan?"
Pertanyaan dalam batinnya yang ingin sekali Ia tanyakan pada Franda saat ini.
"Tidakkah fisikmu lelah dengan sandiwara kebaikanmu? Tidakkah rusak mentalmu dengan kebijakan palsumu?"
Dilema kini Risa rasakan, haruskah Ia bertanya langsung? Atau tetap diam dan berharap suatu saat warna asli Franda akan benar-benar terlihat.
Melihat hal ini membuat Risa mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat Ia dikejutkan dengan kedatangan Franda yang menemuinya seorang diri di apartemennya.
Seseorang yang saat itu menjadi tokoh utama dalam kandasnya hubungan percintaan dirinya dan Aydin, datang menemuinya.
Bukannya untuk meminta maaf atau menyesali perbuatannya tapi sebaliknya.
Dengan bangganya Ia mengatakan jika Ia hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Lamunan Risa terhenti saat pintu ruang rawat Dafha terbuka, disusul Gio, Amora, Echa, Esme, dan Ayana.
Risa menyambut mereka dengan senang, disusul Aydin yang ikut bergabung menyambut tamu-tamu Risa yang datang menjenguk putranya.
"Ay, kenalin ini Amora. Saudara kembar Esme," ucap Risa.
"Hai Amora, senang bertemu denganmu. Risa bercerita banyak tentangmu." Ucap Aydin sembari menjabat tangan Amora.
Setelah itu Aydin terlihat menyapa Echa, Esme, lalu Gio secara bergantian.
Sementara Franda kini merasa kesal karena Aydin meninggalkan sarapannya hanya untuk menemui tamu Risa.
" Maaf jika harus mengganggu di saat-saat seperti ini, tapi dari informanku hari ini akan diadakan rapat pemegang saham di Ortiva, menurutku ini saat yang tepat untuk menunjukkan dirimu langsung di sana. Kita beri Ferdinand serangan langsung," ucap Echa.
"Aku setuju, aku suka kalau yang mengejutkan begini. Tidak sabar ingin melihat wajah Ferdinand nanti." Ucap Gio berkomentar sambil terkekeh.
Amora segera menepuk lengan Gio, "Kamu yang serius dong," tegurnya.
Melihat interaksi antara Gio dan Amora membuat Aydin mengernyit. Kedekatan mereka sungguh intens, seperti sepasang kekasih.
"Ya udah kalau semua setuju dengan usul Echa, berarti aku harus siap-siap dulu." Ucap Risa.
Satu yang mereka lupakan yaitu seorang anak kecil yang sejak tadi ikut mendengar obrolan mereka.
Tak ada yang anak itu pahami, kecuali saat wanita yang Ia panggil Mama Risa hendak bersiap untuk pergi.
Tanpa aba-aba tangisannya langsung pecah, menggema di seluruh ruangan.
Huuuuwaaaa....... Huuuuuuwaaaaa.......
__ADS_1
"MAMA RISA TIDAK BOLEH PERGI LAGI NINGGALIN DAFHA!"
cicitnya di sela-sela tangisannya.
"DAFHA HANYA MAU MAMA RISA!"
Cicitnya sekali lagi,bahkan kini tangannya sudah memeluk kuat tubuh Risa hingga selang infus yang masih menancap di punggung tangannya mengeluarkan darah.
Melihat darah di punggung tangannya, membuat tangisan Dafha makin menjadi.
Risa dengan sabar terus memeluk Dafha, Sementara Aydin segera memanggil perawat.
"Bolehkah kalian melakukan rencana ini tanpaku?" Tanya Risa.
"Tentu, aku akan kesana mewakilimu lagi," Jawab Esme.
"Seperti ini juga tak masalah, Esme juga sudah dikenal sebagai manajer dari Kim Risa," Imbuh Amora.
"Tenanglah, aku akan berusaha membawa Risa ke sana." Sela Aydin saat mengantar rombongan Gio CS keluar dari ruang rawat Dafha.
"Lagian aku juga harus hadir di sana karena turut menerima undangan juga." Ujar Aydin.
"Apa maksudmu?" Tanya Gio.
"Apa jangan-jangan kamu pemilik saham yang misterius itu yah?" Lanjutnya.
Yang ditanggapi dengan tawa oleh Aydin.
"Saham itu harus kembali kepada seseorang yang menjadi alasanku membelinya." Jawab Aydin.
"Tidak semua yang saling mencintai, harus saling memiliki." Balas Aydin dengan senyum.
Setelah memastikan rombongan Gio CS pergi, Gio kembali ke kamar Dafha.
Dilihatnya kini putranya telah kembali berbaring dengan Risa yang memeluknya.
Aydin mendekat mengatur selimut agar menutup paha Risa yang terekspos, "Godaannya sungguh menguji iman." Batin Aydin.
Ia mencium puncak kepala Dafha, lalu menepuk lengan Risa lembut.
Dan semuanya tak lepas dari sorotan mata Franda.
Seringai terbit di wajah Risa tatkala netranya bertemu dengan tatapan Franda.
Aydin kembali mencoba memberi pengertian pada putranya, agar mengerti jika Risa kini harus pergi bekerja terlebih dulu.
Segala drama bujuk rayu, dan janji jika selama Dafha di rumah sakit Risa akan bermalam bersamanya, barulah akhirnya Dafha mengerti.
Rasanya aneh saat Risa kembali berduaan bersama Aydin di dalam mobil.
Risa terus bungkam sambil menatap jalan yang mereka lalui melalui jendela di sampingnya.
Segala kenangan mereka saat berduaan di mobill seperti saat ini terbayang dengan jelas di benak Risa.
__ADS_1
"Huhh... Masih jauh lagi gak?" tanya Risa yang sudah tak sabar.
"Harusnya sedikit lagi kita sampai kok, seandainya tidak ada kemacetan seperti ini." Jelas Aydin.
Risa tidak menjawab lagi, keduanya terus bungkam . Membiarkan keheningan melakukan keinginannya, entah Ia akan membunuh kerinduan ini atau malah makin memupuknya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sementara di depan salah satu ruang rapat perusahaan Ortiva Construction, sedang terjadi perdebatan antara Tristan sekertaris Ferdinand dan Echa .
"Tuan anda bisa saja dituntut karena telah membuat keributan," ucap Tristan mengancam Echa.
"Kenapa kami tidak boleh masuk? Silahkan saja menuntut kami, dan aku akan balik menuntutmu karena tidak mengizinkan para pemilik saham untuk mengikuti rapat." Balas Echa.
"Saya tidak menghalangi Tuan, yang boleh mengikuti rapat hanyalah Tuan Giovanni Ezra. Hanya beliau yang namanya tercatat sebagai salah satu pemilik saham di perusahaan kami." Balas Tristan tak ingin mengalah.
"Gio, sepertinya sulit untuk kita masuk kesana," ucap Amora.
"Sebenarnya mudah jika menggunakan kekuasaanku." Balas Gio.
"Maka lakukanlah Gio, tunjukkan betapa berkuasanya dirimu sayangku," bujuk Amora.
"Apa imbalan untukku?" Gio mencoba membuat kesepakatan yang menguntungkannya.
Amora sudah tahu apa yang diinginkan pria mesum yang sayangnya Ia cintai.
"Malam ini kau boleh melakukannya sebanyak yang kau mau sayang," tawar Amora.
Gio menyeringai lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Tak berselang lama, Gio menghampiri Echa yang masih berdebat dengan Tristan.
"Echa biarkan sang penguasa melakukan tugasnya sekarang," ucap Gio dengan angkuhnya.
"MINGGIR!" Bentaknya pada Tristan.
"I..ii..iya Tuan," balas Tristan gugup.
"Dan awas saja jika kau menghalangi jalan para pemegang saham yang lainnya," peringatnya.
Gio lalu berjalan lebih dulu memasuki ruangan disusul Echa, Amora, dan Esme.
Dapat dilihatnya kini Ferdinand yang terkejut karena kehadiran mereka.
"Maaf kami terlambat, tapi tentunya kami selaku para pemegang saham tidak ingin melewatkan rapat kali ini. " ucap Gio dengan sedikit berteriak.
Ferdinand menatap Tristan yang hanya menggeleng, Ia tidak bisa mencegah mereka masuk karena kini semuanya memilik 5% saham yang di pecah dari saham milik Gio.
Ferdinand mengepalkan kuat tangannya, sementara para pemilik saham yang lainnya yang mengenal bagaimana watak seorang Giovanni Ezra lebih memilih diam.
Rapat terus dilanjutkan, dengan agenda pembahasan anjloknya harga saham Ortiva Construction secara tiba-tiba.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
"Nobody deserves misery but sometimes it’s just your turn."
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡