
Aku ingin bahagia hari ini.
Aku ingin dicintai hari ini.
Aku ingin menggapai impianku hari ini.
Dan yang harus kulakukan pertama kali adalah bangun dari mimpiku, bersyukur, dan mulai hari ini dengan pikiran yang postif.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Ma.... Mama Risa,”
“Ma.... Mama Risa,”
“Ma.... Mama Risa, bangun Ma, bangun Ma.”
Samar-samar Risa mendengar suara melengking anak laki-laki yang memanggil-manggil namanya.
Wajahnya mulai terasa sedikit basah, ketika kecupan demi kecupan mendarat di wajahnya.
Perlahan Risa mengerjapkan kedua matanya.
Dilihatnya wajah tampan anak laki-laki yang sudah Ia sayangi layaknya putra kandungnya sendiri.
“Dafha, sayangnya Mama Risa.” Ucap Risa lalu menarik anak itu kedalam dekapannya.
“Jam berapa sekarang?” tangannya merogoh ke atas nakas untuk mengambil ponselnya.
“Sayang, ini belum jam 6 kok kamu udah kemari? Daddy mana?” cecar Risa.
“Daddy katanya harus ke kantor lebih dulu.” Jelas Dafha.
Risa memilih menghubungi Aydin untuk mendapatkan penjelasan.
Tuut.... Tuut.... Tuut....
“Halo,” terdengar suara wanita yang menerima telepon.
“Hufffttttt,” Risa mendengus kesal.
“Masih pagi buta gini, please... aku malas banget ngedrama,” batin Risa.
“Aydin mana?” tanyanya ketus.
“Bapak lagi ke toilet,” jawab wanita yang ternyata adalah Sesil, sekertaris Aydin.
“Ya udah, sampaikan pada Aydin jika aku menghubunginya.”
Namun belum sempat Risa memutus sambungan telepon, samar-samar Ia mendengar suara Aydin yang tengah menegur sang sekertaris.
“Beraninya kau menyentuh ponselku!” Bentaknya.
"Halo sayang, maaf tadi aku ke toilet dan ponselku tertinggal di ruangan meeting." Jelas Aydin panjang lebar, Ia khawatir Risa akan salah paham.
“Halo Ay, udah ah... Masih pagi juga udah marah-marah.” Tegur Risa.
“Gak marah sayang, aku hanya gak mau kamu salah paham lagi.” Elaknya.
“Ay, lagi ada masalah di perusahaan yah? Reschedule aja liburannya.” Saran Risa.
“NO!”
Aydin dan Dafha menolak usulan Risa secara bersamaan meski mereka berada di tempat yang berbeda.
“Bukan masalah Sayang, hanya sedang ada uji coba program baru.” Lanjut Aydin menjelaskan.
Setelah panggilan berakhir, Risa yang sudah tidak bisa kembali memejamkan matanya memilih untuk bersiap-siap.
“Boy, kamu mau gak ngejutin Daddy? Kita susulin Daddy ke kantor yuk.”
Dafha mengangguk antusias sambil sesekali melompat kegirangan di ranjang empuk Risa.
Meski belum paham benar, bagi Dafha yang namanya kejutan itu pasti menyenangkan.
Jadi dia setuju-setuju saja dengan ide dari wanita yang Ia panggil Mama.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sesampainya di perusahaan milik kekasihnya, Risa yang datang bersama dengan putra pemilik perusahaan mengundang tanya beberapa karyawan yang juga ternyata telah tiba lebih dulu.
__ADS_1
Sebagian besar pria yang melihat mereka, dengan beraninya menatap kagum secara terang-terangan pada Risa, membuat Dafha menjadi kesal.
Dafha segera berlari dan berhambur memeluk sang Daddy yang tengah membaca sebuah buku.
“Ada apa Boy?” tanya Aydin.
Pria itu cukup terkejut dengan kehadiran kekasih dan putranya.
“Dad, aku sebal pada karyawan pria Daddy,” adunya.
Kening Aydin mengernyit, “Kok bisa?”
“Mereka gak berhenti mandangin Mama Risa.” Ucap bocah itu dengan bibir yang mengerucut karena sedang dalam mode sebal dan cemberut.
Aydin beralih menatap penampilan sang kekasih.
Menelisik dari bawah hingga ke atas penampilan Risa.
Celana highwaist putih dengan detail garis timbul berwarna senada, “Oke, sangat Pas untuk kaki jenjang dan perut rata Risa.” Batin Aydin mengagumi tubuh wanitanya.
Hingga akhirnya, Aydin menyadari jika pakaian yang dipakai Risa sungguh mampu membuat siapa saja tak akan rela berpaling darinya.
Croptop hitam dengan belahan dada rendah, bahkan di bagian dadanya ada detail tali yang saling menyilang untuk menyatukan kedua sisi kiri dan kanan.
“Oh God, sayang.” Gumamnya.
Aydin segera menurunkan Dafha dari pangkuannya, lalu memanggil Sesil ke ruangannya.
“Tolong ajak Dafha jajan ke kantin, lihat apa ada cemilan yang Ia suka disana.” Titahnya.
Dafha dengan senang hati menjalankan perintah dadakan Daddynya, karena sebenarnya selain Amora , Dafha juga memuji kecantikan sekertaris baru Daddynya. Bocah itu semakin percaya jika yang namanya kejutan akan selalu menyenangkan.
Setelah kepergian putranya, Aydin mengajak Risa masuk ke ruang pribadi miliknya. Tempat yang menjadi kenangan ciuman pertama bagi keduanya.
“Ay, jangan aneh-aneh deh. Mending kamu sekarang siap-siap sebelum kita ketinggalan pesawat.” Peringat Risa.
Ia bisa menduga apa yang ada di pikiran pria dengan tatapan berkabut yang kini sedang menatapnya.
Ciuman lembut Aydin mampu membuat otak Risa buntu, hanya satu hal yang Ia pahami kini yaitu membalas ciuman Aydin.
Saling mencecapi rasa manis dari bibir masing-masing, lantas tidak membuat Aydin berhenti.
“Apa kamu tau sayang, alasan pria pria di luar sana teralihkan oleh pesonamu?” Tanya Aydin dengan suara seraknya.
Risa menggeleng, Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak saat jari Aydin menyusuri kulit mulusnya, mulai dari leher hingga jari itu bermain di bagian atas dadanya yang tidak tertutup.
“Alasannya ini sayang, mereka mengagumi setiap inci dari tubuhmu yang tidak kau tutupi.” Ucap Aydin, sedikit tak jelas karena Ia mengatakannya sambil bibir dan lidahnya turut mengambil bagian dalam permainan di leher dan dada Risa.
“Euunnngghh,” lenguhan lolos dari bibir Risa.
Aydin semakin terbakar hasratnya.
Perasaan menggebu-gebu tiba-tiba saja Aydin rasakan saat melihat Risa menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam, juga lenguhan Risa melengkapi pemandangan indah akibat sensasi rasa yang berhasil Aydin berikan pada wanitanya.
Satu jejak kemerahan di ceruk leher Risa, membuat Aydin tersenyum saat melihatnya. Sudah dipastikan kekasihnya ini akan protes.
Aydin perlahan menuntun Risa untuk berjalan mundur, hingga wanita itu kini berbaring di ranjang dengan Aydin yang mengungkungnya dari atas.
“Aku sudah ingatkan kamu untuk tidak memakai pakaian yang terlalu terbuka sayang.” Ucap Aydin, pria itu dengan perlahan menarik simpul tali yang menyatukan dua sisi pakaian Risa.
“Ini biasa aja kok, kamu aja sama pria-pria itu yang otaknya mes*m.” Balas Risa membela diri.
Gerakan tangannya sengaja Ia percepat sehingga simpul tali terlepas dan menampakkan dua keindahan, dua gundukan yang Ia puja.
Tangan nakal Aydin tak tinggal diam, dengan gerakan cepat dan tak beraturan tangan itu mampu membuat dua gundukan milik Risa mengantarkan kenikmatan bagi pemiliknya.
Lenguhan Risa tertahan oleh bibir Aydin yang terus mencumbunya.
Deru napas tak beraturan saling berpacu dari kedua insan yang tengah dimabuk hasrat.
“Sayang, bantu aku. Bantu aku menyelesaikannya.” Ucapan ambigu terlontar dari bibir Aydin yang tengah berbisik pada kekasihnya.
Namun siapa sangka, meski ambigu, Risa seperti paham keinginan prianya.
Dengan sekali gerakan Risa mengubah posisi keduanya. Dan tak lama setelah itu terdengar geraman tertahan dari Aydin saat Risa mulai melakukan permintaan kekasihnya.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sebuah pesawat mendarat dengan aman di landasan bandar udara internasional Ngurah Rai Bali.
Pesawat yang membawa sekitar 314 penumpang dari Jakarta menuju Bali ini, berangkat dan tiba tepat waktu.
Dari sekian banyak penumpang yang turun, terlihat 3 orang yang mampu membuat orang lain berdecak kagum.
“Keluarga harmonis,” bisik salah seorang remaja pada rekannya.
“Romantis sekali pria itu,”
“Aku juga mau jadi anaknya dong,”
“Bukankah wanita itu mirip model yang lagi naik daun yah?”
Begitulah bisik-bisik dari orang sekitar, yang bisa didengar Risa dan Aydin.
Keduanya tidak terlalu memedulikannya, hingga seorang gadis yang berdiri tak jauh dari Aydin menatap pria itu dengan tatapan menggoda.
“Aku mau kok meski jadi sugar baby, Om.” Ucap gadis itu terang-terangan, sontak membuat Risa menatap tajam padanya.
Gadis itu seolah tak peduli pada Aydin yang tengah menggendong Dafha, dan satu tangan lainnya melingkari pinggang Risa.
Ketiganya bergegas meninggalkan bandara setelah bertemu dengan supir dari villa yang menjemput mereka.
Mobil melaju meninggalkan hiruk pikuk di Pantai Kuta, menuju daerah di Kuta Selatan, kabupaten Badung.
Dafha yang kini tertidur di pangkuan Risa, serta tangan Aydin yang tak pernah lepas merangkul pinggang atau pundak wanitanya, membuat siapapun yang memandang akan mengira mereka adalah keluarga kecil harmonis yang ingin menikmati family time di Bali.
Setelah 45 menit menempuh perjalanan dari Bandara, Risa meminta supir agar membawa mereka ke restauran untuk makan siang lebih dulu sebelum menuju ke villa.
Supir yang bernama Made menawarkan sebuah restauran yang lokasinya tak jauh dari Villa. Restauran dengan tempat yang nyaman juga menghidangkan jenis-jenis makanan sehat. Tanpa berpikir lagi, Risa menyetujui usulan Pak Made. Apalagi sejak 10 menit yang lalu setelah terbangun, pria kecilnya tak henti mengeluhkan jika Ia lapar.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Meninggalkan kebahagiaan dan keseruan calon keluarga kecil yang tengah menikmati family time mereka di Bali.
Di Ibu kota Jakarta, seorang pria yang baru saja tiba dari Benua Amerika harus menelan kekecewaan saat dirinya tak berhasil menemui wanita yang menjadi alasan utamanya pulang ke negara asalnya.
Mengambil resiko dengan tidak mengindahkan peringatan dari dokter mengenai kondisinya, bahkan saat ini pria itu lupa jika Ia belum mengisi kembali lambungnya dengan asupan makanan, karena sangat bersemangat dan tak sabar menemui wanita yang Ia puja-puja sejak 11 tahun yang lalu.
“Maaf tuan, tapi Miss Risa sudah tidak bergabung dengan agensi kami. Miss Risa kini memiliki agensi modelling sendiri.”
Jelas resepsionis, saat Romi menanyakan apa yang diperintahkan oleh bos barunya.
“Boleh saya minta kontak Risa?” pinta Eijaz sedikit memaksa.
Romi bisa melihat jika wanita di hadapan bosnya kini menatap curiga pada mereka berdua.
Romi yakin jika itu karena tingkah bosnya yang tidak sabar dan terkesan memaksa ingin bertemu wanita yang bernama Risa.
Benar saja dugaan Romi, resepsionis itu menghindar dengan alasan harus meminta izin pemilik kontak terlebih dahulu.
Namun saat wanita itu mencoba menghubungi, manager Risa menolak untuk memberi informasi. Terlebih Risa sedang tidak berada di Jakarta.
“Memangnya tampangku seperti penjahat?” tanya Eijaz pada Romi setelah mendengar pendapat asistennya mengenai sikapnya yang sedikit berlebihan saat berbicara dengan resepsionis tadi.
“Bukan tampang Pak, tapi sikap. Kalau tampang, mungkin 10 gadis akan rela mengantri jika anda mau.” Jawab Romi dengan pujian kepada bosnya.
Akhirnya Eijaz tersenyum, hilanglah sudah kekesalannya tadi. Begitulah seorang Eijaz, pria berhati lembut yang sangat sulit untuk marah.
”Aku akan mengajak sahabatku untuk makan siang bersama. Mungkin dia bisa membantuku menemukan Brisa, semoga saja.” Ucap Eijaz dengan harapan besar didalam hatinya.
“Sekarang antarkan aku ke perusahaan Ohana Tech, kamu tau tempatnya?” Lanjutnya.
Romi mengangguk, dan segera melajukan mobil menuju gedung perusahaan yang disebutkan bosnya. Tak perlu aplikasi penunjuk arah, karena sebagian besar pelaku bisnis pasti mengetahui perusahaan IT tersebut.
Perusahaan yang berkembang sangat pesat karena kejeniusan sang CEO. Bahkan baru-baru ini perusahaan itu hampir saja terpuruk, namun saat sang CEO sudah mulai turun tangan, tanpa berlama-lama Ohana Tech mampu bangkit kembali. Mengamankan kembali tempatnya sebagai perusahaan IT nomor 1 di Indonesia.
Saat Romi tengah menunggu Eijaz di lobby perusahaan Ohana Tech, Ia iseng mencari tahu seperti apa sosok model yang sangat ingin ditemui oleh bos barunya.
"Kim Risa, model Korea Selatan yang berasal dari Indonesia dengan nama asli Brisa Elzavira." Gumam Romi saat membaca satu artikel terbaru mengenai Risa.
"Pantas saja si Bos tergila-gila, sayang sekali jika Bos sampai tidak berhasil mendapatkan hati wanita secantik ini." Batin Romi.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
“Tiba masa dimana kamu merasa jika sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia, karena sejatinya keluarga adalah harta terbesar yang tidak perlu kamu cari. Bersama keluarga akan selalu ada cinta untukmu, cinta tanpa syarat, cinta yang menerima kamu apa adanya.”