
Keputusan yang baik datang dari pengalaman, dan pengalaman berasal dari keputusan yang buruk.
Lalu kembali ku bertanya pada hati apakah merelakanmu akan menjadi keputusan terburukkku.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Benar jika tempat ternyaman adalah rumah. Dan tak bisa Aydin pungkiri jika selama ini hatinya telah yakin memilih Risa sebagai rumah.
Sejak beberapa hari terakhir netra Aydin yang sangat sulit terpejam. Dan semalam adalah yang terburuk, sebab Aydin tidak tidur sama sekali. Beberapa kali Ia paksakan untuk tidur, namun hasilnya tetap sama.
Namun kini dengan mudahnya, netra Aydin terpejam dan membawa sang empunya berlayar ke dunia mimpi.
Sementara Risa, yang kini berada dalam dekapan Aydin terus mengutuk dirinya. Dengan mudahnya menerima semua perlakuan Aydin padanya.
“Cinta. Aku mencintainya dengan segenap ketulusan yang kumiliki,” batin Risa.
Sebuah jawaban singkat dari berbondong-bondong pertanyaan yang Risa yakin akan Ia terima.
“Bukan, aku bukannya bodoh dan tak menyadari jika pria yang mendekapku erat ini adalah pria yang sebentar lagi akan mendorongku menuju jurang kehancuran,” batin Risa terus menguatkan dirinya sendiri.
“Aku hanya terlalu lemah. Hatiku terlalu lemah jika hal itu menyangkut Aydin,” ungkap Risa dalam hati.
“Aku tak bisa dengan mudahnya mengambil keputusan, karena di balik semua kelambatanku mengambil keputusan, ada segudang perhitungan karena ingin memastikan yang terbaik untukmu,” lanjutnya membatin.
Setelah merasa hembusan napas Aydin lebih teratur, dengan perlahan Risa membalikkan tubuhnya hingga kini dia bisa menatap wajah tampan Aydin.
Ditatapnya lekat wajah tampan prianya. Dengan sangat pelan, Ia belai rahang kokoh Aydin.
“Ay, sejak kecil aku selalu bertanya apa kesalahan yang telah kubuat hingga hidup seolah tak mengizinkan aku merasakan bahagia lebih lama,” ucap Risa. Suaranya sangat pelan seperti sedang berbisik.
Risa tak ingin mengganggu tidur lelap Aydin.
“Sepuluh tahun, aku tak mengizinkan siapapun mengetuk pintu hatiku, aku tak ingin lagi merasakan sakit hati ketika orang yang kusayangi menyakitiku,” lanjutnya.
“Tapi bersamamu, dengan mudahnya hatiku mengizinkanmu masuk. Hatiku bahkan rela ketika kamu sakiti berulang kali,” Risa berusaha menahan tangisnya.
“Ay, mengapa disetiap langkahku menuju kebahagiaan, yang letaknya bahkan tak jauh dari pandanganku, tapi disaat yang sama kebahagiaan seperti terus melangkah mundur menjauhiku,” keluh Risa.
“Seperti saat ini, hati kecilku harusnya sudah membuat sebuah keputusan untuk kita berdua. Beri aku pilihan Ay, apa aku harus mengikuti keputusanku saat logikaku ikut serta dalam memutuskan? Atau apa aku perlu untuk untuk mengikuti keputusan murni dari hatiku, tanpa ada campur tangan apapun dan siapapun?”
Risa sekuat tenaga menahan isakan yang memaksa untuk bebas.
Air mata rasanya ingin sekali melesak keluar, air mata yang membawa kepedihan hatinya.
Lalu tiba-tiba, tanpa Risa duga Aydin menarik tubuhnya untuk semakin mendekat kearahnya. Semakin rapat hingga Risa bisa mendengar degupan jantung Aydin yang tidak lagi beraturan.
Ternyata sejak tadi Aydin sudah terbangun, tepat ketika Ia merasakan belaian lembut tangan Risa di wajahnya.
Hati Aydin yang sudah perih karena luka, rasanya semakin sakit karena setiap kata yang risa ucapkan bagai menambah sayatan di hatinya.
Berkali-kali Aydin mengecup puncak kepala Risa, berharap Risa mengetahui isi hatinya yang sebenarnya, isi hati seorang pria pengecut sepertinya.
“Haruskah kita lari? Haruskah kita pergi saja meninggalkan semua kehidupan kita yang sekarang? Kita pergi ke tempat yang jauh, sangat jauh, memulai kehidupan kita berdua, hanya berdua, tanpa ada masa lalu yang membayangi,” tanya Aydin.
Aydin yang lelah menunggu jawaban, dan Risa yang tak tahu harus memberi jawaban apa, pada akhirnya terlelap dengan saling berpelukan erat.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Sementara di sebuah ruang perawatan VVIP yang tak jauh dari ruangan tempat Risa dan Aydin tengah terlelap, Eijaz yang tadinya pergi dengan senyum sumringah di wajahnya kini kembali dengan raut wajah yang datar.
__ADS_1
“Nak, kamu sudah kembali? Apa kamu sudah bertemu Risa?” tanya Bunda Nadine.
Hanya gelengan kepala putranya yang Ia dapatkan sebagai jawaban.
“Apa Risa tidak ada? Mungkin dia hanya pergi sebentar, harusnya kamu menunggunya Nak,” ucap Bunda Nadine tanpa tahu apa yang telah dilihat oleh putranya.
“Menunggu Bun? Bunda bilang menunggu? Sampai kapan? Kira-kira sampai kapan aku bisa bertahan dengan sel kanker yang terus menggerogoti tubuhku?” tanya Eijaz.
Tersirat keputusasaan dan rasa lelah di dalam setiap kata yang Ia ucapkan.
Semangat Eijaz untuk sembuh dan menjalani semua proses pengobatan yang sungguh melelahkan dan menyakitkan, adalah cintanya pada Brisa tak pernah Ia sampaikan.
Setelah beberapa waktu lalu, dirinya dengan sadar telah berpura-pura tegar dan kuat di hadapan Aydin jika dia sudah merelakan Brisa.
Semuanya bohong, Eijaz menipu Aydin dan juga menipu dirinya. Walau setitik tak ada yang berkurang dari perasaannya pada Brisa.
Sempat terpikir betapa jahat dirinya sebagai seorang sahabat, saat tahu jika Brisa dan Aydin bertengkar dan Aydin pergi, ada sedikit rasa syukur di hatinya, berpikir jika mungkin saja ini adalah peluang untuk dirinya.
Bahkan hanya demi sedikit peluang itu, Aydin meminta Romi untuk memastikan kebenarannya.
Eijaz tertawa, pria itu tertawa terbahak-bahak menertawakan betapa lucunya apa yang telah Ia perbuat.
“Eijaz... Hei nak, ada apa? Ada apa denganmu? Apa yang terjadi Nak?” Bunda Nadine mulai cemas melihat tingkah Eijaz. Tawanya menyimpan kepedihan yang ingin dia sembunyikan, batin seorang Ibu yang berkata seperti itu.
Masih dengan tawa yang dipaksakan, “Aku salah Bun, ku pikir Tuhan merasa sudah cukup penderitaanku karena penyakit sialan ini. Lalu Ia akhirnya memberiku kesempatan untukku bisa bersama Brisa, tapi ternyata semua hanya anganku saja."
“Nak.... Bunda semakin tak paham apa yang sedang kamu bahas?”tanyanya.
“Aydin telah kembali, dan.. dan.. mereka kembali bersama,” jelas Eijaz setelah mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya.
Sontak saja berita itu mengejutkan Bunda Nadine, “Lantas apa ini jawaban atas permintaannya pada Aydin? Apa Aydin tetap ingin mempertahankan Risa?” batin Bunda Nadine.
Entah bagaimana Bunda Nadine harus bereaksi, kemarin baru saja dia dan Aydin membahas hal ini dan Aydin terlihat sangat mengkhawatirkan putranya.
“Bun... Bun... Bunda...” seru Eijaz.
Eijaz mengamati reaksi Bundanya yang sangat terkejut dengan ucapannya.
“Ada apa Bun? Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?” tanya Eijaz.
Bunda Nadine hanya menggeleng.
“Bun... Please, sudah cukup Bunda tak jujur padaku soal penyakitku yang terus saja memburuk,” ucap Eijaz.
“Kumohon, jika ada sesuatu jangan lagi sembunyikan dariku,” pinta Eijaz.
Bunda Nadine mengangguk, “Apakah seorang Ibu berdosa jika berbohong pada putranya? Bagaimana perasaan Eijaz jika tahu hubunganku dengan masa lalu Brisa? Atau bagaimana jika Eijaz tahu jika aku sudah meminta Aydin meninggalkan Brisa?”
“Maaf Nak, tapi Bunda belum sanggup jika harus dibenci olehmu,” batin Bunda Nadine.
“Sebaiknya kita besiap, Bunda sudah meminta Romi mengurus administrasi rumah sakit. Kamu bisa kembali ke rumah hari ini,” Ucap Bunda Nadine mengalihkan pembicaraan.
Eijaz mengangguk, meski dalam benaknya masih ada kecurigaan tapi tak akan Ia tampakkan.
“Maaf Bunda, tapi aku tak ingin kejadian dulu yang menimpa Ayah terjadi kembali, jadi akan ku cari tahu sendiri apa yang Bunda sembunyikan dariku,” batin Eijaz bertekad.
⚘⚘⚘
Kini Eijaz, Bunda Nadine, dan Romi sudah dalam perjalanan pulang ke rumah dengan keheningan sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Sepertinya ketiganya memiliki beban pikiran masing-masing.
Romi yang sudah bertekad menyelidiki sesuatu yang disembunyikan Ayahnya dan Nyonya besar mulai mendapatkan satu per satu petunjuk yang mulai terkuak.
Dari penyelidikannya, hal yang disembunyikan ini berkaitan dengan Tuan dan Nyonya Besarnya, Tuan Ferdinand yang tak lain adalah Ayah Brisa, juga Ibu kandung dan Ibu tiri Brisa.
Yang membuat Romi bingung bagaimana kelima orang ini saling berhubungan meski tak pernah ada latar belakang yang menghubungkan mereka.
Romi semakin bersemangat mencari tahu, Ia khawatir jika bosnya Eijaz mengetahui kebenaran ini di saat waktunya sudah terlambat.
Tak jauh beda dengan Romi, kini Bunda Nadine sedang sibuk dengan ponselnya. Ia terus saja menghubungi Mike, sekertarisnya yang tak lain adalah ayah Romi.
“Aku harus bicara pada Ferdinand dan wanita jal*ng itu. Aku harus memastikan kisah itu terkubur dengan kepergian Faruq dan Laksmi,” batinnya.
Sementara Romi dan Bunda Nadine sibuk dengan hal yang mereka rahasiakan, Eijaz sendiri sedang merutuki dirinya yang terus tetbayang apa yang tadi Ia lihat.
Semakin jelas bayangan itu, semakin sakit pula hatinya. Eijaz datang di saat yang tidak tepat. Di saat Aydin dan Risa sedang bercumbu hingga tak menyadari jika seseorang masuk ke ruangan itu.
Hanya melihat sekilas saja, rasanya hati Eijaz sudah berdarah-darah.
“Aku terlambat, harusnya aku menyadari kehadiranmu sejak dulu, sebelum kamu bertemu dengan Aydin, atau sebelum ada wasiat sialan itu yang membawamu pada Aydin,” gerutu Eijaz.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Kembali ke rumah sakit, di ruang perawatan VVIP tempat seorang model tengah di rawat, Risa dan Aydin yang masih terlelap dengan posisi saling berpelukan mulai merasa tidur mereka terganggu.
Suara beberapa orang yang mengobrol dan sesekali tertawa, samar-samar terdengar dan mengganggu damainya mimpi Risa dan Aydin.
Perlahan keduanya mengerjapkan matanya, dan saling berpandangan netranya telah terjaga dengan sempurna.
Kening keduanya mengernyit karena suara samar tadi semakin terdengar jelas.
“Kalian sudah bangun?” tanya Mama Indira.
“Kemarilah, kita makan malam bersama,” Eomma Martha ikut menimpali.
Sementara Risa dan Aydin saling memandang, tanpa perlu berucap keduanya sudah tahu apa yang ada di pikiran masing-masing, bagaimana cara mereka menjelaskan kepada semua orang yang sudah pasti melihat apa yang terjadi.
“Kenapa malah diam, pertengkaran sebelum pernikahan itu biasa terjadi. Melihat kalian berdua baik-baik saja sekarang, Mama jadi tenang,” ucap Mama Indira.
Risa dan Aydin hanya bungkam.
Bagaimana cara menjelaskan jika mereka berdua sudah tahu jika pada akhirnya mereka tak akan pernah ke jenjang pernikahan,
jika mereka berdua tinggal menunggu waktu untuk kata putus itu terucap, entah dari bibir siapa yang lebih dulu.
⚘⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘⚘
Hatiku masih terukir namamu.
Hatimu masih terukir namaku.
Mataku hanya bisa menatap dengan penuh cinta padamu.
Matamu hanya bisa menatap dengan penuh cinta padaku.
Pikiranku masih terus membayangkan sosokmu.
Pikiranmu masih terus membayangkan sosokku.
__ADS_1
Tapi apa yang kita dapatkan setelah semua keputusan ini, kekosongan.
Lantas apa yang lebih sakit dari pada saling mencinta tapi tak bisa bersama.