Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 134. Curahan hati Risa


__ADS_3

Sedih, tiap kali membayangkan masa depan yang bahagia bersamamu.


Sedih, tiap kali impian indahnya masa depan bersamamu kembali menghiasi lelapku.


Sepertinya semesta tak merestui kita berdua, hingga cinta menjadi usang karena situasi yang tidak sesuai harapan.


♡♡♡♡♡♡♡♡


RISA POV


“Bagaimanapun alasannya, tak ada perpisahan yang akan berakhir indah. Dari tempatku berdiri kini bayangan perpisahan itu sudah semakin jelas terlihat."


“Meski aku tahu jika luka dari perpisahan akan sulit untuk dilupakan, tapi tak pernah ada sedikitpun penyesalan pada kenyataan, bahwa aku telah mencintaimu."


"Satu-Satunya penyesalanku hanyalah hubungan kita yang tidak bisa dilanjutkan. Perasaan cintaku belum berhasil menyentuh bagian terdalam dari hatimu. Entah karena bagian itu masih dimiliki orang lain, atau kamu yang memang tak pernah mengizinkanku masuk.”


"Akhirnya hari itu tiba, hari di mana semua rahasia akan terungkap. Aku sudah menduga rahasia ini tak akan bisa terus ku sembunyikan, tapi tak pernah terpikir inilah saatnya dan fakta jika aku belum siap."


"Siap untuk apapun itu, siap untuk memberi alasan dan memohon maafnya, atau siap untuk terima jika kebohonganku tak termaafkan dan perpisahan sebagai akhirnya."


“Aku yakin bagaimanapun nantinya, tak akan mudah bagiku untuk melupakan dirimu.”


“Kamu yang sudah menjadikan hari-hari yang kita lalui menjadi lebih indah. Kamu yang menjadikan ku percaya, jika tak ada yang menolak kebahagiaan yang ditawarkan oleh cinta.”


“Tapi saat kamu menawarkan kebahagiaan itu, aku sempat lupa jika selalu ada kesedihan yang membayanginya. Kesedihan yang aku tanam sendiri, kesedihan yang bersumber dari kesalahanku memulai dengan alasan yang salah."


“Aku benci hari ini!”


“Ingin sekali kuteriakkan kalimat itu. Aku ingin semua orang tahu bagaimana hancurnya perasaanku kini. Kehilangan kepercayaan karena 1 hal kecil sungguh bisa menghapus setumpuk kebaikan yang kubuat.”


“Aku benci perasaan takut kehilanganmu. Secara bersamaan pula aku benci melihat bagaimana kecewanya dirimu. Dan semua itu karena satu kebohongan yang kubuat.”


“Aku benci saat aku menjadi bodoh. Bodoh karena air mataku sendiri tak dapat ku hentikan. Bisakah kamu membantuku menghentikannya, seperti yang biasa kamu lakukan, Ay?”


“Namun hatiku kembali perih, hanya karena 2 langkah mundur yang kamu ambil untuk memberi batasan jelas bagi hubungan kita saat ini. Kenyataan pahit jika saat ini kamu sedang menghindariku. Lalu seiring waktu kamu akan terus menjauh, jauh, semakin jauh, hingga semua cinta dan kenangan indah kita tak ada lagi yang tersisa meski hanya setitik."


“Haruskah tangisku yang tak henti-henti ini ku jadikan sebagai pintu pelepasan? Melepaskanmu, pria yang paling kucintai dengan segenap hatiku, pria yang menjadi penenang batiku, sekaligus pria yang paling membingungkan bagiku”


“Sekarang tak ada lagi yang bisa ku lakukan, selain menerima kenyataan. Suatu kesalahan terbesarku, yang sempat terlena dengan kebahagiaan yang ku anggap nyata namun ternyata kamu anggap semuanya semu. Aku melupakan satu kesalahan yang ku lakukan untuk mengawali semuanya."

__ADS_1


"Sungguh, perpisahan memang telah terpikirkan olehku sejak aku memulai tanpa kejujuran. Namun tak pernah terbayangkan jika rasanya akan sesakit ini. Tak pernah terbayangkan jika hal itu terjadi ketika hatiku telah menjadi milikmu. Rasanya perih Ay, sangat perih seperti seribu belati tengah menyayatnya, ketika melihat bayangan punggungmu yang pergi menjauh, meninggalkanku.”


“Memulai semuanya dengan langkah yang salah, aku tahu dan sadar jika hubungan kita tak akan sempurna. Namun salahkah aku jika berpikir cinta tulus dari kita berdua yang akan saling menyempurnakan? Cinta kita yang akan memperbaiki kesalahanku?"


“Salah. Yah aku kini tahu jawabannya. Sejatinya tak akan ada yang sempurna di dunia ini, begitupun dengan cinta kita.”


“Aku tahu kesalahanku yang telah menyakitimu dengan sebuah kebohongan. Mungkin tanpa kamu sadari jika akupun turut tersakiti. Aku kini dituntut untuk mengikhlaskanmu, dipaksa untuk ikhlas menerima sesuatu yang mungkin bisa disebut karma.”


“Namun haruskah aku benar-benar melakukannya? Melepaskan dirimu, pria yang amat kucintai, rasanya sangat sulit. Semua kenangan indah kita berdua rasanya masih menerangiku, saat pandanganku kini terasa mulai buram. Saat cahaya ruangan yang awalnya terang mulai menggelap, saat itu pula cintaku padamu mulai menampakkan cahayanya.”


“Jika suatu saat nanti hubungan kita benar-benar harus berakhir, haruskah aku juga turut menghapus rasa cinta ini? Bolehkah kamu mengizinkanku tetap mencintaimu, menjaga ukiran namamu di hatiku, menyimpan kenangan jika bahagia itu nyata dan aku juga pernah merasakannya bersamamu.”


“Apakah hubungan yang kita jalani selama ini, benar-benar sudah mengantarkan kita pada kenyataan jika hati dan pikiran kita sudah lelah menghadapi semuanya?”


“Atau kita berdua tengah lelah secara bersamaan. Kamu lelah dengan semua kebohonganku, dan aku lelah dengan semua caramu untuk menghindari kenyatan.”


“Ingin sekali ku buktikan padamu jika cintaku bukanlah bagian dari kebohongan yang ku buat di awal. Jika bisa, masih maukah kamu menggenggam tanganku saat kelelahan itu menghampiri hubungan kita. Jika iya, akan ku lakukan yang terbaik agar bisa membuktikannya. Namun jika tidak, haruskah ku terima kenyataan jika kamu lebih memilih untuk pergi, dengan alasan waktu yang akan mengobati luka.”


“Rasanya ingin ku salahkan keadaan yang membawa kita ke titik ini. Rasanya memang menyedihkan, melelahkan, tapi haruskah aku tetap memilih untuk tetap bertahan, meski harus bertahan seorang diri?”


“Karena kamu telah memilih untuk menikmati waktu sendirimu, namun nantinya jika kamu sudah selesai dengan waktu sendirimu akankah kamu tetap menjadikanku tempat ternyaman untukmu kembali?”


“Apakah kini aku juga sudah berada di titik lelahku? Mencurahkan semua isi hatiku, meski ku tahu tak ada yang mendengarkan."


"Menumpahkan semua air mata meski ku tahu hal itu akan sia-sia. Tapi kini aku sungguh lemah, tekanan ini terasa begitu berat.”


“Pilihanmu untuk mengambil waktu untuk sendiri sungguh membuatku takut. Apa yang ku takutkan adalah ketika hatiku mulai memohon padaNya untuk dikuatkan menahan perasaanku padamu.’


“Aku bisa saja lelah dan rapuh ketika harus menunggumu untuk waktu yang tidak pasti."


“Aku bisa saja lelah dengan harapan dan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi.”


“Aku bisa saja lelah hingga pikiranku pun tersadar jika aku tak lagi dibutuhkan.”


“Aku bisa saja lelah ketika aku terus berbicara dan mungkin tak akan membuatmu paham, hingga akhirnya aku memilih untuk diam.”


“Aku bisa saja lelah ketika harus memberikan penjelasan yang selalu kamu abaikan."


“Aku bisa saja lelah untuk mengungkapkan maksudku, lalu aku lebih memilih mengalah.”

__ADS_1


“Semua hal yang kini terjadi membawa ketakutan padaku yang hanyalah manusia biasa, aku takut jika pada akhirnya rasa lelah juga yang akan memaksaku untuk pergi, meski awalnya kuputuskan untuk tetap bertahan “


“Aku takut jika pada akhirnya keinginanku untuk terus mempertahankan, akan dikalahkan oleh situasi yang memaksaku untuk berhenti bertahan.”


“Hingga suatu saat nanti jika aku pergi secara tiba-tiba, itu bukan berarti aku tidak menghargai semua yang kita lalui bersama, tapi mungkin karena aku sudah sangat lelah akan semua ini."


“Hingga suatu saat nanti jika aku pergi secara tiba-tiba, itu bukan berarti aku tidak dapat memberi penjelasan yang kamu inginkan, tapi mungkin karena Aku lelah menjadi bisu, yang nyatanya adalah sebuah luka.”


“Hingga suatu saat nanti jika aku pergi secara tiba-tiba, itu bukan berarti aku tak peduli padamu, tapi Aku lelah bersikap baik pada orang yang bahkan tidak peduli padaku.”


“Hingga suatu saat nanti jika aku pergi secara tiba-tiba, itu bukan berarti aku tidak menghargaimu atau kenanagan kita, tapi Aku bosan harus berpura-pura sabar ketika perasaanku kamu ragukan.”


“Saat ini kamu tetap pergi meski aku menahanmu dan aku akan terus berharap kamu datang lagi, hingga entah sampai kapan keadaan ini terus berulang.”


“Semua yang nantinya akan aku lalui, membuatku mulai belajar untuk tak hanya mengerti, tapi memahami arti dari kalimat ‘Aku harus kuat’.”


“Namun jika takdir membawa kita pada titik terujung pada hubungan kita. Ketahuilah jika tak ada yang berubah, semua tetap sama. Apa yang ada di depan mata maupun jiwa, tak ada yang berbeda.”


“Aku akan tetap berterimakasih pada momen yang akan tercipta nantinya dari keputusanmu untuk mengambil waktu sendiri.”


"Aku akan selalu percaya pada kekuatan doa, hingga hanya kepada-Nya aku akan memohon agar Tuhan menghapus peduliku kepada orang yang tidak memperdulikanku, jujur aku lelah jika harus berpura-pura kuat dengan keadaan."


"Aku akan selalu percaya pada kekuatan doa, hingga hanya kepada-Nya aku akan memohon agar ketika Tuhan nanti kembali meletakkan hatiku, kumohon jangan letakkan pada hati yang salah. Karena aku lelah bersama mereka yang datang lalu pergi lagi."


"Aku akan selalu percaya pada kekuatan doa, hingga hanya kepada-Nya aku akan memohon agar Tuhan memberiku penghargaan atas apa yang telah kulalui.”


"Aku akan selalu percaya pada kekuatan doa, hingga hanya kepada-Nya aku akan memohon agar Tuhan tetap berikan hal-hal yang baik padaku, meski kali ini aku gagal untuk bertahan dari ujiannya bersamamu.”


"Jalan hidupku mungkin berbeda dengan orang lain, karena yang selalu kuingat adalah setiap orang memiliki jalan hidup yang tidak sama.”


“Saat ini jalan hidupku, memintaku untuk beristirahat, mengambil jeda dari berjuang untuk menjalani hidup yang tak mudah.”


"Kini aku akan menjadi kuat. Itu hanya berarti aku memiliki kekuatan untuk bangkit kembali setelah beristirahat.”


“Untuk semua yang telah ku lewati bersamamu, sekecil apapun kebahagiaanku dulu maupun sekarang, akan tetap menjadi waktu terbaikku.”


“Meski bisa saja perasaan cinta memudar, entah itu adalah perasaanku atau perasaanmu. Aku akan tetap percaya, jika akhir yang indah akan selalu menunggu tuk ku sapa. Entah aku akan menyapanya seorang diri, bersamamu, atau mungkin bersama orang lain.”


"Tapi untuk sekarang, ketahui jika aku sangat mencintaimu Aydin, dan besar harapanku kamu mau berbalik dan kembali dengan kata maaf untukku."

__ADS_1


"Tapi hingga pandanganku menggelap, air mataku mengering, dan kedinginan menyelimuti tubuhku, kau tetap tak berbalik, dan aku berharap tak pernah membuka mataku lagi."


__ADS_2