Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 126. Kamu, pahlawan atau penjahat?


__ADS_3

Kebenaran tidak selalu menuntutmu untuk bersamanya menghadapi kenyataan.


Tidak perlu melunak pada kenyataan, meski ada kebenaran di sana.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Meski kini mencoba untuk tetap tenang, bersikap seolah apa yang Ia temukan beberapa jam yang lalu tidak pernah terjadi.


Namun sayang, semuanya tidak bisa mengubah kenyataan jika kebenaran tidak pernah memerlukan tempat untuk sembunyi.


“Apa yang sedang kulakukan sekarang? Ada apa dengan diriku? Mengapa aku bersikap bagai pengecut yang takut pada kenyataan?” Batin Aydin.


Chandra yang tiba di rumah sakit 5 menit yang lalu, setelah mengantar Ayana dan Mama Indira kembali ke rumah.


“Ada apa Pak? Sepertinya Anda masih sangat cemas? Bukankah Nona Risa sudah baik-baik saja sekarang?”


Chandra mencecar berbagai pertanyaan pada sang bos yang nampaknya masih tenggelam didasar pikirannya sendiri.


Chandra berdecak.


“Apa dia memikirkan nasib pernikahannya? Benar juga, hanya tersisa 2 minggu lagi dan calon pengantin wanita malah terbaring lemah di brankar." Batin Chandra.


"Pantas saja si Bos galau.” Gumamnya lirih.


Chandra memilih untuk bermonolog, dari pada Ia harus merasakan kesal karena diacuhkan.


“Siapa bilang jika saya sedang galau,” celetuk Aydin tiba-tiba.


Chandra hampir saja menyemburkan air yang sedang Ia tenggak ke wajah Aydin, saking terkejutnya dengan ucapan tiba-tiba dari sang bos.


Beruntung kedua tangannya malam ini bekerja lebih cepat, dengan segera Ia menutup mulutnya. Mencegah hal buruk terjadi.


"Jika sampai terjadi, maka sudah dipastikan malam ini Chandra akan berakhir di rumah sakit ini sebagai pasien, karena amarah dari duda galau yang terancam batal nikah." Batin Chandra.


Asisten Aydin itu bahkan senyum-senyum sendiri karena mengingat sebutan duda galau yang Ia sematkan pada bosnya.


Kedua alis Aydin terangkat melihat tingkah aneh asistennya.


“Apa jatuh cinta pada adikku sudah membuatmu gila!" tegur Aydin.


Chandra menggeleng dengan cepat, meski benar Ia jatuh cinta pada Ayana tapi hal itu tidak membuatnya menjadi gila.


“Cukup anda saja yang membuat saya gila dengan semua kebucinan Anda. Tolong jangan lagi menambahnya dengan kegalauan tak jelas.” Batin Chandra.


“Ekkhheemmm.....”


Dehaman Aydin menyadarkan Chandra jika masih ada seorang pria galau yang tengah menanti jawaban.


“Saya jatuh cinta Pak, tapi tidak sampai harus menjadi gila.” Sanggahnya terhadap pertanyaan dari Aydin yang lebih mirip pernyataan.


“Yang jadi gila biasanya, orang-orang yang batal nikah,” cicit Chandra dan tak lupa pandangannya segera Ia alihkan.


Buugghh....


Sebuah botol mendarat sempurna di kepala Chandra.


Pelakunya tak lain adalah Aydin, bos yang baru saja pria itu hina.


“Karena kau sudah berani menghinaku, Bosmu. Maka hari ini kutugaskan kau untuk lembur tanpa bayaran.” Titah Aydin.


“Hah? Lembur? Tapi seharian ini sudah sangat melelahkan Pak, saya tak sanggup jika harus bekerja lagi. Saya lemburnya di hari lain saja yah,” bujuknya.


“Siapa yang menyuruhmu bekerja?” Sanggah Aydin.


“Saya memintamu untuk lembur bukan bekerja. Tugasmu mudah, hanya berdiam dengan tenang di sini dan menjaga calon istriku selama saya pergi.” Sambungnya.


“Pergi?” Chandra melirik jam di pergelangan tangannya.


“Selarut ini, mau kemana Pak? Biar saya saja yang pergi mengurusnya.” Tawar Chandra.


“Tugasmu berdiam di sini dan menjaga calon istriku. Hanya itu. Jangan bertanya karena saya tak akan mengulanginya lagi.”


Aydin memakai jaketnya dan merapikan barang-barang Risa yang tadi sempat Ia buat berantakan.


Kecuali kotak coklat yang sejak tadi Ia pandangi karena tak bisa memberi jawaban atas semua pertanyaannya.


“Tapi, jika Nona bangun dan bertanya, saya harus menjawab apa?” tanya Chandra.


“Katakan padanya jika Saya harus pergi mengerjakan beberapa hal yang tertunda, karena perjalanan yang batal hari ini.”


Chandra mengangguk, Ia berusaha agar tak melupakan alasan yang diberikan sang bos.


Selagi bersiap, Aydin terus memantapkan hatinya.


Sudah cukup keraguan ini terus menyayat hatinya. Bukan tak mungkin jika ucapan Chandra menjadi kenyataan, dia akan benar-benar gila jika terus memendam semua ini seorang diri.


“Jika aku hanya berani bicara pada hati nuraniku, hanya karena takut jika kebenaran ini akan mengecewakanku, maka aku tak yakin jika nantinya tak akan ada penyesalan.”

__ADS_1


“Aku tidak akan berlari pada kesombongan diriku, hanya karena takut tak bisa menerima kenyataan setelah mengetahui kebenarannya.”


“Saatnya aku berlari pada seseorang yang mungkin bisa menjawab semua pertanyaanku, semoga."


♡♡♡♡♡♡


Meski jalanan lengang karena tak banyak kendaraan yang melintas saat dini hari, tapi Aydin tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


Kecelakaan yang menimpa Risa, seperti peringatan baginya untuk selalu berhati-hati ketika berkendara.


Huuufftt....


Mengingat kecelakaan yang di alami Risa, membuat Aydin hanya bisa menghela napasnya sembari memijat pelan tengkuknya.


Belum lagi kasus kecelakaan Risa kini berbuntut panjang, sebab pemilik mobil box yang menyebabkan Risa akhirnya mengalami kecelakaan, menuntut balik Risa dengan tuduhan jika saat itu Risa mengemudi dengan kecepatan tinggi dan keluar dari jalur.


Entah suatu keberuntungan atau tidak, tapi karena ketika kecelakaan terjadi, setelah menyadari mobil Risa menabrak pohon, supir mobil box langsung kabur dan belum ditemukan hingga saat ini.


Hingga sampai saat ini, supir mobil box masih dalam pencarian oleh pihak berwajib.


“Semoga Echa bisa secepatnya mendapatkan rekaman CCTV yang merekam kejadian saat itu.” Harapnya.


Karena sibuk dengan pikirannya, Aydin tak menyadari jika Ia sudah berkendara lebih dari 45 menit.


Tak lama lagi, Ia akan tiba di tujuannya.


Meski sadar jika kedatangannya pasti akan mengganggu si pemilik rumah,


namun Aydin yakin tindakannya akan di maklumi saat tahu apa yang menjadi alasan dirinya datang selarut ini.


Hingga setelah belokan terakhir, mobil Aydin memasuki sebuah gang yang jalanannya masih cukup luas untuk dilalui kendaraan roda empat.


Memasuki salah satu area permukiman yang lumayan padat dengan rumah yang saling berdempetan.


Rumah sederhana bercat putih, dengan pagar hitam yang tingginya hanya sebatas dada Aydin.


Tak ada garasi, hanya sebuah carport minimalis yang hanya cukup menampung 1 mobil saja.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan aman, Aydin melangkah masuk ke teras rumah.


Netranya mengamati keadaan rumah yang hampir 2 tahun tak Ia kunjungi.


Meski tetap bersih dan terawat, tapi rumah ini tak terlihat asri seperti dulu.


“Kemana semua bunga-bunga itu?” gumam Aydin.


Tok..tok..tok..


Aydin mengetuk pintu rumah.


“Ayah.... Ayah.....” panggilnya dengan hati-hati.


Aydin tak ingin kehadirannya mengganggu warga sekitar.


Tok..tok..tok..


Aydin mengetuk pintu rumah sekali lagi, karena belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka.


Ia kembali melirik jam di pergelangan tangannya.


“Wajar saja jika pintu tidak dibuka, ini adalah saat-saat sebagian besar orang tengah berpetualang di dunia mimpinya.” Gerutunya pada dirinya sendiri.


Kliikk..... Ceklek.....


Pintu akhirnya terbuka.


Nampak seorang pria paruh baya mengenakan piyama berwarna hijau daun, tengah membetulkan letak kacamatanya.


“Ayah....” sapa Aydin ramah.


Tanpa canggung, Aydin meraih salah satu tangan pria paruh baya yang Ia panggil Ayah.


Lalu Ia mencium punggung tangan yang sudah dihiasi sedikit kerutan.


Pria itu sampai mengerutkan dahinya, karena tak percaya dengan seseorang yang dilihatnya sekarang.


“Aydin?” balasnya, sambil memastikan siapa yang tengah menyaliminya.


“Iya Ayah, ini aku Aydin.”


“Astaga, maaf Ayah tak menyangka akhirnya bisa bertemu dirimu.” Balasnya.


“Masuklah Nak.” Sambungnya.


Aydin mengikuti langkah pria yang Ia panggil Ayah.


Duduk di salah satu sofa setelah dirinya dipersilakan duduk.

__ADS_1


“Kau datang sendiri Nak?” Tanyanya penasaran.


“Bagaimana kabar Dafha? Ayah sangat merindukan cucuku yang menggemaskan itu.” Sambungnya.


Yah, pria paruh baya dihadapannya tak lain adalah Bapak Wisnu Kusuma. Ayah kandung Kirani, Kakek Dafha, dan juga mantan ayah mertua Aydin.


“Aku datang sendiri Ayah, maaf karena kedatanganku mengunjungi Ayah sangat mendadak. Aku bahkan datang pada waktu yang sangat tidak tepat.” Sesal Aydin, Ia memohon maaf dengan sungguh-sungguh.


“Tak perlu minta maaf atau merasa bersalah, kamu datang mengunjungi Ayah saja, aku sudah merasa sangat senang”Ujar Ayah Wisnu.


“Tapi lain kali kemari, kau harus janji mengajak Dafha dan,” ucapannya kembali terjeda.


“Dan juga ajaklah calon istrimu kemari.” Sambungnya.


Sebenarnya Ayah Wisnu bukannya merasa tak suka jika Aydin menikah lagi, terlebih wanita itu bukan orang lain.


Wanita yang sudah Ia anggap juga sebagai putrinya.


Tentu Ia akan sangat mendukungnya.


Namun Ayah Wisnu hanya tak ingin Aydin sampai curiga, Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Kirani menitipkan amanat padanya beberapa hari sebelum akhirnya Ia berpulang kepangkuan Sang Ilahi.


“Ayah sudah tau? Maaf belum membahasnya dengan Ayah.” Sesal Aydin sekali lagi.


“Tentu saja Ayah tau. Berita tentang hubungan kalian banyak diberitakan di media manapun.” Jawabnya.


“Oh iya, mengenai berita, apa benar jika calonmu itu mengalami kecelakaan hari ini? Bagaimana kondisinya sekarang? Dia baik-baik saja?” cecar Ayah Wisnu.


Aydin menggeleng diikuti dua sudut bibir yang tertarik kesamping.


“Berita kecelakaan itu benar Ayah.” Jawabnya.


Aydin bisa melihat jika ada kekhawatiran di raut wajah mantan mertuanya.


“Tapi kini kondisi Risa sudah lebih baik setelah menjalani operasi.” Jelas Aydin.


“Risa?”


“Ohh maaf, Ayah. Mungkin Ayah mengenalnya dengan nama Brisa Elzavira.” Ujarnya menjelaskan kebingungan Ayah Wisnu saat nama Risa disebut oleh Aydin.


Ada kegugupan yang Aydin bisa tangkap dari gelagat Ayah Wisnu.


“Brisa, sahabat Kirani. Ayah mengenalnya bukan?”


Ayah Wisnu mengangguk tanpa sepatah kata yang bisa terucap.


“Berarti Ayah tentu tau apa-apa saja isi kotak ini.” Sambungnya.


Tangannya merogoh totebag yang Ia bawa, mengeluarkan kotak berwarna coklat yang tak asing bagi Ayah Wisnu.


Ayah Wisnu menelan salivanya untuk menekan kegugupan yang melanda, saat Aydin meletakkan kotak itu di atas meja.


Kotak milik almarhumah putrinya.


Kotak yang dititipkan padanya, untuk dikirim ke negeri gingseng.


Kotak yang Ia kirim, 2 minggu setelah kepergian putrinya.


Bukannya Ayah Wisnu tak tahu apa isi kotak itu, tapi karena Ia sangat tahu apa isinya hingga kini Ia sangat terkejut.


“Bagaimana bisa kotak itu ada pada Aydin?”


“Baru saja aku tenang, saat melihat berita mengenai Brisa dan Aydin. Ku pikir Kirani akan tenang di sana karena amanatnya sebentar lagi terwujud. Tapi, bagaimana sekarang? Kenapa firasatku mengatakan jika akan terjadi sesuatu yang buruk.” Batin Ayah Wisnu.


“Ayah... Ayah.... Ayah baik-baik saja?”


Samar-samar suara Aydin yang memanggil-manggil namanya, membawa Ayah Wisnu kembali sadar dari keterkejutan dan pikirannya sendiri.


“Maaf.. Maaf, tadi kamu menanyakan apa Nak?” Ulangnya.


“Aku tidak datang untuk bertanya Ayah, aku datang untuk meminta penjelasan dari Ayah. Karena ku yakin jika Ayah memiliki apa yang ku cari.” Ucapannya Ia jeda sesaat untuk menarik napas panjang.


“Kebenaran.” Ujar Aydin.


♡♡♡♡♡♡


“Semoga aku mendatangi orang yang tepat. Yang bisa membantuku melihat apakah wanita yang telah berhasil memiliki seluruh cintaku adalah pahlawan, atau mungkin adalah penjahatnya.” Batin Aydin.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡


Kebenaran tidak perlu banyak kata-kata.


Sebab kebenaran itu relatif bagi setiap orang.


Ada yang menganggap persoalan itu benar namun disisi yang lain tidak seperti itu.


Itulah pentingnya memahami, sebab kebenaran yang tidak dimengerti dapat menjadi kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2