Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 2 . Pindah ke Neraka


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu sejak kepergian Ibunya . Brisa lebih banyak diam dan mengurung diri di dalam kamar Mbok Min .


Semua pekerja di rumah sudah di pecat oleh Indri yang kini bertingkah sebagai Nyonya . Yang tersisa hanyalah Mbok Min . Sebenarnya pengasuh Brisa itu juga sudah di pecat , tapi dia memohon untuk diizinkan tetap tinggal . Walaupun tanpa di gaji dan harus mengambil alih semua pekerjaan di rumah besar itu .


Mbok Min tidak akan tega meninggalkan nona muda yang diasuhnya sejak bayi bersama para iblis . Walaupun tidak bisa membela saat gadis itu di siksa , tapi Mbok Min bisa merawat nonanya jika sampai terluka .


Mbok Min juga bisa menggantikan Nonanya yang diharuskan mengerjakan semua pekerjaan rumah .


Ferdinand dan Indri benar benar seperti iblis . Mereka tega memukul , menampar , bahkan tidak memberi makanan pada Brisa . Adik tiri Brisa yang bernama Anggun juga bersikap sama dengan orang tuanya . Selalu iri dengan Brisa, Anggun selalu berbohong pada Ayah dan Ibunya agar Brisa di hukum .


Mbok Min masuk ke kamarnya yang kini Ia tempati berdua bersama Nonanya .


" Non.... makan dulu yah . " pintanya lembut .


Brisa menggeleng . " Makasih Mbok , Brisa belum lapar . "


" Tapi Non belum makan sejak pagi . Ini sudah sore , nanti Non bisa sakit . Makan yah , Mbok suapi . "


Sebenarnya Brisa juga merasa lapar , tapi Ia memilih untuk menahannya agar Mbok Min bisa memakan makanan itu .


Bukannya Brisa tidak tahu , jika Mboknya itu bahkan belum makan sejak kemarin malam karena makan malamnya Ia berikan pada Brisa .


Bahkan Mboknya yang dulu bertubuh gempal , sudah kehilangan banyak berat badannya .


" Mbok aja yang makan . Mbok juga belum makan , bahkan dari semalam . Brisa masih kenyang . " Tolaknya lagi .


" Gini aja , kita makan bareng aja yah. Lagian ini porsinya di kasih bonus sama Pak Bedu , tuh tempe bacemnya aja ditambahin satu . " Ucap Mbok Min dengan riang .


Brisa mengangguk tak ingin mengecewakan Mbok Min . Lalu wanita itu mulai menyuapkan Nasi dengan lauk ikan goreng, tempe bacem , dan sambel pada Brisa kemudian Ia menyuapi dirinya sendiri .


" Enak Mbok ... tempe bacem Pak Bedu memang paling top . " Ujar gadis itu .


" Tapi Mbok dapat uang dari mana ? " tanya Brisa penasaran .


" He...he... he... " Mbok Min malah tertawa .


" Non ingat gak , ada seseorang yang beli gambar sketsa Non setahun yang lalu seharga 500.000 ? "  ucap Mbok Min .


" Iya .... padahal gambarnya acak acakan gitu . " Jawab Brisa sambil tertawa .


" Kan uangnya saat itu Non kasih ke Mbok untuk nambahin biaya rumah sakit adiknya Mbok di kampung . Nah sama si Mbok gak dikirim , tapi disimpan dalam toples yang ada di rak dapur . "


Mbok Min sangat bersemangat bercerita .


" Terus si Nyonya Indri minta Mbok untuk beresin barang barang didapur katanya mau di kosongin . Emang rejeki yah Non , Mbok malah nemu uang yang pernah Mbok simpan . Hehehheheh " Mbok Min mengakhiri ceritanya dengan tertawa .


Brisa juga akhirnya ikut tertawa . Ini adalah tawa lepas pertamanya setelah 2 bulan kepergian sang Ibu .


Mereka melanjutkan makan satu porsi nasi bungkus berdua . Kemudian Brisa membantu Mbok Min melanjutkan pekerjaannya di dapur .



Hingga malampun tiba , saat itu Mbok Min merasa perutnya sakit . Ia melirik jam dinding sekarang masih pukul 3 dini hari .



Dengan perlahan Ia turun dari ranjangnya berniat menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur .



Namun matanya melihat ada cahaya lampu dari meja makan . Karena penasaran , Mbok Min mengendap ngendap untuk melihat apa yang terjadi disana  . Ternyata dimeja makan sedang duduk Ferdinand dan Indri tengah berbicara hal yang serius .



" Pa ..... apa Papa sudah pastikan semua asuransi wanita itu sudah cair ? " ucap Indri .



" Iya .... sudah semuanya . Sejak awal menikah , Laksmi tidak pernah menyembunyikan apapun dariku . Dia selalu meminta izin jika ingin membeli sesuatu . Apalagi ini asuransi , seingatku memang Laksmi hanya memiliki 5 polis asuransi . " Jawab Ferdinand .



" Lalu , bagaimana dengan pembayaran tanah dan rumah ini ? Apa dananya sudah masuk semua ? " tanya Indri lagi .



" Iya Mama... sudah semua . " Jawaban Ferdinand membuat senyuman terbit di wajah Indri .



" Jadi kapan kita kembali ke Jakarta ? Aku sudah bosan tinggal disini . " keluhnya manja pada sang suami .


__ADS_1


" Besok pagi kita berangkat . Kamu pastikan Brisa juga sudah bersiap , jangan sampai kita terlambat . "



" Brisa ? Anak sial itu ikut juga ? " Indri seakan tak setuju dengan keputusan suaminya .



" Hmmm ... "



" Tidak . Aku gak mau anak sial itu ikut . Menyusahkanku saja . Tidak sudi aku mengurus anak dari wanita murahan . Tinggalkan saja dia disini . " Indri tak setuju dengan keputusan suaminya .



" Atau jangan jangan kamu masih ingin terus mengingat wanita murahan itu saat melihat Brisa ? "



" Mama .... jangan berpikir yang tidak tidak . Aku juga sebenarnya sudah tidak ingin berurusan dengan Brisa , tapi kita masih butuh dia Ma. Perusahaan itu milik ayah Laksmi , kakeknya Brisa . Satu satunya pewaris adalah Brisa . Sampai dia berusia 18 tahun , aku sebagai ayahnya hanya di kuasakan untuk mengurus perusahaan itu . Jadi nanti ketika anak itu berusia 18 tahun , kita akan paksa dia untuk menyerahkan perusahaan seluruhnya padaku . " Jelas Ferdinand .



Indri masih tetap cemberut .



" Bersabarlah 3 tahun lagi . Dan kita akan melenyapkan anak itu . " Bujuk Ferdinand lagi .


Kali ini Ia bahkan mulai mencumbu Indri untuk mengurangi kekesalan wanita itu .



Mbok Min yang sejak tadi menguping , segera berlari kembali ke kamar . Dengan tangan yang gemetar , Ia membangunkan Brisa .



" Non bangun  Non.... " ucapnya berbisik .



Brisa terbangun , Ia mengerjap ngerjapkan matanya melihat Mbok Min mengambil tas besar kemudian dengan cepat memasukkan beberapa pakaiannya juga pakaian Brisa .




" Mbok mau kemana ? Jangan tinggalin Risa . " Brisa mulai terisak .



" Ssssstttt ... Mbok gak ninggalin Non . Kita akan pergi sama sama . Kita harus secepatnya kabur dari rumah ini Non . Ayo , pakai jaketnya waktu kita gak banyak . "



Karena paniknya Mbok Min bahkan tidak berganti pakaian . Ia kini malah sibuk membantu Brisa memakai jaket .



" Mbok tenang , duduk dulu . Kenapa kita harus pergi ? Rumah ini satu satunya peninggalan Ibu , aku gak mau ninggalin rumah ini . " ucap Brisa lesu .



Mbok Min menarik napas panjang lalu mulai bercerita tentang apa yang didengarnya .



Jika Mbok Min terkejut karena rencana melenyapkan Brisa di usia 18 tahun . Berbeda dengan Brisa , gadis itu kini menangis karena rumah peninggalan Kakek dan Ibunya kini telah terjual .



" Ayo Non , pelan pelan yah . Jangan berisik. " Mbok Min memimpin jalan mereka berdua agar bisa kabur dari rumah .



Namun keberuntungan belum berpihak pada mereka . Saat Mbok Min akan membuka pintu , lampu tiba tiba menyala . Mbok Min dan Brisa dikejutkan dengan Ferdinand dan Indri yang kini menatap mereka dengan penuh amarah .



Indri melangkah maju , lalu menarik rambut panjang Brisa dengan kasar kemudian menyeret gadis itu ke depan ayahnya .


__ADS_1


" Lihat kelakuan putrimu ini . Masih kecil sudah berani mau kabur dari rumah . " ucap Indri penuh emosi .



Ferdinand sudah melayangkan tangan kekarnya untuk menampar Brisa ,namun segera di halangi oleh Mbok Min . Sehingga wanita paruh baya itulah yang menerima tamparan keras dari Ferdinand .



" Mbok .... " teriak Brisa panik sambil berlinang air mata .



" Hey Mbok tua , jangan coba coba jadi pahlawan yah .  Kamu kira saya tidah tahu kamu menguping pembicaraan kami tadi ? " teriak Indri tepat di hadapan Mbok Min .



" Sekarang pergi kamu  . Awas saja kalau kamu berani membocorkan apa yang kamu dengar tadi , keluargamu di kampung akan menanggung resikonya . " Ancam Ferdinand .



" Baik Tuan , saya akan pergi dan tidak bicara apapun . Tapi tolong izinkan saya membawa Nona ... ku mohon tuan . " Mbok Min memohon sambil berlutut , memegangi kaki Ferdinand. Bahkan wanita itu menjatuhkan harga dirinya dengan bersujud hanya untuk menolong Nona yang sejak kecil Ia rawat .



Brisa menangis lebih keras saat melihat Mbok Min melakukan itu . Apalagi saat Ferdinand menarik kakinya kasar membuat Mbok Min terhempas .



" Berhenti . Brisa anakku , kamu tidak berhak membawanya . Sekarang keluar dari rumahku . "


Usir Ferdinand sekali lagi dengan kasar . Ia bahkan menarik lengan Mbok Min hingga terseret keluar rumah .



Sementara Brisa hanya bisa menangis tanpa mampu menolong Mbok Min .



Indri lalu kembali menarik rambut Brisa . Membuat Brisa mengikuti langkah Indri sambil meringis menahan sakit di kepalanya .



Indri mendorong Brisa masuk kembali ke kamar Mbok Min , kemudian menguncinya dari luar .


" Berkemaslah . Besok pagi kita akan pindah ke Jakarta . "  teriaknya dari luar .



Seperti yang diberitahu semalam , pagi ini Ferdinand , Indri , Anggun dan Brisa berangkat menuju Jakarta .


Mereka kembali kerumah yang dulu pernah Brisa dan Ibunya kunjungi saat membongkar penghianatan Ferdinand .


Brisa memejamkan mata  , tatkala mengingat kembali wajah Ibunya kala itu saat melihat pria yang dicintainya telah menghianati rumah tangga mereka .  Lalu tiba tiba terbayang peristiwa semalam ketika Mbok Min berlutut dan bersujud hanya untuk menolongnya .


Air matanya kembali mengalir di kedua pipinya .


Mereka semua masih berdiri di depan pintu menunggu pelayan membukanya .


Saat pintu terbuka , Ferdinand masuk disusul putrinya Anggun  yang kini berusai 8 tahun .


" Selamat datang di Neraka putri kecil .... " Bisik Indri di telinga Brisa , disusul dengan tawanya .


Ketiganya sudah masuk ke dalam rumah meninggalkan Brisa yang masih mematung di depan pintu membayangkan nasibnya kelak .


.


.


.


.


.


“Keluarga tidak selalu sedarah. Mereka bisa orang-orang ada dalam hidupmu yang menginginkanmu dalam hidup mereka. Orang-orang yang menerima kamu apa adanya. Orang-orang yang akan melakukan apa saja untuk melihatmu tersenyum dan yang mencintaimu apa pun yang terjadi.”


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2