
Untukmu yang sering terluka karena ku,
Kusadari jika memaafkan tidak semudah dengan menggantikan.
Aku juga tidak akan memohon padamu untuk melupakan kesalahan yang telah kuperbuat padamu.
Besar harapanku jika ungkapan bahwa waktu bisa menyembuhkan segalanya, adalah benar adanya.
Namun melihat kerapuhanmu, aku meragukan hal itu.
Jika waktu tak bisa menyembuhkan lukamu, pantaskah jika aku meminta dirimu untuk memaafkan?
Sebab saat ini aku sama sepertimu, kita tersiksa oleh masa lalu. Aku tersiksa oleh penyesalan atas keputusan bodoh yang kubuat.
Sedang kamu tersiksa oleh penyesalan sebab pernah mencintai pria lemah dan bodoh sepertiku.
Pantaskah aku memohon agar kamu mau memaafkanku?
Karena setelah mengalaminya sendiri, aku jadi menyadari satu hal.
Jika memaafkan orang lain lebih mudah dibandingkan dengan memaafkan diri sendiri.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Setelah membaca surat dari Eijaz, Aydin melangkahkan kakinya hanya untuk satu tujuan.
“Risa, maafkan aku.”
“Risa, maafkan aku.”
“Risa, maafkan aku.”
“Risa, maafkan aku.”
“Risa, maafkan aku.”
Berulang-ulang kalimat permintaan maaf terucap lirih dari bibirnya.
Meski Ia sadari jika untuk memaafkan dirinya bukanlah perkara mudah.
Ingatannya terus memutar semua adegan kesalahan yang telah Ia perbuat pada wanita yang kini menanggung derita atas kebodohannya.
Dalam diamnya, kini benak pria berstatus duda itu tengah berperang. Memikirkan seberapa pantaskah Ia untuk kembali berharap setelah semua yang telah Ia perbuat.
Dulu pernah sekali, aku memintanya pergi. Setelah sebelumnya aku yang memaksanya masuk dan mengerti kondisi hatiku saat itu yang masih rapuh karena masa lalu, batin Aydin.
Dulu pernah sekali, aku memohon padanya untuk kembali. Setelah sebelumnya aku telah melukai perasaannya, memintanya pergi menjauh, bahkan menyakiti hatinya dengan berkata jika Ia hanyalah pelampiasan atas kerinduanku pada wanita lain.
Sejahat itulah aku dahulu. Namun wanita itu berlapang dada memaafkan kesalahan yang berulang kali kulakukan. Hingga aku benar-benar menjadikan dirinya sebagai sebagian dari jiwaku. Lalu kembali melepasnya pergi.
Lantas, pantaskah aku berada di sini? Berharap bisa mendekapnya erat sekali lagi? Berharap bisa menerima cinta tulus darinya lagi? Bahkan berharap bisa melanjutkan hidup bersamanya lagi?
Aydin terus membatin sebab Ia belum punya keberanian untuk kembali menunjukkan wajahnya di hadapan wanita yang Ia puja.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Dari luar ruangan dokter yang pintunya tak tertutup rapat, Aydin kini tengah berdiri mematung.
Rasanya kakinya lemas, tak sanggup menopang berat beban tubuhnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa Ia menerima kenyataan jika Risa, wanita yang memiliki sebagian besar hatinya ternyata selama ini menderita seorang diri.
“Aku tidak bisa memberi tahu identitas dari pendonornya, tapi jika kamu ingin bertemu sebelum melakukan operasi aku akan membantu,” ucap sang dokter yang masih bisa didengar samar-samar oleh Aydin.
"Namun jangan berharap banyak hal. Kamu tahu bukan, jika pasien ini sudah mengalami mati otak selama sebulan," lanjut sang dokter.
Jelas sekali tampak raut wajah Risa yang kini sedang kecewa. “Baiklah, meski tak tahu siapa aku cukup lega jika dokter berbaik hati mempertemukan kami.”
Aydin segera bersembunyi di balik sebuah pilar besar saat Risa ditemani Anggun hendak keluar dari ruangan dokter.
Netranya sedetik pun tak pernah lepas mengamati setiap gerakan yang dibuat oleh Risa.
Senyum terukir di wajah tampan Aydin meski tampak sangat kelelahan. Hot Daddy itu berhasil mengabadikan beberapa potret Risa yang dia ambil dari kejauhan.
“Cantik, kan?” tanya seorang wanita.
Aydin mengangguk. “Sangat cantik,” jawabnya.
Sedetik kemudian pria itu berbalik untuk memastikan siapa wanita yang baru saja bertanya padanya.
“Amora!” Seru Aydin.
“Hapus foto itu, atau akan kulaporkan kau sebagai penguntit!” ancam Amora.
“Ta-tapi ... aku tak mengusiknya, hanya memotretnya saja,” bantah Aydin.
“Diam-diam,” lanjutnya lirih seperti berbisik.
“Itulah sebabnya kamu kusebut penguntit,” balas Amora.
Aydin tak membantah, namun Ia juga tak berniat sama sekali untuk melakukan apa yang diminta oleh Amora.
“Kapan kau akan berubah Aydin? Masih ragu dengan perasaanmu? Atau kau masih terus ingin dibodohi oleh masa lalumu?” cecar Amora.
Namun di sisi lain Aydin juga membenarkan semua ucapan wanita cantik itu.
“Aku memberikanmu kesempatan 3 pertanyaan, apa yang ingin kamu ketahui mengenai Risa?” tutur Amora.
“Aku tidak punya pertanyaan apa pun. Aku hanya ingin bisa berada di sisi Risa saat ini, aku ingin bersamanya melewati ini semua,” jawab Aydin tanpa ragu dan tanpa memerlukan waktu untuk berpikir.
Ketulusan jelas terlihat di sepasang netra pria itu. Juga ada penyesalan yang Amora bisa tangkap dari tatapan Aydin.
Amora hanya bisa menghela napasnya panjang. Tak menyangka jika respon Aydin seperti itu.
Amora pun hanya bisa memberi Aydin harapan kecil atas permintaan pria itu.
Sebab Risa, adik angkatnya dalam pengawasan ketat keluarganya. Amora tak bisa mengambil keputusan seorang diri.
Sebenarnya Amora pikir jika mungkin saja Aydin akan bertanya bagaimana kronologi kecelakaan Risa, sudah berapa lama, atau mungkin bertanya mengenai perasaan Risa padanya saat ini.
Jika seperti itu, maka Amora dengan senang hati akan menjawab semua pertanyaan Aydin. Ternyata dugaan Amora salah, Aydin tak butuh penjelasan atas semua yang terjadi.
Pria itu tak peduli bagaimana kondisi Risa saat ini, yang Ia ingin hanya menebus semua waktu yang sudah terlewatkan tanpa wanita yang Ia cintai.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Malam ini adalah malam terakhir Eijaz akan bertahan dengan semua alat-alat medis yang menopang hidupnya selama hampir sebulan.
Aydin melihat Bunda Nadine sangat tegar untuk ukuran seorang Ibu yang dalam hitungan jam akan kehilangan putra semata wayangnya untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aydin memilih untuk duduk bersandar di samping Bunda Nadine.
Wanita paruh baya itu tak bergeming bahkan tak menyadari jika ada seseorang yang duduk di sampingnya.
Ia memilih untuk terus mengingat percakapan terakhir dengan putranya, percakapan yang Ia harap akan membantunya ikhlas saat esok hari Ia harus melepas kepergian putranya hanya dengan menanda tangani beberapa dokumen persetujuan.
[ Flashback ON ]
Setelah kejadian di perkemahan, Eijaz akhirnya memilih untuk memenuhi keinginan Risa untuk sendiri.
Pria itu menganggap jika Tuhan telah mengatur jalan baginya untuk kembali, sebab jika tetap bersama Risa maka dirinya akan terus serakah dan meminta pada Tuhan agar terus diberi waktu.
Tiga bulan setelah kembali dari Amsterdam, kondisi kesehatan Eijaz setiap harinya terus menurun.
Ia bahkan belum sempat bertemu Aydin untuk menyampaikan semuanya. Hal yang seharusnya Ia lakukan sejak pertama Ia menemui Risa kembali di Amsterdam.
Eijaz sempat terlena, dengan kebersamaan bersama Risa. Hingga tak sadar jika semakin lama kedua pasangan ini berpisah, maka semakin tersiksa pula batin keduanya. Lalu terjadilah peristiwa naas di perkemahan.
Dua bulan yang lalu, Eijaz meminta sang Bunda untuk memindahkan dirinya ke salah satu rumah sakit di Amsterdam.
Entah alasannya apa, namun sepertinya pria itu sudah merencanakan sesuatu.
Dengan tangan dan bibir yang bergetar , di hari ke 5 setelah mereka tiba di Amsterdam Eijaz memberikan 2 amplop putih pada sang Bunda.
“Bunda, aku mohon untuk sekali saja lakukan hal ini seperti yang ku inginkan, aku ingin sekali saja dalam hidup ini menjadi berguna bagi orang lain,” ucapnya dengan terbata-bata.
“Jika Bunda bisa bersikap egois karena cinta, maka aku akan memilih untuk berkorban demi cinta,” sambungnya.
“Meski hanya sedetik, tak pernah aku menyesal telah lahir dari rahim seorang wanita hebat sepertimu Bunda.”
“Kumohon setelah semua ini berlalu, aku ingin Bunda hidup bahagia sesuai dengan keinginan Bunda. Jangan lagi memikirkan masa lalu, semuanya sudah terjadi.”
“Ikhlaskan Bunda ... aku dan ayah tak ingin melihatmu bersedih.”
“Meski Bunda tak bisa melihatnya tapi percayalah, jika sampai di embusan napas terakhir aku dan ayah ... bunda akan selalu menjadi cinta abadi yang tak akan pernah lekang meski ajal telah memisahkan kita.”
“Hiduplah bahagia Bunda, lalu kembalilah berkumpul bersama kami sebagai keluarga utuh yang bahagia di surga kelak.” Ucap Eijaz kala itu.
Keesokan harinya, Bunda Nadine dikejutkan dengan kondisi Eijaz yang semakin memburuk.
Dokter meminta maaf dan menyatakan jika Eijaz mengalami mati otak.
Sebuah kenyataan yang sangat sulit untuk Bunda Nadine terima.
Mati otak adalah kondisi ketika seluruh aktivitas otak terhenti secara permanen. Orang yang mengalami kondisi ini berada pada keadaan koma dan tidak akan sadar kembali.
Lalu dokter juga memberi tahu Bunda jika 8 bulan yang lalu, Eijaz pernah dirawat selama 3 hari dan telah menandatangani sebuah surat pernyataan.
Pada surat tersebut menyebutkan jika suatu saat dirinya sampai pada kondisi seperti saat ini, maka Ia hanya akan menggunakan alat medis untuk terapi bantuan hidup selama 1 bulan saja.
Setelah 1 bulan Ia ingin melepas semua alat dan mendonorkan beberapa organ tubuhnya agar bisa menolong orang lain.
Namun khusus untuk organ mata, Eijaz telah menentukan siapa pasien yang akan menerimanya.
Semua kenyataan itu, membuat Bunda Nadine tercengang. Bunda Nadine tak pernah berpikir jika percakapan mereka kala itu adalah percakapan terakhir sekaligus amanat yang diberikan putranya.
Ternyata di balik setiap keputusan yang Eijaz ambil, pria itu telah menyiapkan segalanya.
Dan dirinya sebagai seorang Ibu yang melahirkan pria itu, diminta ... lebih tepatnya diamanatkan untuk ikhlas melepaskan sang putra pergi selama-lamanya.
__ADS_1
[Flashback off]
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸