Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 119. Foto Prewedding


__ADS_3

Ku tatap ke dalam manik indah matamu, di sana ku lihat ada bayangan diriku dalam tubuh renta sedang menatap wanita yang surainya berhias banyak uban.


Meski senyumnya telah tertutup jejak kerutan, tapi kuyakin aku bahagia pada masa itu.


Sebab tatapan itu, sama dengan caraku menatapmu saat ini.


Tatapan penuh cinta.


♡♡♡♡♡♡


¤¤¤¤¤《Flashback On》¤¤¤¤¤


“Bunda dari mana?” tegurnya saat Bunda Nadine baru saja masuk ke dalam ruang rawatnya.


Di tangannya, Ia membawa satu cup kopi yang masih tertutup rapat.


“Kopi? Sejak kapan Bunda menyukai minuman itu?”


“Bunda membeli ini untuk Romi,” elaknya.


“Romi? Sepertinya kopi itu akan terbuang percuma."


"Beberapa hari mengenal Romi, aku jadi tau kalau dia sudah lama berhenti mengonsumsi kopi karena penyakit lambungnya.” Ujar Eijaz.


Mungkin hanya perasaan Eijaz saja, tapi sepertinya Bunda Nadine tidak begitu peduli jika minuman yang Ia beli akhirnya akan terbuang percuma.


“Apa kopi itu hanya sebuah alasan?” tebaknya.


Pertanyaan Eijaz disambut tawa oleh Bunda Nadine. Tawa yang sangat dikenali oleh putranya.


“Kali ini apa lagi yang Bunda sembunyikan?” tanya Eijaz.


“Memangnya apa yang harus Bunda sembunyikan?” Bunda Nadine balik bertanya padanya.


Karena tak ingin ada perdebatan lebih lanjut, Eijaz memilih untuk tak menjawab pertanyaan Bundanya.


Malam kian larut, Eijaz yang tak bisa tidur memilih berselancar di dunia maya. Apa lagi yang pria itu lakukan jika bukan memandangi foto wanita pujaannya. Foto dari calon istri pria lain.


Ia terkekeh, “Jika saja pria itu bukan Aydin, dirinya akan berpotensi besar menjadi pebinor." Batinnya.


Hingga perhatiannya teralihkan pada sebuah artikel yang memberitakan model berinisial KR.


Meski fotonya telah sengaja diburamkan, namun jelas sekali jika wanita dan pria di foto itu adalah Aydin dan Risa.


“Dasar berita sampah!” geramnya.


Bunda Nadine cukup terkejut dengan reaksi putranya barusan, “Ada apa denganmu?”


“Apa Bunda tau sesuatu tentang Risa dan Aydin?”


Bunda Nadine menggeleng, “Tidak. Memangnya ada apa?” elaknya.


“Mereka juga berada di rumah sakit ini.” Ujar Eijaz.


“Lalu? Apa ada yang salah?” tanya Bunda Nadine.


“Yang salah adalah para pemburu berita yang sengaja membuat berita sampah, sengaja membuat berita yang menggiring opini publik untuk berprasangka buruk terhadap rencana pernikahan mereka.” Jelasnya.


Bunda Nadine mulai paham apa yang dimaksud putranya.


“Makanya jangan mudah percaya dengan apa yang diberitakan.” Ucap Bunda Nadine.


Bunda Nadine menggeleng ketika membaca apa yang diberitakan.


Meski tidak menyebutkan secara langsung, tapi berita itu menggiring opini jika pernikahan mendadak Risa dan Aydin karena sang model telah berbadan dua.


Berita yang beredar semakin kacau, ketika ada warga net yang mengunggah foto Risa, Aydin, dan seorang dokter spesialis kejiwaan tengah berbincang.


Hanya karena foto yang sebenarnya biasa saja, kini opini publik beralih dari Risa yang berbadan dua, menjadi Risa yang depresi menjelang pernikahan.


“Benar-benar yah, beritanya semakin ngaco.” Kini Bunda Nadine yang menggerutu.


“Padahal yang mengandung dan dirawat adiknya,” gumamnya tanpa sadar.


“Bunda,” sela Eijaz.


“Apa Bunda sudah bertemu Brisa? Please jujur.”


Bunda Nadine terpaksa mengangguk.


“Lalu, apa Bunda memberitahu Brisa mengenai kondisiku?”


“Tidak. Meski sebenarnya Bunda sangat ingin melakukan itu.” Jawab Bunda Nadine.


“JANGAN PERNAH LAKUKAN ITU!” bentak Eijaz.


“Jika Bunda tak ingin kehilangan aku seperti Bunda kehilangan Ayah, lupakan niat itu Bunda."


“Aku tidak butuh belas kasihan siapapun.”


“Aku mencintainya tulus, kebahagiaannya yang terpenting bagiku. Meski itu artinya aku harus merelakan orang lain yang membahagiakannya, bukan aku.” Ucapnya.


Setelah itu, Eijaz pergi meninggalkan Bunda Nadine yang kini terisak.


“Jangankan bersikap egois. Meski harus menjadi orang jahat sekali lagi, tetap akan kulakukan.” Monolong Bunda Nadine di sela sela isakannya.


“Karena begitulah seorang Ibu, kebahagiaan anak-anaknya adalah sesuatu yang pantas mereka perjuangkan.” Batinnya.


♡♡♡♡♡

__ADS_1


Sementara Eijaz, memilih keluar untuk menenangkan dirinya.


Hari ini Bundanya sudah berhasil menemui Risa tanpa sepengetahuan dirinya.


“Besok, apa lagi yang akan dilakukan Bunda?” batinnya.


Setelah dirinya cukup tenang dan emosinya mereda, Eijaz mencari tau di mana ruang rawat adik Brisa.


“Apa mungkin dia adalah adik tiri Brisa?” batinnya.


Dari tempatnya bersembunyi, Eijaz bisa melihat Brisa dan Aydin yang mengantar beberapa orang keluar dari sebuah ruangan.


Brisa nampak sangat bahagia berada dalam pelukan Aydin.


Meski berat untuk mengakui hal itu, namun begitulah kenyataannya.


Brisa, wanita pujaannya, telah bahagia. Bahagia bersama pria lain.


¤¤¤¤¤《Flashback Off》¤¤¤¤¤


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


The power of money.


Ya, meski bukan termasuk golongan orang-orang yang mendewakan uang, tapi tidak bisa dipungkiri jika saat ini dengan uang semuanya bisa lebih mudah.


Itulah yang terjadi saat ini. Beberapa hari yang lalu Risa tiba-tiba saja ingin melakukan foto prewedding.


Meski Risa menyampaikan sembari bercanda, namun bagi Aydin, calon suami yang selalu ingin membahagiakan calon istrinya, akhirnya pria itu berusaha mewujudkan keinginan Risa.


Dengan bantuan Muti, sekertaris Risa, Aydin berhasil mewujudkannya hanya dalam waktu semalam saja. Semuanya tak lepas dari peran uang yang memudahkan segalanya.


Meski photo sessionnya hanya dilakukan di Bandung, namun di tangan fotografer handal rekomendasi Muti, Aydin harap foto prewedding kali ini sesuai dengan yang diharapkan Risa.


Memilih tema nature, pilihan latar belakang foto untuk prewedding jatuh pada hutan pinus dan juga danau.


Selain alasan perjalanan yang tidak memakan waktu lama, Bandung juga dipilih oleh Aydin karena putra semata wayangnya saat ini sedang berada di kota yang di juluki kota kembang.


Namun siapa sangka, perjalanan kali ini mereka akan mendapatkan kejutan yang tak terduga.


Entah sengaja atau tidak, Aydin bertemu Eijaz dan asistennya.


Setelah mereka mengetahui tujuan Aydin ke Bandung, Eijaz berkata ingin ikut sebab sudah lama tidak mengunjungi tempat itu.


Tak bisa menolak, Aydin akhirnya menyetujui permintaan Eijaz.


Meski sudah menduga suasana akan menjadi sedikit canggung, namun rencana tidak bisa dibatalkan.


Perjalanan menuju Bandung dari Jakarta akan mereka tempuh selama 2,5 – 3 jam.


Berbeda dari perkiraannya, selama perjalanan Eijaz terlihat lebih santai.


“Yang, kamu kenapa?” tanya Aydin, Ia menyadari Risa yang menjadi lebih diam.


Risa menggeleng, “Aku baik-baik saja.” Jawabnya singkat.


Setelah perbincangan yang terlampau singkat, sepanjang sisa perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Saat tiba di lokasi yang disepakati, segala persiapan untuk sesi foto telah siap.


Nampaknya fotografer yang bernama Rudi ini sudah sering bekerjasama dengan Risa.


Rudi sudah tahu kebiasaan Risa, yang selalu mengecek kembali set foto sebelum mulai.


“Hai Risa,” sapanya.


“Hai Rud, perkenalkan ini calon suamiku, Aydin.” Ucap Risa mengenalkan Aydin.


“Ay, ini Rudi yang akan memotret hari ini. Semua foto luar ruangannya sangat patut diacungi jempol.” Pujinya untuk mengenalkan sang fotografer.


“Bagaimana? Apa set sudah sesuai dengan keinginanmu?” tanya Rudi.


Risa mengamati sekeliling lalu menatap Aydin.


“Ay bagaimana menurutmu?”


“Ku pikir kamu ingin foto yang berlatar alam. Ku rasa tak perlu ada properti lain, keindahan tempat ini saja sudah cukup untuk menghasilkan sebuah karya yang indah.” Ujarnya.


Risa tersenyum bangga, “Mungkin karena ini kita berjodoh. Aku juga sependapat denganmu, Ay.”


Pasangan itu saling melempar senyum, seolah di tempat itu hanya ada mereka berdua.


Setelah sepakat soal set foto, kini waktunya Risa merias diri.


Aydin yang sudah selesai bersiap, mengisi waktu dengan mengobrol bersama Eijaz.


“Jadi bagaimana L.A?” tanya Aydin.


“Nothing special.” Jawab Eijaz singkat.


“Sungguh, aku tak percaya. Apa tak ada seorang wanita yang berhasil menarik perhatianmu?”


Eijaz menggeleng, “Tak ada. Karena tak ada sesuatu yang bisa diharapkan dariku.” Jawab Eijaz merendah.


“Kau bercanda. Jangan merendah seperti itu, kau membuatku terlihat buruk karena bertanya hal pribadi padamu.” Ucap Aydin.


Meski sedang dirias, Risa tetap saja memusatkan indra pendengarannya agar bisa mendengar pembicaraan Aydin dan Eijaz.

__ADS_1


“Semoga Kak Eijaz bisa menepati janjinya.” Batin Risa.


“Lalu bagaimana dengan tujuanmu kembali kesini? Apa sudah ada kemajuan? Atau mungkin sudah berhasil?” Tanya Aydin.


Pertanyaan Aydin sukses membuat Eijaz menatap Risa.


“Sayangnya aku tidak seberuntung dirimu. Namun Aku sudah memiliki jawabannya.” Jawab Eijaz.


“Boleh ku tau, jadi apa jawabannya?”


Belum sempat Aydin mendapat jawaban, Risa sudah memanggilnya.


Sesi foto berjalan lancar tanpa hambatan. Tidak ada yang perlu diragukan, Risa memang seorang model profesional.


Aydin tak mengalami kesulitan mengimbangi Risa, calon istrinya itu mengarahkannya dengan sangat baik.


Hingga akhirnya, mereka berpindah ke lokasi foto yang kedua.


Persiapan tidak membutuhkan waktu lama, hanya perlu mengganti pakaian dan juga tatanan rambut bagi Risa.


Foto diatas sebuah perahu dengan berbagai pose romantis, Aydin tak menyangka jika Ia bisa membuat berbagai macam ekspresi di depan kamera.


“Ay, aku ganti baju dulu yah.” Pamit Risa setelah semua sesi foto usai.


“Perlukah aku menemanimu?”


Risa menggeleng, “Tak perlu, ada Muti yang akan membantuku.”


Setelah kepergian Risa, Aydin kembali melanjutkan obrolannya bersama Eijaz.


Menatap matahari yang bergerak perlahan meninggalkan peraduannya, Aydin dan Eijaz hanya bungkam.


“Cintaku akan tetap menjadi cinta dalam diam.” Ungkap Eijaz.


“Mengapa?” tanya Aydin.


“Kau yang paling tau alasannya.” Eijaz menjawab setelah menoleh sesaat pada sahabatnya.


“Maksudku, mengapa kau tak perjuangkan cintamu?” tanya Aydin.


“Risa wanita luar biasa, dia pantas untuk diperjuangkan. Tak ada larangan bagimu untuk memperjuangkannya.” Sambungnya.


Eijaz kembali bungkam.


“Apa kau akan rela?” tanyanya kemudian.


Aydin menggeleng. “Tentu tidak, aku memintamu memperjuangkan cintamu. Tapi aku tak menjamin itu akan berhasil. Karena aku juga tak akan melepasnya dengan mudah.”


Eijaz tertawa.


“Perjuanganku adalah bertahan dengan cintaku yang tak tersampaikan.”


“Sebab hanya itu yang aku mampu.”


“Sedang dirimu, kamu mampu memberinya kebahagiaan, karena memang hanya dirimu yang dia inginkan.”


Aydin tertegun dengan ucapan Eijaz.


“Apa sekarang aku boleh merasa tenang?”


Eijaz tak menjawab, “Memangnya kamu risau sejak aku kembali?” Eijaz balik bertanya.


“Atau sejak kamu melihat Risa memelukku?” sambungnya.


“Sejujurnya, sejak ku tau jika Risa adalah wanita yang sama dengan wanita yang selama ini kamu cari, sejak itu aku mulai risau.” Jawab Aydin jujur.


“Mengenai pelukan itu, entahlah. Jika mengingatnya rasanya aku ingin melayangkan pukulan di wajahmu.” Lanjutnya.


Eijaz kembali tergelak, kini diikuti Aydin.


Tawa kedua pria itu memecah keheningan kala senja di tepi danau.


“Selamanya aku hanya akan menjadi kakak penolong baginya. Maaf, tapi aku punya tempat tersendiri di hatinya.” Ucap Eijaz.


Kening Aydin sontak mengernyit, Ia mencoba mencerna ucapan Eijaz dengan pikiran yang positif.


“Aku memang punya tempat tersendiri di hatinya, tapi tenanglah, tetap hanya kamu yang menjadi pemilik seutuhnya hati itu.” Ucap Eijaz.


“Jaga dia, jangan sakiti hatinya, penderitaannya sudah telalu banyak.” Lanjut Eijaz.


Aydin mengangguk. Mengenai permintaan Eijaz, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri mengenai hal itu.


Janji itu akan Ia kembali ucapkan, tapi nanti. Saat Ia menghalalkan Risa baginya. Saat itulah, janji akan kembali terucap di hadapan Tuhan.


“Jadi apa rencanamu setelah ini?” tanya Aydin.


“Jika kau berencana mengundangku di pernikahan kalian, maka aku akan tinggal. Jika tidak, maka aku akan kembali ke L.A dalam waktu dekat.”


“Hemm, kalau begitu tinggallah lebih lama kali ini, aku berencana mengundangmu bukan hanya saat pernikahan kami, tapi juga saat ulang tahun anak kami kelak, atau mungkin saat pernikahan anak kami kelak, kamu akan menjadi orang pertama yang menerima undangan.” Canda Aydin.


“Meski tak yakin jika aku bisa memenuhi undanganmu, tapi aku tetap merasa tersanjung dengan niatmu.” Balas Eijaz.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡




foto prewed ala ala Ay-Yang Couple

__ADS_1


Ada yang samaan gak?


__ADS_2