Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 82. Vonis


__ADS_3

Dalam hidup, setiap pertanyaan yang sulit maka takdir akan ku jadikan sebagai jawabannya.


Tapi jika mencari alasannya, sekeras apapun ku pikirkan tetap tak bisa ku temukan.


Begitu misteriusnya takdir, hingga kehidupanpun akan terus berjalan meski tidak tahu takdir seperti apa yang menunggu.


Meski terjadinya kadang secara tiba-tiba dan dengan cara yang tak masuk akal, takdir itu tak akan pernah bisa kita hindari.


Tapi kita selalu bisa menentukan pilihan bagaimana cara kita menghadapi takdir dalam kehidupan kita.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Meski harus berdiri di tempat yang cukup jauh, tetap tak dapat mencegah Risa menumpahkan air matanya melihat kondisi Anggun saat ini.


Sejak terkahir kali menemuinya, Risa dilanda dilema. Rasanya Ia ingin sekali menutup mata dan telinganya, lalu memilih mengabaikan Anggun.


Namun logikanya tetap kalah dengan nalurinya.


Melihat kenyataan betapa Esme dan Amora, yang begitu menyayanginya meski tak ada setetespun darah yang sama diantara mereka , seperti menampar hati Risa untuk tidak boleh mengabaikan Anggun.


Siapa yang bisa menentukan akan lahir dari orang tua yang seperti apa. Risa, Anggun, atau bayi dalam kandungan Anggun juga sama.


“Tak akan ku biarkan bayi tak berdosa itu merasakan apa yang Ibu atau Bibinya alami.” Tekad Risa.


Sungguh Risa bersyukur, keberuntungan sedang memainkan perannya di kehidupan Risa. Ia kini mendapatkan keluarga yang begitu merangkulnya dan mendukungnya.


Eomma Martha memeluk Risa, “Eomma bangga padamu Nak. Kau tumbuh menjadi wanita yang baik dan penuh kasih.” Ucapnya sambil terus membelai surai lembut putri angkatnya.


“ Sebagai seorang Ibu, kekhawatiranku hanya satu. Aku takut jika lalai mendidik kalian menjadi manusia yang peduli pada sesama.”


“ Tapi melihat kalian seperti ini membuat Eomma bangga menjadi seorang wanita yang telah melahirkan kalian, dan seorang wanita yang dipercaya Tuhan untuk bertemu dengan malaikat sepertimu.” Tutur Eomma sambil memeluk ketiga putrinya.


Echa yang terus mengikuti Esme kemanapun , juga ikut berpelukan dengan ke empat wanita itu.


Sontak saja Echa mendapatkan dehaman dari calon papa mertua karena berani-beraninya memeluk sang istri tercintanya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Mereka kini sedang menjenguk Anggun yang kini sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena hasil pemeriksaan menyebutkan jika Anggun mengalami depresi berat.


Sementara Echa telah menjadi pengacara Anggun untuk kasus hukum penyalahgunaan obat yang menjeratnya.


Mereka bisa menyaksikan Anggun yang mengamuk, mengumpat, bahkan Ia sesekali ingin menjatuhkan tubuhnya dari brangkarnya.


Karena itu dokter mengambil keputusan untuk mengikat tangan dan kakinya pada brangkar.


Dokter yang sejak tadi menangani Anggun, akhirnya menemui Risa.


“Maaf anda harus menyaksikan ini, tapi beginilah kondisi pasien saat ini.” Ucap dokter.


“Melihat keadaannya, emosinya masih sangat tidak stabil.”

__ADS_1


“Berkali-kali Ia coba bunuh diri, atau menggugurkan kandungannya.” Jelas dokter mengenai kondisi terkini Anggun.


Risa menemui Anggun di ruanganya.


Meski tangan dan kakinya telah di ikat, tapi Appa dan Echa tak membiarkan Risa masuk sendiri.


Risa bisa lihat tatapan Anggun yang masih sama seperti tatapan sebelumnya, sayu, kosong, dan tanpa arah.


Ia beranikan dirinya untuk membelai surai Anggun.


“Anggun mulai hari ini aku janji tidak akan mengabaikanmu lagi. Maafkan semua kesalahanku dulu.”


“Meski aku mungkin tidak bisa selalu didekatmu, tapi percayalah aku akan selalu jadi tempat yang bisa kau tuju.”


“Ku mohon, maafkan dirimu sendiri Anggun. Buka hatimu, terima ini semua. Aku akan membantumu untuk jadi lebih baik.”


Untuk pertama kalinya ada air mata yang luruh dari kedua mata Anggun yang sengaja Ia pejamkan.


Risa pun akhirnya ikut menangis.


Ia letakkan tangannya dengan ragu di atas perut Anggun yang masih rata.


“Kamu beruntung memilikinya, kamu sekarang tidak akan pernah sendiri lagi.” Ucap Risa.


Tangisan Anggun pecah. Tubuhnya bergetar menahan isakan yang memaksa keluar. Matanya tetap Ia pejamkan .


Echa memberikan kode pada Risa jika mereka harus pergi sekarang.


“Akan ku sampaikan pada Mommy mu jika kau baik-baik saja, agar beliau bisa tenang menjalani masa hukumannya. “


Anggun membuka matanya ketika Ia rasa Risa sudah berlalu. Sungguh Ia malu padanya. Mengingat semua perlakuannya dan kedua orang tuanya.


Mendengar semua ucapan Risa, membuatnya juga ingin memulai awal yang baru bagi hidupnya.


“Baiklah akan kumulai dengan mengikhlaskan semua yang terjadi di hdiupku.” Batin Anggun bertekad.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Sementara di pengadilan, hari ini kembali ramai oleh para pemburu berita.


Petugas keamanan, sekali lagi melakukan tugasnya dengan baik. Risa dan rombongan berhasil melewati kerumunan.


Netra Risa tanpa sengaja mendapati Ibunya yang kini tersenyum.


Risa yang penasaran mengikuti arah pandangan Ibunya, namun sayang sosok pria yang disenyumi Ibunya telah berbalik dan Risa hanya melihat punggungnya yang berjalan menjauh.


“Haayoooo... eomma tadi tersenyum pada siapa?” tanya Risa bercanda.


“Kepo, cari tau saja sendiri. “ Balas Eomma, juga dengan candaan menurut Risa.


Tapi bagi Eomma, Ia berharap Risa dan Aydin bisa bertemu empat mata.

__ADS_1


Membicarakan masalah mereka, saling jujur dengan perasaan masing-masing.


Meski hingga kini Risa belum bercerita padanya mengenai kisahnya dan perasaannya pada Aydin, tapi mendapati putrinya yang setiap malam akan merenung menatap keluar lewat jendela kamarnya, tatapannya tertuju pada sebuah bangunan tinggi dengan neon sign besar bertuliskan Ohana Tech .


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Ruang sidang hening.


Hakim ketua, hakim anggota, panitera, dan semua orang yang bekepentingan dalam sidang mulai masuk memenuhi ruangan.


Satu per satu agenda persidangan dilakukan.


Diawali dengan hakim ketua yang membuka sidang lalu mempersilahkan terdakwa untuk duduk di kursi pemeriksaan.


Tatapan Risa sempat bertemu dengan tatapan Ferdinand. Tatapan penuh dendam dari Ayahnya saat itu sungguh melukai perasaannya.


Perhatian Risa kembali teralihkan saat hakim mulai membacakan putusan, lalu pembacaan amar putusan diikuti dengan berdirinya Indri dan Ferdinand serta ketukan palu sebanyak satu kali oleh hakim.


Indri dan Ferdinand kembali dipersilahkan duduk dan diminta mendengar putusan.


Hakim menjelaskan poin-poin penting dalam putusannya terhadap terdakwa,


“........... bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana ...........................,”


“Sehingga terdakwa akan menerima penjatuhan pidana kurungan penjara selama 15 tahun.”


Jika pada sidang lain biasanya suasana akan riuh, tapi kini suasana menjadi hening.


Risa menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mengetahui putusan hakim.


Dapat Ia lihat air mata mengalir di pipi Indri. Sedang Ferdinand terlihat hanya mengetatkan rahangnya.


Karena tidak adanya penolakan dari pihak terdakwa maka hakim segera mengakhiri sidang,


“sidang dinyatakan ditutup.”


Ketukan palu sebanyal 3 kali menggema diruangan yang hening.


Eomma merangkul pundak Risa, Ia tahu jika hati lembut milik putri angkatnya itu ikut merasakan sakit untuk hukuman yang diterima ayahnya.


“Semoga Ayah bisa merenungi dan menyadari kesalahannya, semoga beliau menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan semoga beliau senantiasa sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan.”


Doa untuk Ayahnya yang Risa panjatkan saat netranya mengiringi langkah ayahnya menuju awal kehidupan barunya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Karena tidak pernah ada batasan mengenai siapa yang bedoa atau untuk siapa doa itu.


Bahkan iblispun jika ingin bertobat dan kembali ke jalan yang benar, maka akan selalu ada tempat dan jalan pulang untuknya.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2