Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 89. Tunggu aku, Cinta.


__ADS_3

Ketika seseorang menjadi alasanmu untuk terus tersenyum.


Ketika Ia adalah alasanmu untuk menjadi berani.


Ketika Ia adalah bagaimana caramu melihat suatu keindahan.


Bahkan namanya tidak pernah lupa kau sebut dalam setiap doa mu.


Saat itulah kau sadari jika apa yang kau butuhkan dalam hidup adalah bersamanya, karena Ia adalah bagian dari dirimu yang selalu kau rindukan.


Kau biarkan dia mencuri hatimu, karena kau tau hanya dia yang bisa menyempurnakannya.


Hanya dia yang bisa membuatmu menjadi lebih baik.


Meski kau percaya jika cinta sejati tidak akan memiliki akhir, namun jika memang kau harus hidup hingga 100 tahun lagi, maka kau akan berusaha bertahan hidup hingga 100 tahun kurang 1 hari.


Maaf jika egois, tapi ku yakin aku tak akan sanggup jika harus kembali membuka mata jika kau tidak lagi menghirup udara yang sama denganku.


♡♡♡♡♡


Ketika hati Aydin dan Risa mulai menetapkan awal dari cinta sejati yang akan mereka jalani.


Ketika setiap tatapan dari Risa dan Aydin terlihat berkelip bagai bintang satu sama lain.


Ketika Risa dan Aydin meletakkan kepercayaan dan rasa nyaman.


Serta menempatkan diri masing-masing untuk membagi seluruh rahasia dan pengalaman gelap dari hidup yang sudah lewat.


Namun di belahan bumi lainnya, seorang pria kini juga tengah berbahagia di hatinya.


Lebih tepatnya di Kota yang dijuluki sebagai City Of Angeles, Los Angeles yang merupakan pusat dunia bisnis, perdagangan internasional, hiburan, budaya, media, mode, ilmu pengetahuan, olahraga, teknologi, dan pendidikan terdepan, serta merupakan kota terkaya ketiga di dunia dan kota paling kuat dan berpengaruh kelima di dunia.


Di kota itulah seorang pria yang sampai beberapa menit yang lalu terus saja menyesali dan mengumpati takdir yang menimpa kehidupannya.


Pria itu adalah Eijaz Humesh.


Pria yang 6 tahun lalu dihadapkan pada kenyataan hidup yang seolah mempermainkannya.


Ketika saat memejamkan mata di malam hari adalah hal yang paling Ia takuti, sementara membuka matanya saat fajar bagai sebuah berkat yang tak ternilai baginya.


Hari ini, hanya dengan melihat sebuah berita di salah satu stasiun televisi yang menayangkan headline news mengenai sosok seorang wanita berprofesi sebagai model yang membeberkan jati dirinya di hadapan publik.


Dialah Kim Risa, model yang cukup terkenal di beberapa negara mengungkapkan fakta jika Ia berasal dari Indonesia dengan nama asli Brisa Elzavira.


Sukses dengan project terbarunya untuk membawa satu lagi model dari negara asalnya Indonesia untuk nantinya menyicipi bagaimana perjuangan secara langsung guna menjadi model kelas dunia sepertinya.


Mata Eijaz berbinar tatkala melihat berita itu, apalagi ketika layar TV menayangakan Risa yang sedang diwawancara.


“Itu dia Bu.” Ucapnya seraya menunjuk ke arah layar TV.

__ADS_1


“Aku ingin pulang Bu, akan ku tepati janjiku 11 tahun yang lalu. Telah lama ku biarkan dia menungguku.” Ujarnya bersemangat.


Sebagai seorang Ibu, wanita paruh baya bernama Nadine hanya bisa mengangguk tanpa pernah melunturkan senyumnya.


Sebenarnya jauh di lubuk hatinya, Ia tidak ingin jika putra semata wayangnya akhirnya menemukan wanita yang Ia cari, wanita yang menjadi alasan putranya bertahan, wanita yang namanya selalu putranya sebut dalam doanya.


Melihat kenyataan jika wanita itu ternyata adalah sosok wanita terkenal dengan segudang prestasi membanggakan, Nadine menjadi pesimis akan kondisi putranya.


Sebagai Ibu, Nadine hanya tak ingin putranya kecewa dan berakhir dengan kehilangan semangat hidupnya selama ini.


Namun apa yang harus Nadine lakukan, jika takdir ternyata telah merencanakan semuanya.


“Baiklah jika itu yang sangat kau inginkan putraku. Ibu akan mengurus semuanya.” Ucap Nadine kemudian berlalu untuk menemui sekertarisnya.


“Bri... akhirnya aku menemukanmu. Sudah berapa lama kau kembali ke Indonesia? Apakah selama kau kembali pernahkah kau mencariku? Atau apakah kau juga sudah tau berita mengenai Kirani?”


Begitu banyak pertanyaan di benak Eijaz yang telah Ia siapkan.


“Brisa tunggu aku kembali, aku akan menemuimu segera.” Batinnya.


Namun pria itu melupakan satu hal. Jika Brisa tidaklah sepertinya. Jika dia telah mengunci hatinya hanya untuk Brisa seorang, apa mungkin wanita itu melakukan hal yang sama.


Begitulah Eijaz Humesh, pria yang bertahan karena prinsipnya jika tak apa hanya dia yang mencintai. Cukup dengan wanita itu bersama di sisinya, maka cinta miliknya yang teramat besar akan cukup untuk keduanya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Kembali ke Indonesia, pada pasangan berbahagia yang akhirnya berani meruntuhkan ego masing-masing.


“Ay, kapan kita sampainya kalau kamu jalannya sangat pelan.” Ucap Risa.


“Aku hanya ingin berlama-lama bersamamu sayang.” Balas Aydin.


Pria itu meraih salah satu tangan Risa, kemudian mencium punggung tangannya.


“Yang, janji padaku kalau kedepannya kau tidak akan menyerah padaku dengan mudah, ku mohon.” Pinta Aydin.


“Ya ya ya, aku janji. Dan berhentilah membuatku terus berjanji. Aku bahkan belum meminta satupun padamu.” Balas Risa.


Aydin terkekeh.


“Katakan apa maumu? 3 permintaan pertamamu ku berikan secara percuma, tapi yang berikutnya kau harus membayar untuk setiap permintaanmu.”


“Dasar pamrih.” Celetuk Risa.


“Katakan kau meminta bayaran berapa? Jangan terlalu mahal, kau taukan kini aku pengangguran.” Lanjutnya.


“Kau tak perlu uang untuk membayarnya sayang, cukup dengan ini,” ucap Aydin dengan jari telunjuk pada bibir Risa.


Lalu dengan gaya provokatifnya serta suara yang seraknya, Aydin menarik jarinya turun kebawah melewati ceruk leher Risa, membuat Risa mulai merasa tak nyaman.

__ADS_1


Apalagi ketika jarinya semakin turun kebawah, membelai pundaknya. Pria itu baru berhenti saat jari telunjuknya berada di tengah dada Risa.


“Aku mengerti maksudmu, tapi kurasa kau menunjuk tempat yang salah Ay,” ucap Risa.


“Aku tau Yang. Untuk wilayah bagian itu aku perlu izinmu sayang.” Balas Aydin.


Risa tertawa.


“Kenapa tertawa?”


“Aku memikirkan bagaimana caramu meminta izin untuk hal itu.” Jawab Risa.


“Jangan menantangku Yang,” peringat Aydin.


“Jika aku memulainya, aku takut tak bisa berhenti,” lanjutnya.


Risa menelan salivanya, Ia sadar sepertinya ucapannya sudah memancing singa yang tengah lapar.


“Kita berdua sudah sama-sama dewasa sayang, apalagi aku dengan status duda. Kau pasti mengerti tanpa harus ku jelaskan dengan rinci , bagaimana rasanya harus menahan sesuatu yang bergejolak, sangat menyiksa. “ Jelas Aydin.


Blush.


Wajah Risa seketika merona.


Aydin terkekeh, saat wajah cantik wanitanya merona menjadi makin menggemaskan.


“Sekarang kau balas menertawaiku Ay,” kesal Risa.


“Wajahmu menggemaskan sekali saat ini. Siap-siap saja aku akan terus menggodamu. Aku sangat suka pipi putih yang sedang merona ini.” Ucapnya sambil mengelus pipi Risa dengan buku-buku jarinya.


Karena asik mengobrol, Risa bahkan tidak menyadari jika kini mereka telah tiba di tempat yang Aydin tuju.


Bahkan mobil Aydin telah berhenti dan terparkir entah sejak kapan.


Obrolan keduanya telah menarik Risa ke alam halusinasi yang terlalu jauh.


“Yang, ku harap kamu tidak salah paham. Aku mengajakmu kemari tanpa niat apapun. Sungguh aku hanya ingin melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Menunjukkan padamu hidupku, membuka semua masa laluku.” Ucap Aydin.


Sebenarnya tanpa perlu bertanya Risa sudah tau dimana mereka kini.


“Ssssttttt.....”


Telunjuk Risa kini berada di bibir Aydin.


“Aku mengerti.” Ucapnya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


“Setiap hari yang akan kita habiskan bersama, akan membuat kita menyadari betapa beruntungnya menjalani kehidupan yang luar biasa ketika kita bersama”

__ADS_1


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡


__ADS_2