Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 113. Aku merelakanmu


__ADS_3

Sahabat ibarat bintang, dia memang tidak selalu terlihat. Namun, dia selalu ada untukmu.


Mengerti air mata kamu jauh lebih berharga daripada banyak sahabat yang hanya tahu senyum kamu.


♡♡♡♡♡


Berangkat bersama seperti ini, bukanlah hal yang baru bagi Risa dan Aydin.


Yang berbeda kali ini adalah suasana selama perjalanan lebih banyak dihiasi dengan keheningan.


Risa dan Aydin lebih banyak diam, mereka seperti sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Yang, hari ini apa kamu bisa menjemput Dafha?” tanya Aydin memecah kesunyian.


“Tentu, aku yang akan menjemputnya.”


“Dafha juga pasti sedang kesal, kamu bermalam ditempatku tanpa mengajaknya.” Sambung Risa.


Aydin terkekeh, “Untuk hal itu kamu yang harus bertanggung jawab sayang. Aku hanya mengikuti perintahmu untuk tinggal.”


Tanpa terasa, mobil Aydin tiba di agensi model milik Risa.


Terletak di salah satu lantai pada sebuah gedung perkantoran, membuat tempat ini sangat ramai oleh lalu lalang kendaraan juga para karyawan dari beberapa perusahaan yang juga berkantor di sana.


“Ku pikir sebaiknya kamu pindah kantor Yang. Terlalu banyak orang disini. Tak aman bagimu.” Ucap Aydin.


Ia mengamati calon istrinya yang sedang memakai atribut kebesarannya yaitu masker.


“Nanti akan ku pikirkan lagi jika model yang bergabung sudah semakin banyak.” Jawab Risa.


“Aku turun dulu yah Ay,” pamitnya.


Tak lupa sebuah ciuman di bibir dan kening menjadi salam perpisahan sementara keduanya.


♡♡♡♡♡


Hari ini Risa sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


Pikirannya terus tertuju pada sosok pria yang sangat berjasa dalam hidupnya, kakak penolongnya.


Dia adalah Eijaz.


Keputusannya kemarin, yang tidak mengakui jika Ia mengenal Eijaz, bukan karena Ia telah melupakan semua jasa-jasa pria itu di hidupnya.


Tapi, Risa hanya khawatir jika Eijaz akan memberitahu Aydin jika Risa adalah sahabat Kirani.


Pernikahan yang Ia harapkan, pernikahan yang awalnya adalah sebuah amanat dari sahabatnya, kini telah ada di depan mata.


Tak akan Ia sia-siakan, apalagi kini hatinya benar-benar telah mencintai Aydin.


Risa tak ingin kehilangan prianya.


“Ada apa denganmu? Kamu terlihat sangat cemas.”


Esme baru saja masuk ke ruangan Risa, setelah mengetuk pintu dan tidak menerima sahutan oleh sang pemilik ruangan.


Risa menatap Esme, tatapan heran karena Ia bahkan tak menyadari kapan kakak angkatnya itu masuk.


“Jangan menatapku seperti itu, aku sudah mengetuk pintumu berkali-kali. Tapi karena tak ada jawaban aku akhirnya langsung masuk.” Ucap Esme membela diri, sebelum Risa kembali mengoceh.


“Tidak eonni, bukan karena itu.”


“Eonni benar, maafkan aku. Tadi aku sedang melamun, jadi tak mendengar suara ketukan.” Ucap Risa.


“Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi?” pinta Esme.


“Jangan menghindar, aku tau ada sesuatu yang sedang terjadi.” Sambungnya.


Risa menghela napasnya, “Eonni, dia akhirnya kembali.”


“Siapa?”


“Kakak penolongku, Eijaz.” Jawab Risa.


“Lantas? Ku pikir kau tidak memiliki perasaan padanya, lalu apa masalahnya? Apa Aydin cemburu dan melarangmu bertemu dengan kakak penolongmu itu?”


Risa menggeleng.


“Aku memang tak memiliki perasaan lebih padanya, aku menyayanginya seperti aku menyayangimu. Rasa sayang adik pada kakaknya.”


Risa menarik napas panjang dan dalam, “Apa Aydin juga bisa cemburu pada sahabatnya sendiri?” sambungnya.


“Hah? Maksudmu kakak penolongmu itu adalah sahabat Aydin?” Esme bertanya kembali untuk lebih memastikan.


Risa mengangguk, sementara Esme merespon dengan tepukan tangan.


“Wah, wah, wah, sungguh dunia ini ternyata sangat kecil. Siapa mengira jika sahabat Aydin adalah pria yang mencintai calon istrinya.” Ucap Esme.


“Eonni, apa maksudmu?” tanya Risa.


“Bukankah dulu pria itu sempat menyatakan cintanya padamu lewat surat? Jadi ucapanku tadi tak sepenuhnya salah.” Elak Esme.


“Hal itu sudah lama berlalu, sudah lebih 10 tahun. Dan itu bukan menjadi permasalahan utamanya kini.”


Risa mengalihkan topik pembahasan, permasalahan kebohongannya yang terancam terbongkar lebih penting dari memikirkan perasaan di masa lalu.


“Jika dulu cintanya tulus padamu, maka akan sulit untuk dilupakan. Jika bukan itu permasalahannya, lalu apa yang kau cemaskan?” tanya Esme.


“Bagaimana jika Eijaz memberitahu Aydin soal aku dan Kirani?”


Risa menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya air matanya ingin melesak keluar, Ia sungguh takut jika hubungannya dan Aydin akan berakhir.

__ADS_1


“Menurtku kakak penolongmu itu tak akan mengatakan yang sebenarnya jika kamu minta baik-baik dan menjelaskan padanya alasanmu.”


“Terlebih dia juga menyayangimu, dia pasti ingin kamu bahagia.”


Risa semakin menunduk.


“Tapi kemarin aku sudah berbuat salah padanya,” sesal Risa.


“Aku tidak mengaku mengenalnya dihadapan Aydin. Aku terlalu gugup, tak pernah kubayangkan jika akan terjadi hal serumit ini.”


Esme berdecak, “Astaga Risa, adikku sayang. Kau yang memperumit semuanya. Sekarang pergilah temui kakak penolongmu itu, minta maaf padanya. Lalu jelaskan apa yang terjadi, ku yakin dia pria yang bijaksana, pasti dia mau menerima permintaanmu.”


Ada binar harapan di kedua manik mata Risa, “Benarkah seperti itu Eonni?”


Esme mengangguk.


Risa melihat jam dipergelangan tangannya. Masih ada 2 jam sebelum waktunya Ia menjemput Dafha pulang sekolah.


“Aku akan pergi sekarang,” ucapnya kemudian pergi meninggalkan Esme yang menatapnya berjalan menjauh.


Selama perjalanan, di dalam taksi Risa terus saja berdoa agar Eijaz ada di tempat yang kini Ia tuju.


“Tuhan, jika ini memang takdir yang engkau siapkan untukku, maka mudahkanlah aku untuk bertemu dengannya. Aku bahkan belum mengucapkan terimakasih padanya untuk semua yang Ia lakukan dulu.” Batin Risa.


♡♡♡♡♡♡


Tidak butuh waktu lama bagi Risa untuk sampai di toko buku milik Eijaz.


Tuhan seakan mendengar doanya, tak ada kemacetan yang harus Ia lalui selama perjalanan. Bahkan kini, sebuah mobil terparkir dengan rapi di depan toko buku, memberi harapan besar bagi Risa untuk bertemu dengan Eijaz.


Ragu, sebenarnya Risa ragu untuk melangkah. Ia takut Eijaz menolaknya.


Apalagi setelah perbuatannya semalam.


Namun, kelangsungan pernikahan menjadi taruhannya kini.


Tok... Tok... Tok...


Risa mengetuk pintu, mengalihkan pandangan dari dua orang pria yang kini sedang memasukkan buku-buku ke dalam kardus.


Tentu saja Romi mengetahui Risa. Wanita yang menjadi pemilik cinta tulus bosnya.


Namun pertama kali melihat secara langsung, Romi dibuat takjub dengan keindahan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.


Tatapannya tak bisa berpaling, rasanya model cantik ini memiliki magnet yang sanggup menariknya mendekat.


“Ekhhheemmmm,” Risa berdeham, Ia berharap Eijaz akan kembali menatapnya.


Karena berbeda dengan pria lain di ruangan ini yang tak berhenti menatap Risa, Eijaz justru hanya menatap Risa sekilas, lalu kembali sibuk dengan buku-buku yang sedang Ia susun ke dalam kardus.


“Permisi,” ucapnya ramah saat melewati Romi yang masih tidak merespon sama sekali.


Perlahan Ia mendekati Eijaz, meletakkan tas jinjingnya di atas meja dan menarik kursi kecil agar bisa duduk berdekatan dengan kakak penolongnya.


Dengan wajah datarnya akhirnya Ia kembali menatap Risa yang terus memasukkan buku-buku ke dalam kardus.


“Maaf Nona, apa yang anda lakukan?” Tanyanya sopan.


“Tentu aku sedang membantumu Kak,” jawab Risa tanpa mengalihkan padangannya dari buku-buku.


Ia tak sanggup melihat tatapan dingin dari Eijaz untuknya.


“Tapi saya tidak butuh bantuan Anda Nona. Jadi sebaiknya Anda pergi, tempat ini tidak cocok untuk Anda.”


Mata Risa sudah berkaca-kaca.


“Aku yang ingin membantumu Kak, biarkan aku disini dan jangan mengusirku.” Ucap Risa dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis.


“Berhenti bertingkah seolah kita saling mengenal Nona. Siapa Anda? Aku tidak terbiasa menerima bantuan dari orang yang tidak kukenal.” Ucap Eijaz.


Dan ucapan itu berhasil menusuk tepat di hati Risa. Air mata tak bisa lagi terbendung, berlinang membasahi pipi.


Tanpa Eijaz duga, Risa berhambur memeluknya.


“Maafkan aku Kak. Maafkan kesalahanku yang berpura-pura tidak mengenalmu. Aku punya alasan untuk semuanya.” Ucap Risa dengan tangisan yang tanpa Ia sadari turut melukai hati Eijaz.


Tak bisa Eijaz pungkiri, jika Ia juga mengharapkan pelukan dari Brisa saat pertemuan mereka.


Tapi Ia sadar, jika wanita yang memeluknya kini bukan lagi Brisanya yang dulu.


Ia adalah Risa, wanita yang menjadi calon istri dari sahabatnya. Wanita yang mencintai dan dicintai sahabatnya.


Hingga akhirnya Eijaz memilih untuk melepaskan pelukan Risa. Meski berat, namun Ia lakukan itu semua agar keadaan tak semakin rumit.


Pria itu sudah merelakan cintanya, keyakinan jika Risa akan bahagia bersama Aydin, sahabatnya, membuatnya belajar untuk mengikhlaskan wanita yang selama ini menjadi pemilik cinta di hatinya.


“Sudahlah Bri, berhenti menangis. Aku sudah memaafkanmu.” Ucap Eijaz lirih.


Risa yang mendengar itu akhirnya tersenyum, ia mengusap air matanya asal. Bahkan wanita itu tak peduli jika kini riasan pada matanya sedikit berantakan.


“Benarkah itu? Kak Eijaz tidak bercandakan?”


Eijaz menjawab dengan senyuman lalu kembali memasukkan buku-buku dalam kardus.


“Aku masih tak percaya jika aku mendapatkan maafmu semudah ini Kak,” Risa masih terus ingin meyakinkan dirinya.


“Bukankah dari dulu selalu seperti itu? Bukan hanya maafku yang mudah kau dapatkan, tapi cintaku juga sangat mudah untuk kuberikan padamu.” Ucap Eijaz.


Risa tiba-tiba diam, Ia tak paham maksud ucapan Eijaz barusan. Mengapa ada kata-kata cinta yang pria ini ucapkan.


Eijaz menyentil pelan dahi Risa, sama seperti yang sering Ia lakukan dulu.

__ADS_1


“Jangan terlalu kau pikirkan ucapanku. Itu semua masa lalu. Bukankah dulu sudah ku katakan jika aku mencintaimu lewat surat? Apa kau menerima dan sudah membacanya?”


Risa mengangguk, lalu Ia kembali menunduk.


“Tak perlu terlalu kau pikirkan, karena seperti kataku itu hanyalah masa lalu. Maaf aku tidak bisa menepati janjiku untuk menyatakannya lagi saat kita bertemu.”


Risa kini menatap Eijaz yang berdiri membelakanginya. Pria itu sedang memilih beberapa buku dari rak.


“Karena aku sudah tidak memiliki perasaan itu lagi padamu. Dan juga kini kau adalah tunangan sahabatku. Aku tak ingin perasaanku di masa lalu menjadi beban bagimu.” Jelas Eijaz.


Matanya turut berkaca-kaca saat kata demi kata ucapkan.


Hatinya tersayat-sayat ketika harus mengingkari perasaan tulusnya.


Sementara Risa tersenyum dibalik punggung Eijaz. Salah satu yang menjadi kekhawatirannya akhirnya memiliki jawaban yang sesuai harapannya.


“Terimakasih Kak, aku beruntung pernah ada di hati pria baik sepertimu.” Balas Risa.


Setelah bisa mengendalikan diri dan perasaannya, Eijaz kembali duduk di tempatnya semula.


“Sekarang jelaskan padaku, bagaimana kamu bisa bersama Aydin dan mengenai Kirani, apa kau benar-benar telah melupakannya?” tanya Eijaz.


“Kak, sampai matipun aku tak akan pernah melupakan Kirani dan dirimu. Kalian adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku.”


Kening Eijaz mengernyit, semakin banyak tanda tanya bersarang dibenaknya.


Lalu mulailah mengalir cerita Risa. Dari kejadian awal mula Ia bertaruh nasib ke Korea, hingga amanat Kirani padanya.


“Jadi semua karena sebuah amanat?” Pekik Eijaz.


Risa mengangguk.


“Berhenti Bri. Jangan main-main dengan pernikahan. Biar bagaimanapun Aydin adalah sahabatku, meski ini adalah permintaan dari mantan istrinya tapi aku tak membenarkan kau mempermainkan perasaannya. Dia sangat mencintaimu Bri, aku bisa lihat dari tatapannya yang begitu memuja padamu.”


Risa tersipu saat Eijaz mengatakan pendapatnya tentang perasaan Aydin padanya.


“Apakah cinta Aydin padanya sejelas itu, hingga orang lain juga bisa menilai hanya dengan melihat tatapan prianya,” batin Risa.


“Aku tak akan berhenti Kak, karena aku juga sungguh mencintainya.” Ucap Risa.


“Jujur awalnya aku memang melakukan semuanya hanya karena amanat dari Rani, tapi begitu banyak yang kami lalui Kak, membuat perasaan cinta ini tumbuh untuknya.”


“Kak Eijaz, mungkin kau akan percaya jika kau melihat bagaimana hancurnya aku ketika sebelumnya Aydin meragukan perasaannya padaku."


"Kak Eijaz, harusnya kau lihat ketika aku berada di titik terendah saat sahabatmu itu menolakku, mencampakkanku setelah memberi berbagai harapan padaku.”


Mata Eijaz membola, sungguh Ia tak tahu jika perjalanan cinta keduanya tidak semulus bayangannya.


Tidak sebahagia yang ditampilkan pada akun sosial media Aydin.


“Jika sekarang aku sudah mendapatkan cinta itu, apa aku masih harus melepasnya Kak?” tanya Risa.


Eijaz menggeleng.


“Lakukan semua yang membuatmu bahagia Bri. Aku akan selalu mendukungmu. Sudah cukup kau selalu menderita, sudah cukup waktu bersedih bagimu. Sekarang mulailah menulis kehidupanmu di lembaran baru, mulailah dengan kebahagiaan bersama Aydin.”


Risa tersenyum, “Dukungan ini yang selalu ku rindukan Kak. Jangan pergi lagi, ku mohon.”


Eijaz hanya tersenyum. “Jika itu maumu tuan putri, maka jangan salahkan aku jika pangeran mu kelak akan cemburu.” Candanya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Risa turun dari taksi dan berlari masuk ke sekolah Dafha.


Ruang kelas, taman, lapangan, toilet, kantin, bahkan ruang guru sudah Ia kelilingi untuk mencari keberadaan Dafha.


“Bodoh, kau memang bodoh Risa.”


“Ibu macam apa yang melupakan putranya karena keasikan mengobrol.”


Ia terus merutuki dirinya.


Kembali Ia berdiri di pinggiran jalan, mengedarkan pandangannya ke sekeliling berharap sosok Dafha ada di sana.


Lalu sebuah mobil hitam yang tak asing berhenti tepat di depannya.


“Masuk,” suara berat dan terkesan dingin milik Aydin terdengar.


Risa melirik ke kursi belakang, dimana Dafha sudah duduk manis dengan seatbelt yang sudah terpasang rapi.


“Dafha, sayangnya Mama. Maaf mama telat menjemputmu.”


Ucap Risa sambil berusaha meraih tangan anak laki-laki itu lalu mengecupnya.


“Maafkan aku Ay, aku salah karena terlambat menjemput Dafha.” Sesal Risa.


Seperti kebiasaan mereka, Risa hendak meraih wajah Aydin agar bisa mengecup bibir calon suaminya.


Namun sayang, Aydin berpaling saat sebentar lagi benda kenyal itu bertemu.


Sehingga Risa harus puas hanya dengan mengecup pipi tunangannya.


“Dari mana kamu hingga telat seperti ini?” tanya Aydin tanpa menatap Risa.


“Dari kantor Ay. Salahku karena tidak berangkat lebih awal, padahal tau jika jalanan seringkali macet saat menuju kemari.” Jawab Risa.


Samar-samar Aydin berdecih, “bohong.”


Sontak wajah Risa memucat, “apa aku tak salah dengar? Apa Aydin mengetahui jika aku berbohong?” batin Risa.


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡

__ADS_1


"Orang yang suka berkata jujur mendapat tiga perkara, yaitu; kepercayaan, cinta, dan rasa hormat." - Ali bin Abi Thalib


__ADS_2