
Aku sudah pernah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cintanya, kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Di sini, aku kembali untuk kesempatan keduaku.
Saat ini, aku kembali untuk berjuang mendapatkan cintanya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Cinta memang butuh diperjuangkan. Terutama bagi seorang Eijaz yang belum pernah mendapatkan kesempatan mengungkapkan cintanya secara langsung pada wanita yang Ia puja.
“Bertemu dengannya bagai sebuah keajaiban. Diantara banyak kemungkinan, Tuhan malah mengantarkannya padaku. Aku bertahan, aku berjuang, berusaha agar bisa kembali bertemu dengannya, menjaga perasaanku padanya karena ku yakin jika Tuhan telah merencanakan yang terbaik untukku.” Batin Eijaz.
Pandangan menatap ke gumpalan-gumpalan awan lewat jendela pesawat, yang akan membawanya menemui wanita yang selama ini masih mengisi hatinya.
Sudah 10 jam berlalu, langit malam yang gelap bahkan sudah berganti dengan awan putih yang menghiasi langit.
Sungguh Tuhan maha kuasa, pemilik alam semesta, mampu menciptakan keindahan langit yang tak henti-henti dikagumi oleh Eijaz.
Lamunannya terhenti ketika suara sang Bunda terdengar, “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Nadine.
“I’m OK Bunda." Jawab Eijaz singkat.
Raut wajah khawatir nampak sangat jelas di wajah sang Bund, meski wanita paruh baya itu sudah berusaha menutupinya.
"Bunda, kumohon berhentilah memperlakukanku layaknya orang yang sebentar lagi akan pergi. Aku percaya Tuhan masih punya rencana indah untukku,” pinta Eijaz.
Bunda Nadine hanya bisa tersenyum mendengar ucapan putranya.
Ini adalah penerbangan ketiga Eijaz dengan durasi yang cukup lama sejak 10 tahun terakhir.
Bunda Nadine tak akan pernah melupakan penerbangan pertama dan kedua putranya kala itu.
Penerbangan dengan tujuan negara yang sama, harapan yang sama, namun Ia kembali tanpa hasil bahkan membawa dirinya yang hampir celaka.
Eijaz meraih kedua tangan Bundanya. Menggenggam erat, lalu mencium punggung tangannya lama.
“Bunda, bukankah sudah pernah ku katakan jika aku telah berserah diri pada Tuhan? Aku akan menerima semua takdir yang diberikan Tuhan padaku. Kali ini Tuhan telah membuka jalan agar aku bisa menemuinya." Ucap Eijaz.
"Ku yakin jalan Tuhan kali ini akan membawa kebahagiaan untukku. Entah aku akan bahagia bersamanya atau aku akan bahagia karena melihat dia bahagia, meski bukan bersamaku.”
Eijaz mengatakan semua yang ada di hatinya.
Bunda Nadine kembali tersenyum, namun kali ini ada buliran air mata yang meghiasi wajah yang tetap cantik di usia yang tak muda lagi.
Eijaz yang menyadari jika untuk kesekian kalinya Bundanya menangis karena dirinya, jadi merasa bersalah.
Ia bawa sang Bunda kedalam pelukannya. Satu-satunya pelukan yang bisa membuat sang Bunda merasa lebih tenang.
“Egoislah Nak, pikirkan kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Jika karena kebaikan hatimu kau tak bisa lakukan itu, maka aku yang akan egois untukmu Nak. Akan ku raih kebahagiaan untukmu. Jangan cegah aku, karena semua Ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya.” Batin Bunda Nadine, masih dalam pelukan hangat putranya.
“Sudah, Bunda jangan terlalu banyak berpikir. Mari kita anggap jika kita sedang pulang kampung.” Canda Eijaz membuat Bunda Nadine ikut tertawa.
Tawa Ibu dan Anak itu harus terhenti ketika seorang pramugari dengan wajah oriental yang cukup cantik menginterupsi obrolan mereka.
Disertai senyum ramah dan tutur kata lembut khas seorang pramugari, Aiko nama yang tertera pada name tag yang dikenakannya.
Sembari Aiko menghidangkan sarapan untuk Eijaz dan Bunda Nadine, Ia tersenyum ketika Eijaz tanpa diminta membantu untuk mengatur perlatan makan Bundanya.
“You’re so lucky Madam, your son seems to love you so much.” Ucap Aiko ketika netranya bertemu dengan netra milik Bunda Nadine.
“Unfortunately, he doesn’nt have woman to love.” Ucap Bunda membalas pujian Aiko, membuat wanita dengan mata yang cenderung sipit itu tersenyum menatap Eijaz yang sejak tadi terus acuh akan kehadirannya.
“Bunda, udah dong. Apa belum cukup semua anak teman Bunda yang dikenalin ke aku. Aku gak akan terjebak lagi,” ucap Eijaz segera menghentikan kebiasaan buruk Bundanya.
__ADS_1
“Maaf, apa Ibu berasal dari Indonesia? Mama saya juga berasal dari Indonesia.” Ucap Aiko membuat Eijaz dan Bundanya terperanjat.
Keduanya tak bisa menjawab apa-apa karena terlalu terkejut.
“Permisi, silahkan nikmati sarpannya. Jika butuh sesuatu bisa panggil saya.” Ucap Aiko menggunakan bahasa Indonesia yang sangat fasih, tak lupa senyum ramahnya.
Eijaz dan Bunda Nadine hanya bisa mengangguk.
Malu, yah malu.
Hanya itu yang ada di pikiran keduanya.
“Aiko pasti mengerti apa yang kamu katakan tadi Eijaz.” Ucap Bunda Nadine.
“Ya, aku yakin. Dan kini dia pasti berpikir jika aku adalah pria percaya diri yang masih dibantu ibunya untuk mencari wanita.” Ucap Eijaz mengomentari dirinya sendiri.
Bunda Nadine mengangguk, “Dan dia juga pasti berpikir jika Bunda adalah tipe ibu-ibu yang hobi menjodoh-jodohkan putranya.” Lanjut Bunda Nadine ikut-ikutan mengomentari dirinya sendiri.
“Tapi itu memang benar Bun.” Sela Eijaz dan sukses membuatnya mendapat tatapan tajam dari sang Bunda.
“Itu karena kamu yang terus-terusan gagal move on. Pokoknya Bunda ingin ini yang terakhir kali kamu berurusan dengan masa lalumu. Jika masih tidak berhasil, maka jangan halangi Bunda untuk menjodohkan kamu dengan Aiko,” Ucap Bunda Nadine bertekad.
Aiko yang samar-samar mendengar namanya disebut oleh sepasang Ibu dan Anak itu, hanya menggeleng lalu dan tersenyum.
“Sudah-sudah Bun, makan dulu gih. Bunda kalau lapar suka gini, omongannya melebar kemana-mana.”
Eijaz dengan lembut menyuapkan makanan untuk Bundanya. Jika tidak, Eijaz yakin Bundanya tak akan berhenti mengoceh.
“Bunda doain aku yah, semoga kali ini cintaku padanya bisa tersampaikan dan berbalas.” Gumam Eijaz lirih.
Meskipun mendengar ucapan putranya, tapi Bunda enggan berkomentar.
Kurang dari 10 jam lagi, mereka akan tiba di negara kelahirannya.
Wanita yang menjadi alasannya berjuang selama ini melawan rasa sakit yang terus mengancam nyawanya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Di salah satu kamar sebuah apartement, kini Risa tengah berkemas.
Rencana keberangkatannya ke Bali bersama Aydin yang harusnya 2 hari lagi mendadak dimajukan oleh pria itu tanpa alasan yang jelas.
“Jadi kalian tidak hanya pergi berdua?" tanya Amora yang kini membantu Risa melipat pakaian yang akan Ia bawa.
Risa mengangguk.
Amora menatap kotak merah yang Ia siapkan sebagai hadiah spesial untuk Risa dan Aydin.
“Memangnya Dafha jadi ikut? Bukankah anak itu sedang demam?” tanya Esme yang juga mengakui dirinya sedang ikut membantu Risa berkemas, membantu dengan doa katanya.
“Syukurlah Dafha sudah sembuh. Kata Mama Indira, sejak tau jika kami akan pergi berlibur Dafha tidak pernah berhenti memohon untuk ikut. Aku tidak tega, makanya ku minta Aydin mengajaknya juga.”
Kedua wanita kembar, Amora dan Esme merespon ucapan Risa dengan mengangguk.
Risa meraih kotak merah yang sejak tadi ada di atas tempat tidurnya.
“Kotak milik siapa ini?”
“Milikmu. Aku berniat memberikannya untukmu. Tapi kurasa kau tak akan bisa memanfaatkannya dengan baik,” ujar Amora.
Tanpa curiga Risa mebuka kotak merah itu, sontak saja Ia terpekik melihat apa isinya.
Untuk baju tidur kekurangan bahan, memang sudah tak asing baginya dan tidak membuatnya terkejut.
__ADS_1
Yang membuatnya terkejut adalah beberapa kotak kecil berbagai warna dengan nama-nama buah tertera pada bagian depan masing-masing kotak. Tanpa perlu memeriksa isinya, Risa sudah tau kotak itu berisi benda seperti karet dan licin.
“Eonni, kenapa memberiku ini?” pekik Risa.
Ekspresi lucu adik angkatnya saat melihat hadiah pemberian dari saudara kembarnya, membuat Esme tak henti tertawa.
“Janganlah terlalu terkejut, aku hanya ingin kau selalu siap, sedia, dan tentunya aman.” Jawab Amora acuh tanpa beban.
“Tapi aku tak membutuhkannya, Aydin masih ingin menjadikan hal itu sebagai hadiah saat nanti kami telah sah.” Elak Risa.
“Cih, mungkin saja yah karena ada Dafha. Tapi jika kalian hanya berdua, aku yakin Aydin juga tak akan kuat menahan. Echa saja yang terlihat polos membuatku terkejut saat ..........” Esme menghentikan ucapannya saat menyadari jika dia tengah membicarakan hubungannya dengan Echa.
“Jadi kalian berdua juga sudah iya iya yah?” Tanya Amora menggoda saudara kembarnya.
“Jadi bagaimana Echa? Apa yang membuat Eonni terkejut?” kini giliran Risa yang bertanya untuk menggoda Esme.
Esme yang tersudutkan memilih mengambil langkah seribu menuju apartemen kekasihnya yang letaknya sangat sangat dekat.
“Ada apa by?” tanya Echa yang melihat Esme masuk ke dalam apartemennya dengan napas yang masih memburu.
“Aku kabur dari wartawan.”Jawab Esme asal.
Echa hanya mengangguk sembari memberikan gelas berisi air pada kekasihnya.
“Ternyata jadi manager model terkenal buat kamu dikejar-kejar wartawan juga yah By,” ucap Echa menganggap serius ucapan Esme.
Esme hanya menggeleng, tak percaya jika dirinya telah jatuh cinta dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria yang kini tersenyum dihadapannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
“Selamat datang kembali Nyonya Nadine dan Tuan Muda Eijaz.” Sapa Mike, Asisten pribadi almarhum Ayahnya yang dipercayakan untuk mengurus perusahaan milik keluarganya yang berada di Indonesia.
“Terimakasih Mike.” Balas Bunda Nadine.
“Perkenalkan ini Romi, putraku. Dia yang akan menjadi asisten Tuan Muda selama Tuan berada di Indonesia. Selama ini dia bekerja sebagai asistenku, Romi juga cukup tau banyak hal tentang perusahaan." Jelas Mike.
Eijaz menerima uluran tangan Romi untuk berjabat tangan.
"Romi, pukul berapa sekarang?” tanya Eijaz.
“Pukul 2 siang, tuan muda.” Jawab Romi.
“Pertama, jangan panggil aku tuan muda. Kedua, apa kau tau dimana kantor agensi model Star Academy?” tanya Eijaz.
Romi mengecek ponselnya sebentar, memastikan alamat tempat yang ditanyakan oleh atasan barunya. “Iya Pak, saya tau.”
“Bagus, antarkan aku kesana sekarang.” Pinta Eijaz.
“Baik Pak.” Balas Romi tanpa banyak tanya. Pria itu kemudian mengarahkan Eijaz menuju mobilnya.
Bunda Nadine hanya bisa menatap kepergian putranya, hingga punggung tegap pria yang menjadi alasannya kuat bertahan, menghilang dari pengawasan netranya.
“Apa kamu sudah mendapatkan infromasi mengenai wanita itu?” tanya Bunda Nadine.
“Sudah Nyonya. Wanita itu cukup mengagumkan.”
Ucapan Mike membuat seulas senyum terbit di wajah Bunda Nadine.
“Tapi, ada hal yang mungkin akan membuat anda kecewa.” Lanjut Mike membuat kening Bunda Nadine mengernyit.
♡♡♡♡♡♡ To be continue ♡♡♡♡♡♡
Tidak pernah sekalipun ku takut jika ternyata kamu bukan jodohku.
__ADS_1
Aku sudah sangat bersyukur mencintai wanita yang menjadi alasanku beruntung karena bisa merasakan perasaan seindah dan setulus ini.