
Pernahkah coba menghitung nikmat yang telah Tuhan berikan padamu?
Akan sulit memang, tapi hal itu akan membuatmu kagum oleh kebesarannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Rasanya pagi tidak akan lengkap tanpa drama perdebatan ayah dan anak yang diperankan oleh Dafha dan Aydin.
Aydin yang terus saja menggerutu karena pagi tadi Risa dan Dafha pergi berjalan-jalan ke sekitar Villa tanpa membangunkan Aydin yang terlelap.
“Salah siapa Daddy tidurnya larut malam, jadinya telat bangun deh.” Dafha membalas ocehan Daddynya.
“Yang, pasti Dafha yang ngusulin untuk tidak bangunin aku. Iyakan?” Aydin jadi curiga ketika melihat wajah putranya yang tertawa-tawa penuh kemenangan.
“Bukan Daddy, jangan asal tuduh. Jatuhnya nanti fitnah loh.”
“Kita udah bangunin kok, tapi kamunya aja yang emang susah banget bangunnya.” Ucap Risa jujur.
“Lagian semalam ngapain aja sih, kok bisa tidur sampai larut banget.” Lanjutnya.
“Siapa yang tidurnya larut? Kamu percaya banget sama yang diomongin Dafha.” Balas Aydin.
“Jangan sampai Risa curiga kalau semalam aku tidur larut karena mengecek persiapan rencanaku.” Lanjut Aydin membatin.
Sementara Dafha yang mendengar namanya disebut-sebut oleh Daddynya menjadi cemberut.
“Sepertinya nanti akan ada acara pernikahan di Villa ini,” ucap Risa yang sedang membantu Dafha memakai pakaian renangnya.
Pagi ini, mereka memilih untuk menikmati floating breakfast.
Aydin yang sudah lebih dulu berada di kolam terkejut dengan ucapan Risa.
“Kamu tau dari mana?” tanyanya.
“Aku lihat beberapa orang sedang mendekorasi taman. Aku yakin jika dekorasinya sudah selesai, tempat itu akan nampak makin indah.”
“Apa kamu suka dengan dekorasinya?” tanya Aydin mulai penasaran.
“Entahlah, dekorasinya belum selesai. Aku hanya menebak saja, karena mereka menggunakan bunga yang sangat banyak.”
Aydin berbalik, lalu melanjutkan berenang menjauh dari Risa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tempat tujuan Aydin, Risa, dan Dafha kali ini adalah Garuda Wisnu Kencana yang sering disingkat dengan GWK.
Sama-sama masih berlokasi di sekitar wilayah Pecatu, ketiganya berangkat kesana dengan Pak Made yang tetap menjadi supir yang sudah disiapkan oleh villa.
Bagi Aydin dan Dafha yang sudah beberapa kali ke tempat ini memiliki tingkat antusiasme yang berbeda dengan Risa yang baru pertama kali berkunjung ke pulau yang Indahnya selalu menjadi pembahasan oleh orang-orang di luar negeri.
“Mama, nanti Dafha boleh yah naik skutis di GWK. Boleh yah Ma,” rengek Dafha.
“Boleh sayang,” jawab Risa.
“Boleh? Yang, kamu tau gak skutis itu apa? Skuter listrik Yang.” Sela Aydin.
“Hah?”
Risa segera mengambil ponselnya, mencari informasi mengenai skutis yang dimaksud Dafha.
“Oh No Baby. Sorry,” putus Risa kemudian.
Melihat Dafha yang berubah tak bersemangat membuat Risa iba, “Kecuali Dafha main bersama Daddy, Mama izinin naik skutis.”
“Daddy maukan nemenin Dafha?” tanya Risa.
Aydin menjawab hanya dengan dehaman. Namun sudah bisa mengembalikan senyum Dafha yang sempat hilang.
“Makasih Ma,” sebuah kecupan dipipi Risa mendarat dengan sempurna dari anak itu.
Tak lama setelah perdebatan mengenai skutis berakhir, Pak Made menghentikan mobilnya.
“Silahkan Tuan, Non, Den, udah sampai.” Ucapnya ramah.
Ketiganya segera turun, Risa kagum melihat keindahan yang nampak di hadapannya.
Risa akhirnya membenarkan ucapan orang-orang jika kunjungan ke Bali tak akan lengkap jika tidak mengunjungi GWK.
__ADS_1
Berada di Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Bali adalah tempat patung Garuda Wisnu Kencana yang menjulang tinggi dan menjadi landmark paling ikonik di Bali.
Menjulang hingga lebih dari 120 meter, ini adalah salah satu patung monumental tertinggi di dunia, lebih tinggi dari Patung Liberty dan Kristus Penebus.
Demi kenyamanan perjalanan di tempat pertama liburan mereka, Risa memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Bukan tidak mau ada orang yang mengenalinya.
Bukan tak ingin menyapa, namum Risa tak ingin ada pemberitaan baru mengenai dirinya saat ini.
Pemberitaan mengenai identitas aslinya dan juga kasus hukum yang menjerat keluarganya, masih hangat menjadi buah bibir para media lokal Indonesia, media Korea, bahkan beberapa media negara Asing.
“Naik shuttle bus aja yuk,” usul Aydin.
Risa mengangguk menyetujui usulan Aydin. Ia juga tak tega membiarkan si kecil Dafha harus berjalan di taman budaya yang luasnya mencapai 60 hektar.
Aydin sengaja menyewa 1 shuttle bus yang khusus membawa ketiganya berkeliling GWK.
Sesekali mereka berhenti untuk mengabadikan foto di beberapa tempat ikonik.
Dafha akan cemberut ketika Aydin memaksa untuk foto hanya berdua dengan Risa.
Bocah itu makin kesal saat Daddynya memasang pose andalannya, yaitu pose kecup pipi.
Hingga shuttle bus memasuki Festival Park.
Dafha mulai merengek agar bisa menyewa skuter Skutis Anoa.
“Ma.. please, tadi Mama udah janji izinin Dafha main skutis.” Pinta Dafha dengan wajah memelasnya.
Risa mulai pusing. Saat tadi Ia mencari infromasi, ada skuter yang bisa dinaiki berdua.
Sementara Aydin yang tadi sempat menolak untuk bermain, kini sudah asik sendiri dengan segway yang Ia sewa.
“Ma... Mama.... Mama Risa, Dafha jadikan naik skuternya?” tanya Dafha lagi membuat Risa makin iba melihat wajah memelas anak itu.
“Bli... Bli.. aku mau sewa skuter yang itu.” Ucap Risa dengan semangat juang tinggi untuk menyenangkan hati Dafha.
Tanpa banyak kata, Risa segera menaiki skuter itu yang dinamakan skuter Smart Ant dan meminta Dafha ikut naik bersamanya.
“Tapi Bu....” ucapan petugas penyewaan segera Risa sela.
“Maaf yah Bli, tapi ini demi kebahagiaan putra saya.” Bujuk Risa.
Akhirnya petugas itu memberikan arahan dan instruksi singkat pada Risa.
Kini Risa, model yang terkenal hingga ke mancanegara sudah pas menjadi seorang Ibu yang sangat mengutamakan kebahagiaan putranya.
Risa dan Dafha menghampiri Aydin, mereka bertiga saling kerjar-kejaran membuat beberapa pasang mata menatap mereka dengan kagum karena keromantisan interaksi ketiganya.
Setelah puas bermain dan berkeliling, kini Risa berjalan memasuki sebuah restauran yang akan memenuhi kebutuhan organ lambungnya.
Langkah Risa memasuki restaurant yang bernama Jendela Bali diikuti dengan setia oleh dua pria berbeda usia.
Restaurant ini terletak pada teras terbuka yang rimbun, menampilkan pemandangan Bali yang indahnya tiada tara.
Pada hari-hari cerah seperti ini, rangkaian gunung berapi spektakuler di pulau yang menjulang di atas dataran selatan sungguh memanjakan mata mereka.
Memesan berbagai hidangan khas Bali seperti Nasi Bukit Jendela Bali yang menghidangkan tumpeng (menara nasi) tradisional yang disajikan dengan kari ayam aromatik, sate seafood, dan ikan kakap panggang.
Tak hanya itu , mereka juga memesan Ikan Bakar Sambal Matah dan bebek goreng yang renyah dan gurih. Sementara menu anak-anak juga untuk Dafha tak lupa masuk dalam menu yang Risa pesan.
Banyak mata memandang iri pada kemesraan Dafha dan Risa, termasuk Daddy Aydin.
__ADS_1
“Kalau nanti honeymoon, jangan harap Dafha akan ikut.” Batin Aydin.
Namun tak bisa Aydin pungkiri jika hatinya menghangat melihat kedekatan Risa dan Dafha.
Tak lupa Ia mengabadikan momen penuh cinta antara Putra dan kekasih yang sebentar lagi akan Ia minta untuk menjadi calon istrinya.
Foto itu segera Ia kirim pada ponsel Papa Dimas dan Mama Indira.
Kedua pasangan paruh baya itu bersyukur, Aydin menemukan wanita yang bisa menjadi sosok Ibu sambung yang sempurna untuk cucu mereka.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Perjalanan mereka hari itu dilanjutkan ke Pura Luhur Uluwatu yang tak jauh dari GWK. Hanya sekitar 15-17 menit mereka sudah tiba di tujuan.
Pura ini juga dikenal sebagai Pura Sad Kayangan, oleh masyarakat lokal Bali dianggap sebagai penyangga 9 mata angin.
Pura ini terletak di atas batu karang dengan ketinggian sekitar 97 meter di atas permukaan laut, kurang lebih.
Hal ini juga yang menjadikan pura ini diberi nama Uluwatu atau puncak batu karang dalam bahasa sansekerta.
Tujuan utama Risa ketempat ini karena Ia mendengar cerita beberapa orang mengenai pertunjukan tari kecak yang sangat fenomenal.
Namun sayang pertunjukannya baru dimulai sore hari.
Selagi menunggu, Aydin mengajak Risa dan Dafha untuk berjalan menyusuri pinggiran tebing.
“Kita ke ujung tebing yuk, pemandangannya bagus dari sana.” Bujuk Aydin.
Sementara Dafha terus menolak usulan Daddynya.
Terakhir kali kemari Dafha sangat ketakutan saat dikejar-kejar oleh monyet.
Tapi karena penasaran Risa tak menghiraukan peringatan Dafha.
Ia mengikuti langkah Aydin.
Dan sesampainya disana , selama perjalanan Dafha terus berlindung dalam dekapan Daddynya.
Sebagai penutup perjalanan mereka hari ini, pilihannya jatuh pada menonton Pertunjukan Tari Kecak yang menjadi khas di Pura Uluwatu. Tari kecak merupakan tari tradisional khas Bali. Tari ini dilakukan oleh penari laki-laki.
Tapi beberapa kali Risa dan Dafha terkejut karena monyet-monyet nakal yang mengganggu.
Selain menonton tari kecak, mereka sekalian menikmati sunset yang indah.
Karena lokasi pertunjukan yang dekat dekat ujung tebing yang akan memudahkan mu untuk menikmati berbagai macam hal sambil menonton pertunjukan tari kecak.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Malampun tiba, waktu yang dinantikan oleh Aydin semakin dekat.
Setibanya mereka di kamar, Aydin segera mengajak Dafha bersama-sama membersihkan tubuh.
Di kamar mandi barulah Aydin menyampaikan niatnya malam ini untuk melamar Risa.
Setelah bergantian dengan Aydin dan Dafha, Risa yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya, tidak menemukan Dafha dan Aydin di dalam kamar.
Sebuah kotak dengan pita tergeletak di atas ranjang.
Risa membaca kartu ucapan yang menempel di atas kotak.
“Kenakan gaun ini dan jadilah yang terindah malam ini. Kami menunggumu di taman untuk sebuah kejutan yang takkan terlupakan.”
-Aydin dan Dafha-
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
"Kau jawaban dari doa yang akhiri penantianku selama ini. Bagai bintang jatuh, kau hadirkan harapan dalam hati."
__ADS_1