
"Saudara itu sedekat tangan dan kaki." - Vietnamese Proverb
♡♡♡♡♡
Memiliki saudara adalah impian Risa sejak kecil.
Menjadi anak tunggal tidak semenyenangkan yang dikatakan orang-orang.
Jika ditanya apa doa yang Risa panjatkan sesaat sebelum dia meniup lilin pada kue ulang tahunnya dulu, maka Risa hanya akan menjawab 1 jawaban yang sama.
“Tuhan, tolong beri aku 1 saja kakak yang bisa menjagaku dari teman-teman yang nakal. Atau tolong beri aku 1 saja adik yang bisa ku lindungi saat Ia menangis karena temannya yang nakal.”
Yah, Risa sangat menginginkan seorang saudara.
Ia tak pernah senang atau bangga menjadi satu-satunya tuan putri di istana milik kakeknya.
Masih jelas di ingatan Risa, pembicaraannya bersama sang Ibu,
“Brisa sayang, kenapa akhir-akhir ini kamu tidak pernah menghabiskan bekal yang kamu bawa ke sekolah?” tanya Ibu Laksmi yang sore itu tengah menyisir surai panjang putrinya.
“Itu karena aku makannya sendirian Bu.” Jawaban polos dari Brisa kecil.
“Loh, memangnya teman-teman kamu kemana? Apa kalian tidak makan bersama?” Laksmi dibuat bingung dengan alasan putri semata wayangnya.
“Ada, tapi mereka semua makan bersama adik atau kakaknya. Bekalnya selalu mereka habiskan bersama.”
“Sedang aku, aku hanya sendiri. Tentu saja bekalku tersisa Bu, karena aku tak punya saudara yang bisa berbagi bekal denganku.” Jelas Risa kecil.
Ibu Laksmi menghela napasnya.
“Brisa, sayang, kata siapa berbagi makanan hanya boleh bersama adik atau kakak?”
“Brisa boleh saja kok, membagi bekal pada teman Risa.” Ucap Bu Laksmi.
Risa menggeleng.
“Tidak Bu, semua teman Brisa sudah saling berbagi bersama saudara mereka.”
“Jika Ibu tak ingin bekalku tersisa, maka Ibu tinggal memberiku seorang adik yang bisa ku ajak berbagi makanan.” Usul Risa kecil dengan senyum merekah memperlihatkan deretan giginya yang tak utuh.
Ibu Laksmi tertawa, Ia tak menyangka jika ini cara putrinya itu tengah merajuk padanya.
“Oh, jadi ini perkara Brisa ingin seorang Adik?”
Risa kecil mengangguk dengan antusias.
“Kalau itu, Brisa harusnya minta pada Tuhan. Tapi tidak dengan cara seperti ini, menyisakan bekal makanan itu perbuatan yang tidak disukai Tuhan.”
“Kenapa harus minta pada Tuhan Bu?”
“Karena Tuhan yang akan menitipkan adik di dalam perut Ibu.”
“Jadi kalau Tuhan marah pada Brisa, dia tidak akan mau mengabulkan permintaan Brisa?” pertanyaan polos Risa kecil.
Ibu Laksmi mengangguk.
“Bagaimana Tuhan akan percaya jika Brisa bisa menjaga seorang adik, kalau bekal makan siang saja Brisa tak bisa habiskan.” Ucap Bu Laksmi.
Semenjak saat itu, Brisa kecil tidak lagi menyisakan bekal makan siangnya.
Ia tak ingin jika Tuhan marah padanya dan tidak pernah memberinya saudara.
Melihat Anggun terbaring lemah dalam kondisi tengah mengandung, membuat Risa iba.
Jika boleh, tak apa jika dia saja yang menggantikan Anggun terbaring lemah disana.
Sebagai seorang kakak, tentunya dia sangat ingin melindungi adiknya. Menjaga adiknya agar tidak merasakan sakit.
Keinginan tulus, yang masih sama seperti saat Ia kecil dulu.
Entah mengapa, sejak saat Anggun pertama kali memanggilnya dengan sebutan Kakak, hatinya menghangat.
Ia merasa jika Tuhan akhirnya mengabulkan doanya.
“Meski Tuhan memerlukan waktu yang lama untuk mengabulkan doaku, tapi aku yakin jika ini adalah saat yang tepat bagiku memiliki seorang saudara.” Batin Risa.
“Bahkan Tuhan sangat baik, Ia tidak hanya memberiku saudara, Ia bahkan akan memberiku ponakan yang pasti akan lucu.” Lanjutnya membatin.
♡♡♡♡♡♡
Cup.
Sebuah ciuman di pipinya menyadarkan Risa dari bayangan masa lalunya.
“Ay, kamu dari mana?” tanya Risa yang sejak tadi hanya seorang diri menunggui Anggun.
“Aku bertemu dengan karyawan dari WO, karena tak mungkin bertemu secara langsung, dia mengirimkan kita foto-foto sebagai contoh dekorasi untuk venue pernikahan kita nanti.” Jelas Aydin.
Risa mendekat ke tempat Aydin duduk, Ia ikut melihat-lihat. Sesekali akan ada perdebatan kecil diantara keduanya saat pendapat mereka berbeda mengenai pilihan dekorasinya.
Karena banyaknya pertimbangan dari keduanya, akhirnya mereka memerlukan waktu yang cukup lama, hanya untuk memilih dekorasi venue pada pesta pernikahan mereka kelak.
“Ay, menurutmu bagaimana jika aku mengajak Anggun untuk tinggal bersamaku di apartement?”
Tanya Risa tiba-tiba.
__ADS_1
“Kamu yakin? Hal itu harus kamu bicarakan dulu dengan baik bersama Dokter ganjen itu.” Balas Aydin.
Risa terdiam.
“Maafkan aku sayang, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu. Biar bagaimanapun, Anggun yang sekarang dalam kondisi mental yang kurang baik. Dia memerlukan perawatan yang tepat, oleh orang-orang yang memang berkompeten.”
“Apalagi kondisinya tengah mengandung, dia akan butuh perhatian dan pengawasan eksta sayang. Sedangkan kamu, emm maksudku kita, sedang sibuk untuk pernikahan.” Jelas Aydin.
Risa terlihat berpikir sejenak.
“Tapi aku takut meninggalkan Anggun sendiri di sana.” Rengeknya.
“Tadi kamu dengar sendirikan Ay, bagaimana dugaan kronologis kejadiannya? Bagaimana jika pria itu kembali lagi menemui Anggun? Lalu bagaimana jika dia menyakitinya?"
“Aku tak akan tenang jika Anggun tak berada langsung dibawah pengawasanku.” Rajuknya.
Risa yang tadinya bersandar dengan mesra pada dada bidang calon suaminya, kini mengganti posisinya menjadi duduk dengan tangan yang bersidekap di dada.
Aydin menggeleng, wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya ini memang sangat keras kepala.
Aydin menarik Risa kembali dalam pelukannya.
Keduanya kembali bersandar pada sofa, “Baiklah aku setuju dengan keinginanmu. Tapi ada beberapa syarat.”
Risa mencebik membuat Aydin gemas.
Dengan cepat, pria itu menyambar bibir Risa. Mengecup dengan perlahan dan lembut, hingga rasa manis bibir wanitanya itu membuat Aydin menginginkan rasa yang lebih, lebih, dan lebih.
Kesempatan yang datang tak boleh disia-siakan, begitu pikiran duda satu anak itu.
Seharian ini dia sama sekali belum mengisi energinya, dan kebetulan dia sudah mulai lelah.
Ruangan sepi karena yang lainnya sudah pulang, Anggun yang tertidur dengan lelap, bagai memberi kesempatan emas pada Aydin untuk mengisi daya tubuhnya.
Lumatannya yang sejak tadi sudah berbalas, menghasilkan suara suara khas bibir yang beradu.
Bibirnya kini pindah untuk menikmati aroma khas dari ceruk leher wanitanya.
Ingin sekali Aydin meninggalkan jejak-jejak disana, tapi kali ini Ia akan menuruti Risa untuk membuat jejak di tempat yang lebih tersembunyi.
Satu tangan Aydin sedang berusaha menurunkan ritsleting dress Risa yang ada di bagian dada.
Namun Risa menahan pergerakan tangannya.
“Katakan dulu apa syaratnya, lalu kamu boleh melanjutkannya.”
Aydin memutar bola matanya malas, “bisa-bisanya Risa menurunkan hasratnya yang sedang menggebu.”
“Ay, jadi apa syaratnya?” desak Risa.
“Pertama, karena kamu tidak tinggal sendiri di apartemen makanya kamu harus mendapat persetujuan Amora dan Esme lebih dulu.”
“Yang kedua, kita akan minta pendapat Dokter ganjen itu. Dan kamu tidak boleh memaksakan keinginanmu padanya.”
“Yang ketiga, aku sendiri yang akan mencarikan suster yang khusus menjaga Anggun. Kita tidak bisa berada bersamanya selama 24 jam, agar Anggun tak kesepian, biarkan ada seorang suster yang menemaninya.”
Risa mengangguk setuju dengan semua syarat yang diajukan Aydin.
“Dan yang terakhir, pindahkan tanganmu. Jangan mencegahku mengisi daya. Hari ini aku sungguh lelah harus mengurus beberapa hal sambil bermain kucing-kucingan dengan para wartawan.”
Ucapan Aydin barusan membuat Risa menahan tawanya. Tangannya yang tadi mencegah pergerakan Aydin sudah di jauhkan oleh pria itu.
Dengan lidah yang sudah terlatih, Aydin menyusuri setiap inci jalan yang harus dilewati dari leher jenjang Risa menuju dua gundukan yang terlindungi kain berenda warna hitam.
Lenguhan sudah tak mampu Risa tahan, wanita itu bahkan menggigit bibirnya sendiri kala sensasi rasa yang diberikan calon suaminya semakin menggila.
Tangannya sudah meremas rambut Aydin, rasanya ingin sekali Ia menjauhkan kepala Aydin dari dua benda kesayangannya.
Namun tubuhnya seakan berkhianat, yang ada Ia malah menekan kepala Aydin agar semakin menambah kenikmatan yang Ia rasa.
Posisi yang telah berubah sejak tadi, membuat Aydin leluasa bermain di dada Risa yang kini setengah berbaring di sofa ruang rawat rumah sakit.
Yah, kedua pasangan itu mungkin lupa jika mereka berada di ruang perawatan bagi seseorang yang sedang tidak sehat.
Dan orang tidak beruntung itu adalah Anggun.
Wanita hamil itu, sebenarnya sudah bangun sejak Aydin dan Risa berdebat mengenai venue pesta pernikahan mereka.
Namun, ucapan Risa mengenai niatnya membawa Anggun tinggal bersamanya membuat wanita hamil itu berpura-pura tertidur.
Ia menahan air mata yang memaksa keluar, memikirkan betapa baik dan tulusnya hati Risa, kakak tiri yang dulu selalu disiksa oleh Ibu kandungnya.
Anggun sebenarnya ingin sekali meminta agar Risa mau membawanya, namun Ia masih ragu. Ia takut Risa menolaknya.
Bagi Anggun, tak apa jika Ia harus bekerja pada Risa untuk melanjutkan hidup. Yang terpenting, dia dan calon bayinya bisa merasa aman.
Ia bisa tenang bersembunyi, tak ada lagi gangguan dari pria yang telah menyebabkan ini semua padanya, seperti kejadian hari ini.
Betapa bahagianya Anggun, ketika mendengar penuturan kakak tirinya yang ternyata sama dengan apa yang Ia pikirkan.
Tapi tanpa Ia duga, suasana haru yang Ia rasakan mendadak berubah menjadi kegelisahan yang cukup menyiksa.
“Mereka pasangan pria dan wanita dewasa Anggun, dan juga sebentar lagi akan menikah. Kau tak perlu terkejut dengan apa yang kini tengah mereka lakukan.” Batin Anggun.
Anggun ingin terkekeh saat mendengar calon suami kakaknya yang mendesah kecewa saat kakak tirinya itu menghentikan kegiatannya.
__ADS_1
Anggun menggunakan kesempatan itu untuk menarik napas panjang, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Meski tidak melihat secara langsung, tapi mendengar suara secara live juga mampu membuat Anggun berkali-kali menelan salivanya.
Sayang, waktu jeda yang dibuat pasangan itu tidak cukup lama untuk Anggun kembali terlelap.
Kini telinganya kembali menjadi saksi setiap lenguhan yang keluar dari bibir kakak tirinya. Belum lagi ucapan-ucapan menggoda dari calon kakak iparnya seperti ;
“Aku suka, bibirmu terasa sangat manis."
Atau,
“Bukitmu sungguh indah sayang, aku suka saat dia menantangku untuk segera mencicipinya.”
Atau,
“Kau basah sayang.”
Dalam hati Anggun hanya berdoa semoga keduanya disadarkan jika saat ini mereka sedang berada di rumah sakit, dan ada pasien yang bisa saja melihat kegilaan mereka berdua.
Apalagi kini bukan hanya suara lenguhan kakak tirinya yang Ia dengar, tapi suara erangan dari calon kakak iparnya juga sudah mulai menyahuti.
Anggun sudah tidak bisa menahan untuk tidak mengumpati pasangan luck nut itu.
“Apa mereka sebegitu menikmatinya hingga tak sadar tempat dan keadaan sekitarnya.”
“Besok malam ku pastikan aku akan menolak jika pasangan ini ingin menjagaku lagi.”
“Tidak taukah mereka jika hormon wanita hamil membuat wanita lebih...., ah sudahlah.” Batin Anggun hanya bisa pasrah ketika telinganya ternodai dengan suara suara goib.
♡♡♡♡♡
Keesokan harinya Risa benar-benar melakukan semua syarat yang di berikan Aydin.
Ia telah meminta pendapat dari Dokter Hendra, mengenai niatnya. Dokter itu menyambut baik niat Risa, karena menurutnya tak ada hal lain yang dibutuhkan Anggun selain rasa aman dan kasih sayang tulus dari keluarganya, agar Ia merasa jika dirinya masih bisa diterima oleh orang lain.
Amora dan Esmepun tak ada yang keberatan dengan keputusan Risa.
“Sejak kamu menjadi adik kami, maka semua keluargamu adalah keluarga kami juga.” Begitu kata si Kembar.
Mengenai suster, Risa tak akan memikirkannya. Aydin yang mengurus semuanya.
Sudah diputuskan jika Anggun akan Risa ajak untuk tinggal bersamanya.
Dan malam ini, saat Aydin kembali dari bekerja, Risa menyampaikan pada Anggun niatnya.
Anggun dengan senang hati menerima semua yang Risa katakan.
“Besok pagi kalian sudah boleh membawa Anggun pulang.” Imbuh Dokter Hendra.
Hingga malam semakin larut, satu per satu yang menjenguk Anggun sudah pulang, menyisakan pasangan Risa-Aydin.
“Kakak pulanglah, istirahat dengan nyaman di rumah.” Bujuk Anggun.
Risa menggeleng, “Aku bukanlah kakak yang setega itu meninggalkan adiknya yang tengah hamil sendirian saat sedang sakit.” Balas Risa.
“Tapi kakak tega menodai telingaku dengan suara-suara goib.” Batin Anggun.
“Tapi kak,”
“Tak ada tapi tapi. Sekarang kamu tidur. Tidur larut tak baik bagi kesehatan Ibu hamil.” Titah Risa terlihat tak sabar.
Anggun mulai gugup, apa malam ini indranya akan kembali di suguhi suara suara goib secara live? Apalagi calon kakak iparnya sudah memanggil-manggil.
“Sayang, jika sudah selesai kemarilah. Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan. Kamu pasti suka.” Ucap Aydin.
Risa yang hendak menghampiri Aydin ditahan oleh Anggun.
“Kak, maafkan aku. Apa boleh aku berkata jujur?”
Risa mengangguk.
“Janji Kakak tidak akan marah.”
Risa kembali mengangguk.
“Apa mungkin malam ini kalian berdua akan melakukan yang seperti kemarin malam?” tanya Anggun.
“Maksudmu?” Risa masih tak mengerti.
Anggun menjawab dengan gerakan dua telunjuk yang saling bersentuhan.
Risa membulatkan matanya, “Apa kamu semalam melihatnya?”
Anggun menggeleng, dan Risa menghembuskan napas lega.
“Tapi aku mendengarnya.” Ucap Anggun singkat.
Risa tepaku di tempatnya.
Wajahnya sudah semerah tomat karena malu.
“Aku sangat malu, siapa saja tolong bawa aku pergi.” Batin Risa menjerit.
♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
Tidak ada keluarga yang sempurna.
Namun kasih sayang selalu ada untuk menutupi kekurangannya.