
" Halo .... "
" Halo .... ini benar nomornya Brisa ? " terdengar suara pria yang berbicara .
" Sepertinya aku pernah mendengar suara ini , tapi dimana yah . " batin Brisa .
" Halo.... lu masih disana kan ? " pria itu bertanya lagi .
" Eh .. iya maaf maaf . Ini siapa yah ? " tanya Brisa .
" Gue sahabatnya Eijaz . Dia ada nitipin sesuatu untuk lu . Bisa kita ketemuan gak ? " ujarnya .
Beberapa pikiran mengenai hal buruk yang mungkin terjadi pada Eijaz terlintas di benak Brisa .
" Bisa . " Jawab Brisan singkat .
" Kirim lokasi lu sekarang , gue kesana . " Ujarnya lalu memutus sambungan telepon .
Brisa segera melakukan apa yang diminta oleh sahabat Eijaz .
Dan benar saja , 15 menit kemudian Brisa bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat .
Brisa mengamati pria yang mengaku sahabat Eijaz dari atas rumah pohon .
Pria itu berjalan perlahan , menggunakan ponselnya sebagai sumber cahaya . Tak henti hentinya pria itu menggerutu .
" Ini bener gak sih lokasinya disini . Apa tuh cewek ngerjain gue ? Lagian cewek apa sih yang mainnya di tempat seperti ini malam malam . " gerutunya .
Sejenak Brisa terhibur mendengar ocehan pria itu .
" Lokasinya bener kok . " Teriak Brisa dari atas rumah pohon .
Pria itu mengedarkan pandangannya hingga akhirnya cahaya ponselnya menemukan seorang gadis sedang duduk di atas sebuah rumah pohon .
Pria itu mendekat ke arah pohon besar itu . Dalam hatinya Ia terus mengutuk sahabatnya yang memintanya untuk menemui gadis pujaannya .
" Turun Lu . " perintahnya .
Brisa menggeleng . " Kamu aja yang naik kesini . " tantang Brisa .
Dari pada membuang waktu lebih lama , pria itu memutuskan untuk naik ke atas .
Satu per satu tangga kayu Ia pijak , hingga berhasil mendudukkan dirinya tepat di samping gadis yang bernama Brisa .
Pria itu adalah Aydin . Sahabat Eijaz sejak mereka masih SMA . Aydin tidak hanya tampan , dia juga memiliki otak yang jenius .
Aydin membuka tas ranselnya mengambil sebuah kotak yang dititipkan Eijaz .
Gerakan Aydin mendapat perhatian dari Brisa , apalagi setelah melihat tulisan ' Ohana ' di tas pria itu .
" Ohh.. jadi ini pria Ohana itu , pemilik kamera yang tempo hari . " batin Brisa .
" Nih ... titipan Eijaz . " ucapnya datar .
Brisa membuka kotak itu di dalamnya ada sebuah surat dan sebuah kotak lagi berukuran kecil .
Brisa segera membaca isi surat Eijaz . Sungguh Ia tak menyangka jika selama ini hampir 2 tahun mereka dekat , Eijaz menyimpan perasaan padanya . Eijaz juga memintanya untuk menunggu hingga dia kembali , dan saat itu Ia akan menyatakan langsung isi hatinya .
Saat Brisa sedang membaca surat dari Eijaz , diam diam Aydin memperhatikan wajah gadis itu .
Cantik . Walaupun disini gelap , tapi Aydin bisa melihat keindahan pada mata gadis ini . Tatapanya sendu , membuat orang yang menatapnya ingin melindunginya . Raut wajah gadis ini , terasa sangat menyedihkan , gadis yang rapuh di balik senyum yang Ia tampilkan .
Begitulah penilaian Aydin pada Brisa . Pantas saja Eijaz selama ini menyembunyikannya . Berlian yang belum diasah .
Brisa menutup kembali kotak itu . Ia menatap pria Ohana disampingnya .
" Syukurlah kak Eijaz baik.baik saja. Tapi apa kamu tahu dia dimana sekarang ? " Tanya Brisa .
" Jadi kamu belum tahu . Daddy Eijaz meninggal dunia seminggu yang lalu . Karena orang tuanya tinggal di L.A jadinya Eijaz pergi ke sana . " Jawab Aydin jujur .
Setelah mendapat jawaban yang Ia mau , Brisa berbalik mematikan lampu .
" Ya udah, makasih yah udah mau nganterin kotaknya . Aku pulang duluan yah . " ucap Brisa .
Tanpa menunggu jawaban Aydin , Brisa melompat turun dari rumah pohon .
Aydin menjadi panik , dan ikut ikutan melompat turun . Dengan kaki panjangnya Ia mengejar gadis yang baru saja meninggalkannya .
" Hei ... " Aydin meraih pundak Brisa .
Brisa yang terkejut langsung menoleh membuat pipinya terkena punggung tangan Aydin .
" Aaauuccchhh.... " Brisa meringis .
" Maaf ... maaf ... " ujar Aydin segera .
Tapi sesuatu menarik perhatian Aydin . Segera di nyalakan ponselnya , lalu mengarahkan cahaya ke wajah Brisa .
Aydin terkejut melihat pipi Brisa yang merah lebam . "Lu baik baik aja kan ? " tanya Aydin .
"Lu gak lagi terlibat masalah kan ? "
Brisa menggeleng . "Aku duluan yah . "
Lalu berlari meninggalkam Aydin yang mematung .
" Sebenarnya siapa gadis itu ? apa Eijaz juga tahu apa yang dia sembunyikan ? " bantin Aydin .
Hari berganti menjadi minggu. Minggu terus berlalu menjadi bulan . Terhitung sudah 10 bulan berlalu Brisa mengurus toko buku yang pemiliknya entah berada dimana .
Kotak pemberian Eijaz masih tersimpan rapi dalam laci di meja kasir toko buku .
Bersyukur Brisa punya Kirani yang selalu menyemangatinya untuk bertahan . Membantunya , memberi semangat .
__ADS_1
Kehidupan bak neraka di rumah Ayah dan Ibu tirinya , tetap sama . Walaupun hari terus berganti , tapi penyiksaan terhadap Brisa tetap terjadi .
Sebentar lagi ujian nasional , lalu pengumuman kelulusan . Dan perlu diingat jika sebentar lagi usiaku 18 tahun , 2 bulan lagi lebih tepatnya .
Sejak sekolah mengadakan kelas persiapan ujian nasional, Brisa tidak lagi mampir ke toko buku karena selain lelah waktunya juga sudah mepet .
Sesampainya di rumah Brisa merebahkan tubuhnya di kamar , hari ini Ia sangat lelah .
Ceklek
Pintu kamarnya di buka .
Indri , ibu tiri nya masuk dan melempar sebuah gaun pendek berwarna merah ,sepatu hak tinggi dan sebuah foundation .
" Cepat bersiap dan pakai gaun itu . Jangan lula samarkan lebam lebam yang terlihat . " perintahnya .
Indri pergi setelah memastikan Brisa mandi .
15 menit kemudian , Brisa sudah menggunakan gaun pendek itu . Bagian atas dan punggungnya sangat terbuka , dengan potongan dada rendah .
Brisa bergidik ngeri melihat penampilannya . " Ia terlihat seperti wanita murahan . " batinnya .
Baru saja Brisa ingin mengganti pakaiannya , Indri kembali masuk di kamar Brisa . Ia menarik paksa gadis itu untuk menemui suaminya .
" Dia sudah siap . " teriak Indri .
" Pa kamu lihat sendirikan , anak ini memang cocok menjadi wanita murahan . " ujar Indri .
Sementara Brisa melihat tatapan mata Ferdinand bukan lagi tatapan seorang ayah , tapi seperti seorang pria hidung belang yang tak sabar ingin menyerangnya .
Ferdinand menarik lengan Brisa , membawanya kemobil.
" Masuk . " perintahnya .
Brisa mau tak mau harus menurut karena Ferdinand yang mencengkram erat lengannya .
Mobil melaju dan setelah beberapa menit mobil berhenti di sebuah hotel .
" Ayah , untuk apa kita kesini ? " tanya Brisa namun diacuhkan .
Ferdinand harus sedikit menyeret Brisa , hingga sampai di dalam ruangan sebuah restauran .
" Diam saja . Lakukan semua perintahku atau nyawa Mbok Min akan langsung melayang saat kau buat kesalahan sedikit saja . " Ancam Ferdinand .
Disana sudah ada 2 pria paruh baya yang menunggu .
Ferdinand mendudukkan Brisa di antara kedua pria itu .
" Bagaimana ? " tanya Ferdinand .
Kedua paruh baya itu menoleh ke arah Brisa secara bersamaan , " Cantik . " Jawab mereka kompak .
" Cobalah dulu . " ujar Ferdinand sambil menyeringai . Seakan Brisa adalah makanan yang boleh dicicipi sebelum membeli .
__ADS_1
Lalu salah satu pria itu mulai meraba punggung mulus Brisa . Sementara pria yang satunya lagi meraba pahanya .
Brisa sudah mulai terisak , ingin rasanya Ia memberontak . Tapi tatapan dari Ferdinand mengancam dengan taruhan nyawa wanita yang menjadi pengasuhnya sejak kecil .
Brisa mencoba bertahan , semoga apa yang Ia takutkan tidak terjadi . Semoga hari ini dia masih bisa selamat .
Brisa terkesiap tatkala pria yang meraba punggungnya kini mulai meremas bukit kembar miliknya dengan kasar .
Sementara pria yang satunya seakan tak mau kalah juga ikut meremas bukit Brisa yang lain . Dengan satu tangan yang terus berusaha mencapai pangkal paha gadis itu .
Air mata sudah mengaliri pipi Brisa . Ferdinand melihat hal itu lalu mulai menghina gadis yang nyatanya putri kandungnya .
" Kenapa kamu menangis ? Apa rasanya sangat nikmat haahhh ? "
Pertanyaan penuh hinaan dari mulut ayah kandungnya membuat hati Brisa seakan di cabik cabik .
Saat biasanya seorang Ayah akan melindungi putrinya , tapi Brisa malah akan dihancurkan oleh ayah kandungnya .
Kedua pria paruh baya itu baru berhenti menggerayangi tubuh Brisa setelah 10 menit berlalu . Hanya 10 menit dan di beberapa bagian tubuh Brisa sudah tercetak dengan jelas jejak jejak sentuhan bibir pria itu .
" Oke kami setuju . " ujar salah satu pria .
" Dua bulan lagi . Pastikan semua dokumen pengalihan pemilik perusahaan beres . Lalu kalian bisa memiliki gadis itu . " balas Ferdinand .
Kedua pria itu lebih dulu pergi .
Ferdinand menatap penuh hasrat pada putrinya .
" Seandainya aku belum berjanji memberikan pada mereka yang masih perawan , maka kau sudah ku habisi . " Ujarnya .
Brisa mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk .
" Dasar Iblis . Setelah membunuh ibuku yang tak lain adalah istrimu . Kini kamu akan menjualku pada pria tadi dan menukarnya dengan perusahaan . " ujar Brisa penuh penekanan .
" Ternyata kamu pintar juga , sudah paham tanpa perlu ku beritahu . " Ferdinand menyeringai .
" Salahkan kakek tua itu . Setelah aku yang bekerja mati matian membangun perusahaan , lalu mengapa kamu yang di jadikan ahli warisnya . Bocah yang saat itu masih berusia 5 tahun . " Tawa Ferdinand terdengar menggema di ruangan itu .
" Kenapa kau tak langsung membunuhku saja . Ayo lakukan , bunuh aku sekarang . Bukankah kau sangat membenciku ? " tantang Brisa .
Hati gadis itu rasanya sudah hancur.
" Kamu masih tidak paham juga rupanya . Jika aku ingin , sudah sejak dulu kau ku lenyapkan . Namun Aku tidak suka mengotori tanganku untuk hal yang bisa orang lain lakukan untukku . Kamu pikir kedua pria tadi akan membiarkanmu pergi setelah puas bermain main denganmu ? Sebaiknya kamu persiapkan dirimu saja , karena mereka berdua tak akan melepaskanmu sampai kamu berhenti menghembuskan napas . "
Ferdinand kemudian berbalik hendak pergi . Namun langkahnya berhenti , " Jangan berani macam macam atau kau akan menjadi penyebab Mbok Min terbunuh . " ancamnya lalu pergi meninggalkan Brisa.
.
.
.
.
.
" *Apabila bisa bertemu dengan Tuhan, aku akan berkata kepada-Nya bahwa hidup ini adalah secangkir kopi yang tak pernah aku minta. (RM - Always*) "
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue