Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 8 . Iblis berkedok ayah


__ADS_3

" Halo .... "


" Halo .... ini benar nomornya Brisa ? " terdengar suara pria yang berbicara .


" Sepertinya aku pernah mendengar suara ini , tapi dimana yah . "  batin Brisa .


" Halo.... lu masih disana kan ? " pria itu bertanya lagi .


" Eh .. iya maaf maaf . Ini siapa yah ? " tanya Brisa .


" Gue sahabatnya Eijaz . Dia ada nitipin sesuatu untuk lu . Bisa kita ketemuan gak ? " ujarnya .


Beberapa pikiran mengenai hal buruk yang mungkin terjadi pada Eijaz terlintas di benak Brisa .


" Bisa . " Jawab Brisan singkat .


" Kirim lokasi lu sekarang , gue kesana . " Ujarnya lalu memutus sambungan telepon .


Brisa segera melakukan apa yang diminta oleh sahabat  Eijaz .


Dan benar saja , 15 menit kemudian Brisa bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat .


Brisa mengamati pria yang mengaku sahabat Eijaz dari atas rumah pohon .


Pria itu berjalan perlahan , menggunakan ponselnya  sebagai sumber cahaya . Tak henti hentinya pria itu menggerutu .


" Ini bener gak sih lokasinya  disini . Apa tuh cewek ngerjain gue ? Lagian cewek apa sih yang mainnya di tempat seperti ini malam malam . " gerutunya .


Sejenak Brisa terhibur mendengar ocehan pria itu .


" Lokasinya bener  kok . " Teriak Brisa dari atas rumah pohon .


Pria itu mengedarkan pandangannya hingga akhirnya cahaya ponselnya menemukan seorang gadis sedang duduk di atas sebuah rumah pohon .


Pria itu mendekat ke arah pohon besar itu . Dalam hatinya Ia terus mengutuk sahabatnya yang memintanya untuk menemui gadis pujaannya .


" Turun Lu . " perintahnya .


Brisa menggeleng . " Kamu aja yang naik kesini . " tantang Brisa .


Dari pada membuang waktu lebih lama , pria itu memutuskan untuk naik ke atas .


Satu per satu tangga kayu Ia pijak , hingga berhasil mendudukkan dirinya tepat di samping gadis yang bernama Brisa .


Pria itu adalah Aydin . Sahabat Eijaz sejak mereka masih SMA .  Aydin tidak hanya tampan , dia juga memiliki otak  yang jenius .


Aydin membuka tas ranselnya mengambil sebuah kotak yang dititipkan Eijaz .


Gerakan Aydin mendapat perhatian dari Brisa , apalagi setelah melihat tulisan  '  Ohana  ' di tas pria itu .


" Ohh.. jadi ini pria Ohana itu , pemilik kamera yang tempo hari . " batin Brisa .


" Nih ... titipan Eijaz . " ucapnya datar .


Brisa  membuka kotak itu  di dalamnya ada sebuah surat dan sebuah kotak lagi berukuran kecil .


Brisa segera membaca isi surat Eijaz . Sungguh Ia tak menyangka jika selama ini hampir 2 tahun mereka dekat , Eijaz menyimpan perasaan padanya . Eijaz juga memintanya untuk menunggu hingga dia kembali , dan saat itu Ia akan menyatakan langsung isi hatinya .


Saat Brisa sedang membaca surat dari Eijaz , diam diam Aydin memperhatikan wajah gadis itu .


Cantik . Walaupun disini gelap , tapi Aydin bisa melihat keindahan pada mata gadis ini . Tatapanya sendu , membuat orang yang menatapnya ingin melindunginya . Raut wajah gadis ini , terasa sangat menyedihkan , gadis yang rapuh di balik senyum yang Ia tampilkan .


Begitulah penilaian Aydin pada Brisa . Pantas saja Eijaz selama ini menyembunyikannya . Berlian yang belum diasah .


Brisa menutup kembali kotak itu . Ia menatap pria Ohana disampingnya .


" Syukurlah kak Eijaz baik.baik saja. Tapi apa kamu tahu dia dimana sekarang ? " Tanya Brisa .


" Jadi kamu belum tahu . Daddy Eijaz meninggal dunia seminggu yang lalu . Karena orang tuanya tinggal di L.A jadinya Eijaz pergi ke sana . "  Jawab Aydin jujur .


Setelah mendapat jawaban yang Ia mau , Brisa berbalik mematikan lampu .


" Ya udah, makasih yah udah mau nganterin kotaknya . Aku pulang duluan yah . " ucap Brisa .


Tanpa menunggu jawaban Aydin ,  Brisa melompat turun dari rumah pohon .


Aydin menjadi panik , dan ikut ikutan melompat turun . Dengan kaki panjangnya Ia mengejar gadis yang baru saja meninggalkannya .


" Hei ... " Aydin meraih pundak Brisa .


Brisa yang terkejut langsung menoleh membuat pipinya terkena punggung tangan Aydin .


" Aaauuccchhh.... " Brisa meringis .


" Maaf ... maaf ... " ujar Aydin segera .


Tapi sesuatu menarik perhatian Aydin . Segera di nyalakan ponselnya , lalu mengarahkan cahaya ke wajah Brisa .


Aydin terkejut melihat pipi Brisa yang merah lebam .  "Lu baik baik aja kan  ? " tanya Aydin .


"Lu gak lagi terlibat masalah kan ? "


Brisa  menggeleng . "Aku duluan yah . "


Lalu  berlari meninggalkam Aydin yang mematung .


" Sebenarnya siapa gadis itu ? apa Eijaz juga tahu apa yang dia sembunyikan ? " bantin Aydin .




Hari berganti menjadi minggu. Minggu terus berlalu menjadi bulan .  Terhitung sudah 10 bulan berlalu Brisa mengurus toko buku yang pemiliknya entah berada dimana .


Kotak pemberian Eijaz masih tersimpan rapi dalam laci di meja kasir toko buku .



Bersyukur Brisa punya Kirani yang selalu menyemangatinya untuk bertahan . Membantunya , memberi semangat  .

__ADS_1



Kehidupan bak  neraka di rumah Ayah dan Ibu tirinya , tetap sama . Walaupun hari  terus berganti , tapi penyiksaan terhadap Brisa tetap terjadi .



Sebentar lagi ujian nasional , lalu pengumuman kelulusan . Dan perlu diingat jika sebentar lagi usiaku 18 tahun , 2 bulan lagi lebih tepatnya .



Sejak sekolah mengadakan kelas persiapan ujian nasional, Brisa tidak lagi mampir ke toko buku karena selain lelah waktunya juga sudah mepet .



Sesampainya di rumah Brisa merebahkan tubuhnya di kamar , hari ini Ia sangat lelah .



Ceklek


Pintu kamarnya di buka .



Indri , ibu tiri nya masuk dan melempar sebuah gaun pendek berwarna merah ,sepatu hak tinggi dan sebuah foundation .



" Cepat bersiap dan pakai gaun itu . Jangan lula samarkan lebam lebam yang terlihat . " perintahnya .



Indri pergi setelah memastikan Brisa mandi .



15 menit kemudian , Brisa sudah menggunakan gaun pendek itu . Bagian atas dan punggungnya sangat terbuka , dengan potongan dada rendah .



Brisa bergidik ngeri melihat penampilannya . " Ia terlihat seperti wanita murahan . " batinnya .



Baru saja Brisa ingin mengganti pakaiannya , Indri kembali masuk di kamar Brisa . Ia menarik paksa gadis itu untuk menemui suaminya .



" Dia sudah siap . " teriak Indri .



" Pa kamu lihat sendirikan , anak ini memang cocok menjadi wanita murahan . " ujar Indri .



Sementara Brisa melihat tatapan mata Ferdinand bukan lagi tatapan seorang ayah , tapi seperti seorang pria hidung belang yang tak sabar ingin menyerangnya .




Ferdinand menarik lengan Brisa , membawanya kemobil.



" Masuk . " perintahnya .



Brisa mau tak mau harus menurut karena Ferdinand yang mencengkram erat lengannya .



Mobil melaju  dan setelah beberapa menit mobil berhenti di sebuah hotel .



" Ayah , untuk apa kita kesini ? " tanya  Brisa namun diacuhkan .



Ferdinand harus sedikit menyeret Brisa , hingga sampai di dalam ruangan sebuah restauran .



" Diam saja . Lakukan semua perintahku atau nyawa Mbok Min akan langsung melayang saat kau  buat kesalahan sedikit saja . " Ancam Ferdinand .



Disana sudah ada 2 pria paruh baya yang menunggu .



Ferdinand mendudukkan Brisa di antara kedua pria itu .



" Bagaimana  ? " tanya Ferdinand .



Kedua paruh baya itu menoleh ke arah Brisa secara bersamaan , " Cantik . " Jawab mereka kompak .



" Cobalah dulu . " ujar Ferdinand sambil menyeringai . Seakan Brisa adalah makanan yang boleh dicicipi sebelum membeli .


__ADS_1


Lalu salah satu pria itu mulai meraba punggung mulus Brisa . Sementara pria yang satunya lagi meraba pahanya .



Brisa sudah mulai terisak , ingin rasanya Ia memberontak . Tapi tatapan dari Ferdinand mengancam  dengan taruhan nyawa wanita yang menjadi pengasuhnya sejak kecil .



Brisa mencoba bertahan , semoga apa yang Ia takutkan tidak terjadi . Semoga hari ini dia masih bisa selamat .



Brisa terkesiap tatkala pria yang meraba punggungnya kini mulai meremas bukit kembar miliknya dengan kasar .



Sementara pria yang satunya seakan tak mau kalah juga ikut meremas bukit Brisa yang lain . Dengan satu tangan yang terus berusaha mencapai pangkal paha gadis itu .



Air mata sudah mengaliri pipi Brisa . Ferdinand melihat hal itu lalu mulai menghina gadis  yang nyatanya putri kandungnya .



" Kenapa kamu menangis ? Apa rasanya sangat nikmat haahhh ? " 



Pertanyaan penuh hinaan dari mulut ayah kandungnya membuat hati Brisa seakan di cabik cabik .



Saat biasanya seorang Ayah akan melindungi putrinya , tapi Brisa malah akan dihancurkan oleh ayah kandungnya .



Kedua pria paruh  baya itu baru berhenti menggerayangi tubuh Brisa setelah 10 menit berlalu . Hanya 10 menit dan di beberapa bagian tubuh Brisa sudah tercetak dengan jelas jejak jejak sentuhan bibir pria itu .



" Oke kami setuju . " ujar salah satu pria .



" Dua bulan lagi . Pastikan semua dokumen pengalihan pemilik perusahaan beres . Lalu kalian bisa memiliki gadis itu . "  balas Ferdinand .



Kedua pria itu lebih dulu pergi .



Ferdinand menatap penuh hasrat pada putrinya .


" Seandainya aku belum berjanji memberikan pada mereka yang masih perawan , maka kau sudah ku habisi . "  Ujarnya .



Brisa mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk .



" Dasar Iblis . Setelah membunuh ibuku yang tak lain adalah istrimu . Kini kamu akan menjualku pada pria tadi dan menukarnya dengan perusahaan . "  ujar Brisa penuh penekanan .



" Ternyata kamu pintar juga , sudah paham tanpa perlu ku beritahu . " Ferdinand menyeringai .



" Salahkan kakek tua itu . Setelah aku yang bekerja mati matian membangun perusahaan , lalu mengapa kamu yang di jadikan ahli warisnya . Bocah yang saat itu masih berusia 5 tahun . " Tawa Ferdinand terdengar menggema di ruangan itu .



" Kenapa kau tak langsung membunuhku saja . Ayo lakukan , bunuh aku sekarang . Bukankah kau sangat membenciku ? " tantang Brisa .



Hati gadis itu rasanya sudah hancur.



" Kamu masih tidak paham juga rupanya . Jika aku ingin , sudah sejak dulu kau ku lenyapkan . Namun Aku tidak suka mengotori tanganku untuk hal yang bisa orang lain lakukan untukku . Kamu pikir kedua pria tadi akan membiarkanmu pergi setelah puas bermain main denganmu ? Sebaiknya kamu persiapkan dirimu saja , karena mereka berdua tak akan melepaskanmu sampai kamu berhenti menghembuskan napas . "



Ferdinand kemudian berbalik hendak pergi . Namun langkahnya berhenti , " Jangan berani macam macam atau kau akan menjadi penyebab Mbok Min terbunuh . " ancamnya lalu pergi meninggalkan Brisa.



.


.


.


.


.


" *Apabila bisa bertemu dengan Tuhan, aku akan berkata kepada-Nya bahwa hidup ini adalah secangkir kopi yang tak pernah aku minta. (RM - Always*) "


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2