
Percayalah pada kekuatan doa.
Percayalah jika doa bisa membawa pada keajaiban.
Percaya pada keajaiban, tapi tidak tergantung padanya.
Sebab keajaiban akan datang jika kita berusaha dan berani untuk bertindak.
Namun jika ada salah satu hal yang tidak bisa kamu lakukan, jangan putus asa, tapi berserah dirilah padanya.
Ketika tanganmu tak dapat lagi menggapai, maka berdoalah. Dan biarkan tangan Tuhan yang akan melakukannya.
Percayakan padanya, dan kamu akan menemukan keajaibannya.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Hidup itu penuh misteri bukan?
Pernahkah bisa menebak apa yang akan terjadi besok? Atau pernahkah bisa memilih perasaan apa yang ingin kamu rasakan saat ini?
Begitu pun dengan Risa, siapa yang menyangka jika kini wanita itu kembali sadar setelah beberapa hari dalam kondisi kritis sebab menantang maut?
Berhari-hari Ia tak sadarkan diri setelah terjatuh di jurang pada malam mereka hendak berkemah. Kini Risa akhirnya sadar.
Wanita itu kembali membuka kedua netranya, dan yang pertama kali Ia ucapkan sangat menyakitkan hati.
“Kenapa aku tidak mati saja?” ucapnya.
Ia tampak diselimuti penyesalan, mengapa Tuhan masih mengizinkannya kembali.
“Maafkan aku Tuhan, sungguh aku adalah manusia lemah yang tak tahu terima kasih,” batinnya.
“Namun untuk kali ini, bolehkah Engkau mengambil nyawaku saja?” pintanya penuh permohonan.
“Risa ... apa yang Kau bicarakan Nak? Kau menyakiti hati Eomma dengan keinginanmu itu,” ujar Eomma yang baru saja diizinkan masuk menemui Risa di dalam ruang ICCU.
“Eomma maafkan aku, sungguh sudah terlalu berat beban hidupku Eomma. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan,” balas Risa
“Sakit Eomma, sakit. Aku tahu ini bukan kesalahan Kak Eijaz, kami sebagai anak hanya korban keegoisan orang tua kami. Namun rasanya aku telah salah Eomma ... aku ... aku ...”
Risa tercekat, rasanya sangat sulit bagi Risa untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
Hancur hatinya, selama lebih dari 10 tahun Ia menyimpan dendam pada Ayahnya, semua kesalahan Ia limpahkan pada Ayahnya, Ia telah menjadi anak durhaka yang memenjarakan Ayah kandungnya.
Mungkin memang tindakannya sudah benar, namun setelah mengetahui jika semua berawal dari kecemburuan seorang wanita, Risa merasa salah telah membebankan semua kesalahan ini pada ayahnya.
Melihat betapa rapuhnya putri angkatnya, hati Eomma Martha juga ikut hancur.
Ia peluk erat tubuh Risa. “Izinkan aku menanggung sebagian bebannya Tuhan,” doa tulus seorang Ibu terkirim dari lubuk hati terdalamnya.
Hari ini untuk kedua kalinya, Risa mengharapkan ajal segera menjemputnya.
“Bukankah kita bertahan hidup untuk mencapai suatu tujuan?”
“Jika aku tak punya, bukannya lebih baik jika aku hengkang saja?”
“Kuyakini Engkau memiliki rencana untukku, tapi jika Engkau izinkan aku memilih, aku ingin mengakhirinya,” batin Risa.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# 6 bulan kemudian... #
Di sebuah kota yang sangat cantik, hanya berjarak sekitar 22 km ke sebelah Utara dari Amsterdam.
Volendam, yang terletak di Provinsi Noord-Holland. Secara geografis kota ini terletak di tepi teluk Ijsselmeer, wilayah Utara Belanda.
Volendam menjadi salah satu destinasi favorit di Belanda, sebab masyarakat lokal yang masih melestarikan kebudayaannya.
Di kota ini, akan dengan mudah dijumpai rumah-rumah dengan arsitektur tradisional yang dibangun dari kayu serta dicat berwarna-warni.
__ADS_1
Selain rumah, para penduduk setempat juga masih sering mengenakan pakaian tradisional Belanda yang dipakai saat festival rakyat.
Di sebuah kafe yang berada di tepi pelabuhan, tampak seorang wanita cantik dengan kursi rodanya sedang termenung di tengah ramainya lalu lalang aktivitas di pelabuhan Volendam sore itu.
Sesekali Ia akan menyesap kopi yang berada di pangkuannya. Jika hanya melihat sepintas, maka tak akan ada yang tahu jika wanita malang ini ternyata tak bisa menikmati pemandangan kota Volendam yang seringkali Ia dengar.
“Aunty ... Licaaaaa,” pekikan dari seorang anak kecil membuyarkan lamunan wanita malang itu.
Risa, dia adalah Brisa Elzavira.
“Jadi hari ini kau membawa apa untuk aunty?” tanya Risa pada bocah itu.
“Hari ini Uncle Toby memberi Iyan kue kering berbentuk hati,” jawab Rian, putra Anggun.
“Wah ... Aunty yakin pasti rasanya sangat lezat,” balas Risa.
Rian mengedikkan bahunya lalu menggeleng. “Aku tak tahu lasanya, tapi dali walnanya memang cantik.”
Rian yang sudah berhasil naik ke pangkuan Risa, meletakkan di atas telapak tangan aunty-nya satu bungkus kue kering yang sejak tadi mereka bahas.
“Aku tak memakannya, ini untuk Aunty,” ujarnya.
“Kata uncle Toby, kue ini halus dibelikan pada yang kita sayang. “
“Iyan menyayangi Aunty,” jelasnya dengan suara cadel khas anak kecil.
Risa memeluk Rian yang berada di pangkuannya. Keponakannya itu sungguh mengingatkan Risa pada Dafha yang dahulu juga selalu bersikap manis padanya.
“Terima kasih sayang, Aunty juga sangat menyayangi Rian,” balas Risa.
Melihat kedekatan Kakak dan Putranya, mata Anggun sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Enam bulan yang lalu, sejak Risa dibolehkan pulang dari rumah sakit, Ia memilih untuk pindah ke tempat ini.
Bukan untuk menyendiri, hanya saja Ia ingin ke tempat yang belum pernah memiliki sejarah kelam tentang dirinya.
Beruntungnya Risa, Anggun dan Putranya Rian memaksa untuk ikut bersamanya. Hingga di sinilah ketiganya saat ini. Bersama-sama melewati hari demi hari selama 6 bulan terakhir.
Selama itu pula, tiap sore menjelang ketiganya akan berjalan kaki menuju kafe di tepi pelabuhan.
Risa akan menunggu Anggun sekitar 1 jam lamanya untuk mengikuti kursus membuat kue yang letaknya tak jauh dari kafe tempat Risa menunggu.
“Jika Rian sangat menginginkan kue ini, tak apa ... Rian boleh memakannya,” ujar Risa.
Rian menggeleng. “No Aunty. Ini memang Iyan bawa untuk Aunty. Jika Iyan ingin, nanti Iyan akan minta punya Mami saja.”
“Uncle Toby juga membeli Mami kue yang sama” sambungnya sambil berbisik.
Wajah Anggun sudah merona, tak menyangka jika putranya akan menceritakan hal itu pada kakaknya.
Uncle Toby sebenarnya bernama Roby, guru di tempat Anggun kursus.
Risa tertawa. “Apa mungkin kini adikku sedang kasmaran?” Goda Risa.
Anggun yang malu karena godaan kakaknya, segera mengalihkan pembicaraan.
“Sudah-sudah, langitnya sudah mulai berubah warna. Hari ini lebih jingga dari biasanya,” jelas Anggun.
Tujuannya agar Risa bisa membayangkan bagaimana indahnya langit senja kala itu.
“Oh yah? Pasti sangat indah,” gumamanya.
“Yah, indah kak. Kita beruntung hari ini bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan sekali lagi,” ujar Anggun.
Begitulah ketiganya akan melewati sore mereka. Menanti beberapa saat, Risa membayangkan indahnya senja melalui apa yang diucapkan adiknya.
Setelah beberapa menit berlalu, Anggun akan mengajak kakak dan putranya pulang.
“Oke, cukup untuk sore ini. Sebaiknya kita kembali sekarang sebelum langit berubah gelap,” ujar Anggun.
__ADS_1
Ia segera mendorong kursi roda Risa dengan putranya yang masih berada di pangkuan Risa.
“Baiklah ayo kita pulang, aku juga sudah tidak sabar ingin mendengar ceritamu soal Roby,” balas Risa kembali menggoda adiknya.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Enam bulan yang lalu, di saat keadaan Risa berangsur-angsur membaik, di saat Risa mulai bisa menerima keadaannya, di saat itu pula Ia kembali diuji.
Sebuah fakta kembali terungkap. Fakta itu bahkan membuat Risa harus menjauh dari Eijaz, pria yang selama ini menjadi kakak penolong baginya.
Tapi Eijaz tak bersalah!
Benar, Risa sadar dan mengakui itu. Tapi Ia hanya manusia biasa, ada rasa yang tak bisa Ia lukiskan jika mengingat kembali fakta jika Ibu kandung Eijaz adalah sutradara dibalik semua kejadian yang menimpanya.
Risa memilih menjauhi Eijaz. Lebih baik seperti ini, sebab selamanya Risa tak akan pernah sanggup jika dipaksa untuk membenci pria itu, kakak penolongnya.
Hidup penuh misteri? Iya.
Di tengah rasa sakit di hati Risa yang sedang berusaha Ia pulihkan, Tuhan kembali mengizinkan sedikit kebahagiaan hinggap di sana.
Setelah makan malam, Eomma Martha menghubungi Risa melalui ponsel milik Anggun.
“Halo Nak, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik, kami semua baik. Bagaimana dengan Eomma dan Appa?”
“Kami baik sayang, semakin baik setelah mendapat sebuah kabar gembira,” ucap Eomma dengan bersemangat.
“Bolehkah aku tahu kabar gembira apa itu?”
“Tentu saja sayang, karena ini semua tentangmu,” jawab Eomma.
“Sebentar lagi kamu akan bisa melihat kembali sayang!” Ucap Eomma.
Deg!
Risa mematung.
Benarkah? Apa benar jika dirinya akan bisa melihat lagi? Apa benar jika semua kegelapan ini akan menyingkir dari hadapannya?
“Ta ... tapi bagaimana bisa Eomma?”
“Dokter baru saja menghubungi Appa menyampaikan hal ini,” jawabnya.
“Seorang pasien mati otak, selama sebulan ini bertahan hidup hanya dengan bantuan alat-alat kedokteran. Kemarin keluarganya memutuskan untuk mengikhlaskan pasien itu. Ternyata telah lama pasien itu menanda tangani surat untuk mendonorkan beberapa organnya, termasuk kornea matanya,” jelas Eomma.
“Sungguh beruntung Nak, karena kali ini kamu yang mendapatkan kesempatan itu,” sambungnya.
Beruntung? Apa benar bisa dikatakan beruntung jika dibalik kebahagiaannya kelak ada banyak hati yang patah.
Bagaimana hati seorang Ibu yang akan kehilangan putra atau putrinya untuk selamanya.
Bagaimana hati suami atau istri yang akan kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya.
Atau bagaimana hati seorang anak yang akan kehilangan Ayah atau Ibu untuk selamanya.
“Bisakah aku bahagia dibalik itu semua?” batin Risa.
“Risa ... Risa ... Sayang ... Kamu baik-baik saja, kan?”
Suara khawatir Eomma Martha terdengar di seberang telepon.
“Ya Eomma, Aku baik-baik saja,” balas Risa.
“Bersiaplah malam ini, besok Appa akan menjemputmu. Kumohon Nak, jangan berpikir hal lain lagi. Ingatlah saja jika semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan.”
“Benarkah kali ini takdir Tuhan akan memihak padaku?” batin Risa.
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌼🌸🌼🌸
__ADS_1