Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 114. Menumpuk kesalahan.


__ADS_3

Bersembunyi dari setiap kesalahan tidak akan memberiku apa-apa. Selain drama yang kumainkan tak akan pernah berakhir, aku juga hanya bisa menanti saat penyesalan itu datang dan menghancurkan kehidupanku.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Setelah mengantar Risa bekerja, Aydin langsung memacu mobilnya menuju ke perusahaannya.


“Maaf Pak, pertemuan pagi ini dibatalkan oleh klien.” Ucap Sesil saat Aydin dan Franda sudah siap untuk berangkat ke lokasi meeting.


“Perusahaan seperti ini harus kita lebih perhatikan lagi. Tidak seharusnya mereka membatalkan janji seenaknya.” Ucap Franda karena kesal.


“Sil, apa hari ini aku ada pertemuan lain yang penting?”


“Tidak ada pertemuan lagi Pak hari ini.” Jawab Sesil.


“Franda aku titip perusahaan padamu dan Chandra. Aku akan izin seharian, aku ingin mengurus persiapan pernikahanku hari ini.” Pinta Aydin.


Tanpa memberi kabar lebih dulu, Aydin hendak menemui Risa. Namun saat mobilnya hendak Ia parkirkan, Aydin melihat Risa yang terburu-buru menaiki sebuah taksi.


Aydin segera mengikuti, kemana taksi itu membawa Risa.


Betapa terkejutnya, saat taksi yang ditumpangi calon istrinya berhenti di depan toko buku milik sahabatnya, Eijaz.


“Apa kamu akan menghianatiku sayang?” batin Aydin.


Hatinya sangat sakit, belum cukup kenyataan jika Risa tak jujur jika mengenal Eijaz, sekarang mereka bertemu dibelakangnya.


Dari dalam mobil, Aydin bisa melihat Risa cukup lama berdiri didepan pintu, sebelum akhirnya Ia masuk.


Aydin sebenarnya penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, namun Ia rasanya tak sanggup untuk melihat lebih lama lagi, saat netranya mendapati Risa yang berhambur memeluk Eijaz.


Hancur, hatinya hancur.


Kecewa, bukan hanya Risa yang mengecewakannya. Tapi Eijaz, sahabat yang sudah lama tak Ia temui juga ikut ambil bagian dalam kekecewaan yang Ia rasakan.


Aydin tak ingin terlalu lama menyaksikan hal yang membuatnya kecewa, Ia segera memacu mobilnya menjauhi tempat itu.


Aydin memilih menunggu Risa di sekolah putranya.


Namun kekecewaan kembali harus Aydin rasakan saat Risa tak kunjung datang sesuai janjinya.


“Bagaimana dengan pernikahan ini?”


“Apa aku masih harus terus egois dan memaksakan pernikahan ini?”


Batin Aydin seakan berperang.


Tidak ada kerelaan sedikitpun jika Ia harus melepaskan Risa.


“Bertahan, bertahanlah Aydin.” Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Dalam perjalanan meninggalkan sekolah Dafha, Risa hanya menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan Dafha, selebihnya dia akan ikut bungkam seperti yang dilakukan Aydin.


Risa bertanya-tanya kemana Aydin akan membawa mereka.


Dalam hati dia bisa sedikit tenang karena saat ini Dafha bersama mereka. Meskipun Aydin marah, pria itu tak akan mungkin emosi berlebihan jika ada putranya.


Mobil Aydin memasuki basement gedung Ohana Tech. Setelah memarkirkan kendaraannya ditempatkhusus untuknya, tanpa banyak bicara Aydin berjalan lebih dulu menuju ruangannya.


“Ma, Daddy marah karena Mama telat yah?” tanya Dafha.


Risa mengangguk.


“Dafha pikir Daddy marah karena lama menungguku di sekolah.” Ucap Dafha polos.


“Untuk apa Aydin menunggu di sekolah Dafha? Bukankah tadi dia memintaku yang menjemput? Apa dia ingin mengujiku?” Batin Risa.


Meski heran karena CEOnya kembali ke perusahaan setelah tadi berkata akan izin seharian, Sesil tetap berdiri menyambut Aydin yang masuk kembali ke ruangannya dengan terburu-buru.

__ADS_1


Baru saja sekertaris cantik itu hendak duduk, Ia melihat Risa yang menggandeng tangan Dafha membuatnya mengurungkan niatnya.


Tak ingin kehilangan pekerjaan, Sesil terpaksa menyapa dengan sopan pada calon istri atasannya.


“Tidak biasanya Aydin duduk di sofa,” batin Risa ketika Ia sudah menyusul masuk ke ruangan Aydin.


“Dafha, Daddy akan meminjamkanmu tablet. Tapi nontonlah dengan tenang di kamar Daddy,” bujuk Aydin.


Dafha tentu saja dengan senang hati mengikuti titah Aydin yang menguntungkan untuknya.


Risa semakin yakin jika Ia akan segera disidang, saat mendengar suara pintu yang dikunci.


“Kamu masih tidak ingin jujur padaku?” tanya Aydin saat kembali duduk ke sofa.


“Apa kamu selingkuh? Menduakanku? Mengapa tidak berkata jujur saja.” Sambungnya.


Risa tak terima Aydin menuduhnya hal yang tidak Ia lakukan.


“Ay, jangan menuduhku. Aku akui memang telah berbohong padamu, tapi bukannya aku selingkuh atau menduakanmu.” Risa membela dirinya.


“Lalu kemana saja kamu?”


“Aku pergi kerumah pohon, aku berencana memberikan rumah pohon itu sebagai hadiah untuk ulang tahun Dafha, di sana aku bertemu dengan orang yang akan melakukan renovasinya,” Ucap Risa memberi alasan.


Aydin menunduk, Ia mengusap wajahnya kasar. Tak Ia sangka jika Risa kembali membuat kebohongan.


“Benarkah itu?”


“Haruskah aku memercayaimu?”


Rasanya tak sanggup jika Ia harus memutuskan hal ini sekarang.


“Ay, sebentar lagi kita akan menikah. Apa kamu belum bisa mempercayaiku?” ucap Risa.


“Apa kamu masih meragukan cintaku padamu?”


Aydin tak menjawab. Mungkin akan mudah jika Ia tidak melihatnya secara langsung, tapi kedua netranya menjadi saksi.


Itu semua karena Ia merasa dirinya juga yang menyebabkan masalah ini berawal.


"Harusnya dari awal aku jujur pada Eijaz jika aku menjalin hubungan dengan wanita yang Ia cari-cari." Sesal Aydin.


“Bagaimana jika kamu berbohong lagi padaku?” Aydin bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia menangis, air matanya tak sanggup lagi menahan rasa sakit di hatinya.


Risa terperangah melihat Aydin yang mengeluarkan air mata.


Risa memeluk Aydin, Ia tak tega melihat Aydin serapuh ini.


“Ada apa denganmu Ay? Maafkan aku telah berbohong padamu dan menyakiti perasaanmu sedalam ini.” Sesalnya.


“Katakan padaku Ay, aku harus melakukan apa untuk menebus kesalahanku? Aku berjanji akan berusaha selalu jujur padamu.”


Biarkan Aydin kali ini, anggaplah ini sebagai balasan yang Ia terima karena dulu pernah menyakiti Risa.


Biarlah air mata ini sebagai ganti air mata Risa yang dulu pernah terbuang karenanya.


“Jangan kecewakan aku lagi sayang, jujurlah padaku.” Ucap Aydin yang kini ganti memeluk Risa.


“Jangan pernah berniat meninggalkanku, jangan duakan cintaku, bertahanlah denganku Risa. Ku mohon.” Pinta Aydin.


Air mata juga turut membanjiri wajah Risa, “Jangan memohon Ay, semua itu akan ku lakukan dengan tulus. Aku telah melakukannya sebelum kamu meminta.”


Rasa cinta dan tak ingin kehilangan, membuat keduanya menutup mata dari sebuah permasalahan yang harusnya diselesaikan.


Tanpa keduanya sadari, mereka sudah mulai menumpuk kesalahan demi kesalahan yang mereka abaikan. Dan entah akan jadi apa nantinya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


Malam harinya Aydin meminta Risa menemaninya ke pesta yang dibuat oleh perusahaan milik Eijaz.


“Perusahaan ini milik keluarga Eijaz?” tanya Risa memastikan.


Aydin menjawab dengan dehaman. Ia masih sedikit tak nyaman jika membahas soal Eijaz bersama Risa.


Disana pasangan itu bertemu dengan beberapa kolega bisnis Aydin, juga rekan-rekan Aydin semasa kuliah dulu.


Aydin tak pernah lupa untuk mengenalkan Risa sebagai calon istrinya.


Sebagian besar mereka merasa iri dengan Aydin yang seorang duda, namun beruntung mendapatkan hati seorang model papan atas sekelas Kim Risa.


“Aydin, Risa,” sapa Eijaz.


“Eijaz, selamat kembali ke perusahaan.” Ucap Aydin.


Eijaz sungguh pandai menjaga sikapnya. Tak ada kecanggungan sama sekali yang Ia timbulkan.


Ia bercengkrama seperti biasa. Tak ada rasa cemburu ataupun dendam pada Aydin.


Pria itu tulus mengharapkan kebahagiaan untuk keduanya.


Sementara Aydin, pria itu terus menunjukkan kemesraannya bersama Risa.


Keputusannya sudah bulat. Ia akan mempertahankan hubungannya dengan Risa.


Aydin memilih mengabaikan segala masa lalu yang pernah terjadi antara Eijaz dan Risa.


“Ay, mulai besok kamu harus terbiasa mendapat sorotan kamera.” Bisik Risa.


“Maksudmu?”


Risa menunjuk ke arah seorang wartawan yang diam-diam mengambil potret kebersamaan mereka berdua selama di pesta.


“Baiklah, mungkin sudah saatnya juga kita mengumumkannya ke publik.” Ucap Aydin yakin.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Setelah pesta, lebih tepatnya setelah Aydin dan Risa mengumumkan rencana pernikahannya pada publik, Eijaz semakin menyibukkan dirinya di toko buku.


Pria itu bagai tak kenal lelah. Ia akan beranjak dari tempatnya hanya ketika Ia akan makan atau akan membersihkan dirinya. Dan pulang ke rumah ketika hari sudah sangat larut.


Saat bangun pagi ini Eijaz sudah merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya.


Ia sudah beberapa kali merasakan mual yang sangat dahsyat.


“Pak, apa tidak sebaiknya kita menemui dokter Shanaz saja,” bujuk Romi.


Eijaz menggeleng.


“Tidak perlu, hal seperti ini sudah biasa bagiku. Aku hanya kelelahan.”


“Jika lelah, maka berhentilah mengurusi buku-buku ini, Anda kaya, uang Anda berlimpah, mengapa harus repot hingga kelelahan mengurusi semua buku tua ini." Romi akhirnya berani mengutarakan semua pikirannya.


Romi sangat kesal, karena Eijaz sama sekali tidak memedulikan kesehatannya.


“Aku disini tidak hanya mengatur buku-buku tua ini. Tapi aku juga sedang menikmati bayangan kenangan indah yang pernah terjadi ditempat ini.” Jawab Eijaz membuat Romi semakin iba padanya.


Tepat saat Romi keluar mencari udara segar, terdengar suara benda jatuh dari dalam toko buku.


Bruukkkk......


Romi kembali masuk ke dalam toko buku dengan berlari.


"Tuan Muda," teriaknya.


¤¤¤¤ 《 FLASHBACK OFF》¤¤¤¤


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


"Kebodohan yang berani akan mengalahkan kepandaian yang ragu-ragu."


__ADS_2