
Semua orang bisa saja mengatakan cinta dan menawarkan komitmen, tapi tidak semua bisa menjaga kesetiaannya.
Tidak akan ada kesetiaan tanpa komitmen, karena komitmen merupakan bukti dari sebuah kepercayaan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Samar-samar Risa mendengar ucapan Aydin yang mencegah Franda saat wanita itu ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Cih, lagian apa lagi yang perlu dijelaskan.” Batin Risa.
“Memangnya apa yang harus kupercayai selain apa yang kulihat? Ucapannya?” Batin Risa.
“Bagaimana aku akan mempercayai seseorang yang dengan mudah mengubah perasaannya dari waktu ke waktu?” Batin Risa.
Ingin rasanya Risa saat ini mengatakan semua apa yang ada di benaknya pada Aydin, tapi Ia sadar situasinya sekarang sangat tidak memungkinkan.
Bukankah saat ini yang Risa inginkan adalah menjauhi Aydin, jadi tidak perlu baginya memikirkan ucapan atau penilaian Aydin terhadapnya.
Suasana di ruang rawat Dafha saat ini diselimuti keheningan, hingga Mama Indira yang tiba-tiba pamit pulang.
Risa berkali-kali melihat jam dipergelangan tangannya,
“Ma, mama yakin mau pulang sekarang. Ini sudah sangat larut."
Risa kembali melihat jam di pergelangan tangannya yang kini menunjukkan pukul 2 dini hari.
“Ada apa lagi? Bisakah kalian lebih tenang?” ucap Aydin.
Ia merasa tidurnya kembali terusik.
“Mama ingin pulang kerumah, Papa sudah menjemput diluar.” Jelas Mama Indira.
“Baiklah, selama ada yang menjemput Mama.” Ucap Aydin terlihat santai.
“Ay !” tegur Risa pada Aydin yang semudah itu mengizinkan Ibunya pulang.
Tanpa Risa sadari, caranya memanggil Aydin membuat hati pria itu kembali berdesir.
“Tidak apa-apa Nak. Mama titip Dafha yah, mama sudah bisa tenang sekarang.” Ucap Mama Indira sebelum pergi bersama Ayana yang juga ingin kembali ke hotel.
Situasi semakin canggung kala di ruangan hanya tersisa Aydin dan Risa.
“Tidurlah di sini, biar aku yang menunggui Dafha,” ucap Aydin.
“ Tidak, aku tidak mengantuk. Kau saja yang tidur, biar aku yang menunggui
Dafha.” Tolak Risa.
“Baiklah jika itu maumu,” balas Aydin.
Aydin kembali berbaring dan kembali memejamkan matanya.
Dalam hati Risa berdecih, “Cih, dia bahkan tidak menolak.”
Hampir 30 menit berlalu dan Risa sudah tak tahan lagi dengan rasa kantuknya.
Perlahan Ia naik ke brangkar Dafha dan merebahkan tubuhnya menyamping lalu memeluk Dafha.
Tidak butuh waktu lama matanya ikut terpejam. Hembusan napasnya mulai teratur menandakan Risa sudah tidur dengan lelap.
Aydin yang sejak tadi sebenarnya tidak tidur, beranjak mendekat ke brangkar yang di tempati oleh dua orang yang saat ini mengisi hatinya.
“Dasar keras kepala,” ucapnya sambil membelai lembut surai Risa.
Hati Aydin yang dingin tiba-tiba menghangat, ketika Ia berhasil mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Risa.
__ADS_1
“Maafkan aku yang tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkanmu, maafkan aku.” Gumam Aydin lirih.
♡♡♡♡♡♡♡♡
Risa merasa bagian kiri sisi tubuhnya terasa kaku.
Masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, seketika Risa mengingat jika terakhir kali Ia naik ke brangkar Dafha untuk tidur.
Sontak Risa membuka matanya, dan yang pertama kali Ia lihat adalah wajah menggemaskan Dafha.
“Mama,” sapanya.
“Dafha, sayang.” Balas Risa.
Risa segera bangun dan turun dari tempat tidur, pantas saja sebagian tubuhnya terasa kaku karena berjam-jam Ia tidur menyamping.
“Kamu sudah bangun?” suara Aydin menggema di ruangan yang cukup luas namun hanya dihuni oleh mereka bertiga.
“Iya, maaf aku ketiduran.” Ucap Risa.
“Kenapa minta maaf, tak ada yang menyalahkanmu hanya karena kamu tidur.” Balas Aydin.
Risa tak membalas lagi ucapan Aydin, Ia tidak ingin pagi ini moodnya jelek hanya karena mendengar ucapan Aydin yang ketus.
“Dafha, sayang, bagaimana keadaan mu sekarang? Apa masih ada yang sakit?” tanya Risa.
Dafha menggeleng, “Mama kenapa tidak pernah menemui Dafha lagi? Dafha kangen Mama Risa,” ucap Dafha.
“Maaf, kemarin Mama Risa lagi banyak pekerjaan dan tidak sempat menemui Dafha. Maaf yah, Mama Risa memang bersalah.” Bujuk Risa.
Dafha mengangguk lalu tersenyum. “Ma, Dafha lapar, mau makan disuapi Mama Risa,” ucapnya manja.
Risa melirik ke atas nakas, disana sudah ada semangkuk bubur.
Dafha mengangguk, lalu mulai membuka mulutnya untuk menerima satu per satu suapan dari Risa.
Walaupun terlihat seperti sedang sibuk dengan laptopnya, tetapi semua gerak gerik Risa dan Dafha menjadi perhatian Aydin.
Dalam hati, Aydin bersyukur karena Risa menyayangi putranya dengan tulus. Kasih sayang untuk Dafha terpancar sangat jelas dari setiap tatapan, tutur kata, dan perhatiannya terhadap Dafha.
Hanya dalam beberapa menit, isi mangkuk Dafha telah tandas. Bersamaan dengan Mama Indira dan Papa Dimas yang juga datang.
“Wah cucu Oma sudah bangun dan sudah sarapan juga yah,” ucap Mama Indira sembari memberikan kecupan pada kening cucu kesayangannya.
“Iya Oma, Mama Risa yang suapin Dafha.” Jawab Dafha .
“Ris, Mama bawain kamu baju Ayana untuk ganti. Apa kamu tidak keberatan memakainya?” tanya Mama Indira ragu.
“Tentu saja Ma, kebetulan aku sudah sangat gerah. “ Jawab Risa.
Tanpa menunggu lama, Risa bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
“Beruntung sekali pria yang bisa memperistri Risa yah Pa, benar-benar kriteria istri idaman.”
Ucap Mama Indira menyindir putranya, tapi yang disindir terlihat tidak peduli.
“Istri itu apa Oma?” tanya Dafha.
“Kenapa Mama Risa jadi istri?” tanyanya lagi walau belum ada satupun jawaban yang didapatkannya.
Mama Indira menjadi gugup, sedang Papa Dimas mengedikkan bahunya tanda Ia tidak bisa membantu istrinya.
“Itulah Ma, kalau di depan Dafha tolong ucapannya lebih diperhatikan lagi.” Komentar Aydin.
Belum sempat Mama Indira membalas ucapan putranya, kini seorang dokter pria dan beberapa perawat masuk ke ruang rawat Dafha.
__ADS_1
“Selamat pagi jagoan,” sapanya ramah dan segera dibalas dengan senyum menggemaskan dari Dafha.
Siapapun yang melihat wajah ceria dokter tampan itu pasti setuju jika dia memang cocok berprofesi sebagai dokter anak.
Wajahnya sangat ceria dengan seyum yang tak pernah lepas dari wajah tampannya.
“Dafha, apa kamu baru saja mendapat hadiah mainan kesukaanmu? Kamu terlihat sangat bahagia pagi ini.”
Dokter sengaja mengajak Dafha mengobrol agar tak menyadari jika kini perawat sedang menyuntikkan obat ke selang infus di tangannya.
“Bukan mainan Dokter, tapi Dafha senang karena Mama sudah datang.” Jawab Dafha dengan polosnya.
Sontak saja para dokter dan perawat saling pandang, karena seingat mereka Mama Dafha telah tiada sesuai informasi dari ayahnya.
Risa yang baru selesai berganti pakaian, segera mendekat ke brangkar Dafha saat mendengar ada suara dari sana.
“Mama,” pekik Dafha saat Ia melihat Risa yang berdiri tak jauh dari sana.
Tatapan semua orang kini mengikuti tatapan Dafha, dan melihat sosok wanita yang sangat cantik dalam balutan mini dress bermotif kotak-kotak dengan tali spaghetti.
Aydin akhirnya ikut mengalihkan pandangannya dari laptopnya karena tiba-tiba suasana hening.
Aydin berdeham untuk mencairkan kembali suasana.
Risa mendekat ke sisi brangkar Dafha, dengan tatapan sang dokter yang mengikuti setiap langkah wanita yang dipanggil Mama oleh pasiennya.
“Jadi bagaimana keadaan Dafha Dok?” tanya Risa menyadarkan sang dokter dari keterpakuannya karena menatap keindahan yang diciptakan Tuhan.
“Ehmm… Dafha sudah baik-baik saja. Demamnya hanya karena Ia kelelahan dan kurang beristirahat. Nafsu makannya juga sudah kembali jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.” Jelas sang dokter.
Aydin melihat jelas kegugupan dari dokter itu, dan Ia sudah tau alasannya kenapa.
“Ia merutuki Mamanya yang memilihkan dress mini untuk Risa. Dan juga merutuki Risa yang kini mencepol rambutnya keatas hingga leher jenjang, putih, dan mulusnya terpampang nyata.”
Aydin akhirnya ikut bergabung dengan Risa di sisi brangkar putranya.
“Jadi kapan Dafha boleh pulang?” tanyanya.
“Setelah suhu tubuhnya kembali normal, walaupun kini demamnya sudah berkurang tapi lebih baik jika putra Bapak di rawat dulu agar lebih mudah kami pantaunya.” Jawab sang dokter.
Dari sofa Mama Indira dan Papa Dimas yang melihat hal ini saling berbisik, ”Seandainya putramu tidak bodoh, mungkin kehangatan yang kita lihat sekarang akan lebih sering kita lihat nantinya.” Ucap Mama Indira.
Dokter dan perawat sudah akan pergi, namun salah satu perawat akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Maaf, apa anda Kim Risa? Model yang dari Korea itu.” Tanyanya.
“Iya, ternyata masih ketebak yah, padahal aku belum memakai riasan apapun.” Balas Risa merendah.
“Anda tetap sangat cantik walau tanpa Riasan Nona. Pantas saya seperti merasa pernah melihat wajah Anda.” Jelas sang dokter.
Dokter dan perawatnya pergi bersamaan dengan Franda yang baru datang.
Wanita itu terlihat kembali membawa setelan jas , sebuah papperbag, dan beberapa kotak makanan.
“Maaf aku datang terlambat, jalanan sangat macet,” Ucap Franda.
Aydin hanya bisa menghela napasnya melihat tatapan Risa pada Franda.
“Sepertinya Risa makin salah paham.” Batin Aydin.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Seseorang tidak perlu mempercayai cintanya, namun Anda harus mencintai siapa yang dipercaya selama ini."
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
__ADS_1