
" Gambar itu , dari mana kamu mendapatkannya ? " tanya Risa .
" Kenapa ? Baguskan gambarnya . Aku suka arti kata Ohana yang tertulis di sana . " ujar Aydin .
" Keluarga . " ujarnya bersamaan .
Kedua mata itu seketika saling pandang . Mata Risa yang berkaca - kaca dan Mata Aydin yang penuh tanda tanya .
" Kamu juga tahu artinya ? " tanya Aydin .
Risa tak menjawab . Ia beranjak dan duduk di Sofa .
" Aydin , ingin kuceritakan sebuah kisah ? " tawar Risa .
" Hemm boleh juga , selama kisah itu tidak akan membuatku mengantuk dan berakhir tidur seperti Dafha . Lihatlah pekerjaanku masih menumpuk . " Jawabnya bercanda .
" Mungkin usia gadis itu sekitar 14 tahun . Saat itu dia sedang mencari sesuatu yang bisa mengalihkannya dari permasalahan pelik kedua orang tuanya . "
" Pilihannya jatuh pada menggambar . Bukannya dia sangat pandai dalam menggambar . " ujar Risa diikuti tawa .
Perhatian Aydin kembali teralihkan oleh bibir merah muda Risa yang tadi memabukkannya .
" Lalu suatu sore dia menghabiskan waktunya disebuah cafe . Kebetulan cafe itu berseberangan dengan sebuah panti asuhan . Dari cafe gadis itu mengamati bagaimana anak anak disana bermain bersama , terlihat saling menyayangi dan saling menjaga . "
Risa seperti melihat kembali bayangan masa masa itu .
" Gadis itu jadi sering ke cafe di waktu dan tempat duduk yang sama hanya untuk memandangi kegiatan sore anak anak panti dari kejauhan . "
" Jadilah ia mulai menggambar sketsa dari apa yang dia lihat . " ujar Risa .
" Saat gambarnya sedikit lagi selesai , seorang pria menghampirinya . Bertanya nama gadis itu karena sudah berhari hari melihatnya datang di cafe . "
" Gadis itu mengacuhkannya , dan pria tadi malah menyimpulkan jika nama gadis itu adalah Ohana . Sama seperti kata yang dia tulis dalam gambarnya . " ujar Risa lalu tertawa .
" Pria itu dengan beraninya duduk didepan gadis itu . Mengajaknya bicara tapi terus saja diacuhkan . Dan akhirnya dengan arogannya pria itu mengatakan jika dia bisa saja membeli gambar sang gadis sehingga gadis itu berhenti menggambar dan tidak mengacuhkannya lagi . "
" Gadis itu berpikir tak ada ruginya , jadi dia menjual gambarnya seharga 500.000 . Dan memberi tahu apa itu arti Ohana . " ujar Risa .
" Ohana artinya keluarga . Keluarga yang lebih spesial karena sebenarnya mereka tidak sedarah , namun saling .... "
" mendukung , melindungi , dan saling membantu . " Ujar Risa yang diikuti oleh Aydin sehingga mereka mengucapkannya secara bersamaan .
Aydin menatap tak percaya pada apa yang barusan Risa ceritakan .
Ia memegang kedua lengan Risa , menarik tubuhnya hingga mereka kini berhadapan .
" Ris ... benarkah itu ? Apakah kamu benar gadis Ohana itu ? " tanya Aydin masih tak percaya .
" Bukankah kamu berasal dari korea ? " tanyanya.
" Aku lahir dan menghabiskan masa remajaku di Indonesia . Setelah itu aku berangkat ke Korea untuk berkarir disana . Dan jadi Kim Risa yang seperti saat ini . " ujar Risa .
" Kamu tahu sejak hari itu aku masih sering ke cafe menunggumu datang kembali . Tapi sayang kamu tidak pernah kembali sampai masa liburanku selesai dan harus kembali ke Jakarta . " Ujar Aydin .
" Sejak hari itu aku sangat menyukai kata Ohana. Bahkan perusahaanku ku namai Ohana . " lanjutnya .
" Aku juga tak menyangka jika pria arogan itu adalah dirimu . Tapi karena kita dipertemukan lagi aku ingin mengucapkan terimakasih padamu . Karena kamu yang telah membeli gambarku , aku masih bisa hidup sampai sekarang . " ujar Risa .
Aydin mengernyitkan keningnya . Mengapa Ia merasa Risa memiliki banyak sekali rahasia .
Baginya Risa dan semua kejadian yang terjadi antar keduanya sangatlah misterius .
" Apa maksud ucapanmu tadi ? Apa masih ada sesuatu yang perlu ku tahu tentang dirimu ? " tanya Aydin .
Risa tersenyum .
" Aku akan memberitahumu tentangku lagi nanti. " Jawabnya santai .
" Tapi kapan ? " tanya Aydin penasaran .
Entah mengapa sejak makan siang terahir dengannya , bayangan Risa seolah terus menari nari dibenaknya .
" Mengapa kamu sepenasaran itu ? Apa kamu suka padaku jadi ingin tahu soal kehidupanku ? "
__ADS_1
Tanya Risa memancing Aydin .
" Hemmm....... " Aydin hanya berdeham .
Ingin sekali Aydin katakan jika Risa telah berhasil menarik perhatiannya . Tapi bayangan Almarhumah Rani mantan istrinya seolah mencegahnya . Aydin merasa berdosa jika Ia sampai melanggar janjinya untuk tetap setia pada Rani .
" Hemm.... maksudku ... aku.. hanya ingin tahu saja . " ujar Aydin .
Pria itu bahkan berdiri dari sofa dan kembali ke kursi kebesarannya . Duduk disana menatap foto dirinya dan Rani , makin bertambahlah rasa bersalahnya pada Rani .
Risa merasa kecewa pada Aydin . Ia pikir setidaknya Aydin akan bilang jika dia terarik atau apalah . Apalagi setelah yang terjadi pada mereka tadi .
" Aydin .. apa kamu benar benar tidak tertarik padaku ? " tanya Risa yang kini berdiri di depan meja Aydin .
Ia bahkan sudah menurunkan harga dirinya bertanya seperti ini pada seorang pria .
" Risa... tenanglah , bukan maksudku ... aku itu ..... " Aydin sulit sekali melanjutkan ucapannya .
Ia menggeram tertahan .
" Risa ... jika soal yang terjadi di kamar tadi , aku minta maaf . Aku sungguh telah melakukan kesalahan , aku telah bertindak keterlaluan padamu . Itulah aku mengingatkanmu untuk memperhatikan pakaianmu . Karena jika bersama pria normal sepertiku bisa saja terjadi hal seperti tadi . "
Mata Risa membulat mendengar ucapan Aydin barusan .
" Apa katamu ? Jadi yang tadi itu kesalahan ? Dan maksudmu itu juga karena aku yang penyebabnya ? " ulang Risa .
" Tak ku sangka kamu pria normal yang begitu menjijikkan . Dan asal kamu tahu masih banyak di luar sana pria normal yang masih bisa menghargai wanita . "
Risa membentak Aydin . Emosinya meluap luap karena ucapan Aydin .
Risa melepas jas Aydin yang Ia kenakan . Memperlihatkan dengan jelas jejak jejak yang dibuat Aydin tadi .
Aydin merasa bersalah . Sungguh dia merutuki dirinya yang bodoh dengan ucapannya soal ciuman mereka tadi .
" Ris.. maaf , aku salah bicara . Maaf jika telah menyinggungmu . " ujar Aydin memohon .
Risa mengambil tasnya , hendak berjalan keluar namun segera di cegah oleh Aydin .
" Lepaskan aku . " Risa menarik tangannya kasar dari cengkraman Aydin kemudian berjalan keluar .
Di luar ruangan Risa bertemu Esme yang hendak menemuinya .
" Ayo , kita pergi dari sini . " titah Risa .
Jejak jejak kemerahan yang sangat kontras di kulit putihnya terlihat sangat jelas .
Bahkan Chandra setelah melihatnya pasti tahu apa yang sudah dilakukan bosnya .
Setelah memastikan Risa dan Esme masuk ke dalam lift . Chandra segera masuk ke ruangan bosnya .
" Bos ... maaf tadi kenapa Nona Kim terlihat pergi dengan kesal yah ? "
Sementara Aydin terduduk di Sofa menangkup wajahnya dengan kedua tangan lalu Ia mengusapnya kasar .
" Sial ..... " makinya .
" Boleh saya tahu Bos ada apa ? Bos tidak memaksanya untuk ....... hmmm "
Chandra seakan ragu melanjutkan ucapnnya .
__ADS_1
" Kamu pikir saya tipe yang pemaksa , hahh ? " bentak Aydin .
" Risa marah karena tadi saya minta maaf dan mengatakan jika yang kami lakukan adalah kesalahan . " Ujar Aydin .
Saat ini dia butuh seseorang untuk bercerita .
" Pantas saja Nona Kim marah . Wanita mana yang terima jika yang kalian lakukan dianggap sebuah kesalahan . " ujar Chandra mengomentari kelakuan bosnya .
Baru kali ini Ia melihat bosnya tidak bisa mengontrol diri pada seorang wanita .
Aydin menatap tajam pada Chandra .
" Ya jelas Nona Kim tak terima lah Bos . Mana ada orang bilangnya kesalahan tapi meninggalkan jejaknya dimana mana . " celetuk Chandra membuat Aydin makin geram .
" Apa katamu ? Jadi kamu mengamati tubuh Risa hah ? Awas saja jika kamu berani menatap tubuh Risa lagi. " ancamnya pada Chandra , kemudian menyusul putranya masuk ke kamar pribadinya .
Chandra hanya bisa geleng geleng kepala .
Bosnya terlalu bodoh untuk mengerti jika kini dia sudah mulai tertarik sama eonni eonni korea itu , pikirnya .
Sementara di dalam kamar pribadinya Aydin menatap dalam putranya yang tertidur lelap .
" Bahkan takdir membawa Risa kesini lewat kamu Nak . Apa sudah saatnya aku merelakan Mommy ? Tapi apa Mommy tidak akan kecewa pada Daddy jika ada wanita lain yang mengisi hati Daddy ? " gumam Aydin yang ikut berbaring di sebelah putranya .
" Gadis Ohana ku , ternyata dia itu kamu . Tak kusangka , Ohana yang selama ini ku cari pergi begitu jauh hingga ke negeri orang . " batin Aydin .
.
.
.
.
.
"*Menghindari mungkin seperti berhenti menyakiti, tapi tanpa sadar kita sedang menyakiti diri sendiri*."
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1