
Risa , Aydin , Ayana dan Esme kini sudah berada di restauran .
Risa terpaksa harus duduk di sebelah Aydin karena Esme dan Ayana sudah duduk bersebelahan .
Melihat Risa yang hendak duduk , Aydin segera berdiri menarik mundur kursi dan dengan sopan mempersilahkan Risa duduk .
" Kamsahamnida . " Ujar Risa .
Melihat interaksi dua orang dihadapannya yang seperti sedang malu malu , Ayana dan Esme merasa gemas .
" Tak ku sangka , Bang Aydin bisa mengenal model terkenal seperti Ms . Kim . Kalian kenal dimana ? " ujar Ayana .
" Kami baru kenal kemarin kok , di tempat Gym . Lalu Aydin mengantarku pulang karena Esme sudah pulang lebih dulu . " Ujar Risa menjelaskan .
Ayana mengangguk untuk merespon ucapan Risa . Walaupun dalam hatinya sungguh luar biasa yang terjadi . Sejak menikah dengan Kakak iparnya sampai akhirnya meninggal , tidak ada wanita lain selain Mamanya , dirinya , dan Franda yang berhasil naik di mobil Aydin .
" Lalu pagi tadi kami juga gak sengaja ketemu di kedai kopi . Benarkan ? " Ujar Aydin menjelaskan pada adiknya tapi tatapan matanya mengarah pada Risa yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Ayana bertepuk tangan ... " wah.. wah... wah... sepertinya yang sekarang bukan kebetulan lagi . Tapi takdir . Sungguh luar biasa . "
" Jangan melebih lebihkan Ayana . " tegur Aydin.
Setelah itu mereka lanjut mengobrol . Ayana tak henti hentinya mengungkapkan kekagumannya pada Risa . Ia bahkan pernah hadir saat Risa tampil sebagai model tunggal salah satu desainer ternama di Paris .
" Jadi ini maksudmu bertanya apa aku pernah melihatmu di TV atau majalah ? " tanya Aydin .
" Iya . Dan sejak semalam baru ku sadari ternyata aku tak seterkenal yang ku kira . " Jawab Risa .
" Ms. Kim kamu jangan merendah . Abangku lah yang seharusnya berhenti menjadi manusia gua . Hidupnya hanya seputar program komputer saja . " gerutu Ayana . Ia tak terima jika kakaknya tidak mengakui idolanya .
Restauran yang mereka datangi menggunakan konsep semi outdoor . Dengan dikelilingi dinding kaca dan tempat duduk mereka di bagian halaman belakang yang merupakan area terbuka dan hanya bagian atas yang tertutupi untuk menghalau sinar matahari .
Aydin memperhatikan Risa kurang nyaman selama duduk karena angin yang mengibas dress mini yang dipakainya .
Apalagi sudah sejak tadi Risa menjadi objek perhatian pria pria .
Aydin melepas jasnya , lalu menutupi paha Risa.
" Kamsahamnida .... " Ujar Risa dengan gugup .
Karena tadi posisi Aydin berada sangat dekat dengannya , bahkan Ia bisa merasakan aroma parfum Aydin .
Aydin juga merasakan hal yang sama . Jantungnya berdetak cepat , melihat kulit putih mulus Risa dan aroma wangi dari tubuh wanita itu .
" Lain kali jangan memakai pakaian terbuka seperti ini . Ini di Indonesia . Selain mataharinya terik , pria pria brengs*k disana juga akan menjadikanmu objek fantasi mereka . " ujar Aydin memperingati Risa .
Sementara Risa hanya mengangguk tanda mengerti sambil sesekali menoleh pada pria pria yang menatapnya . Risa sampai bergidik ngeri .
Sedetik kemudian Aydin menyesali ucapannya . Entah mengapa dia bisa mengucapkan kalimat itu . Bukankah Ia terdengar seperti pria posesif .
Ayana yang melihat interaksi keduanya tersenyum . Dia jadi punya ide untuk menjodohkan abangnya dengan mentornya itu .
Makanan pesanan mereka sudah datang .
" Permisi Nona ... " Ujar pelayan , Ia hendak meletakkan makanan di hadapan Risa . Hanya saja wanita itu terlihat sibuk dengan ponselnya .
" Risa ... " tegur Aydin .
Risa tersadar dan segera bergeser tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel .
" Ris.... Risa... berhentilah bermain ponsel . Makanlah dulu . " ujar Aydin lagi menegur Risa .
Risa menurut , dan akhirnya Aydin menyesal lagi karena sikapnya sekarang bahkan seperti pria yang suka mengatur .
Ternyata pelayan tadi keliru meletakkan pesanan Aydin di depan Risa .
Namun tanpa di duga , Risa refleks mengambil garpu dan mengeluarkan kacang merah yang menjadi pelengkap pada sayuran dihidangan pesanan Aydin .
Belum cukup seolah apa yang dilakukannya barusan hal biasa , Risa lalu memindahkan piring tersebut ke hadapan Aydin .
Sontak saja Aydin dan Ayana menatap penuh tanda tanya pada Risa .
" Apa yang kamu lakukan ? " tanya Aydin .
__ADS_1
" Hah ? Apa yang ku lakukan ? " Risa mengulang pertanyaan Aydin .
" Ohh ... itu aku memisahkan kacang merah dari sayurannya . " Ujar Risa santai masih tak paham.
" Tapi mengapa ? Dari mana kamu tahu jika aku alergi kacang merah ? " tanya Aydin .
Seketika Risa meletakkan kembali sendok yang dipegangnya .
" Emmhhh ... emmhh.. aku juga alergi kacang merah . Tadi aku hanya refleks melakukannya karena hidangan itu ada di hadapanku . Tak ku sangka ternyata kita sama . " Ujar Risa diiringi tawa canggung .
Sedang Esme hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Risa .
Risa memang pernah membaca dalam surat Kirani jika suaminya sama dengannya , yaitu alergi kacang merah .
Setelah selesai makan siang ,mereka akhirnya berpisah . Risa akan pergi bersama Esme karena masih ada janji lain .
Walau begitu , Aydin meminta Risa untuk tetap mengenakan jasnya saja agar bisa menutupi pundak dan punggungnya .
Malam harinya Risa sedang bersiap untuk makan malam bersama Gio . Setelah ajakan makan siangnya di tolak , Gio lantas mengajak Risa untuk makan malam dan Risa juga menyanggupinya .
Terbiasa dengan kebiasaan tepat waktu selama di Korea , Kini Risa sudah sampai lebih dulu di restauran .
Pelayan mengantar Risa menuju meja yang di reservasi atas nama Gio yang berada di lantai 2.
Beberapa pasang mata menatap wanita cantik yang mengenakan dress one lace berwarna peach dan pink yang membentuk tubuh indahnya .
Di lantai 2 restauran ini tidak memiliki meja sebanyak di lantai dasar . Dindingnya dari kaca sehingga dari atas kita bisa melihat suasana di bawah begitupun sebaliknya . Risa sudah duduk dengan posisi membelakangi dinding kaca , kemudian mengirim pesan pada Gio jika dia sudah menunggu .
Diantar oleh pelayan ke meja yang telah dipesan sebelumnya , satu keluarga itu terlihat sangat bahagia .
Keluarga itu adalah keluarga Bapak Dimas Syauqi dan Ibu Indirawati yang merupakan orang tua dari Aydin dan Ayana . Tak lupa juga si kecil Dafha yang ikut meramaikan suasana malam ini . Mereka semua sedang merayakan keberhasilan Ayana berhasil dalam audisi di agensi modelnya .
Walaupun kedua orang tuanya tidak setuju dengan dengan Ayana yang ingin menjadi model , tapi mereka tetap mendukung .
Mereka sudah membuat kesepakatan , jika Ayana harus berhasil jadi model dalam 2 tahun . Jika tidak maka Ayana harus membantu abangnya di perusahaan .
Tak berselang lama , masuklah seorang Gio dengan tergesa gesa .
" Meja atas nama Giovanni "ujarnya .
Pelayan segera mengarahkan Gio menuju meja yang telah Ia reservasi di lt. 2 .
Saat melewati meja keluarga Syauqi , langkah Gio terhenti karena Aydin menegurnya .
" Buru buru amat Bro ... dikejar pawang buaya ya ? " ujar Aydin .
__ADS_1
" Eh.. lu disini juga . " balas Gio ditengah tawanya karena ucapan Aydin barusan .
" Lagi makan bareng keluarga gue . " Ujar Aydin .
" Ya udah , happy family time . Gue naik dulu , pawang gue udah nungguin dari tadi . "
Gio kemudian segera menaiki tangga setelah menyapa orang tua Aydin .
Tatapan Aydin mengikuti langkah Gio . Hingga Ia melihat Gio berjabat tangan dengan seorang wanita .
Sayang Aydin hanya bisa melihat wanita yang bersama Gio dari belakang saja . Tapi entah mengapa Ia merasa gelisah .
" Siapa yah ? Apa mungkin aku kenal ? " batinnya .
Baik Risa dan Gio maupun Aydin dan keluarganya sama sama menikmati malam ini .
Aydin senang karena akhirnya bisa makan malam bersama lagi , melihat tawa putra kecilnya yang akhir akhir ini sangat jarang terlihat .
Sedang Risa senang karena ternyata Gio tidak semenyebalkan yang Ia pikir . Awalnya Ia pikir Gio akan bersikap arogan , tapi ternyata Gio suka bertindak konyol . Risa terus terusan tertawa dibuatnya .
Hingga Gio melambaikan tangannya pada seseorang di lantai bawah .
Risa juga sontak berbalik mengikuti arah pandangan Gio . Namun yang dapat Ia lihat hanya punggung seorang pria yang berjalan menjauh keluar dari restauran .
Memang benar jika pertemuan itu tidak pernah salah . Jika memang di takdirkan bertemu maka sebesar apapun usaha untuk menghindar , tetap akan bertemu . Begitupun sebaliknya , jika tidak ditakdirkan bertemu , sedekat apapun bahkan di waktu yang sama tetap tidak akan bertemu .
.
.
.
.
.
"*Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan*."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue