Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 72 . Anggun yang malang


__ADS_3

Sementara di tempat lain , lebih tepatnya di kediaman Ferdinand .


Setelah menyaksikan siaran langsung wawancara Risa yang telah mengakui siapa dirinya sebenarnya, emosi dan amarah Ferdinand seperti berkumpul menjadi satu gumpalan besar dan hendak memaksa untuk dikeluarkan.


Entah apa yang ada di benaknya, hingga tiba-tiba saja Ia menyalahkan putrinya Anggun atas gagalnya rencana balas dendam yang telah Ia rencanakan.


Dengan langkah lebar, tangan yang mengepal, dan dada yang bergemuruh, Ferdinand memasuki kamar Anggun.


" Kau, anak yang tidak tau balas budi, apa kau puas sekarang ? " hardiknya.


Rasa takut mulai bersarang di benak Anggun saat melihat amarah yang terpancar dari raut wajah Ayahnya. Secara naluriah Ia beringsut mundur mengambil jarak dari pria yang sampai detik ini masih Ia harap akan  menjadi tempatnya untuk bersandar dan berlindung suatu saat nanti.


" Karena kebodohanmu yang tidak berhasil menjebak Gio, sekarang lihatlah kita bahkan tidak punya senjata apapun untuk membalas mereka. "


" Maafkan aku Papa, maaf. Sungguh aku sudah melakukan apa yang Papa katakan . Hanya saja, pria itu sepertinya sudah tau rencana kita," ucap Anggun membela dirinya .


Rasanya tidak pantas jika Ferdinand di sebut sebagai seorang ayah, bahkan untuk di akui sebagai manusia pun rasanya enggan.


Mungkin sebutan yang paling pas untuknya adalah iblis yang mengakui dirinya adalah manusia .


Di benak iblis itu, yang Ia pikirkan sekarang hanyalah memberi putri kandungnya pelajaran.


Melihat penampilan Anggun dengan gaun tidur tipis yang sangat pas dengam kemolekan tubuhnya, seakan gaun tidur itu dibuat khusus untuknya.


Gaun itu menonjolkan bagian dari tubuh Anggun yang harusnya hanya boleh dinikmati oleh seorang pria yang halal atas dirinya kelak.


Namun yang terjadi kini ayah kandungnya  sendiri yang sedang menatap lapar padanya.


Pikiran Ferdinand kini tengah menerawang , membayangkan bagaimana rasa dari balik gaun tipis yang sedari tadi seperti melambai-lambai padanya.


Ferdinand terus melangkah pelan ke arah Anggun , dalam setiap langkahnya ada bayangan nikmatnya penyatuan mereka yang sebentar lagi akan Ia rasakan.


Pikirannya benar-benar sudah dikuasai Iblis , Ia bahkan menyeringai karena bayangan dirinya yang  sedang melakukan hal yang benar- benar keji dan menjijikkan bersama putrinya sendiri.


Dengan satu cekalan di lengannya, Anggun sudah tidak bisa lagi membuat jarak antara dirinya dengan sang ayah .


Ferdinand tidak bisa lagi menahan terlalu lama. Jika biasanya hubungan seperti ini akan di penuhi kelembutan,  tapi  yang Anggun rasakan malah sebaliknya .


Dengan kasar, tubuh Anggun Ia paksa membelakanginya . Tidak ada kelembutan dan tanpa ada permulaan, Ferdinand langsung saja melakukan penyatuan dengan putri kandungnya sendiri secara paksa .


Ferdinand menjadikan hal ini caranya untuku meredam kemarahan dan kebenciannya pada Risa dengan cara yang sangat tidak manusiawi .


Jika biasanya lenguhan akan mengalun merdu  di telinga para pemeran ,  tapi kini hanya jeritan , isakan , dan tangisan yang memecah keheningan malam itu .


Bayangan akan kehancuran hidupnya yang selama ini Ia pertahankan dengan cara apapun, membuat hatinya mati, matanya buta, dan telinganya pun mendadak ikut tuli.

__ADS_1


Hati Ferdinand telah mati, tidak lagi Ia rasakan bagaiamana perasaan putri kandungnya yang sedang dinodai olehnya, oleh ayah kandungnya sendiri.


Matanya telah buta, tidak lagi Ia lihat bagaimana wajah kesakitan putrinya saat Ia tengah sibuk merangkak naik menggapai kenikamatan.


Telinganya telah tuli, tak dapat lagi Ia dengar rintihan, isakan,tangisa, bahkan sesekali jeritan yang dikeluarkan oleh bibir yang mengeluarkan sedikit darah akibat ganasnya permainan bibir pria paruh baya itu .


Detik demi detik terasa berlalu sangat lama , seperti memihak Ferdinand sang iblis untuk menyiksa Anggun lebih lama .


Hingga detik itu berubah menjadi menit .  Tubuh Anggun yang terasa  sedang tertimpa beban yang sangat berat mulai melemah . Sedang tubuh Ferdinand  malah semakin penuh tenaga .


Bukannya pujian malah makian yang sejak tadi Anggun terima . Hingga sampailah Ferdinand pada puncak pendakiannya .


Ia hempaskan semua perasaan emosi ,kemarahan, kekhawatirannya ,  seiring dengan pelepasan yang baru saja terjadi .


Dengan kasar Ferdinand menarik dirinya , menjauhi tubuh yang berpuluh puluh menit lalu Ia  jamah .


" Sekarang kau benar- benar seperti jal*ng putriku . Andai saja kau katakan memang yang seperti ini inginmu , mungkin sudah sejak dulu kau merasakan nikmatnya permainan ayahmu ini, " ucap Ferdinand menghina Anggun, putrinya .


Pria paruh baya itu membenarkan kembali pakaiannya , bersamaan dengan masuknya Indri ke kamar putrinya .


" Apa-apaan ini ? Baj***an, apa yang telah kau lakukan pada putriku ? " pekik Indri .


Di tariknya selimut dari atas tempat tidur dan menutupi tubuh Anggun yang menelungkup ke tepi tempat tidur dengan kedua lutut sebagai tumpuannya .


Indri berdiri tepat di hadapan Ferdinand , bekacak pinggang menantang pria yang berstatus suaminya .


" Laporkan saja, lagian dengan atau tanpa laporanmu kita semua akan tetap mendekam dibalik jeruji besi. " Ferdinand membeberkan fakta agar istrinya itu paham.


" Apa maksudmu dengan kita ? Jika ada yang harus di penjara itu hanyalah kamu, dasar iblis, " balas Indri.


" Jangan bicara seolah kau tau segalanya soal putrimu, apakah kau tau jika putrimu ini seorang pemakai ? "


" Apa kau tau jika jal*ng yang kau sebut putrimu ini sedang hamil dari pria yang bahkan tidak dia ketahui bagaimana rupanya ? "


Indri tercengang dengan semua fakta yang baru Ia dengar.


" Aa...nnggguuunn, benarkah itu ? " tanya Indri pada putrinya yang  kini terduduk di lantai kamarnya .


Jika bisa saat ini Anggun ingin lari sejauh mungkin dari dua orang yang telah membawanya kedunia.


Namun tubuhnya seakan tak sanggup Ia gerakkan, tenaganya habis, terkuras oleh jeritan dan tangisannya .


Satu hal yang Ia harapakan, bisakah kesialan yang barusan menimpanya memberi sedikit imbalan ? Cukup dengan gugurnya anak yang kini ada di dalam rahimnya.


Diamnya putrinya, Indri anggap sebagai jawaban.

__ADS_1


Ia terduduk ke tepi tempat tidur saat tubuhnya serasa kehilangan keseimbangan.


Indri meremas kuat rambutnya, sulit sekali rasanya menerima fakta ini .


" Sebaiknya kau bersiap untuk ikut merasakan dinginnya jeruji besi bersamaku . Karena di setiap kejahatan yang ku lakukan, kau juga ikut menikmati hasilnya. " Ucap Ferdinand sebelum pergi meninggalkan dua wanita yang harusnya Ia tinggikan kedudukannya.


Bagai terjatuh lalu tertimpa tangga pula, itulah yang Indri rasakan kini .


Fakta mengenai apa yang terjadi pada putri yang amat Ia sayangi,  ditambah dengan ucapan Ferdinand yang sama sekali tidak terdengar seperti ancaman .


" Besok aku harus cari tau apa yang sebenarnya terjadi. " Tekad Indri dalam batinnya .


Malam ini, biarkan Ia fokus dulu mengurus putrinya yang nampak sangat memprihatinkan.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Di tempat yang berbeda, disebuah kamar hotel Ayana baru saja selesai menyegarkan kembali tubuhnya setelah seharian ini Ia disibukkan dengan persiapan fashion show perdananya.


Walaupun tidak ada satupun keluarga yang datang mendukungnya, tapi Ayana bersyukur karena pagelaran yang mereka lakukan malam ini berjalan sukses.


Bahkan drama pengakuan Risa menjadi tranding topic pertama di semua situs jejaring sosial.


Tanpa Ayana ketahui di sebuah kamar VVIP rumah sakit, keluarganya kini tengah dilanda kecemasan atas kesehatan Dafha.


Mama Indira akhirnya mengambil keputusan yang tidak bisa putranya putuskan sejak tadi.


Setelah Daffin memberi kabar jika sepertinya fashion show Risa dan Ayana telah selesai.


Meski tidak langsung menghubungi Risa, Mama Indira yakin jika berhubungan dengan Dafha wanita itu akan rela melakukan apapun, kecuali kembali menjalin kasih bersama putranya.


Ponsel Ayana berdering, nampak nama Ibunya di layar.


"Halo Ma, " sapanya .


" ........................................ "


" Apa? " pekiknya karena terkejut dengan kabar yang barusan Ia dengar .


" Baik, aku akan segera kesana. " ucapnya


Ayana segera bergegas keluar dari kamar hotel, tujuannya kini cuma satu yaitu menemui Risa.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Hukum alam mengajarkan manusia tentang filosofi hukum karma, sebagaimana bola yang dilempar ke atas pasti akan jatuh kembali. Begitu pun dengan kebaikan dan keburukan yang dilakukan, pasti akan berbalik."

__ADS_1


♡♡♡♡to be continue ♡♡♡♡


__ADS_2