
Mencoba percaya jika tidak akan ada yang sia-sia jika dilakukan dengan bersungguh-sungguh dan berharap jika ungkapan semua akan indah pada waktunya itu benar .
Didalam sebuah ballroom dengan dekorasi yang elegant dan mewah.
Deretan kursi berjejer rapi diatur sedemikian rupa agar nantinya tidak saling memandangi pandangan bagi yang menempatinya .
Lampu – lampu sorot yang disiapkan untuk menyorot apapun keindahan yang nantinya akan ditampilkan di atas panggung .
Kim Risa atau yang sebentar lagi akan mengenalkan dirinya sebagai Brisa Elzavira , sedang duduk di barisan kursi terdepan .
Menatap pada ruangan nan megah , memastikan semua persiapan juga memantapkan hatinya jika panggung di hadapannya ini yang akan menjadi salah satu saksi seorang Brisa Elzavira akhirnya menyuarakan suaranya dan mengharuskan mereka semua mendengarnya .
Hal yang menurutnya sulit telah Ia lalui dengan baik , yaitu bertahan .
Dua bulan bertahan dalam perjuangan untuk membuktikan jika semua penyiksaan dan perjuangan selama lebih dari dua puluh tahun Ia hidup , kini akhirnya tidak akan sia-sia .
Dalam keheningan saat memikirkan semuanya , Amora menghampiri Risa dan ikut duduk disisinya .
“ Ada apa ? apa sesuatu mengganggumu ? “ tanya Amora .
Risa menghela napasnya , “ Aku hanya memikirkan sesuatu , sebenarnya untuk apa dulu aku memulai semua ini ? Apakah kemampuanku hanya sebegini ? “
Hanya beberapa orang yang tau mengenai tujuan awal Risa hingga memilih untuk mengacaukan kehidupannya yang tenang dan damai sebagai Kim Risa saat masih di Korea .
Yah benar , tujuan utamanya adalah memenuhi amanat dari sahabatnya Kirani .
Tawa Risa sangat dipaksakan , Amora mendengarnya sebagai tangisan namun bukan dalam bentuk air mata .
“ Apa aku bisa dikatakan berhasil ? bahkan sedikitpun tujuan awalku tidak mengambil bagian pada apa yang kita sebut kesuksesan ini ,“ ucapnya dan makin mengencangkan tawanya .
" Bukankah ada hikmah dibalik semua peristiwa . Jika tak mampu mewujudan tujuan awalmu , setidaknya ada pencapaian lain yang kamu raih . Jangan menyesali apapun Risa , " ucap Amora .
Risa hanya tertawa .
“ Berteriaklah jika perlu , mengumpatlah , berhentilah tertawa . Kau terlihat seperti orang gila jika terus seperti itu . “ Ucap Amora .
“ Kau benar Eonni , aku sepertinya perlu melakukan hal itu . Sayang disini tidak ada Sungai Han , “ keluh Risa .
Keduanya tertawa , hal yang dua bulan ini sangat jarang mereka lakukan .
“ Ayo bersiap Brisa , kau akan jadi bintangnya malam ini . “ Ucap Amora sambil mengedipkan mata pada Risa .
Sungguh terasa hangat hatinya saat mendengar seseorang memanggilnya dengan nama Brisa . Nama pemberian orang tuanya yang berarti cinta .
♡♡♡♡♡♡
¤¤¤¤¤ ***FLASHBACK ON*** ¤¤¤¤¤
*Echa baru saja keluar dari kantor polisi untuk membuat laporan mengenai dugaan pelanggaran berupa kelalaian terhadap sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja ( SK3 ) yang dilakukan oleh Ortiva Construction saat mengerjakan proyek pembangunan apartemen Sky High di Kalimantan* .
*Echa sebagai kuasa hukum yang mewakili Sky High Group tak hanya melaporkan kelalaian Ortiva Construction dalam SMK3 , tapi juga melaporkan Ferdinand dalam kasus penggelapan dana bantuan bagi korban kecelakaan runtuhnya bangunan apartemen Sky High yang saat itu masih dalam tahan pengerjaan di Kalimantan* .
*Beberapa hari setelah laporan berhasil dibuat , terjadi keributan di salah satu ruangan pada Gedung bertingkat milik Ortiva Construction* .
“ *Apa – apaan ini ? Siapa yang melaporkan kasus kecelakaan yang di Kalimantan ? bukannya kasus itu sudah kita tutupi sebaik mungkin ? “ cecar Ferdinand pada sekertarisnya yang bernama Tristan* .
__ADS_1
“ *Benar Tuan , seharusnya hal ini tidak akan pernah terjadi karena kita sudah menutupinya sebaik mungkin . Tapi laporan ini datangnya dari Sky High Group langsung . “ Jawab Tristan takut-takut* .
“ *Apa ? Sky High Group katamu ? Brengs\*k Gio , jadi dia coba bermain-main denganku . “ Bentaknya penuh amarah* .
“ *Hubungi Gio , aku ingin bicara padanya . “ Perintahnya dengan tegas* .
“ *Jadi selama ini dia mendukungku hanya sebagai trik nya . Awas saja , aku akan membalas mereka . Tak akan kubiarkan anak ingusan seperti dia menang melawanku . “ Gumamnya* .
*Rasanya belum cukup dengan berita panggilan pemeriksaan oleh pihak kepolisian untuknya , kini sebuah fakta baru mengejutkan dirinya* .
“ *Tuan … tuan …. Anda harus melihat ini , “ucap Tristan yang masuk ke ruangan bosnya dengan panik* .
*Mata Ferdinand membulat , andai saja dia tidak menjaga kesehatannya akhir- akhir ini mungkin dia sudah terkena serangan jantung di tempat saat ini* .
“ *Bagaimana bisa harga saham perusahaan kita menurun sedrastis ini ? “ tanya Ferdinand tak percaya melihat harga saham perusahaannya yang turun hingga 70*% .
“ *Itu karena seorang pemegang saham menjual seluruh sahamnya dengan harga yang sangat rendah Tuan , dan …. , ” Ucapan Tristan disela oleh Ferdinand* .
“ *Sudah Tuan , orang itu adalah orang yang sama dengan yang melaporkan Tuan ke polisi ,” jawab Tristan* .
“ *Gio ? “ tebaknya tak percaya* .
*Ferdinand tersenyum dengan seringai sinisnya , “ Baiklah Gio jika ini maumu , aku masih memegang kunci yang akan menghancurkanmu* . “
*Segera Ferdinand pulang ke kediamannya yang sudah lama tak Ia kunjungi sejak 5 tahun lalu .
Ia bisa melihat tatapan ketakutan di wajah para pelayan saat melihat Tuan besarnya pulang* .
“ Dimana Nyonya ? “ bentaknya .
“ Di kamar Tuan , “ jawab pelayan takut-takut .
Dengan langkah lebar Ferdinand menuju kamar utama yang harusnya menjadi kamar bagi dirinya dan istri menikmati masa-masa tua mereka nanti .
Namun pada kenyataannya , kamar ini malah menjadi kamar bagi istrinya Indri untuk bersenang- senang dengan para pria sewaannya .
Hal itu tidak akan mengejutkan Ferdinand. Karena sejak Indri memergoki Ferdinand yang sering berselingkuh bersama jalng ataupun karyawan wanita di perusahaan , sejak itu Indri juga membalas perbuatan suaminya dengan menyewa pria untuk memuaskan dirinya, bahkan secara terang-terangan di hadapan Ferdinand .
__ADS_1
Pria paruh baya itu tidak bisa berbuat apa-apa karena Indri mengetahui semua kejahatan Ferdinand , sehingga pria itu akhirnya harus menerima nasib buruk pernikahannya* .
“ Kau sudah pulang ? Apa kau butuh sesuatu ? “ tanya Indri yang masih sibuk melenguh dan bergoyang naik turun di atas tubuh seorang pria muda .
“ Cih , menjijikkan . “ Ferdinand menatap hina kelakuan wanita yang masih berstatus istrinya .
“ Tidak usah peduli , aku kemari hanya ingin bertemu Anggun . “ Ucapnya lalu meninggalkan kamar itu menuju kamar putrinya dengan perasaan jijik pada Indri .
Bahkan suara jeritan Indri karena kenikmatan yang diberikan pria sewaannya masih bisa terdengar oleh Ferdinand .
♡♡♡♡♡♡
Tok.. Tok.. Tok..
Ferdinand membuka kamar putrinya .
Pria itu menggeleng dan berdecak saat melihat kondisi kamar putrinya yang sangat mengerikan .
Botol-botol minuman beralkohol , pakaian dalam wanita yang berserakan , seprei yang berantakan dengan bau yang Ferdinand sangat kenali .
Yang membuatnya naik pitam , saat melihat sebuah alat yang Ia kenali diatas nakas .
Anggun yang baru keluar dari kamar mandi terkejut dengan kehadiran Ayahnya , “ Papa … ,” tegurnya .
“ Apa – apaan ini ? Kau masih menggunakan barang haram itu ? “ tanya Ferdinand .
“ Itu…, itu…, karena kini aku sedang banyak pikiran saja Pa . “ Elaknya .
“ Anggun , Papa mencoba mengerti dengan pergaulan bebasmu , karena ku tau itu semua kau melihat dari Papa dan Mama , “ ucap Ferdinand .
“ Tapi tidak dengan menggunakan barang haram ini . Kamu tau kan kalau barang itu bisa membunuhmu ? “ bentak Ferdinand .
“ Maaf Pa , aku janji ini akan jadi yang terakhir kalinya. Aku tidak akan lagi menggunakannya . “ Ucap Anggun .
“ Baiklah Papa percaya padamu . Sekarang bersiaplah , kita akan menggunakan senjata yang sudah kita siapkan untuk Gio . “ Ujar Ferdinand .
“ Ma.. maksud Papa ? “
“ Papa akan menggunakan kehamilanmu untuk mengancam Gio . Bocah itu sudah berani bermain -main denganku. “
“ Ta...pi , ta..pi , Pa .. aku hamil ... , “ Anggun sangat takut jika harus jujur Papanya .
“ Sudah , berhenti membantah . Sekarang bersiaplah , papa menunggumu di mobil . Papa sungguh jijik mendengar suara jeritan kepuasan dari wanita itu . “ Titah Ferdinand .
Dengan tubuh yang bergetar Anggun mengenakan pakaiannya . Hal inilah yang Ia takutkan, bagaimana jika kebohongannya pada Ferdinand selama ini terungkap .
“ Seandainya bayi ini tidak ada di sini , aku tidak mungkin terlibat dalam rencana Papa . “
Rutuk Anggun sambil terus memukul perutnya yang masih rata walau kini di dalamnya tengah bersemayam sebuah calon kehidupan baru .
.
.
.
.
“ Kau bisa bersembunyi dari kesalahanmu, tapi tidak dari penyesalanmu. Kau bisa saja bermain dengan dramamu, tapi tidak dengan karmamu. “
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue