Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 41 . Tentang cinta dan luka


__ADS_3

Aydin membawa Risa langsung menuju parkiran mobilnya . Rangkulan tangan Aydin di bahu kekasihnya tidak pernah Ia lepaskan sedetikpun.


Jelas sekali jika Risa sangat terguncang dengan peristiwa tadi . Tubuhnya bergetar , kedua tangannya saling menggenggam untuk memberi kekuatan , langkahnya lebar dan  cepat seolah ada yang mengejarnya .


" Yang , aku bantu pakai seatbeltnya dulu yah ," ucap Aydin .


Risa mengangguk memberi izin Aydin membantunya .


Aydin sudah menyalakan mesin mobil , namun terlebih dulu mengabari Esme dan Chandra .


" Sialan . Dia akan habis ditanganku jika berani melukai Risa ," desis Esme .


Tanpa sepatah kata , Esme meninggalkan ruangan meeting .


Sejak menerima kabar dari Aydin , Chandra memusatkan perhatiannya pada Esme .


Melihat Esme yang tiba-tiba pergi setelah menerima panggilan , Ia yakin jika sesuatu yang buruk telah terjadi entah pada Risa atau Aydin .


" Aydin kemana Chan ? " tanya Franda .


" Bu ... sepertinya kita harus kembali ke kantor dengan taksi lagi , Pak Aydin baru saja mengabariku jika dia ada urusan mendadak ," sesal Chandra .


Franda memerhatikan sekelilingnya dan tidak dia temukan sosok yang Ia cari .


" Cih .  Aydin mulai tidak profesional , " cibirnya .


" Ayo , pergi sekarang saja , " ajaknya .


" Aku akan membahas kejadian hari ini secepatnya . " Desak Franda lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Chandra .


" Malangnya diriku harus berada di antara kisah cinta yang rumit . " Celetuk Chandra menyusul Franda .



Rumit , mungkin kisah cinta Franda bisa digambarkan dengan kata itu .



Yang dahulu saling mencintai , Franda dan Aydin harus berpisah . Franda harus menerima jika saat ini Ia hanya bisa mencintai Aydin diam-diam agar bisa terus berada di dekat pria itu .



Disaat Franda masih sulit menerima kenyataan itu , sekali lagi Ia dihadapkan dengan cintanya yang akan berakhir sebagai cinta yang bertepuk sebelah tangan .



" Aku bahkan baru mulai merangkak menuju pintu hatimu Aydin , " batin Franda .



" Belum sempat aku meraihnya , kini pintu itu telah terbuka namun sayang bukan untukku , " keluhnya dalam hati .



" Apa wanita itu sudah berhasil masuk ke hatimu ? Apa semudah itu kamu mengizinkannya ? Tidakkah sedikit ada rasa cinta yang tertinggal untukku . " Buliran air mata Franda tumpah membasahi pipinya .



Sesekali Chandra yang duduk di kursi depan , melirik Franda lewat kaca .



Sejak taksi mulai melaju dengan tujuan gedung Ohana Tech , tak ada sepatah katapun yang dikeluarkan Franda .


Hingga kebisuannya berbuah isakan yang coba Ia sembunyikan .



" Mengapa jatuh cinta harus serumit ini untuk Bu Franda , kasihan dia . " Batin Aydin ikut prihatin .



" Aku jadi takut dengan perasaan aneh yang kupunya pada Ayana . Bagaimana jika rasa ini bertumbuh jadi Cinta ? Dan bagaimana jika cintaku bernasib sama dengan Bu Franda ? "



Sekarang Chandra juga ikut-ikutan resah memikirkan nasib percintaannya .



Menit demi menit Aydin dan Risa lalui menembus jalanan ibu kota yang cukup dipadati kendaraan .


Ada sesal di hati Aydin , harusnya Ia tadi memberikan pelajaran yang lebih pada tua bangka itu .


Tidak ada air mata yang keluar dari netra indah kekasihnya . Hal itu yang membuat Aydin merasakan sesak di dadanya . Jelas sekali di netranya Risa menyembunyikan kesedihan .


" Yang , kamu yakin mau langsung ke apartemen aja ? Gak mau ke tempat lain dulu ? " ajak Aydin.


Risa menggeleng , " kepalaku pusing , Ay . "


Aydin membelai surai lembut Risa , dan berakhir mendaratkan kecupan di punggung tangan kekasihnya .


Risa tidak menolak semua yang dilakukan Aydin padanya . Ia tak menyangka jika bersama seseorang disaat seperti ini sangat membantu mengobati rasa sakit hatinya .


Mobil Aydin memasuki parkiran gedung apartemen Risa .


" Yang , aku temenin yah ? Seenggaknya sampai Esme balik , " usul Aydin .


Sebenarnya Risa ingin menolak , hubungan mereka masih terlalu dini untuk berduaan di apartemen . Mereka adalah pria dan wanita yang sudah dewasa tentunya .


Tapi rasa nyaman dan aman  saat Aydin bersamanya , harus menepis hal hal yang jadi pertimbangannya tadi .


" Yang , gimana ? Atau aku temenin nunggu Esme dimobil aja . Katanya dia hanya ke Stars memberi draft tema pada model trainee , " pungkasnya.


Ia hawatir Risa makin merasa tak nyaman jika Aydin memaksa , tapi dia juga tak akan meninggalkan Risa sendiri .

__ADS_1


" Ay , kita keatas aja yuk . Aku mau rebahan , " ajak Risa .


Senyum tertahan nampak di wajah Aydin . Risa menerimanya . Risa mulai membuka diri padanya .



Bip... bip... bip... bip... bip... bip...


Bunyi yang terdengar saat Risa menekan enam digit angka yang menjadi sandi apartemennya .



" Silahkan masuk Ay ," tuturnya lembut .



Risa berjalan lebih dulu , menekan saklar lampu dan menyalakan pemutar musik agar suasana tidak terlalu sunyi .


" Apartemenmu sangat rapi dan bersih , " ujar Aydin .



Risa yang berada di dapur sedang mencari-cari dimana tempat Ia menyimpan kotak berisi ekstrak bunga chamomile .



Aydin menghampiri Risa yang sedang sibuk membuka satu persatu laci di meja bar mini .



" Waktuku dan Esme lebih banyak ku habiskan di luar . Bersyukur karena kami masih sempat sarapan di apartemen dan terkadang makan malam jika sedang beruntung ," ungkapnya .



" Aku suka tatanan apartemenmu , terkesan lapang . Sangat nyaman , " puji Aydin .



Risa membaui beberapa kotak berisi daun teh yang Ia bawa dari Korea .



" Aku anak tunggal , jadi dulu saat masih kecil aku membenci ruang tamu rumahku karena tatanannya sama seperti ini ," lirih Risa .



" Tak kusangka sekarang aku suka dengan ruang tamu atau ruang keluarga yang lapang , " sambungnya .



Risa diam cukup lama , mengenang seseorang yang merubah mindsetnya tentang tatanan ruangan .



" Seseorang pernah berkata padaku , tak ada yang salah dengan terlahir sebagai anak tunggal . "




" Nikmati kasih sayang yang hanya akan berpusat padamu saat ini , " sambungnya .



" Nanti kita akan butuh ruangan yang luas untuk berkumpul dengan suami dan anak-anak , anak yang banyak . " Kekehnya mengakhiri ucapannya .



Tanpa Risa sadari , Aydin juga mengucapkan kalimat itu secara bersamaan dengannya . Sama persis .



" Siapa seseorang yang memberitahu hal itu padamu Risa ? " cecar Aydin .



Deg .


Risa terpaku , " Aydin pasti curiga padanya ," pikirnya .



" Nah ini dia teh yang ku cari . " Risa berkelit .



" Ay , bantu aku yah . Jika airnya mendidih tolong masukkan sejumput teh chamomile ini . "


Risa mengalihkan topik pembicaraan .



Aydin mengernyitkan dahinya melihat tingkah aneh Risa .



" Aku ganti baju dulu dan bereskan kamarku yang sangat berantakan . Aku akan malu jika kamu lihat betapa kacaunya kamarku ," racaunya .



Aydin menatap Risa yang berjalan dengan tergesa-gesa ke kamarnya .


Ia mengambil kotak teh yang Risa sodorkan padanya .


__ADS_1


" Peppermint Tea ," gumamnya membaca tulisan yang tertera di bagian atas kotak .



" Ada apa dengannya ? Kenapa dia tiba-tiba jadi gugup ? Apa karena kami membahas anak ? " cicitnya .



Wajah Aydin bersemu saat memikirkan ucapannya barusan .


Risa beruntung  Aydin bahkan melupakan kecurigaannya .



Saat di dapur Aydin tak berhenti tersenyum menanti Risa selesai berganti pakaian .


Matanya akan bergantian melihat ke arah pintu kamar Risa dan arah pintu depan .


" Semoga Esme kembali lebih lama ," pintanya dalam hati .


Sementara di kamar Risa baru saja selesai menyembunyikan barangnya yang berhubungan dengan Rani .


Ia baru selesai memakai dressnya saat pintu kamarnya diketuk .


" Yang , are you ok ? " suara Aydin terdengar di balik pintu .


Risa bergegas membukanya , " maaf kamu menunggu lama . "


" Tehnya sudah jadi, aku takut dingin jika tidak segera di minum ," ucap Aydin .


Risa menatap baki yang dibawa Aydin , dua cangkir kosong dan teko keramik berisi teh .


" Bagaimana jika minum di sofa kamarku saja . Dari sana pemandangan kota Jakarta cukup bagus ," tawarnya disambut senyum menawan khas Aydin .


Kini keduanya sedang menyesap aroma teh chamomile yang cukup menenangkan .


" Aku suka aroma teh chamomile ini . Ini hadiah dari bibi yang memasak untukku saat di Korea ," ujar Risa .


" Syukurlah tebakanku benar ," gumam Aydin .


" Kotak teh yang kamu beri tadi bukan chamomile tapi peppermint . " Sambungnya menjawab wajah bingung Risa .


Risa gugup kembali . Dia membuat kesalahan dua kali hari ini .


Aydin membelai mesra surai Risa , hal itu sudah jadi hobi baru baginya .


" Sepertinya kamu memang butuh istirahat Yang, " pungkasnya .


" Tidurlah , aku akan menghabiskan tehku sambil menunggu Esme kembali . Setelah itu baru aku pergi . "


Risa mengangguk . Ia pikir lebih baik seperti itu, suasananya sangat canggung saat ini .


Risa merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya . Menarik selimut sebatas pinggangnya .


" Yang ... " seru Aydin .


" Hemm .... " jawab Risa dengan dehaman .


" Pemandangan dari sini memang indah , gedung Ohana terlihat jelas dari sini . " Candanya .


Risa bangun dan kini duduk , " Oh yah ? Aku sering melihat dari sana tapi tidak pernah bisa melihatnya  , " kilahnya .


" Aku akan membawamu ke dokter mata jima senggang , " pungkas Aydin .


Risa menatap Aydin  yang berdiri jauh darinya . Mengapa Ia sangat nyaman bersama Aydin . Bahkan sejak di apartemen Ia lupa mengenai pertemuannya dengan iblis .


" Ay ," panggilnya .


Aydin menoleh pada Risa .


" Maukah kamu mendengar kisahku ? " tanya Risa .


" Tentu jika kamu siap . Siap untuk membuka luka yang kamu pendam . Dari netramu jelas jika kisahmu bukan sebuah dongeng putri kerajaan . " Jelas Aydin .


" Kemarilah . " Risa menepuk sisi ranjang disampingnya yang kosong .


Aydin beranjak duduk di tempat yang ditunjuk Risa . Ia bersandar pada kepala ranjang , kemudian Risa bersandar di dada bidangnya .


" Tebakanmu tidak sepenuhnya benar . Setidaknya aku pernah merasa menjadi seorang putri yang dihujani kasih sayang hingga usiaku 8 tahun , " lirihnya mulai membuka lembaran demi lembaran kisah hidupnya yang sungguh tidak layak untuk diceritakan pada orang lain .


.


.


.


.


.


.


 "Kita harus merangkul rasa sakit dan membakarnya sebagai bahan bakar untuk perjalanan kita." - Kenji Miyazawa


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2