Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 73. Karena Egois


__ADS_3

¤¤¤¤《Flashback On 》¤¤¤¤


Hari ini Aydin resmi memindahkan Dafha ke sekolah yang baru. Penolakan bukan hanya Ia dapatkan dari Dafha, tapi juga Ia dapatkan dari seluruh keluarganya.


"Kau egois Aydin, tidak seharusnya kau melibatkan putramu dalam masalahmu," ucap Mama Indira.


"Jangan kira Mama tidak tau alasanmu memindahkan sekolah Dafha. Pernahkah kau pikirkan apa yang Dafha korbankan jika harus pindah sekolah?"


"Dafha harus kembali lagi beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya," jawab Mama Indira atas pertanyaannya sendiri.


"Itu hal yang bagus, Dafha akan terlatih bersosialisasi dengan orang baru," bantah Aydin.


"Bagus memang, tapi tidak dalam kondisi Dafha yang sekarang. Saat ini putramu sedang berusaha menerima rasa kehilangannya atas Risa. Tidakkah kau sadari itu?"


"Kenapa Dafha harus merasa kehilangan? Risa itu bukan Ibunya, dia tidak harus merasa sedih. Selamanya hanya Kirani, hanya Kirani yang akan jadi Ibu dari Dafha." Ucap Aydin tak terima.


"Terus saja kau bohongi dirimu sendiri." Ucap Mama Indira sebelum meninggalkan Aydin sendiri di ruang kerjanya.


♡♡♡♡♡


"Benar, aku memang telah egois. Bahkan terhadap putraku." Batin Aydin.


Sebenarnya bukan Aydin tidak tau jika Risa masih sering mengunjungi sekolah Dafha.


Pernah sekali Aydin melihat mobil Risa di sekitar sekolah Dafha. Ternyata Risa tidak menemui Dafha secara langsung, Ia hanya melihat saja. Dan ketika Aydin telah menjemput Dafha maka Ia juga akan beranjak pergi.


Yang menjadi masalah karena entah mengapa Aydin juga selalu datang ke sekitar sekolah Dafha hanya untuk melihat Risa dari jauh.


Karena khawatir jika dirinya makin sulit melupakan Risa, akhirnya Ia memutuskan untuk memindahkan Dafha ke sekolah lain.


Hingga akhirnya hal yang tidak Aydin duga terjadi.


Saat itu sepulang sekolah, Dafha mengeluh jika dirinya sangat mengantuk.  Lalu akhirnya memilih untuk tidur siang tanpa menyentuh makanan terlebih dulu.


Sore harinya saat Mama Indira memeriksa keadaan cucunya, Ia dibuat panik karena tubuh cucunya bergetar hebat dengan suhu tubuh yang panas dan bibir yang membiru.


Segera Ia memanggil Papa Dimas untuk membawa Dafha ke rumah sakit. Tak lupa juga Ia menghubungi Aydin.


Setibanya di rumah sakit yang khusus menangani pasien anak-anak, Dafha segera di tangani oleh dokter.


Aydin, Daffin, juga Franda datang tak lama setelah dokter mulai melakukan tindakan medis untuk Dafha.


"Permisi Mamanya Dafha yang mana yah? Sepertinya pasien ingin ditemani oleh Ibunya." Tanya salah satu perawat.


Semuanya saling pandang, tanpa ada kata yang bisa terucap.


"Saya saja yang akan menemani putra saya. Ibunya telah tiada." Jawab Aydin jujur.


Perawat terlihat menyesali ucapannya.


"Baiklah Pak, silahkan masuk," ucap perawat sambil memberi jalan bagi Aydin.


Segera Ia hampiri putranya. Dan benar kata mamanya jika suhu tubuh Dafha sangat panas sedang tubuhnya bergetar.

__ADS_1


Raut wajah khawatir tidak bisa lagi Aydin sembunyikan, segala doa telah Ia rapalkan di dalam hatinya demi kesembuhan putranya.


"Dafha sayang, yang kuat yah. Dafha kan jagoan Daddy, jangan takut yah Nak," ucap Aydin menyemangati anaknya.


"Mama, mama mana Daddy?"tanya Dafha dengan suara lirihnya.


Setelah mendengar langsung, kini Aydin paham. Anaknya tidak sedang mengigau mencari Kirani yang telah tiada, tapi anaknya mencari seseorang yang masih hidup.


Yah, Dafha mencari Risa. Satu-satunya wanita yang Ia panggil Mama. Jika Kirani, maka Dafha akan menyebut Mommy.


Aydin memalingkan wajahnya, tak tau harus menjawab apa.


Dafha meringis diiringi tangisannya yang pecah tatkala dokter mulai memasang infus. Dokter  memberi cairan infus agar demamnya turun lebih cepat dan suhu tubuhnya kembali normal.


Tak lama setelah itu, barulah Dafha bisa tidur kembali.


Kini Dafha telah dipindahkan ke salah satu ruangan VVIP.


Dalam tidurnya, Dafha kembali mengigau memanggil mama.


Tanpa perlu Aydin jelaskan juga semuanya sudah tau siapa sosok Mama yang dimaksud Dafha.


"Aydin, sebaiknya kamu hubungi Risa. Sekarang bukan saatnya untuk bersikap egois, " ucap Mama Indira.


Papa Dimas yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya ikut berkomentar, "Benar Nak. Bukannya Papa ingin mencampuri, tapi kamu harus pikirkan kesehatan Dafha juga. " imbuhnya.


"Lagian kamu juga aneh, yang bermasalah itu kamu dan Risa. Kenapa kamu juga melarang Risa menemui Dafha, anak itu tidak salah apa-apa, " ucap Mama Indira.


"Ma... Please stop salahin aku. Mama tidak ada di posisiku saat itu. Tiba-tiba hubungan yang aku coba pertahankan harus kandas karena sebuah kesalah pahaman. Bahkan tidak ada sedikit kepercayaannya padaku saat itu Ma, dia lebih percaya apa yang dilihatnya dari pada aku."


Sedang Franda yang juga ada di ruangan itu, hanya bisa menunduk. Ia sadar jika ini semua berawal dari kesalahannya.


"Sudah, sudah. Tidak perlu saling menyalahkan, biarkan Dafha beristirahat agar cepat pulih." ucap Papa Dimas menengahi perdebatan istri dan putranya.


"Din, maafkan aku. Aku sadar ini semua berawal dari ketamakanku." ucap Franda penuh sesal.


"Sudahlah, semua sudah berlalu." balas Aydin.


"Din, tolong izinkan aku menjelaskan semuanya pada Risa. Aku harus bertanggung jawab Aydin. Jika harus memohon padanya agar kembali padamu, aku juga akan lakukan." ucap Franda bersungguh-sungguh.


"Stop. Kumohon jangan ada lagi yang bahas Risa. Biar kan dia juga bahagia dengan kehidupannya. Mungkin ini juga sudah menjadi jalannya, agar aku bisa memenuhi janjiku pada Kirani." Ucap Aydin.


Sejak berada di rumah sakit hingga kini langit mulai berubah warna menjadi jingga,Dafha tak henti mengigau dengan memanggil-manggil nama Risa.


Sebuah permintaan yang berat bagi Aydin untuk mengabulkannya.


Di satu sisi Ia tidak tega melihat putranya yang begitu merindukan sosok wanita yang juga sebenarnya Ia rindukan. Tapi disisi lain Ia juga khawatir semakin terjebak pada perasaan yang teramat dalam pada Risa jika mereka masih terus bertemu.


Mama Indira menggerutu karena Ayana sejak tadi tidak bisa dihubungi.


Masa bodoh dengan putranya, dia hanya tidak tega melihat cucunya.


"Sepertinya Ayana sibuk, sebentar lagi fashion show akan segera dimulai, " ucap Daffin.

__ADS_1


Aydin menengok sekilas ke layar TV, disana tengah membahas prestasi-prestasi yang pernah diraih seorang Kim Risa.


"Lihatlah, bahkan jika aku menurunkan egoku untuk menghubunginya, dia tetap tak bisa datang. Tak ada dukungan bagi kami berdua," batin Aydin.


Flashback Off


♡♡♡♡♡♡


Mama Indira akhirnya mengambil keputusan yang tidak bisa putranya putuskan sejak tadi. Setelah Daffin memberi kabar jika sepertinya fashion show Risa dan Ayana telah selesai.


Meski tidak langsung menghubungi Risa, Mama Indira yakin jika berhubungan dengan Dafha wanita itu akan rela melakukan apapun, kecuali kembali menjalin kasih bersama putranya.


Ponsel Ayana berdering, nampak nama Ibunya di layar.


"Halo Ma, " sapanya .


" ........................................ "


" Apa? " pekiknya karena terkejut dengan kabar yang barusan Ia dengar .


" Baik, aku akan segera kesana. " ucapnya .


Ayana hanya meraih jaketnya lalu bergegas mencari Risa sesuai permintaan Mamanya.


Risa yang tengah berkumpul bersama Amora, Esme,Echa,Gio, dan Albert di lounge hotel menatap heran pada Ayana yang tiba-tiba datang dengan napas yang memburu.


"Ayana, ada apa denganmu?" tanya Risa.


"Kakak, Dafha sekarang dirawat di rumah sakit dan tak henti mencarimu Kak," ucap Ayana sambil sesekali menarik napas panjang.


Risa beranjak dari kursinya, "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyanya panik.


"Entahlah, aku juga baru mendapat kabar dari mama."


"Ayo Kak, Dafha butuh kakak sekarang." Ajaknya.


Rasanya Risa ingin sekali segera pergi, tapi Ia ragu saat mengingat bagaimana Aydin bahkan sampai memindahkan Dafha ke sekolah lain hanya agar tak bertemu dengannya.


"Tapi bagaimana dengan Aydin, aku  tak ingin memperkeruh keadaan." Ucapnya.


"Aku yang akan mengantarmu, aku yang akan hadapi Aydin jika dia tak megizinkanmu bertemu Dafha." Tawar Gio.


"Aku tak ingin ada keributan Gio," balas Risa.


"Tidak perlu memikirkan hal lain. Cukup temui Dafha, dia membutuhkanmu. " ucap Gio tak ingin lagi Risa menolak.


Sebelum pergi tak lupa Gio memberi kecupan di bibir Amora, kekasihnya. Dan hal itu tak luput dari pandangan Ayana.


"Sebenarnya, kekasih Gio Risa atau wanita itu yah?"batin Ayana bertanya-tanya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Beberapa orang terluka oleh kata-kata dan beberapa oleh tindakan. Tapi luka terbesar yang aku percaya adalah seseorang mengabaikanmu ketika kamu menghargai mereka lebih dari apapun."

__ADS_1


♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡


__ADS_2