Menikah Karena Amanat

Menikah Karena Amanat
Bab 103. Momen Bahagia


__ADS_3

Belajarlah tuk berdoa bukan hanya karena kamu menginginkan sesuatu, tapi karena kamu harus bersyukur pada Tuhan tentang sesuatu.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Setelah pertemuannya dengan Franda, banyak sekali pertanyaan yang timbul di benak Eijaz mengenai Aydin.


Setahu dirinya Aydin sangat mencintai Kirani, namun belum cukup setahun kepergian wanita itu Aydin telah menemukan tambatan hatinya yang baru.


“Begitu spesialkah wanita ini hingga mampu meluluhkan hati Aydin?” tanya Eijaz dalam hati.


“Siapa sebenarnya dia? Artis? Anggota Parpol? Menteri? Anak pengusaha?” Semakin banyak kemungkinan yang kini berkecamuk dalam benaknya mengenai wanita yang berhasil mendapatkan cinta Aydin.


Bukannya tidak senang jika Aydin akhirnya menemukan tambatan hatinya yang baru, tapi Eijaz hanya tak ingin Aydin kembali merasakan sakit hati jika Ia memilih wanita yang salah.


“Kenapa dia tak kembali saja dengan Franda? Penampilan wanita itu juga makin menarik. Dan yang pasti, Franda masih mencintai Aydin.” Gumam Eijaz lirih.


Eijaz bisa melihat itu semua dari mata Franda saat mereka membicarakan Aydin dan kekasihnya.


“Maaf Pak, apa Pak Eijaz bicara pada saya? Tanya Romi yang mendengar bosnya bergumam.


“Oh, tidak.” Jawab Eijaz.


“Emm, Romi bisakah kamu mengantarkanku ke alamat ini,” Eijaz menunjukkan alamat yang Ia simpan di ponselnya.


“Ini alamat TPU? Lumayan jauh Pak dari sini, apa tidak masalah jika kita sampai di sana saat hari sudah malam Pak?” Tanya Romi ragu.


Eijaz sempat melirik ke arah langit yang mulai menampakkan warna keemasan.


“Apa sekarang ada larangan ke TPU saat malam hari?” Tanya Eijaz.


Romi menggeleng.


“Ya sudah kalau begitu tak ada masalah.” Putus Eijaz yang hanya bisa dibalas Romi dengan anggukan.


Romi segera melajukan mobilnya berharap tidak ada kemacetan yang bisa menghambat perjalanan mereka kali ini.


Perjalanan pertama sebagai sekertaris Eijz, salah satunya adalah ke TPU di malam hari. “Hari ini akan kukenang selamanya.” Batin Romi.


Sepertinya Tuhan sedang murah hati, Ia mengabulkan doa Romi. Tidak ada kemacetan yang menghambat perjalanan kali ini, namun lokasi TPU yang cukup jauh membuat mereka tetap tiba di TPU saat hari sudah mulai gelap.


Dengan ragu Romi membelokkan mobil memasuki halaman TPU, Ia sudah memantapkan hatinya jika Ia hanya akan menatap lurus ke depan.


Mobil Ia parkirkan asal, tidak akan ada orang yang akan menegurnya, pikirnya.


"Lagian siapa juga yang nekat ke TPU saat malam hari? Hanya bule jadi-jadian yang nekat.” Batin Romi sambil melirik ke Eijaz yang tengah terlelap.


“Jadi bos memang enak,” gumam Romi lirih.


“Makanya kamu harus belajar banyak dari Ayahmu, agar kelak bisa menggantikanku jadi bos.” Ucap Eijaz membuat Romi mematung.


Eijaz tidak benar-benar terlelap, Ia hanya memejamkan matanya guna menahan rasa sakit yang menyerangnya beberapa saat lalu.


“Maaf Tuan Muda,” ucap Romi menunduk.


Eijaz menggeleng, “Kamu sudah melakukan satu kesalahan karena kembali memanggilku dengan sebutan itu.”


Eijaz lalu beranjak turun dari mobil meninggalkan Romi yang kembali mematung karena kebodohan yang Ia perbuat.


Dari dalam mobil Ia bisa melihat bayangan Eijaz yang berjalan dengan tegap memasuki area TPU, “Benar-benar bule nekat, gak ada takutnya sama sekali jalan masuk ke TPU sendirian padahal udah gelap.”


Tiba-tiba saja bulu kuduk Romi merinding, Ia yang tadinya menatap Eijaz kini memilih menunduk, menyandarkan kepalanya pada kemudi mobil.


Tak cukup semenit Romi menunduk, suara ketukan di kaca mobil mengejutkannya.


“Aaarrggghhhhh,” teriaknya.


“Romi... Romi.... “


Terdengar suara yang Ia kenal dari luar, membuat Romi bergegas menurunkan kaca mobilnya.


"Pak Eijaz? Beneran Pak Eijaz?” tanya Romi.


“Ya iya ini saya, kamu pikir siapa, hantu?” gerutu Eijaz.


“Ada apa Pak? Apa sudah selesai?”


“Kamu mau kesalahanmu tadi saya maafkan?” tanya Eijaz.

__ADS_1


Romi mengangguk. Tak Ia sangka bos barunya ternyata pendendam.


“Ayo turun. Ikut saya masuk ke dalam.”


“Sa.... Sa... Saya juga ikut masuk?” Romi kembali memastikan.


“Itu kalau kau mau mendapat maafku.” Jawab Eijaz acuh.


Dengan berat hati, Romi turun dari mobil dan mengikuti langkah Eijaz masuk ke dalam lokasi TPU.


“Ayo, kamu jalan lebih dulu.” Perintah Eijaz saat mereka sudah berjalan beberapa langkah di dalam TPU.


Dengan berdecak Romi melangkah melewati Eijaz, hingga kini Ia memimpin jalan mereka.


“Pak Eijaz tau tempat makamnya yang mana?” tanya Romi.


Eijaz menepuk jidatnya, “Benar juga, aku hanya tau nama dan alamat TPUnya." Batinnya.


Eijaz menggeleng, “ Tapi saya tau namanya, namanya Kirani,” ucap Eijaz dengan semangat seperti informasinya itu bisa membantu.


“Yah, bakal sulit Pak kalau gitu. TPU ini luas Pak, mereka juga gak ngurutin makam seperti ngurutin absen yang sesuai abjad. Minimal Pak Eijaz harus tau makamnya di blok berapa, jadi pencariannya lebih dipersempit.” Jelas Romi mulai emosi.


“Oh gitu yah, harusnya kamu ngasih tau dari tadi. Kita gak harus jauh-jauh kemari.” Ucap Eijaz kemudian berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Romi yang terus mengucapkan sumpah serapah pada bos barunya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Sementara itu di daerah yang terkenal sampai ke negara lain karena keindahan alamnya, Aydin tengah menikmati sore dengan berenang sambil menikmati pemandangan yang langsung mengarah ke laut lepas.


Sesekali Ia menengok ke arah kamar, melihat apakah Risa masih menemani Dafha tidur atau tidak.


Sepertinya sebentar lagi senja akan tiba, Aydin kembali mendekati pinggiran kolam. Menumpukan kedua tangannya dia atas tepian kolam, menatap ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.


Kemudian terasa seperti air kolam yang tadinya tenang kini mulai beriak, mengaburkan lamunan Aydin akan keindahan senja yang sebentar lagi Ia nikmati.


Tidak, bukan Ia, tapi mereka. Keindahan senja yang akan mereka nikmati. Karena Risa mulai berenang mendekat kearah kekasih yang menatapnya tanpa berkedip.


“Apakah aku membuatmu menunggu lama?” tanya Risa.


“Meski lama menunggu, tapi kamu gak pernah mengecewakan ku sayang.” Jawab Aydin dengan tangan yang sudah menarik tubuh Risa kedalam dekapannya.


Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Aydin segera melakukan aksinya.


Mencecap dengan lembut, menyalurkan kehangatan, juga getaran dan debaran yang semakin menggila pada kedua insan yang tengah di mabuk asmara.


Perlahan Aydin mendorong tubuh Risa perlahan hingga kini bersandar pada tepi kolam. Tangannya sudah tak tinggal diam, dengan pengalaman yang Ia punya, Aydin dengan mudah melepaskan ikatan di belakang leher Risa membuat kain yang menutupi 2 gundukan kesukaan Aydin kini terlepas.


Dengan seringai nakal, Aydin mulai mengelusnya lembut membuat sang empunya memejamkan mata.


Tidak hanya itu, ketika Aydin menurunkan kecupannya ke ceruk leher Risa, suara lenguhan wanita itu terdengar sangat indah.


Hingga suara lenguhan yang indah itu, terganti dengan teriakan nyaring anak laki-laki yang disertai dengan rengekan.


“Ma... Mama....”


“Dad... Daddy....”


“Dafha juga mau berenang.”


Suara teriakan Dafha dari tepi kolam renang mengejutkan dua insan yang tengah memberikan kehangatan dalam dinginnya air kolam.


“Ya, tunggu sebentar yah.” Teriak Risa agar Dafha tidak berjalan mendekat.


“Katamu Dafha sudah lelap tidurnya?” Gerutu Aydin ketika kegiatannya dihentikan.


“Mana ku tau jika dia akan bangun secepat itu.” Jawab Risa.


Aydin segera membantu Risa mengikat tali yang tadi Ia lepas.


Risa segera berenang kembali ke tepi kolam yang lain, lalu naik dan memakai handuknya.


“Kok Dafha bangun? Tidur lagi gih,” bujuk Risa.


“Gak mau, Dafha gak ngantuk lagi.” Tolak Dafha dengan cemberut.


Sesekali Dafha masih terisak, tadi Ia sangat terkejut saat bangun dan tidak menemukan Risa di sisinya.


Ketakutan akan kehilangan sosok Ibu untuk kedua kalinya seperti momok yang terus menghantui anak yang sebentar lagi berusia 6 tahun.

__ADS_1


Meski Risa belum sah menjadi Ibunya, tapi bagi Dafha hanya Risa wanita yang bisa Ia sayangi seperti Ia menyayangi Mommynya.


Hanya dari Risa, Dafha bisa merasakan kasih sayang tulus seperti kasih sayang dari Mommynya.


“Kok jagoan Mama Risa cemberut,”


“Ya udah, Mama ganti baju dulu. Terus kita ke pantai lihat sunset, gimana? Dafha maukan?” bujuk Risa.


Dengan tatapan berbinar dan senyum merekah Dafha mengangguk.


“Ay, cepetan naik Ay. Kita ke pantai yuk lihat sunset,” teriak Risa mengajak Aydin ikut serta.


Meski dengan wajah yang ditekuk, Aydin tetap mengikuti dua orang yang disayanginya menuju pantai untuk melihat sunset.


Ia tak ingin ambil resiko jika ada pria-pria yang menggoda Risa. Dan benar saja, meski wanita itu kini hanya memakai sweter dan celana panjang, bahkan kini Ia tengah menggendong Dafha, tapi ada-ada saja pria yang tetap menyorakinya.


“Cih... Istri orang juga masih digodain, udah punya anak tuh Mas.” Celetuk Aydin ketika Ia melewati pria yang tadi menggoda Risa.


Risa yang melihat tingkah Aydin hanya menggeleng.


“Ay, cepetan sini,” teriaknya memanggil Aydin.


h


Aydin duduk tak jauh dari tempat Risa dan Dafha yang saling kejar-kejaran.


Tawa Risa dan Dafha yang didengar Aydin membuat pria itu bersyukur karena Tuhan mengizinkannya untuk kembali merasakan kebahagiaan.


“Entah kebaiakan apa yang telah ku perbuat hingga Engkau begitu murah hati memberiku begitu banyak nikmat.” Batin Aydin terus mengucap syukur pada Tuhan.


Sesekali Ia melihat ke arah Risa yang tengah menggendong Dafha, lalu beralih menatap langit senja.


“Ah, sekarang aku malah bingung harus meihat yang mana. Keduanya begitu indah.” Gumam Aydin dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah tampannya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Di pagi hari, Eijaz yang baru saja selesai berolah raga ringan di kediamannya kini tengah mengecek ponselnya.


Membuka sosial media milik Brisa, berharap menemukan sesuatu yang baru disana.


Senyumnya mengembang ketika melihat satu foto baru yang sepertinya diunggah malam hari oleh wanita itu.



Sebuah foto yang diambil di sebuah pantai, dimana Brisa tengah menikmati pemandangan matahari yang akan segera terbenam.


Namun tiba-tiba raut wajah Eijaz berubah datar ketika menyadari dalam foto itu ada bayangan kecil seseorang. Kemungkinan besar seorang pria.


Yang menjadi pertanyaan bagi Eijaz, apakah orang itu memang sengaja di foto oleh Brisa, atau semuanya hanya kebetulan semata.


Eijaz tidak bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, karena kolom komentar untuk foto itu telah dinonaktifkan oleh empunya.


Eijaz menghela napas, “Semoga kehadiranku belum terlambat Bri,” gumamnya.


Sebelum berhenti berselancar di dunia maya, Eijaz kembali memeriksa akun milik sahabatnya.


Ternyata pria itu juga baru saja mengunggah beberapa foto terbaru.



Foto pertama yang diunggah Aydin adalah foto dirinya dan kekasihnya yang sangat mesra di dalam kolam renang dengan latar belakang langit senja.



Foto kedua adalah foto dirinya dan seorang wanita yang sedang menikmati indahnya langit saat matahari terbenam.



Dan foto ketiga adalah foto seorang wanita yang tengah menggendong putranya, sambil menatap ke langit senja.


Yang menarik perhatian Eijaz adalah caption yang dibuat Aydin untuk foto terakhirnya.


“Aku bingung, bagaimana mengucapkan rasa syukurku pada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat tak bersayap sepertimu ke dalam kehidupanku dan Dafha. Terimakasih karena kamu telah mencintai putraku dengan ketulusan hatimu, itu sudah cukup. Biarkan aku membalasnya dengan memberikan semua hatiku padamu.”


Eijaz tersenyum, “Kamu selalu beruntung Aydin. Kebaikanmu membuat kau mudah dicintai oleh siapapun.” Gumam Eijaz.


♡♡♡♡♡♡to be continue ♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


"Kebahagiaan tidak akan pernah sampai kepada mereka yang gagal menghargai apa yang sudah mereka miliki.”


__ADS_2