
Dia dengan mudahnya membuatku jatuh cinta berulang kali.
Dengan cara yang unik, dia membuatku selalu merasakan rindu.
Tak ingin aku melihat ada raut sendu di wajahnya yang merona ... sungguh menggemaskan.
Meski sekeras apa pun tangisannya, tetap akan terdengar merdu di telingaku.
Aku bisa melihat kedamaian dari setiap tatapannya, tatapan yang murni dan penuh ketulusan.
Meski belum pernah kujumpai wujud malaikat yang sesungguhnya,
Namun entah bagaimana aku merasa dirinya bagai malaikat kecil di kehidupanku.
Aku selalu saja punya alasan untuk mengaguminya,
Aku selalu saja punya alasan untuk bahagia saat bersamanya,
Hanya dengan kata “Mama” yang terucap dari bibir mungilnya, hal itu sudah menjadi satu kepingan bahagia dalam hidupku.
Jadi tak salah jika kebanyakan wanita setuju, menjadi seorang ibu adalah sebuah keberuntungan.
Terlepas dia berasal dari rahimmu atau tidak, yang terpenting dari semuanya adalah ketulusan dan kasih sayang.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Entah apa yang harus dilakukan Risa agar buliran bening yang terus membasahi pipinya bisa berhenti berlinang.
Sejak pertemuan pertamanya kembali dengan Dafha yang tak lain adalah putra Aydin dan Kirani. Juga anak laki-laki yang sangat ia sayangi layaknya anak kandungnya sendiri, Risa tak henti-hentinya menitikkan air mata bahagia.
Risa merasa sangat bahagia sebab akhirnya setelah sekian purnama, ia bisa mengobati kerinduannya pada Dafha.
Masih teringat oleh Risa, bagaimana terkejutnya ia saat tiba-tiba Dafha muncul di hadapannya. Ada rasa tak percaya jika yang dilihatnya benar, namun bisikan Aydin kala itu meyakinkan Risa jika semua itu nyata.
“Ini hadiahku untukmu,” bisik Aydin kala itu.
Dan bisikan itu benar adanya. Kehadiran Dafha bagai sebuah hadiah istimewa bagi Risa.
Bahkan hingga Dafha kini tengah terlelap tepat di samping wajahnya, Risa enggan berada jauh darinya.
Tiap embusan napas Dafha, bagai sebuah sihir yang membuat Risa lupa jika sejak tadi dirinya belum sempat memejamkan matanya walau hanya sedetik.
Sembari memandang wajah menggemaskan Dafha, tak bosan-bosannya Risa memberikan kecupan di kening dan pipi gembulnya berulang-ulang.
Pemandangan mengharukan itu, tak luput dari pandangan Aydin yang beberapa menit lalu terus memperhatikan gerak gerik Risa dari ambang pintu.
Dengan perlahan Aydin menutup pintu kamar lalu menguncinya. Sebisa mungkin Aydin menghindari timbulnya bunyi yang bisa saja mengusik tidur putranya.
“Kamu belum tidur yang?” tanyanya setengah berbisik yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Risa.
Sebuah kecupan Aydin daratkan di kening Risa, tepat setelah wanita itu juga mendaratkan sekali lagi sebuah kecupan di kening Dafha.
Aydin turut berbaring di tempat tidur, hingga posisi Dafha kini berada di antara dirinya dan Risa. Tubuhnya sengaja ia posisikan menghadap Risa.
__ADS_1
Sejak pertemuan mereka kembali, Aydin masih merasa tak pernah cukup puas untuk menatap wajah cantik wanitanya.
“Apa kamu sesenang itu bertemu dengan Dafha?” tanya Aydin.
“Masih perlukah kamu bertanya?” balas Risa.
“Setiap kali aku berhadapan dengan maut, ada sebuah permintaan yang selalu terlintas di benakku,” ujar Risa.
“Jika bisa, sebelum hal buruk terjadi padaku, aku ingin diberi kesempatan bertemu dengan Dafha.”
“Aku ingin berterima kasih atas cinta tulusnya dan meminta maaf sebab tak bisa mendampinginya hingga dewasa seperti janjiku,” sambungnya.
Kedua netranya lagi-lagi mengeluarkan air mata. Ia pikir hanya Aydin yang mampu melemahkan pertahanannya.
Nyatanya pengaruh Dafha lebih kuat bagi Risa.
Melihat keceriaan Dafha saat bermain, membuat Risa lebih bertekad lagi untuk bisa berjalan kembali seperti dulu dan berlari bersama lagi.
“Sssttt .... kamu bisa sayang,” ucap Aydin lembut sembari membelai mesra surai Risa.
Aydin yakin, langkahnya untuk membawa keluarganya kemari adalah langkah yang tepat.
“Dafha pun sama tersiksanyaa denganmu. Dia membutuhkan mu di sampingnya sekarang. Seandainya saja kamu bisa lihat bagaimana teman-temannya mengejek Dafha saat pernikahan kita batal ... Kuyakin kamu pasti akan segera memintaku menikahimu.”
Maafkan Daddy yang sengaja aku melebih-lebihkan penderitaanmu Nak ... Batinku sambil menatap Dafha yang tertidur dengan lelapnya.
"Jadi kumohon ikutlah bersama kami pulang ... ke rumah impian kita bertiga," pinta Aydin.
Risa kembali tak bergeming, namun kali ini Aydin yakin Risa mulai memikirkan permohonannya.
Aydin menarik selimut ke atas hingga menutupi tubuh mereka bertiga.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami tidur bertiga seperti ini, seperti sebuah keluarga utuh, batin Aydin.
Sebelum tidur tak lupa sekali lagi Aydin mencuri sebuah ciuman mesra di bibir Risa.
Hampir saja pria itu lupa diri untuk kesekian kalinya, sayangnya malam ini ada Dafha di tengah-tengah mereka.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Jika biasanya rumah Risa hanya di ramaikan oleh tawa dan pekikan dari Rian keponakannya, pagi ini suasana rumah Risa lebih riuh dari biasanya.
Dafha yang bangun lebih dulu juga dengan sigap bersiap seorang diri, membiarkan wanita yang ia panggil mama terus terlelap nyaman dalam pelukan daddy-nya.
Kali ini terdengar suara tangisan Rian yang tiba-tiba saja memekik saat melihat bibi kesayangannya tiba di ruang keluarga yang sudah sangat ramai.
Yah, Aydin benar-benar serius dengan ucapannya. Bukan hanya Dafha, pria itu sengaja memboyong mama Indira, Papa Dimas, dan juga Ayana ke Belanda hanya untuk membantu menyukseskan misinya, yaitu membawa Risa pulang kembali ke tanah air.
“Pagi Ma ... pagi Pa ... pagi Yana,” sapa Risa.
Risa membawa Rian ke dalam pangkuannya membuat Dafha cemberut karena cemburu.
“Masih pagi dan kalian sudah ribut saja,” ucap Risa.
__ADS_1
Mendengar keluhan Risa, sontak saja Dafha dan Rian secara bersamaan saling membela diri, membuat suasana semakin riuh.
“Sudah ... sudah ... Dafha, mengalah saja pada Rian yah,” ujar Aydin.
“Kamu harus belajar lebih sabar dan lebih mengalah lagi ... bagaimana jika nanti kamu punya adik?” ucap Aydin menasehati putranya.
Tanpa sadar, ucapan Aydin membuat yang lainnya salah paham.
“Apa maksudmu Aydin?” tanya mama Indira, “Apa Dafha akan memiliki adik?”
“Apa Risa sekarang mengan-“ Mama Indira tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Sementara Aydin yang ditanyai sepertinya sedang melamun.
Jika hal itu benar terjadi, sebenarnya semuanya akan turut bahagia.
Hanya saja dalam kondisi Risa yang masih lebih banyak di kursi roda, juga baru saja selesai operasi pada kedua matanya, mereka khawatir Risa akan mengalami banyak kesulitan saat mengandung.
Risa segera menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak Ma, aku tidak hamil. Mama salah paham,” ucap Risa.
“Lantas Dafha hendak punya adik dari mana? Apa mungkin bang Aydin ...” Ayana mulai berandai-andai.
Ucapan Ayana tak luput dari perhatian Risa.
Mengapa rasanya seperti ada yang tersayat di dalam hatiku? Perih sekali, batin Risa.
Bodoh sekali Risa, mengapa ia tak berpikir jika setelah kepergiannya, tentu akan banyak wanita yang singgah di kehidupan Aydin.
“Aydin!”
Aydin yang sejak tadi diam saja karena melamun memikirkan sesuatu akhirnya terperanjat mendengar pekikan dari Ayahnya.
“Ada apa Pa?”
“Ada apa?” ulang Papa Dimas dengan raut wajah menahan amarah pada putranya.
“Kau masih bertanya ada apa?” ulangnya sekali lagi.
Nada permusuhan sudah menguar membuat Aydin terkejut dengan raut wajah semua orang di ruangan tersebut.
“Jelaskan maksud ucapanmu jika Dafha akan memiliki Adik?” tanya Papa Dimas.
“Siapa wanita itu?” sambungnya, “Risa tak mengakui jika sedang mengandung,” jelasnya.
“Tentu saja Risa tak mengkuinya. Risa memang benar sedang tak mengandung,” bela Aydin.
“Lantas siapa? Siapa yang tengah mengandung adik dari Dafha?” tanya papa Dimas semakin memperjelas mengapa tiba-tiba saja suasana pagi ini menjadi tegang.
Aydin tak menyadari jika kalimat spontannya barusan benar-benar membawa dampak hingga seperti ini.
Bahkan saat Aydin melirik ke arah Risa, kedua netra wanita itu sudah berkaca-kaca.
“Tenang dulu semuanya ...” pinta Aydin.
__ADS_1
“Aku akan menjelaskan semuanya,” sambungnya.
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼🌸🌼