
Diriku adalah milikku, kepunyaanku, bukan mereka atau yang lainnya.
Tak akan aku hidup hanya agar mereka menerimaku, sebab aku tak ingin mati karena penolakan mereka.
Kuyakin hidup tak selalu memberi yang kuinginkan, bukan karena aku tak pantas, tapi aku pantas mendapatkan yang lebih baik.
Semua yang terjadi akan berakhir indah. Jika tidak, itu berarti semua belum berakhir.
⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘
Hidup ini memang penuh misteri, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi. Hal itulah yang selalu ditanamkan Anggun dalam hati dan pikirannya.
Selama sebulan terakhir hanya harapan akan adanya keajaiban untuk Risa yang menjadi kekuatan dan semangat untuk Anggun dan semua orang yang merindukan Risa bisa hadir kembali di tengah-tengah mereka.
Dari dalam ruang perawatan Risa, Anggun tak henti menghela napasnya, sesekali menitikkan air matanya sambil menatap air hujan yang mengguyur Kota Amsterdam hari ini.
“Ternyata ramalan cuaca hari ini benar,” gumam Anggun.
“Jika hujan bisa diprediksi, apakah ada yang bisa memprediksi kapan Kak Risa akan sadar dari komanya?” Lanjutnya.
Setelah itu Ia lantas menertawakan dirinya sendiri, bagaimana bisa sadarnya Risa dari koma, Ia samakan dengan perkiraan cuaca.
Anggun kembali duduk di tepi brankar Risa, menghela napasnya panjang dan sesekali membelai surai lembut kakak tirinya.
"Kak Risa memang cantik, bodoh sekali Kak Aydin menyia-nyiakan wanita sepertimu Kak," ujar Anggun.
Setelah berkata demikian, betapa terkejutnya Anggun ketika sekilas Ia melihat kedua netra Risa perlahan-lahan bergerak.
Berpikir jika semua itu hanyalah khayalannya, Anggun kembali memfokuskan pandangannya, menatap lurus pada netra Risa, berharap keajaiban yang selalu menjadi doanya benar-benar dikabulkan saat ini.
Netra Risa kembali begerak perlahan, tapi kali ini disertai dengan jarinya yang ikut bergerak pelan dan lemah.
“Kak Risa... Kak Risa.... Kak Risa buka matamu Kak,” serunya dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya tanpa permisi.
Semakin Anggun menyebut namanya, semakin kuat pula gerakan jemari Risa. Hal itu membuat Anggun semakin panik dan bahagia secara bersamaan.
“Dokter... Dokter... Aku harus memanggil dokter,” pekiknya.
Segera Ia menekan sebuah tombol yang ada di samping brankar, untuk memanggil bantuan.
Dua orang perawat bergegas saat melihat ada panggilan dari salah satu kamar VIP.
“Permisi....” ucap salah seorang perawat.
“Tolong.... Sepertinya Kakak saya akan segera sadar,” ucap Anggun.
Salah seorang perawat segera menghampiri Risa, sedangkan yang satunya lagi bergegas untuk memanggil dokter.
Bertepatan dengan kejadian itu, Eomma Martha dan Appa Kim yang baru saja tiba di rumah sakit, melihat beberapa dokter dan perawat berlarian ke arah ruang perawatan VVIP.
Sebenarnya hal seperti ini sudah kerap mereka temui, terlebih selama sebulan terakhir rumah sakit ini sudah seperti rumah kedua bagi mereka.
Tapi entah kali ini berbeda, sepertinya keduanya memiliki kegelisahan yang sama kali ini, kening keduanya mengernyit dengan kompak.
“Risa?!” Ujar keduanya secara bersamaam pula.
__ADS_1
Langkah kaki kedua paruh baya itu semakin dipercepat, bahkan Eomma Martha kini berlari ketika melihat beberapa perawat keluar masuk dari ruangan Risa.
“Tidak... Tidak... Tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk pada putriku,” gumam Eomma Martha.
Tak ada yang bisa menyalahkan, jika seorang Ibu berlebihan saat mengkhawatirkan anak-anak mereka. Hal itu terjadi secara naluriah.
Disetiap langkahnya, Eomma Martha terus meyakinkan dirinya jika Risa akan baik-baik saja.
Namun..... Saat satu langkah kakinya baru saja memasuki ruang rawat Risa yang kini ramai dengan para perawat, Eomma Martha dikejutkan oleh jeritan seorang wanita kemudian disusul denga tangisan yang meraung-raung.
“TIIIIIIIDDDAAAAAAAAKKKKKKK!!!!!”
"TIIIIIDAAAAKKK MUNGKIN !!!!"
“Risa, itu jeritan Risa,” batin Eomma Martha.
⚘⚘⚘
Setelah 45 menit berkendara dengan menggunakan taksi dari Bandar Udar Internasional Amsterdam, Eijaz dan asistennya Romi akhirnya tiba di daerah De Kluftstraat, Amsterdam Noord, Amsterdam.
Salah satu lokasi perumahan elit dan strategis di Amsterdam. Lokasi perumahan yang memiliki tempat parkir pribadi, taman, dan tak jauh dari lokasi perumahan ini banyak kegiatan yang bisa dilakukan seperti mendaki, bersepeda, dan memancing.
Hanya ada beberapa unit rumah mewah di lingkungan ini, bahkan hanya 4 diantaranya yang dijadikan tempat tinggal, selebihnya dijadikan rumah sewa untuk para turis lokal maupun dari luar negeri.
Eijas memandangi rumah besar yang didominasi dengan warna putih. Beberapa kali menekan bel namun belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
Eijaz menghela napasnya, sebenarnya Ia cukup lelah dan butuh istirahat. Tapi Ia mengurungkan niatnya, Karena sudah sangat merindukan Risa.
“Bagaimana jika kita kembali lagi nanti? Bos harus istirahat dulu,” usul Romi.
Eijaz mengangguk, “Baik, kita kembali lagi malam nanti,” jawabnya.
Senyum Eijaz merekah sempurna ditengah semakin derasnya hujan yang setia mengguyur Ibu kota Belanda, Amsterdam.
“Maaf, tapi saat ini tuan dan nyonya sedang tidak berada di rumah. Tuan bisa kembali lagi nanti,” ujar sang tukang kebun dengan ramah.
Senyum merekah Eijaz akhirnya layu, sebab harapan bisa segera bertemu Risa harus kembali tertunda.
Tak ingin pergi tanpa hal yang pasti, Eijaz ingin memastikan jika Risa benar tinggal bersama kedua orang tua angkatnya.
“Kami adalah rekan Brisa dari Indonesia. Pukul berapa biasanya Brisa atau Tuan Kim kembali ke rumah?” tanya Eijaz.
“Maaf tuan, tapi di rumah ini tak ada yang bernama Brisa,” jawab sang tukang kebun.
“Mana mungkin? Brisa itu adalah putri angkat dari Tuan Kim,” jelas Eijaz sedikit memaksa.
“Ohh, mungkin yang Tuan maksud adalah Nona Risa?”
Eijaz mengangguk lalu melirik ke arah Romi yang kini menertawakannya.
“Kalau ingin menemui Nona Risa, sebaiknya Tuan kembali lagi nanti. Tapi tidak bisa saya pastikan kapan, kita berdoa saja semoga Nona cepat sadar dari koma-nya,” lanjutnya.
Jjjjeeeeedddeeerrrr......
Eijaz mematung, rasanya saat ini semua kilatan cahaya petir dan gemuruh disertai hujan yang semakin deras, kini terasa mengenai langsung di dadanya.
__ADS_1
Tak hanya Eijaz, bahkan Romi pun sangat terkejut mendengar berita Risa koma.
Pasalnya baru sebulan yang lalu, orang kepercayaannya mengintai wanita yang dicintai bosnya, terakhir kalo Ia mengirimkan foto jika wanita itu tengah asik bersepeda sebagai laporan.
Romi segera menyadarkan Eijaz, yang sontak memegangi dadanya.
“Bos.... Apa baik-baik saja?” tanya Romi.
Sementara Bapak yang bekerja di rumah Risa segera berlari untuk membuka pintu, “Masuk dulu saja Tuan, sepertinya anda sedang tidak sehat.”
Eijaz memegangi kembali dadanya, menarik napas dalam, berusaha menormalkan kembali kinerja jantungnya yang tiba-tiba saja memacu sangat cepat.
“Tolong jelaskan pada Saya, apa yang terjadi pada Bri... Maksud saya Risa?” pinta Eijaz.
Akhirnya tukang kebun tadi menceritakan semua yang Ia tahu mengenai kronologis kejadian kecelakaan yang menimpa Risa, juga memberitahu di rumah sakit mana Risa kini terbaring koma.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Eijaz dan Romi segera menuju ke rumah sakit.
“Malang sekali nasibmu Bri.... Dihari yang harusnya membahagiakan untukmu, hari yang harusnya menjadi awal kehidupan baru untukmu, namun yang terjadi kamu malah menderita,” batin Eijaz.
Tak terasa setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Sementara tangannya mengepal kuat, “Meski bukan aku yang secara langsung menyakitinya, namun ini semua terjadi juga karena aku,” gumam Eijaz.
Tak ada komentar dari Romi, Ia tak ingin semakin membuat Eijaz merasa bersalah.
“Ternyata kehadiranku kembali ke kehidupan Brisa hanya membawa petaka padanya,” lirih Eijaz.
Pria itu tertawa, tawanya tak bisa membuat tersenyum, tapi tawanya bisa menyayat hati. Terdengar begitu menyedihkan.
“Mungkin sudah saatnya aku menyerah Rom, dunia ini memang bukan tempatku,” lanjutnya.
Romi yang mendengar itu hanya bisa menelan salivanya, tidak berkomentar bukan berarti Ia tak paham maksud Eijaz.
Romi bertekad akan lebih mengawasi sang bos, tak ingin bosnya berpikir untuk melakukan hal yang membahayakan dirinya.
Taksi mulai menepi ketika bangunan yang tinggi menjulang dan didominasi dengan warna putih nampak semakin jelas.
Langkah lebar kedua pria itu tertuju pada satu tempat yang sama yaitu pusat informasi. Romi segera mencari tahu informasi yang mereka butuhkan.
Romi berjalan selangkah di depan Eijaz untuk menuntun bosnya ke tempat yang dituju.
‘Kim Risa’ tertulis pada name sign di depan pintu yang dilabeli sebagai naam van de patiënt.
Hal itu membenarkan kenyataan yang coba Eijaz tolak jika bukan Brisa yang menjadi korban kecelakaan.
Perlahan Romi membuka pintu berwarna putih.
Yang ditangkap pertama kali oleh indra pendengaran Eijaz adalah suara seorang wanita yang meraung-raung.
Pria paruh baya yang Eijaz kenal sebagai Tuan Kim Ayah angkat Brisa, menoleh ketika menyadari ada orang lain yang masuk ke ruangan putrinya.
“Tidak Eomma...... Kenapa aku harus selamat, harusnya aku mati saja,” suara wanita yang Eijaz duga adalah Brisa terus saja meraung-raung menangis.
“Adilkah semua ini untukku Eomma, apa belum cukup dengan aku yang tak bisa lagi bertemu dengan orang-orang yang kusayangi, mengapa aku juga tak boleh lagi melihat dunia, mengapa Eomma? Apa salahku? Sekalian saja ambil hidupku!”
Hawa dingin di ruangan itu seperti menembus kulit hingga ke tulang-tulang Eijaz, pria itu seperti membeku di tempatnya, “Tak boleh melihat dunia? apa maksudnya,” lirih Eijaz penuh tanya.
__ADS_1
⚘⚘⚘ to be continue ⚘⚘⚘
(Stay tune yah.... mendekati akhir cerita, ada rahasia yang akan terungkap. Akankah Risa bisa meraih kebahagiaan dalam kehidupan percintaannya? Dukung author yahh...)